Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
jodoh


__ADS_3

Dira dan Jenny menunggu di halaman, tak lama setelah berlalu 5 menit, Defan pun datang dan berteriak langsung meminta agar kedua perempuan itu bergegas masuk ke dalam mobil. Kemudian Defan melajukan mobil dengan cepat agar tidak membuat antrian panjang di belakang.


"Sorry, soalnya aku malas mau parkir, apalagi keliling di mall nyari kalian makanya aku langsung suruh buat kalian nunggu di depan aja," kata Defan seraya sesekali melirik wajah istrinya yang sangat cantik dan menggoda.


"Iya, Bang lagian kami udah beres kok main-mainnya, puas lah selama beberapa jam dari kami makan di restoran all you can eat, kemudian main di arena permainan anak-anak, udah deh habis itu keliling-keliling Mall," cerita Dira sembari menjelaskan kegiatan hari ini bersama Jenny.


Saat itu, Jenny duduk terdiam di belakang pasangan itu. Kemudian, Defan akhirnya mengantarkan Jenny terlebih dahulu, melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Selama 10 menit di perjalanan, mereka sudah menurunkan Jenny tepat tidak depan rumah.


"Bang, Dir makasih sudah antar aku pulang, kalian hati-hati," pesan Jenny saat berpamitan kepada sepasang suami istri itu, lalu ia nelambaikan tangan di depan rumah sebelum melihat kepergian Dira dan Defan.


Akhirnya, Defan dan Dida sudah meninggalkan halaman rumah Jenny. Keduanya pun larut dalam pikiran masing-masing, Dira masih tetap khawatir bahwa ia akan dicecar oleh mertuanya tetapi sementara Defan merasa santai saja karena menurutnya tidak ada masalah untuk datang ke rumah orang tuanya jika hanya sekedar berkunjung ataupun menginap dalam sehari.


"Yang, kok bengong aja sih!" tegur Defan, saat melihat Dira dengan tatapan yang datar.


"Hehehe ... aku khawatir, Bang nanti ditanyain sama Inang dan Amang, kapan kita punya anak? Sementara sampai saat ini, aku belum hamil juga," seloroh Dira dengan rasa khawatir yang berlebih.


"Sudahlah cuekin aja, lagian mereka pasti tahu kok masa-masa proses untuk mendapatkan buah hati," sahut Defan, sesekali melirik istrinya.


"Iya, tapi aku nggak enak sama Amang dan Inang. Soalnya kita udah lama menikah tapi belum punya anak juga!" Dira mengusap wajahnya dengan kasar.


"Jadi mau gimana lagi?" tanya Defan, sesekali menoleh pada istrinya yang dengan tatapan penuh tanda tanya.


Menurutnya, menjadi seoeang perempuan serba salah bahkan, terlalu banyak beban yang dipikirkan. Bahkan, dengan perasaan khawatir yang berlebihan.


Dira dan Defan akhirnya sampai di kediaman Desman, lalu mereka masuk ke dalam rumah bahkan sudah disambut oleh Melva dengan senyum sumringah. Lalu Dira dan Defan meraih tangan sang mama dan mencium punggung tangannya dengan santun.


"Ayo masuk!" ajak Melva seraya merangkul pundak menantunya.

__ADS_1


Beberapa menit yang lalu, setelah mendengar suara mesin mobil Melva langsung menuju keluar dengan terburu-buru karena ia tahu yang datang adalah anaknya.


Ketiganya berjalan beriringan, lalu Dira pun menatap lekat wajah mertuanya yang dari tadi sering senyum-senyum sendiri.


"Ih ... rindu kali akulah sama kalian dua. Entah kenapa kalian berdua lama kali nggak pernah berkunjung ke sini!" hardik Melva seraya mangelus-elus pucuk kepala Dira.


"Ah ... Inang, bisa aja! Baru beberapa minggu lalu kami ke sini,"'sahut Dira, mengulum senyum dengan tipis.!


Melva berjalan menuju meja makan, langsung mengajak sepasang suami istri itu, terlihat di meja makan seluruh keluarga sudah duduk dengan tenang. Di sana ada Desman dan Niar yang sudah duduk lebih dulu di kursi masing-masing.


Sang Bapak yang sudah berada di meja makan, menatap kedatangan Defan dan Dira. Lalu, sepasang suami istri itu bergantian menjabat punggung tangan sang Bapak, lalu mereka pun bersiap untuk makan malam.


Saat itu, sebenarnya masih jam 6 sore tetapi Melva sudah tidak sabar untuk mengajak keluarganya untuk makan malam. Bahkan ia sudah menyiapkan sajian besar untuk keluarga tersebut.


"Acara apa ini, Inang kenapa makanannya banyak kali," ujar Dira, sebelum semuanya menyantap makanan itu.


"Nggak ada apa-apa kok, kita cuman makan-makan biasa aja udah lama nggak kumpul-kumpul kayak gini," jawab Melva.


Sore itu, Anggi sudah berada di apartemen, sedang rebahan dan bersantai di atas ranjang. Ia langsung menjawab panggilan telepon yang berasal dari sang mama.


Drt ... drt ...


"Halo, Ma ada apa lagi, seringkali Mama nelepon aku," celoteg Anggi seraya menggerutu, lalu Melva menyalakan mode video call agar bisa melihat wajah putrinya.


"Halo, gimana kabarmu? Ini kami lagi ngumpul loh, udah lama kita nggak kumpul-kumpul bersama kayak gini," terang Melva, sembari menggerakkan ponsel, lalu menunjukkan wajah suami dan anak dan menantunya.


"Hey, Bang Defan, Kak Niar, Bapak gimana kabar kalian?" teriak Anggi seraya tersenyum lebar, saat melihat keluarganya tengah berkumpul.

__ADS_1


Anggi juga melihat Dira berada di sana, tak lupa ia juga menyapanya iparnya.


"Apa kabar, Eda!" lanjut Anggi anggi.


Semua orang melambaikan tangan pada Anggi dengan senyum yang lebar, lalu Desman lah yang menjawab pertanyaan anaknya dengan sedikit berteriak.


"Sehat kami semua di sini, apa kabarmu?"


"Sehat, Pak! Cuma lagi pusing aja, banyak tugas kuliah yang semakin menumpuk," ungkap Anggi seraya menyematnya senyum yang khas pada aang Bapak.


Entah mengapa, ia mulai merasa rindu dengan kehangatan keluarga, biasanya saat jam-jam segini mereka memang kerap berkumpul bersama.


"Lagi ngapain kau?" sambung Defan, ikut juga menanyakan pada adik perempuannya.


"Baru ajak aku pulang dari kampus, capek kali memang ngampus di kota Jakarta ini, terlalu banyak tugas dan banyak harus yang dipelajari," kata Anggi menjelaskan.


"Ah ... kau udah jadi anak Jakarta sekarang, udah enak lah, banyak kawan-kawan kau di sana," sambar Niar, yang tak mau kalah ikut menyuarakan pendapatnya.


"Eh, Kak Niar, gimana kau di sana! Udah beres masa magangmu?" sahut Anggi.


"Belum, masih panjang lah, baru berapa bulan kujalani magang itu," jelas Niar.


"Oh ... jadi udah dapat pacar kau sekarang?" tanya Anggi seraya menatap wajah kakaknya, saat itu ponsel Melva telah direnggut oleh Niar.


Ah mana ada nggak mungkin lah aku pacaran Masih sibuk aku menyelesaikan pendidikanku jawab Niar


"Jangan terlalu sibuk kali Kakak mengemban pendidikan itu, cepat bereskan nanti kabur semua laki-laki kalau terlalu ketinggian pendidikanmu, apalagi karirmu yang semakin melejit, bisa melampaui kesuksesan laki-laki itu, pasti makin menjauhlah mereka!" ucap Anggi, sok menasehati kakaknya.

__ADS_1


"Biarin lah, suka-suka aku,'kalau memang udah jodoh pasti bakal datang sendiri itu," tandas Niar.


"Ya, memang datang sendiri. Tapi kalau nggak dicari, pasti nggak bakal ada yang datang!" sosor Anggi, membuat Niar semakin cemberut serta mulut yang mengkerut.


__ADS_2