Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
area permainan


__ADS_3

"Iya sih, kalau misalnya aku tiba-tiba hamil aku sudah niat untuk mengajukan cuti sementara waktu sampai melahirkan," beber Dira.


"Nah, kan lebih baik jalani saja dulu. Seperti apa adanya, biarkan waktu yang menjawab. Hamil secara alami itu justru lebih bagus," imbuh Jenny menatap lekat sahabatnya.


Karena sibuk berbincang sehingga tidak fokus berjalan-jalan, akhirnya Jenny dan Dira memilih untuk berhenti di sebuah restoran. Mereka pun memesankan makanan yang cukup terkenal kala itu, yang baru saja muncul, hits dan menjamur di kalangan anak muda.


Restoran all you can eat sangat terkenal menjadi pilihan mereka berdua, kali ini mereka ingin memasak sendiri makanan yang akan disantap. Apalagi kemarin Defan sempat berpesan kalau ia ingin merasakan masakan istrinya.


Setelah masuk ke dalam restoran, keduanya sibuk memilih-milih makanan di etalase yang sudah disiapkan oleh pihak restoran. Mereka mengambil beberapa plate daging untuk dibakar beserta sayur-sayuran dan bakso-baksoan.


"Unik juga di restoran ini, baru kali ini aku masuk ke restoran all you can eat seperti ini," celetuk Jenny, menargetkan beberapa makanan untuk dibawa ke meja.


"Sama aku juga! All you can eat ini kan lagi menjamur kali, bahkan digandrungi oleh anak muda seperti kita. Katanya bisa makan sepuasnya sampai muak-muak," balas Dira, sembari terkekeh kecil.


"Tapi kan kita dikasih waktu hanya 90 menit loh, apalagi kita masak sendiri ini, agak repot sih sebenarnya," jelas Jenny.


"Nggak papalah, biar sekalian kita belajar masak," kata Dira.


"Ih, bukan belajar masak kita, kayak main masak-masakan lah, orang semuanya udah dibumbuin tinggal bakar doang," kekeh Jenny, seraya menoel lengan Dira.


Keduanya sibuk memilih daging, sayur dan bakso-baksoan hingga akhirnya kembali lagi meja makan. Keduanya mulai melakukan aksi bakar-membakar seluruh makanan yang sudah dipersiapkan.


Dira sibuk membakar daging, sementara Jenny sibuk membuat sabu-sabu untuk makanan mereka kali ini. Entah mengapa, mereka merasa sangat asyik sekali menikmati masak-memasak yang dilakukan secara sendiri.

__ADS_1


Tak hanya itu, makanan yang dicicipi juga rasanya sangat enak hingga membuat ketagihan. Oleh karena itu, Dira berpikiran ingin mengajak suaminya juga makan ke restoran all you can eat seperti ini.


"Eh, berapa sih tadi harganya?" ucap Dira, sembari menerka-nerka, semenjak dia menjadi orang kaya baru, kini sudah tak pernah lagi mempermasalahkan harga.


Bahkan, saat memasuki restoran, ia juga tidak sempat melihat harga yang tertera di promosi depan restoran.


"Cuma 99 ribu aja kok, kau yang bayar ini kan?" sergah Jenny, menunjukkan cengiran kuda, kini ia tak pernah khawatir selama berjalan-jalan dengan orang yang memiliki uang berlebih baik Dira maupun Carol.


"Iya, tenang aja! Aku yang akan bayarin semuanya. Makan lah sepuasnya sampai kenyang biar sampai rumah nggak usah kau habiskan nasi dan ikan yang dimasak mamakmu," canda Dira, seraya sibuk ngegrill daging.


"Ada-ada aja kau, makan di buru-buru waktu kayak gini mana bisa kenyang lama, paling kenyang sesaat, pas sampai rumah pasti sudah lapar lagi," protes Jenny menatap sinis sahabatnya.


Keduanya kembali sibuk, kini Jenny mengambil alih untuk membantu membakar daging yang tersisa, sementara Dira sibuk menyantap sabu-sabu yang sudah disajikan oleh Jenny.


Belum puas menyantap makanan hasil masak-memasak, Dira dan Jenny juga mengambil beberapa makanan jadi yang disajikan dalam prasmanan. Tak lupa juga mencicipi dessert yang disediakan baik es krim, kue, salad, hingga lainnya.


Memang untuk harganya tidak melebihi sesuai dengan nominal yang tertera pada banner promosi yang dilakukan oleh pihak restoran. Dira sangat bingung dan memperkirakan keuntungan pihak restoran jika pengunjung menghabiskan banyak daging serta makanan yang disajikan berada di dalam etalase.


Setelah menyelesaikan makan siang, keduanya kembali lagi berjalan-jalan mengelilingi restoran. Sejak saat makan tadi, Dira melupakan sejenak rasa khawatirnya tentang keputusan untuk melakukan program hamil.


Namun, entah mengapa saat ia menyusuri mall malah teringat lagi akan hal itu. Dan berkali-kali dia ingin membuyarkan lamunan tetapi sangat sulit rasanya hingga akhirnya Dira mengajak Jenny untuk bermain-main sejenak di tempat permainan anak-anak.


"Pusing kali kepalaku. Yuk lah kita main-main tempat anak-anak itu, kayaknya seru, di sana banyak permainan," ajak Dira, menarik lengan Jenny.

__ADS_1


"Boleh juga tuh, suntuk kali kepalaku memikirkan kuliah yang nggak kelar-kelar. Kayaknya terasa lama kali pun padahal baru beberapa bulan menjalaninya hahaha!" cibir Jenny seraya terkekeh.


"Ya, kau enak beban pikiranmu cuma kuliah aja, lah aku ada dua beban pikiranku, kuliah sama memproduksi anak," gerutu Dira.


"Ah, itu urusanmu lah, siapa suruh kawin muda, nggak mau aku ambil pusing soal itu."


Mereka berdua memasuki arena permainan anak, di sana sudah banyak mobil-mobilan, permainan basket serta berbagai permainan yang seru untuk mendapatkan tiket yang bisa ditukar di loket penukaran.


Dira mencoba peruntungan untuk mendapatkan tiket jackpot, barangkali ia bisa mendapatkan hadiah dari hasil penukaran tiket tersebut. Setelah bermain berkali-kali, melemparkan bola dengan target mendapatkan banyak tiket dalam sekali tembak tapi hasilnya nihil.


Ia malah mendapat kesialan, hanya puluhan tiket yang berhasil di dapat padahal uang yang dikeluarkan tidak sedikit. Sementara, Jenny sibuk menari-nari untuk melenturkan tubuhnya. Ia sengaja memilih permainan tarian dengan scan gerakan tubuhnya hingga akhirnya merasa kesenangan sendiri.


Dira dan Jenny sibuk bermain sampai lupa waktu hingga akhirnya Dira mendapatkan telepon dari suaminya. Defan mengabarkan kalau dia akan segera dijemput, sehingga meminta menunggu di depan halaman agar tidak perlu memarkirkan mobil untuk waktu yang lama.


drt ... drt ...


Ponsel Dira bergetar, ia segera mengangkat sambungan telepon tersebut.


"Halo, Bang?" ucap Dira, seraya memanggil Jenny yang masih sibuk memainkan permainan lain.


"Yang, buruan tunggu di depan, Abang bentar lagi sampai mall. Malas mau parkir lagi. Ajak aja kawanmu, nanti Abang antarkan pulang," jawab Defan, terburu-buru, sebab ia masih fokus menyetir.


"Oh, yaudah aku bakal nungu di halaman mall tepat di pintu keluar ya!" balas Dira, memutus sambungan telepon, lalu menarik lengan Jenny terburu-buru.

__ADS_1


Keduanya pun keluar dari area permainan. Keduanya berlari-lari mengejar waktu kedatangan Defan.


"Buruan, Jen! Nanti kau diantarkan, Bang Defan pulang ke rumah. Soalnya dia bentar lagi sampai. Nggak bisa nunggu lama lagi, nanti mertuaku protes kalau datang kelamaan," papar Dira, dengan nafas yang terenggal-enggal berlari ke depan mall.


__ADS_2