
Pesanan tiba, Defan dan Dira menikmati makan siang mereka. Makanan khas Bali membuat keduanya ketagihan, beda sekali rasanya dengan bumbu makanan khas batak yang acap kali mereka cicipi.
Dalam waktu 10 menit, pasangan itu menghabiskan makanannya. "Enak ya bang makannnya," celetuk Dira setelah menyeruput milkshake storber miliknya.
"Hmmmm" Defan hanya menjawab dengan gumaman saja.
Mereka berdua memilih beristirahat sejenak, sebelum melanjutkan perjalanannya kembali. Selama dua puluh menit, Defan baru mengajak Dira keluar dari restoran sejuk itu.
Mereka berdua berjalan beriringan, walaupun seperti orang asing. Alias saling berjauhan jaraknya.
Setelah masuk ke dalam mobil, Defan kembali melontarkan pertanyaan pada sopir mereka.
"Kemana lagi kita pak? Jangan wisata ekstrem kaya tadi lagi ya, saya malas dan capek," ujar Defan santai, sebenarnya ia ingin mengatakan hal itu sebagai kode, agar Dira tak perlu lagi naik permainan ekstrem seperti itu.
Niatnya cukup baguslah untuk lelaki yang tidak peka seperti Defan.
Tumben nih orang peduli, apa dia sengaja? ah tapi biasanya dia nggak peduli sama orang lain. Buktinya dia membiarkanku menaiki paralayang, sampai histeris kaya orang gila.
Dira lagi-lagi bergumam seorang diri. Sesekali ia mencuri-curi pandang pada suaminya. Sekilas, yang dilihat Dira adalah Defan hanya lelaki tua yang tampan, tetapi sangat egois bahkan tidak punya empati sama sekali.
Ingin sekali rasanya Dira balas dendam. Membuat pria itu bertekuk lutut dihadapannya. Tapi Dira bingung apa yang harus ia lakukan untuk membuat suaminya itu bertekuk lutut padanya?
Sampai tiba waktunya, saat ini Dira harus memikirkan secara matang langkah apa yang harus ia lakukan agar Defan tak lagi bersikap dingin pada dirinya.
"Sekarangkan sudah hampir sore pak, gimana kalau bapak dan ibu bermain di pantai Kuta saja? Kan dekat dengan hotel tempat menginap," usul supir mereka.
Dira dan Defan mengangguk secara serentak. Menyetujui usulan yang diberikan oleh sopir tersebut.
Perjalanan lumayan panjang, menghabiskan waktu hingga setengah jam untuk sampai di Pantai Kuta.
Defan menengadahkan kepalanya, bersandar pada jok mobil. Memejamkan matanya perlahan, seraya memijit-mijit pelipisnya yang terasa agak pusing. Honeymoon ini menurutnya sangat melelahkan.
Ingin sekali rasanya ia pulang. Lebih memilih pekerjaan ketimbang harus menjalani honeymoon selama lima hari, yang membuat tubuhnya remuk bagai tak bertulang karena lelah berjalan-jalan seharian.
Kenapa lima hari rasanya begitu panjang.
Defan mengumamkan seraya menarik nafasnya secara perlahan.
Apakah momen ini bisa diskip?
Ungkapan hatinya terus ia lontarkan dalam batin. Namun, karena keinginan orangtuanya yang mengharuskan mereka honeymoon, tidak ada cara lain untuk menolak hal itu.
__ADS_1
Semangat! Dua hari lagi kita pulang! Huhhh
Defan terus bergumam dengan mata terpejam. Lain halnya dengan Dira, meski wisata sebelumnya membuat ia syok bukan kepalang, tapi Dira tak ingin menyudahi jalan-jalannya.
Masih banyak tempat yang harus ia kunjungi. Bahkan Dira tidak mau melewatkan momen itu sedetikpun, kecuali untuk menaiki wahana seperti paralayang tadi.
Disepanjang perjalanan menuju Kuta, Dira juga menatap ke jendela kaca mobil. Memerhatikan jalanan sekitar, apa saja yang sudah mereka lintasi ia hapalkan. Itu nantinya akan menjadi ceritanya pada sahabat-sahabatnya yang ada di Medan.
"Sudah tiba pak bu! Kalau disini sebebasnya saja, jika merasa sudah lelah bisa kembali mencari saya," ucap pak Supir.
Defan membuka matanya secara perlahan. Mengangkat kepalanya ke posisi normal, berjalan keluar. Kali pertama yang ia lihat adalah pantai. Disepanjang jalanan, pinggirannya adalah pantai Kuta.
Mata elangnya juga menyorot banyaknya tempat objek jual beli oleh-oleh, club malam, restoran serta hotel yang menjulang tinggi. Cukup menarik baginya wisata disepanjang Kuta tersebut.
"Ayo bang ke pantai," seru Dira setelah melupakan rasa traumanya. Kini dirinya telah kembali riang seperti biasanya.
"Iya," jawabnya dengan datar. Defan membantu Dira menyebrangi jalan mengarah ke pantai, menghalangi mobil yang melintas dengan menahan tangannya keatas sebagai tanda penyebrang jalan.
Sedangkan Dira tak bisa menutupi rasa senang dan girangnya, Dira tak memperhatikan langkah kakinya, berjalan melompat-lompat kecil disepanjang perjalan mereka menuju pinggiran pantai tersebut.
Ia bermain air dan pasir dengan gembira. Sedangkan Defan hanya duduk dipinggiran pantai, menikmati siuran angin serta melihat tingkah aneh Dira dari kejauhan.
Sesekali ia menggulum senyum dikala Dira bertingkah lucu layaknya anak kecil. Uniknya, hal-hal kecil seperti itu mampu membuat Defan tersenyum tipis, gadis itu seakan membius suaminya sendiri. Terpana dan terlena akan kecantikan hingga tingkah lakunya yang aneh dan menggemaskan.
Tapi Defan menggeleng kecil, menolak ajakan Dira. Defan lebih memilih melihat dari kejauhan.
"Abang sini dong," rengek Dira. Entah apa yang membuatnya sampai harus mengajak Defan datang kesana untuk bermain bersama.
Lagi-lagi dijawab dengan gelengan kepala, membuat Dira semakin sebal.
Yaudah aku aja yang kesana! ucap Dira dalam batinnya.
Dira berjalan gontai menghampiri Defan seraya melambaikan tangannya, dengan senyum riangnya. Defan benar-benar terpukau saat itu.
Dari kejauhan ia menatap gadis kecil berusia tujuh belas tahun itu bak malaikat kecil. Siuran angin mengibaskan rambut Dira kesamping. Terlebih, terik matahari yang mulai perlahan tenggelam, membuat wajah Dira terkadang tampak terang, kemudian gelap saat ia terus berjalan mendekati Defan.
Defan membuat lengkungan tipis dimulutnya se-olah menyambut kedatangan istri kecilnya. Tanpa ia sadari, Dira sudah berada didepan wajahnya.
"Abang ngapain sih disini dari tadi," tegur Dira seraya menepuk pundak suaminya, membuyarkan Defan dari lamunannya.
"Hah? Apa?" tanyanya kebingungan karena hampir tak mendengar apapun yang dikatakan oleh Dira, karena Defan menyibukkan diri terlena akan kecantikan istrinya.
__ADS_1
"Abang ngapain disini daritadi?" teriak Dira dengan wajah datar. Dira kebingungan apa yang membuat suaminya tenggelam dalam lamunannya.
"Aku lagi liat pemandangan," sahutnya dengan dingin.
"Ayo ikut aku main dibibir pantai," ajak Dira seraya menarik lengan Defan.
"Nggak! Nanti aku basah, kau ajalah sendiri sana," tolaknya dengan ekspresi dingin.
"Ih nggak seru! Ayo buruan," Dira menarik lengan suaminya dengan penuh tenaga hingga akhirnya Defan beranjak dari duduknya.
"Mau ngapain sih kita kesana?" ucap Defan menahan tubuhnya agar tak mengikuti tarikan Dira. Akhirnya, Dira kewalahannya tetapi terus mencoba menarik lengan pria itu.
Tiba-tiba...
brugghh!!
Dira tersungkur ke dada bidang pariban yang sudah menjadi suaminya. Beruntung mereka berdua tidak terjatuh karena Defan berhasil menahan tubuhnya, bahkan menghalangi tubuh Dira terjatuh dengan kedua tangannya.
Keduanya terdiam, keadaan menjadi canggung. Tidak ada yang berani bergerak. Dira terdiam dalam dekapan suaminya lantaran mendengarkan sesuatu, ia merasakan suara degupan jantung yang begitu kencang.
Deg Deg Deg
Tepat sekali posisi daun telinga Dira berada ditengah-tengah dada suaminya. Alhasil, dia mendengar degupan yang begitu kencang. Posisi Dira membuat Defan grogi, gugup, hingga menggetarkan seluruh tubuhnya terutama jantungnya.
Mampus aku! Apa dia dengar jantungnya yang detaknya tidak normal?
Defan bertanya-tanya tanpa menyingkirkan Dira dari dekapannya.
Lumayan, ada kali ya lima menit dipelukan ayang beb😂 hihi
Suasana benar-benar canggung. Tapi Defan yang takut ketahuan mulai melontarkan kata-kata kejamnya.
"Ehem!!"
"Ngapain disana lama-lama? Nggak tahu apa tubuhmu itu berat! Capek aku nahannya," celetuknya dengan sinis.
Seketika Dira mendongakkan kepalanya, menatap wajah serius Defan yang ada diatas kepalanya. Suasana menjadi sangat kikuk dan dingin.
Dira mengangkat tubuhnya secara perlahan, melepaskan dekapan pria gagah itu. Dengan bermodalkan kedua tangannya, ia memegang dada bidang suaminya sebagai petahana, bertolak ke belakang, merenggangkan tubuh mereka berdua.
"So-sorry bang," ucapnya terbata-bata.
__ADS_1
"Abang sih lagian ngapain nahan tarikanku! Jadi aja aku hampir terjatuh," desisnya dengan kesal.