
Malam telah berganti pagi, Defan tengah bersiap-siap untuk keberangkatan menuju Pengadilan Negeri Kota Medan. Sejak 10 menit yang lalu, Defan sudah berpamitan dengan sang istri serta mamanya yang pagi-pagi sudah repot memasak untuk sarapan.
"Aku pergi dulu, ya, yang! Istirahat saja di rumah, jangan sungkan walau ada mama yang bantu!" ucap Defan seraya mengecup kening Dira yang ikut mengantarkannya ke depan pintu.
"Iya, abang! Dira sudah sehat kok, jangan khawatir," balas Dira, menunjukkan senyum termanis yang ia miliki.
Defan juga telah berpamitan pada sang mama. Sebelum Dira mengantarkan ke depan pintu, ia sudah mencium punggung tangan sang mama.
"Yaudah, abang pergi dulu." Defan melambaikan tangan sebelum membalikkan tubuhnya.
Dira yang melihat suaminya pergi dengan semangat pagi ini, ikut merasakan kebahagiaan itu. Ia juga membalas lambaian tangan Defan, meski rasa haru masih menyelimuti kala kesedihan tentang kepergian anak mereka belum hilang sepenuhnya.
Dira menutup daun pintu setelah Defan masuk ke dalam lift, tubuhnya tak terlihat lagi jika dipandang dengan kasat mata.
"Inang, ada yang perlu aku bantu?" tawar Dira, sejak tadi ia langsung ke dapur, hendak bergabung dengan kesibukan yang dibuat oleh mertuanya sendiri.
"Nggak usah, sayang! Inang sama Nena bisa ngerjain sendiri. Udah, istirahatlah kau!" tandas Melva, mengusir menantunya dari pandangan.
Dira langsung menekuk wajahnya, mulutnya mengkerut sedang cemberut karena tawarannya telah ditolak. Ia merasa tak enak jika mertuanya sibuk tanpa bantuan darinya.
Dengan berat hati, Dira kembali ke kamar. Di sana, ia berbaring-baring tak jelas seraya menatap layar ponsel ditengah kesunyian.
Baru saja ia membuka layar ponsel tersebut, satu notifikasi masuk dari sahabatnya. Grup watsapp mulai ramai setelah kedua teman lainnya ikut membalas chat tersebut.
Ting
Carol
Kayak mana keadaanmu, Dir? Udah sehat? Boleh kami menjenguk?
Jenny
Iya, penasaran kali aku setelah kejadian kemarin. Apa kau baik-baik aja?
Shinta
Aku aja masih trauma, Dir! Gimana kalau kau? Aku nggak bisa bayangkan!
^^^Dira^^^
^^^Aku juga trauma! Sekarang kondisiku baik-baik aja, ada inang di rumah yang merawatku. Sinilah kelen datang, udah rindu kali aku hehe^^^
Carol
Ah, ada mertuamu! Jadi segan kami nanti mau ngapa-ngapain
Shinta
Iya, sungkan loh! Padahal kami pengen jumpa kali ...
__ADS_1
Jenny
Nggak apa-apalah ada mertuanya, we! Udah ayok kita ke rumah si dira!
^^^Dira^^^
^^^Emang kenapa kalau ada mertuaku? Nggak gigit kok orangnya! hahaha^^^
Shinta
Sungkan loh, Dir! Mamakmu kemana rupanya? Kok nggak mamakmu yang rawat?
^^^Dira^^^
^^^Belum kukabari loh mamakku, nggak tega aku hiks^^^
Carol
Jadi tetap mau ke rumah Dira?
Jenny
ayoklah!
Shinta
Yaudah ayok! Jemput kami ya, Rol hehe
Jenny
Carol
Oke aman! Siap-siaplah kelen! Bilang sama mertuamu siapkan makanan banyak, Dir!
^^^Dira^^^
^^^Ah, gila kau, Rol! Mana mungkin kusuruh-suruh mertuaku! Udah datang aja kelen, nanti ada pembantu yang layani kericuhan kelen!^^^
Jenny
Asyikkk!! Buruan Rol, jemput kami!
Carol
Siap Bos!
Pesan watsapp pun berakhir, ketiga sahabat Dira akan berkunjung, padahal mereka baru ketemu kemarin. Dira sangat senang jika ketiga sahabatnya datang, sebab ia merasa sunyi dan kesepian.
Dira langsung beranjak dari kasur, meminta izin pada mertuanya tentang kabar kedatangan ketiga sahabatnya.
__ADS_1
"Inang, apa boleh teman-temanku datang menjenguk? ujarnya.
Melva tampak berpikir sejenak, lalu ia melayangkan senyuman hangat. "Boleh sekali, Dir! Ajaklah datang kesini, biar ada kawanmu mengobrol!"
Dira langsung tersenyum simpul, rasa bahagia semakin menghampiri, mertuanya seperti orang tua kandung baginya. Sangat baik dan peduli.
...***...
Defan sudah memasuki ruang persidangan. Pagi itu, ia bersama Juni, menyerahkan bukti-bukti korban kepada pihak pengadilan sebelum persidangan dimulai.
Tak hanya itu, Defan juga sudah menyiapkan rencana untuk melawan negara agar uang korban yang diraup segera dikembalikan.
Hakim Ketua dan dua majelis hakim memasuki persidangan. Semua hadirin diminta untuk berdiri oleh panitera persidangan.
*hening
Tak berapa lama kemudian, lagu kebangsaan dikumandangkan di dalam ruang sidang. Setelah selesai, semua tamu diperbolehkan duduk.
"Sidang pengadilan negeri kota Medan, yang memeriksa perkara pidana nomor 123.456.789 atas nama Pemerintah Indonesia pada hari Kamis tanggal 6 Juni, dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum!" ucap Hakim Ketua seraya mengetok palu sebanyak tiga kali.
Korban judi online sudah memenuhi ruangan. Mereka tak sabar untuk melawan pemerintahannya sendiri. Bahkan, mereka yakin kalau Defan sebagai pengacara bisa memenangkan kasus ini.
"Yang Mulia, pengembalian uang korban para penjudi online sulit dilakukan. Mereka terlibat dalam judi online berdalih dengan penyebutan investasi saham dan dilakukan dengan sadar! Oleh karena itu, biarkan uang yang disita menjadi pendapatan negara kita," ujar Jaksa Penuntut Umum.
"Tidak bisa Yang Mulia, bukti menyatakan kalau mereka tidak tahu investasi saham itu adalah sejenis judi online. Kami meminta agar uang korban tetap dikembalikan!" tandas Defan.
"Tenang ... tenang ... kita akan tunjukkan bukti-bukti yang diserahkan pihak pengacara sebagai perwakilan dari korban." Hakim Ketua kembali mengetuk palu hingga tiga kali.
Semua bukti dipertontonkan untuk publik. Banyak wartawan juga yang hadir, menayangkan secara live kasus yang sangat menyita perhatian tersebut.
Bukti chat dari para selebgram dan affiliator yang mengajak para korban, bukti transaksi investasi saham, serta bukti situs website yang sekarang tengah diblokir oleh pihak pemerintah.
"Kita semua sudah melihat bukti yang diserahkan. Menurut pengamatan majelis hakim, memang benar para korban tidak mengetahui sistem website yang dijalankan adalah sejenis judi online," kata Hakim Ketua, lantang.
"Kami minta agar negara tetap mengembalikan semua uang yang berhasil disita. Banyak korban yang bangkrut bahkan digerogoti kemiskinan lantaran jatuh dalam kubangan judi online ini, Yang Mulia," tegas Defan.
"Negara sudah melakukan tugasnya, para affiliator dan selebgram yang mempromosikan situs judi online tersebut telah dihukum! Uang yang disita sudah menjadi milik negara!" hardik Jaksa Penuntut Umum, tak mau kalah.
"Saya minta dipanggilkan saksi, Yang Mulia. Salah satu perwakilan dari korban, sebagai Ketua SKJO, Mariner agar segera dipanggil ke depan sebagai saksi untuk memperkuat pernyataan," papar Defan.
"Baiklah, saksi silahkan duduk di kursi yang telah disiapkan!" kata Hakim Ketua.
Mariner maju ke depan, duduk dengan santai di kursi sebagai seorang saksi. Jaksa Penuntut umum mulai maju, menanyakan tentang kasus perjudian online tersebut.
"Saudara, apakah benar saudara tidak mengetahui kalau situs itu untuk judi online?" desak Jaksa Penuntut Umum.
"Tidak!" jawab Mariner, tegas.
"Siapa yang pertama kali mengajak anda bergabung?" cecar kembali Jaksa Penuntut Umum.
__ADS_1
"Seorang Affiliator, dia sudah masuk ke penjara tapi itu tak berhasil membuat kami puas! Karena uang kami malah disita oleh negara," beber Mariner, menatap sengit sang Jaksa.