Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
mie instant


__ADS_3

"Iya sih." Jenny dan Shinta kompak mengalah agar tak membuat Carol kelelahan.


******


"Dan, makan dulu deh. Seharian kau belum makan loh," ucap Defan menyodorkan sepiring nasi yang disiapkan keluarga Dania dibelakang.


Dengan rasa sedihnya, Dania meraih piring yang diberikan pria itu. Ia menyuapkan ke mulutnya sendiri. Entah mengapa makanan itu terasa pahit dimulutnya. Tak ada rasa nikmat sekali saat menyantapnya.


Baru tiga suap, Dania menyudahi makanannya. Ia memberikannya lagi pada Defan. "Nggak enak Def!" lirihnya seraya tertunduk, merasa tidak enak pada Defan sudah repot-repot menyiapkan makanan untuknya.


"Ayolah makan lagi! Perutmu kosong loh itu! Seharian nggak makan apapun!" Defan kembali menyodorkan piring berisi makanan tadi.


Namun, Dania menangkisnya. Mendorong dengan tolakan tangannya. Lalu menggelengkan kepalanya tertanda ia tak mau memakan makanan itu.


Akhirnya, Defan mengalah. Ia membawa kembali piring itu ke belakang. Lalu mengambilkan segelas air. Ketika membawa gelas itu, Defan teringat janjinya pada Dira kalau ia tak akan dekat-dekat lagi pada Dania.


Rasa takut itupun muncul. Ia menjadi ragu-ragu untuk mendekati Dania. Namun, saat ini Dania sedang berkabung. Kenapa Dira harus mempermasalahkannya.


Dira harusnya bisa mentolerir untuk hari ini. Apalagi kalau Dira tahu, Dania sudah tidak memiliki seorang ayah. Anak yatim, sekarang ditambah kepergian ibunya. Sudah lengkap menjadi yatim piatu. Dan Dira harus memaklumi hal itu.


Defan larut dalam pikirannya. Meski hari sudah cukup sore, Defan pun masih ingin menemani sahabatnya. Ia selalu ingin berada disisi Dania disaat wanita itu sedang bersedih dan kesusahan.


"Nih, Dir." Tiba-tiba Defan salah mengucap nama saat menyodorkan gelas berisi air mineral. Disaat melangkah tadi, ia terus-menerus memikirkan istrinya.


Dania pun menoleh dan terdiam mendengar perkataan Defan. "Kenapa Def?" tanyanya pura-pura tak mendengar.


"Ini minumnya Dan, kali aja kerongkonganmu kering." Defan meralat omongannya tadi. Dania langsung mengambil gelas berisi air itu, meneguknya dalam sekali teguk.


"Makasih ya Def! Kalau mau pulang nggak apa-apa kok," tutur Dania yang melirik jam ditangannya. Ternyata sudah sangat sore bahkan menjelang malam.


"Iya ... bentar lagi aku pulang kok. Kau nggak apa-apa kan?" tanya Defan memastikan kondisi Dania.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, disini kan juga banyak orang!" balas Dania mengulas lengkungan disudut bibirnya.


Dania pun menyimpan gelas bekasnya di bawah meja yang ada di ruangan itu. Perasaannya sudah agak membaik. Namun, matanya telah membengkak.


Hampir setengah jam Defan duduk di tempatnya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Tak tega jika istrinya sendirian di dalam rumah.


*******


"Ayo Carol!" ajak Dira setelah mereka masuk ke parkiran dibasement.


"Sabar!" Carol pun melepaskan sabuk pengamannya.


Tiga puluh menit yang lalu, mereka sudah mengantarkan Jenny dan Shinta lebih dulu. Ucapan Carol pun ternyata serius ingin mampir ke rumah Dira.


Mereka berdua berjalan beriringan memasuki lift. Dira mengingatkan untuk hati-hati bila bertemu teman sekelas mereka di gedung kondominium itu.


"Carol, si Angga teman sekelas kita juga tinggal disini loh," ungkap Dira membuat Carol terpelongo.


"Iya serius loh! Aku aja kaget! Tapi kubilang aku hanya tamu aja disini. Bukan tinggal disini. Nanti ketahuan pula kalau aku udah nikah," desah Dira, kepalanya pun ikut bergeleng.


"Ya baguslah itu! Jangan sampai dia tahu. Nanti satu sekolah bisa-bisa tahu juga."


"Iyah ... makanya kita harus hati-hati sekarang! Jangan sampai jumpa sama dia lagi di sini," ucap Dira mengingatkan.


Carol pun mengangguk, ia menundukkan kepalanya. Takut sewaktu-waktu pria itu benar-benar hadir di dalam lift.


Ting


Suara lift terbuka setelah mereka berdua tiba di lantai dua. Dira dan Carol berjalan gontai menuju pintu utama rumah.


"Dir, rumah sebesar itu kau beresin sendiri?" seloroh Carol.

__ADS_1


"Iya! Parah kali bang Defan! Nggak mau dia kasih pembantu."


"Hah? Emang kau sanggup membersihkan rumah ini?" Carol mengedarkan pandangannya, menatap luas kondominium milik Dira. Begitu luas dan besar. Pasti Dira akan merasa begitu lelah apalagi aktivitasnya harus bersekolah juga.


"Mau gimana lagi? Tapi aku udah minta supaya ngerjain bersih-bersihnya gantian sama bang Def," jawab Dira sembari melepaskan tas gendongnya.


Carol pun duduk di ruang tamu, ia masih takjub dengan rumah beserta seisinya. Hampir-hampir miriplah seperti yang ada di rumahnya. Hanya saja, furniture milik Dira semuanya keluaran terbaru.


"Gimana ya cari suami kaya seperti bang Defan hehe?" lontar Carol random. Tiba-tiba saja ia berpikiran untuk memiliki suami seperti yang Dira punya, padahal ia juga berasal dari keluarga yang kaya.


"Minta sama mamakmu lah. Pasti banyak kenalannya. Kau kan orang kaya juga," kilah Dira menatap tajam Carol sembari menyeduhkan soda untuk sahabatnya. Beberapa cemilan yang kemarin ia beli pun ikut dihidangkan di meja ruang tamu.


"Kau lapar nggak? Biar kumasakin mie instant," tawar Dira karena ia merasa perutnya sangat lapar. Seharian mereka belum memakan apapun, terakhir saat jam makan siang saja.


"Bolehlah! Kalau di rumah, aku nggak dibolehin mamiku makan mie instant," beber Carol jujur. Makanan itu sangat terlarang di rumahnya. Kalau ada pun pasti punya pembantu di rumahnya.


"Oke! Lima menit ku masak ya!" Dira bergegas ke dapur. Memanaskan air lalu memasukkan telor serta mie instant ketika airnya mendidih. Hanya butuh lima menit, ia membawa dua mangkok mie instant untuk menambal rasa kelaparan yang mendera perut mereka berdua.


"Waw!! Wangi kalipun! Udah lapar kali aku. Kumakan ya, Dir?" Carol pun langsung menyuapkan mie instant kuah yang ada di hadapannya meski masih panas. Aroma yang khas dari makanan itu begitu menyengat, membuat perutnya langsung bergejolak diliputi rasa kelaparan.


"Makanlah!" Dira pun ikut menyeruput kuah mie instantnya. Lalu menyuapkan mienya dengan sekali tarikan.


Sruuut Srutt


Suara seruputan mie saling beradu karena mereka berdua. Seperti orang yang kelaparan tak makan satu harian, mie langsung kandas dari mangkoknya.


"Aih mak! Mantap kali masakanmu Dir." Carol mengacungkan kedua jempolnya pada Dira. Ia merebahkan kepalanya ke sofa yang ada di ruang tamu karena merasa begah.


"Mantap apanya! Masaknya juga kaya diresep yang ada diplastiknya kok hahaha," kekeh Dira karena mendapatkan pujian yang tak biasa.


"Masa sih? Berarti mie instant itu yang enak kali rasanya. Atau karena aku udah lama nggak makan? Aku palak kali sama mamiku, entah kenapa larang-larang padahal cuma makan mie instant doang!" sungut Carol.

__ADS_1


__ADS_2