Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
lingeri


__ADS_3

Ceklek


Suara pintu terbuka, Dira langsung terduduk dan terpaku. Padahal ia meminta izin lebih dulu masuk ke kamar dengan alasan berganti baju tapi saat suaminya masuk ia masih saja mengenakan seragam SMAnya.


Dira sampai terperanjak dari ranjangnya karena merasa malu. Sementara Defan hanya menatap dingin wanita itu.


"Maaf bang, aku tadi capek jadi rebahan dulu makanya lupa ganti baju," beber Dira mengklarifikasi keadaannya.


Defan hanya diam menatap dengan sinisnya. Pria itu membuka bajunya tanpa malu-malu. Mengambil satu kaos rumahan beserta celana pendeknya.


Ia memakainya di depan Dira tanpa malu-malu. Sementara Dira sudah mulai terbiasa dengan sikap suaminya. Tak ada lagi suara teriakan terkejut saat mendapati tubuh atletis itu berada di depan matanya.


Dira malah menikmati pemandangan unik dan menggiurkan baginya. Tubuh gagah suaminya serta ke tampannnya membuat Dira semakin larut dalam pikirannya.


Setelah berganti baju, Defan malah keluar dari kamar tanpa berbicara satu kata pun. Dira hanya termenung melihat tingkah suaminya.


Hmmmm salah apalagi sih aku? Kok jadi sikapnya dingin gitu?


Dira terus bertanya-tanya dalam pikirannya. Namun, dengan sigapnya ia langsung mengganti dulu baju seragamnya agar tidak kena omel pria itu.


Huuuu serem kalau diomelin lagi.


Dira langsung membuka seluruh seragam tanpa mengunci pintu kamar mereka. Setelah seragam itu tergeletak di lantai, Dira hanya memakai tangtop serta **********.


Tiba-tiba ...


Ceklek


Suara tarikan daun pintu membuat Dira panik. "Sial! Kok datang sih dia," gerutu Dira mengambil bajunya dari dalam lemari. Ia tak sempat memilih baju, hanya menarik baju asal yang ada didalam lemari itu.


Kemudian dia berlari ke kamar mandi sebelum melihat wajah dingin suaminya.


Huftt amaan! untung belum sempat keliatan!


Dira mengelus dadanya karena merasa aman sudah terhindar dari suaminya. Tetapi dia tiba-tiba terdiam. Entah harus tertawa, sedih atau menangis.


Ia melihat seonggok kain putih yang ada ditangannya. Sialnya, baju yang diambil adalah sebuah lingerie. Ia semakin tak percaya dengan pilihan mertuanya itu.

__ADS_1


"Yang betul ajalah aku disuruh pakai baju begini!" pekik Dira kesal menghempas-hempaskan lingeri yang ada ditangannya.


Tok... Tok...


"Dir, buruan mau buang air nih," ucap Defan dari depan pintu kamar mandi.


Dira semakin panik. Jika ia keluar menggunakan lingerie ini, seluruh bodynya akan terekspose. Bahkan ia merasa sangat malu jika memperlihatkannya pada suaminya. Tak hanya itu, Defan bahkan akan mencibirnya karena sengaja menggodanya di sore hari begini.


Duh gimana nih! Mau nyuruh bang Defan ambilin baju kan nggak mungkin.


Dira mondar-mandir di dalam kamar mandi. Bukannya cepat-cepat memakai bajunya, ia malah panik sendiri. Ingin sekali rasanya membuang lingerie itu.


"Bang, abang pakai kamar mandi diluar aja," teriak Dira dari dalam.


"Kenapa emang?" sahut Defan yang berdiri kaku di depan pintu sembari memegang seragam milik Dira. Ia sempat memunguti seragam istrinya itu karena berserakan diatas lantai.


"Dir ... ?" panggil Defan karena tak ada jawaban.


"Bang ... maaf, aku bisa minta tolong?" balas Dira.


"Apa? Buruan udah kebelet nih," desak Defan seraya menggedor-gedor pintunya.


"Oh ... sebentar ya!" Defan kemudian melangkah ke arah lemari. Ia mengambil kaos dan celana pendek untuk Dira.


Tok ... Tok ...


"Nih Dir," teriak Defan mengulurkan tangannya setelah Dira membuka pintu kamar mandi memberi celah sedikit untuk mengambil baju yang diberikannya.


Defan merasa tersentuh, Dira sudah berani mengandalkannya. Biasanya Dira tak pernah mau menyuruh Defan untuk melakukan hal-hal seperti itu.


Pernah sih, waktu honeymoon tapi Defan sengaja tak mau melakukannya. Ia ingin menjaili istrinya itu dulu. Alhasil, pemandangan yang ia inginkan pun terpenuhi. Badan polos Dira tanpa sehelai benang terekspose di depan matanya.


Buru-buru Dira mengenakan pakaiannya. Ia masih tak habis pikir mengapa ada sebuah lingerie di lemari.


Dira keluar dari kamar mandi sembari menyembunyikan gulungan lingerie dibalik punggungnya.


Setelah Dira keluar mereka bergantian. Kali ini, Defan masuk ke dalam kamar mandi. Ia sudah tak tahan ingin buang hajat. Ia tak terbiasa menggunakan kamar mandi lain untuk hal yang satu ini.

__ADS_1


Merasa sudah nyaman membuang hajat di kamar mandinya sendiri. Bahkan dia sangat lama berada di kamar mandi meski hanya buang hajat saja.


Dira mendekati lemari. Memastikan kembali isi lemari itu. Padahal dulu ia rasa tidak ada satupun lingerie di dalam lemari itu. Tapi sekarang mengapa tiba-tiba ada?


Ia membuka lemari dengan lebar. Meneliti baju yang menggantung dan yang terlipat rapih. Setelah menyelidiki satu-persatu. Ternyata ada tumpukan baju baru di dalam lemarinnya.


Berbagai koleksi lingeri terlipat dengan rapi dibagian ruang tengah rak lemari itu. "Hah? Sejak kapan ini di sini?" gumam Dira memastikan kalau isi rak itu memang lingerie semua.


Ia menarik satu baju, dua baju hingga menyorot isi satu rak. Benar saja dugaannya, kalau semua baju itu adalah lingerie.


Buru-buru Dira melipat lagi lingeri itu dengan rapih. Memasukkannya kembali ke dalam rak. Ia merebahkan diri diatas ranjang, menatap langit-langit kamar.


Kalau nanya langsung sama bang Defan kayanya nggak mungkin? Aku malu? Lagian apa mungkin bang Defan yang beliin itu semua?


Dira larut dalam pikirannya menatap langit-langit kamar itu. Tetapi ia merasa penasaran sekali dengan keberadaan tumpukan lingerie tersebut.


Ia ke dapur untuk menemui salah satu pembantu yang sudah diajaknya berkenalan tadi pagi.


Mbak Nena! Aku harus kesana, mending nanya sama dia.


Dira bergumam seorang diri seraya beranjak dari kasurnya. Ia mencari sosok perempuan muda yang sudah menjadi pelayan di rumah ini.


"Bu, lihat mbak Nena nggak?" ujar Dira pada salah satu pembantu yang sedang sibuk di dapur.


"Kayanya di halaman depan non. Lagi nyapu halaman." Pembantu itu terus melanjutkan pekerjaannya.


Dira berlari ke halaman depan. Namun, sebelum ia tiba disana, mertuanya menyapa. "Mau kemana, Dir?"


Dira menoleh pada sumber suara. Ternyata mertuanya belum beranjak dari tempat itu. "Ke depan Inang," sahut Dira tanpa mendekat.


"Sini dulu." Melva menganggukkan tangannya meminta Dira mendekatinya. Dira melangkah maju mendekati mertuanya.


Ia duduk disamping mertuanya itu dengan nyaman. "Ada apa Inang?"


Kedua mata mereka saling beradu. Namun, Melva langsung melemparkan senyum tipisnya.


"Inang mau kasih tahu. Tadi aku kebetulan lagi belanja. Eh ... tiba-tiba besanku nelepon. Katanya kau jadi pasang KB ya?" tutur Melva dengan senyumnya. Tatapannya penuh selidik menunggu jawaban Dira.

__ADS_1


"Iya Inang. Kata mamak tetap harus pakai. Khawatir kejadian tidak terduga terjadi," jelas Dira, kepalanya tertunduk malu.


"Ngak apa-apa sayang. Kenapa nggak bilang, Inang kan juga ingin menemani," seloroh Melva penuh kelembutan. Ia meraih tangan Dira, mengelusnya dengan santai membuat Dira semakin tenang dan nyaman serasa memiliki dua ibu kandung.


__ADS_2