Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
merajuk


__ADS_3

"Dir? Mana bajuku," tanya Defan berdiri disamping Dira dengan santai dan merasa tak bersalah.


Dira makin kesal mendengar pertanyaan dari paribannya. Bukannya meminta maaf darinya ataupun basa basi, malah langsung meminta bajunya yang sudah diambil.


Dira diam tak menanggapi Defan. Halaman depan rumahnya sudah rapih, ketiga sahabatnya sedang berada didalam rumah mencuci piring bekas makan mereka berempat. Apalagi mengetahui Defan datang, ketiga sahabat Dira lebih memilih menjauh dari konflik hubungan antar pariban.


"Dir kok kau malah pergi! Tidak ada sopan santunya," ucap Defan dengan dingin.


Dira menuju kamarnya dan mengambil tiga setelan jas milik Defan. Lalu ia langsung memberikan pada Defan tanpa mengucap kata apapun.


Defan yang melihat tingkah Dira sepertinya sedang merajuk karena ia tidak ikut mengambil baju pengantin tersebut. Apalagi Defan tidak sempat mengabari Dira.


Tapi Defan tak banyak omong, dia langsung memasukkan baju-baju itu ke dalam mobilnya.


"Abang pulang dulu," pamit Defan dengan datar tanpa basa basi lagi.


Dia memang sudah merasa lelah hari ini. Karena seharian sibuk untuk menyelesaikan persidangannya. Belum lagi harus bolak-balik mencari Dira yang dengan sengaja tidak menjawab pesannya.


Dira ke belakang menghampiri ketiga sahabatnya yang sedang asik tertawa dan mengobrol saat mencuci piring.


"Loh Dir kemana abang itu? Kok cepat kali," tanya Carol kebingungan karena Defan baru saja datang ke rumah Dira.


"Iya! Secepat itu Dir," Jenny menimpali.


"Udah pergi dia! Nggak tahu lah! Aku malas bicara sama dia," jawab Dira dengan ketus.


"Dir jangan marah-marah gitu! Baiknya tanyakan pelan-pelan. Perbaiki komunikasi kau dengan bang Defan. Kan bentar lagi mau jadi suami istri," ujar Shinta menasihati sahabatnya.


Dira terdiam seribu bahasa. Perasaannya kacau dan kesal karena sikap Defan yang kembali dingin. Sepertinya akan sulit baginya untuk tinggal berdua dengan Defan setelah menikah nanti.


Keduanya baik Dira maupun Defan sama-sama egois. Tidak ada yang mau mengalah. Sikap Defan yang dingin juga membuat Dira semakin muak.


Bagaimana bisa hidup selamanya dengan pria yang tidak ia cintai bahkan bersikap acuh tak acuh seperti itu? Meskipun Dira menyadari beberapa hari yang lalu, sikap Defan sempat berubah dan perhatian padanya.


Mungkin Defan semakin lelah menghadapi anak-anak seperti Dira yang polos dan tidak mengerti keinginannya.

__ADS_1


"Dir kok kau malah jadi melamun," Shinta menegur Dira sehingga membuyarkan lamunannya.


"Udahlah we! Biarin aja! Kasian si Dira. Udah dipaksa nikah, malah dapat calon suami dingin dan arogan kaya gitu," tutur Jenny dengan ketus.


"Nggak perlu kelen pikirin itu! Cepat bereskan cuciannya. Biar bisa kita jalan-jalan," ajak Dira untuk mengalihkan pikirannya mengenai Defan.


Tiba-tiba bapak Dira datang sepulang bekerja. Melihat boru panggoarannya sedang berkumpul di dapur bersama teman-temannya, Sahat memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Tapi dia teringat tentang pengambilan baju pengantin Dira dan Defan.


Sahat berbalik menemui Dira. "Udah kau ambil bajumu itu boru?" tanya Sahat sambil melemparkan senyum pada ketiga sahabat Dira.


"Udah pak!" jawab Dira singkat.


Sahat mengerti kalau Dira belum ingin menikah. Dia juga tidak banyak bicara setelah mendengar jawaban dari boru panggoarannya. Akhirnya dia masuk kembali ke kamarnya.


"Yoklah Dir, udah beres kami. Kemana kita?," ajak Carol dengan semangat.


"Carol! Tolong ajak aku ke mall terbesar di Kota Medan. Waktu itu aku sempat diajak abang itu," perkataan Dira terhenti ketika teringat pada Defan.


"Eh nggak jadilah! Kita ke tempat lain aja. Ada yang punya saran," tanya Dira kepada ketiga temannya.


"Nggaklah! Malas aku jadi ingat abang itu," lirih Dira dengan wajah sendunya. Tiba-tiba dia merasa sedih dengan sikap Defan semakin cuek, kaku dan dingin.


Tidak seperti kemarin-kemarin yang sempat mendekatinya.


"Udah nggak usah kau pikirkan kali dia. Bikin dirimu dulu bahagia baru bahagiain orang lain," perintah Carol.


"Siap Bos!!" kata Dira.


"Jadi kita kemana?"


Carol memberikan saran agar mereka berempat memilih tempat yang bisa membuang pikiran galaunya. Satu-satunya cara terbaik adalah berteriak. Tempat yang paling cocok berteriak adalah tempat karaoke.


"Cusss kita karokean! Biar happy," ajak Carol dengan semangat.


Dira, Shinta dan Jenny berseru "Ayo" dengan semangat. Mereka menaiki mobil Carol menuju salah satu tempat karaoke paling hits di Medan. Tentunya yang ramah dikantong bagi para pelajar seperti mereka.

__ADS_1


"Jujur aja we! Aku nggak bisa ikut patungan. Tapi kalau aku udah jadi nyonya Sinaga, kelen akan tiap hari ku traktir," seru Dira pada ketiga sahabatnya dengan wajah memelas.


Mereka sendiri tidak pernah mengharapkan uang dari Dira. Karena mereka tahu kondisi Dira dan keluarganya. Bahkan Carol, Shinta dan Jenny dengan senang hati mentraktir Dira yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.


"Oalaaaahhh!! Kaya sama siapa ajalah kau dir," sindir Jenny.


Mereka berempat masuk keruang karoke dan memilih lagu-lagu galau dan sedih. Tapi beberap lagu dalam list itu juga banyak lagu-lagu bahagia dan senang.


Mereka bernyanyi bahkan sambil berjoget ria. Tak lupa lagu batak favorit mereka juga distel dalam ruang karoke. Suara indah dari keempat sahabat baik itu memenuhi ruangan.


Tapi terkadang teriakan dan amukan dari Dira juga mengagetkan ketiga sahabatnya. "Kalau Dira sudah jadi nyonya Sinaga apa boleh karoke kayak gini juga?" teriak Shinta agar didengar oleh Dira.


"Boleh dong! Tidak ada yang bisa melarang nyonya Sinaga termasuk suaminya," kekeh Dira yang merasa percaya diri bahwa dirinya tidak akan dikekang selama masa pernikahan.


"Ya kita lihat saja nanti," sambar Carol.


Mereka kembali asik bernyanyi dan berjoget. Menikmati lantunan lagu mellow sebagai lantunan lagu terakhir penutup karoke mereka hari ini. Sebab tidak terasa sudah dua jam berlalu, keempat orang tersebut semakin lelah dan kering dahaganya.


"Sstt! Setelah ini enaknya kemana? Seharian harus full bersama," kata Jenny.


"Enaknya kemana ya?" tanya Dira pada yang lainnya agar memberikan pendapatnya.


Karena sudah sore hari, Shinta menyarankan agar mereka pergi menonton bioskop. Film yang ditayangkan juga cukup menarik.


Anak remaja seperti mereka lebih memilih film dengan kisah percintaan yang romantis. "Oke kita nonton! Pas nih, selesai nonton baru kita pulang," teriak Shinta.


Semua setuju dengan saran Shinta. Carol memesan tiket film melalui platform online. Salah satu film yang paling diminati para remaja saat ini.


Film barat yang romantis sudah menanti mereka. Karena tidak jauh dari tempat karaoke, mereka berempat sampai dengan tepat waktu sebelum tiga puluh menit penanyangan film.


Bahkan mereka juga sempat melihat-lihat isi mall sebelum memasuki bioskop. Baru saja Dira menggandeng sahabatnya berjalan masuk ke dalam bioskop. Sosok Defan dengan seorang wanita menghentikan langkah kakinya.


Defan dan wanita itu sudah berada didalam bioskop hendak membeli tiket secara offline.


"Dir kok diam?" tanya Jenny yang belum menyadari keberadaan Defan.

__ADS_1


"Ssttt tunggu dulu! Ada bang Defan tuh," balas Dira sambil menunjuk sosok Defan yang berdiri didepan untuk membeli tiket.


__ADS_2