Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
pillow talk


__ADS_3

Disclaimer!!


Pastikan usia kamu sudah 18+


*Yang tidak suka adegan ranjang, langsung skip aja ya!! makasii**🥰*


Dira sudah berada diatas pria yang menutupi sebagian tubuhnya dengan handuk putih. Gadis kecil itu dengan lihainya langsung menghempaskan handuk yang telah melonggar itu ke atas lantai meski tanpa aba-aba dan perintah dari suaminya.


"Ah, curang! Masa abang udah polos gini, tapi sayangku masih memakai dalaman!" Defan pun ikut-ikutan melucuti seluruh dalaman Dira yang tersisa.


Tangannya sangat cepat bertindak, seluruh dalaman Dira telah terhempas entah kemana. Defan asal melempar saja tanpa memerdulikan.


Dira berada di atas tubuh Defan, ia langsung menggoda pria itu dengan cumbuan ganas. Menyecapi leher jenjang sang suami, bahkan meninggalkan jejak merah di sana.


"Ayo, dong! Jangan lama-lama, sayang! Abang, udah nggak sabar ini. Lihat tuh di bawah sudah meronta-ronta," ungkap Defan, sudah tak sabar.


"Ssst, sabar!" bisik Dira di telinga pria itu. Membuat bulu Defan seketika meremang.


Dira menciumi tubuh pria itu, mulai paha, perut, leher, hingga bibir. Sentuhan demi sentuhan membuat Defan sangat bergairah.


"Ayo, cepat! Abang, udah nggak tahan lagi!" titah Defan, saat hasratnya sangat meningkat.


"Sabar!" Dira yang masih santai melanjutkan permainan, mengabaikan permintaan pria itu.


Ia masih saja meningkatkan gairah sang suami, mendaratkan kedua gunung kembar miliknya diatas perut hingga memundurkan ke arah keintiman pria itu. Kedua gunung kembar itu pun mengapit area sensitif milik sang suami.


Sontak saja, Defan mengerang, menikmati kehangatan dari apitan gunung kembar sang istri. "Ayo, buruan!" desah Defan semakin tak sanggup menahan hasrat.


Dira pun menyudahi permainannya. Membuat Defan kesal bukan kepalang. "Loh, kok malah turun?" tanya Defan dengan wajah serius.


"Udah ah, capek! Besok lagi aja!" kilah Dira yang ingin memberi pembalasan pada suaminya. Ia beranjak dari kasur, mengambil piyama yang berserakan di atas lantai.


"Hah? Sayang ... nggak lucu kalilah! Nanggung nih!" pekik Defan kesal. Ia merasa sangat frustasi. Ketika gairah sudah meningkat tajam, gadis kecil itu malah menyudahi permainan mereka yang masih setengah perjalanan.


"Dira, capek bang!" sungut Dira, saat itu ia juga membuat lengkungan di sudut bibir, menertawai pria itu meski hanya di batinnya saja.


"Damn!" umpat Defan lirih dengan kesalnya, rasa pusing telah mendera di kepala lantaran nafsunya tak diindahkan oleh sang istri.

__ADS_1


Defan pun beranjak dari kasur dengan malas, sebelum Dira memakai piyama, ia langsung membalikkan tubuh itu, menyibakkan piyama ke atas lantai. Lalu, memeluk tubuh gadis itu dengan erat.


"Jangan gitulah, sayang! Abang udah pengen nih. Nggak kasian apa sama yang di bawah?"


Pria itu menunjuk ke arah bawah yang ada di bagian pangkalan paha, tengah meletoy kembali.


Dengan posisi berdiri, Defan meluma*t bibir kenyal Dira. Perlahan masih lembut, hingga kemudian menjadi lebih rakus. Seketika, gairahnya pun meningkat kembali.


Dira akhirnya pun mengalah, tak tega dengan sang suami yang sudah tanggung bukan kepalang menikmati adegan ranjang mereka.


"Bang, coba posisi berdiri," kata Dira mengarahkan.


"Yaudah, kita coba, ya!" jawab Defan mengerling.


Dira membelakangi sang suami, mendekatkan diri ke tepian ranjang. Dira pun memegang tepian ranjang sebagai penyanggah tubuh, agak membungkukkan tubuhnya.


Sementara, Defan yang sudah tak sabaran, menghadap punggung wanita itu. Dengan cepat, ia langsung memasukkan kepunyaannya ke area sensitif milik Dira dari belakang.


"Bang, ingat pelan-pelan!" racau Dira mengingatkan.


Dalam sekali hentakkan, kepemilikannya sudah berada di dalam lorong yang gelap tak terlihat. Menukik tajam dengan sempurna hingga Dira mengerang kesakitan untuk kedua kalinya.


"Ih, abang! Udah dibilangin pelan-pelan! Malah masuk-masukin aja!" raung Dira murka.


Namun, Defan terus saja menyentakkan hingga permainan dinikmati oleh keduanya. Defan bahkan melingkarkan kedua tangan di perut Dira, sekujur tubuh bergoyang mengikuti gerakan.


"Aaahhh ... ahhh..." rintih Defan saat menikmati ke intima*n Dira yang begitu mengigit di dalam sana.


"Ahhh ..." erang Dira seraya merem*as sprei yang ada ditepian ranjang, ia bahkan menggigit bibir bawah menikmati alur permainan malam itu. Keduanya menikmati penyatuan mereka untuk kedua kalinya hingga sama-sama merasakan puncak kenikmatan yang luar biasa.


"Jadi bayi di sana, ya, nak!" decit Defan saat benih itu sudah mengarungi rahim sang istri. Defan pun mengelus perut Dira dengan sangat lembut setelah permainan usai.


cup


"Makasih, sayang, untuk malam ini. Maaf tadi agak ngegas masuknya hehe," canda Defan setelah merebahkan diri di atas ranjang. Kakinya gemetar karena selama masa permainan berdiri seraya menikmati keintiman mereka berdua.


Sama halnya dengan Dira, ia pun menghempaskan tubuh itu di sebelah sang suami. Bersandar pada satu lengan pria itu.

__ADS_1


"Udah nggak marah?" cecar Defan melayangkan senyuman tipis di wajah.


"Hmmm." Dira hanya bergumam saja sembari memejamkan mata, lututnya sangat melemas, kala permainan berakhir.


"Jangan merajuk lagi, ya! Terus, jangan kayak tadi lagi! Masa tiba-tiba berhenti, belum juga setengah perjalanan!" Defan kembali mengungkit kejadian saat ditengah permainan mereka.


"Itu hukuman buat, abang! Biar lain kali janjinya ditepati! Jangan cuma ngomong di mulut doang!" sergah Dira, menengadahkan kepala, menatap pria itu dengan sengit.


"Iya, iya! Maafin, abang, sayang! Nggak tahulah, ini udah keberapa kali abang minta maaf." Defan menghujani ciuman di pucuk kepala Dira.


"Iya, makasih untuk malam ini." Dira memeluk erat tubuh kekar itu, saling menghangatkan diri dalam pelukan lantaran tubuh mereka tak ditutupi sehelai benang pun.


"Iyah, sayang! Mandi, yuk?" ajak Defan seraya menunduk menatap manik indah milik Dira.


"Abang, kan tadi sudah mandi. Mau berapa kali mandi sih! Lihat tuh, udah jam berapa! Dingin ...," cibir Dira, menatap ke arah jam dinding.


"Kalau kedinginan, nanti abang peluk kok," goda Defan semakin nakal. Mencubit satu ujung pucuk kembar yang menempel di dadany.


"Awww!" pekik Dira kesakitan.


"Upss, maaf, sayang! hehe." Defan langsung beranjak, menarik lengan Dira agar perempuan itu ikut dengannya.


"Kemana sih, bang?"


"Emang nggak mau cuci itunya? Nggak risih gitu? Lengket-lengket! Katanya ngantuk, mau tidur?" cetus Defan merangkul Dira agar berjalan bersama ke dalam kamar mandi.


"Oh, cuci aja, ya? Nggak pake acara mandi-mandi segala!" sanggah Dira dengan malas.


"Iya, sayang!" Keduanya pun masuk ke dalam kamar mandi. Defan membantu Dira untuk mencuci area sensitifnya itu. Tak ada rasa sungkan dari Dira, ia sebenarnya ingin segera tertidur karena merasa lelah dan ngantuk.


Defan bahkan mengambilkan handuk, dan mengelap tubuh Dira yang basah. Bergantian dengan tubuhnya. Pria itu sangat telaten dan perhatian pada sang istri. Tak ingin membuat istrinya kelelahan.


Setelah mereka memakai piyama lengkap, keduanya merebahkan diri di atas ranjang. Sebelum masuk ke alam mimpi, mereka masih berbincang, melanjutkan moment pillow talk malam itu.


"Abang, teman-teman, Dira ngajak liburan," terang Dira memulai topik pembicaraan mereka.


"Ke mana, sayang?" Defan mengeyampingkan tubuhnya, meletakkan kepala Dira di atas satu lengannya, lalu menatap wanita itu penuh kehangatan.

__ADS_1


__ADS_2