Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
firma hukum


__ADS_3

Ia langsung melakukan reservasi dinner bersama istrinya untuk nanti malam. Sebab, kegiatan Dira dan Defan biasa-biasa saja usai keguguran terjadi.


Defan meraih ponsel, melakukan satu panggilan pada pihak hotel.


"Selamat malam, ada yang bisa dibantu?" sapa seorang pelayan melalui sambungan telepon.


"Selamat malam, saya ingin memesan meja untuk dua orang. Menu-menunya langsung disiapkan saat kita tiba, menu rekomendasi dari pihak restoran saja!" ungkap Defan.


"Baik, pak, atas nama siapa reservasinya?" balas Pelayan.


"Atas nama Defan Sinaga, untuk jam 7 malam, ya, mbak!" sahut Defan dengan cepat.


"Baik, pak ... ditunggu kedatangannya!" Pelayan mematikan sambungan telepon tersebut.


Flashback Off!


Defan hanya mengeluarkan nafas kasar setelah membaca pesan istrinya yang singkat. Lalu, kembali melanjutkan pekerjaan.


***


Senior Dira dan Jenny tiba-tiba masuk ke dalam kelas. Meminta agar maba segera mengumpulkan tugas hasil karya.


Jenny baru saja menuntaskan pembuatan name tag. Sementara, Dira belum selesai membuatkan tas untuk Jenny.


Tas berbentuk bulat, tinggal mengaitkan tali pegangan. Dira memberikan tas yang sejak awal sudah pada Jenny.


"Heh, ngapain kelen dua?" tegur Tika, saat melihat Dira memberikan satu tas hasil buatan tangannya.


"Oh ... ini, kak, aku kembalikan tas si Jenny. Tadi kupinjam sebagai contoh untuk membuat tasku!" kekeh Dira, beralibi.


"Bukan hasil tanganmu itu?" cecar Tika, menatap sinis, dijawab dengan gelengan kepala Dira.


"Awas, ya! Kalau ketahuan bukan karya sendiri!" protes Tika, memperingati.


Jenny dan Dira saling menatap tetapi terkekeh bersama. Siapa yang akan mengaku kalau itu memang bukan buatan tangan Jenny?


Semua mahasiswa juga terdiam. Tak heran, berkat bantuan Jenny memberikan kardus, semua hasil name tag juga tampak serupa.


"Kumpulkan semua karya ke depan!" titah Gamal.


Mahasiswa bergantian maju ke depan, mereka menyerahkan dua karya, name tag dan tas. Namun, ada yang menyita perhatian Gamal dan Tika, name tag itu semuanya terlihat sama.


"Siapa yang bikin name tag ini?" murka Gamal, mengedarkan pandangan, menatap mahasiswa satu-persatu.


"Kita bikin sendiri kok, bang!" jawab Jenny, lugas.

__ADS_1


"Masa sih? Kok sama semua ini?" hardik Tika, menatap penuh selidik.


"Cuma bahannya saja yang sama kak karena dibeli oleh satu orang untuk mempermudah teman-teman lain. Tapi tulisannya beda. Coba dicek!" tambah Dira.


Untung saja, Jenny tadi meminta mengisi nama sendiri di hasil name tag yang sudah dibuat olehnya. Dira juga sudah memprediksi hal ini akan terjadi.


Senior pasti akan meneliti setiap karya. Salah satunya dari hasil tulisan tangan. Oleh karena itu, Gamal dan Tika memastikan kalau name tag itu memang berbeda dari segi tulisan tangan.


****


Di ruang kelas jurusan hukum, Shinta masih melamun. Menatap senior yang masih memikirkan kegiatan selanjutnya.


Entah mengapa, Panja memberikan ide untuk kegiatan lanjutan, yakni perlombaan makan kerupuk ala-ala 17 Agustus, seperti saat memperingati kemerdekaan.


"Bang, yang lebih serulah kegiatan ospeknya," protes Shinta.


Acara ospek yang berlangsung hari ini tidak memberikan semangat. Hanya sekedar memasak, sekarang malah diadakan lomba makan kerupuk. Mahasiswa lain juga ikut protes.


"Ini cuma memeriahkan saja!" balas Panja.


"Ck! Dari tadi kegiatan kita nggak ada hubungannya tentang kampus!" ucap Shinta berdecak.


****


Mahasiswa baru di jurusan arsitektur tengah berdiri di tengah lapangan yang terik. Seperti kebiasaan Jefri, ia sengaja membuat para mahasiswa berperang dengan terik matahari.


"Kami akan merekam momen ini, untuk dokumentasi kampus. Seluruh mahasiswa berdiri, membentuk tulisan USU untuk menciptakan gambar mozaik!" titah Jefri.


Semua anak berdiri satu baris, membentuk tiga huruf yang diperintahkan. Sementara itu, Judika dan Gembi mengambil gambar dan video, untuk mendokumentasikan kegiatan tersebut.


Namun, proses pengambilan video sangat lama, lantaran senior mereka mengambil dari berbagai angle. Para maba kepanasan serta bercucuran keringat.


Termasuk juga Carol dan Grite, mereka sudah menyampaikan protes tetapi tidak digubris oleh Jefri.


"Bang, kok lama kali beresnya!" ucap Carol, menyeka keringat yang bercucuran diseluruh dahi.


"Sabar! Bentar lagi beres!" imbuh Jefri.


Jefri meminta agar Gembi dan Judika segera menyudahi proses pengambilan video apabila sudah selesai.


"Udah belum?" cecar Jefri, memberi tanda untuk mengakhiri kegiatan mozaik di ospek hari keempat.


Gembi menggeleng, sedangkan Judika mengangguk. Beberapa foto sudah diabadikan. Sementara, Gembi masih sibuk mengambil video.


Beberapa saat kemudian, seorang mahasiswa ambruk. Mengejutkan seluruh senior serta mahasiswa lainnya.

__ADS_1


"Eh, cepat-cepat bantu! Yang lain bubar dan istirahat!" jelas Jefri, memberi arahan seraya mengangkat seorang mahasiswa yang sudah terkulai lemas di atas rumput lapangan.


"Tuhkan, apa aku bilang, kok bebal kalilah si Jefri ini," keluh Carol, berbisik pada Grite.


"Udah gitu kita nggak boleh minum pula!" sahut Grite, geram.


"Rasakan tuh dia, ada yang pingsan! Pasti dicecar dosen ataupun ditegur rektor!" seloroh Carol, ia memang tak sepihak jika mengenai kegitan ospek ala militer yang diterapkan oleh Jefri.


Semua mahasiswa membubarkan diri, mencari minuman untuk menghilangkan dahaga. Bagaimana tidak, siapapun yang dijemur di tengah lapangan yang terik selama dua jam, tentu saja tidak akan kuat.


"Jud, depat bantu gendong!" teriak Jefri, meminta bantuan.


Gembi pun ikut panik. Ia menghampiri Jefri dan Judika, membantu mengangkat tubuh seorang mahasiswa yang pingsan, membawa ke klinik kesehatan.


"Mampuslah kita!" umpat Judika, khawatir tentang kejadian tersebut.


"Tenang kau! Selama dia baik-baik saja, kita aman!" celetuk Jefri, sedikit khawatir lantaran kegiatan ospeknya memakan korban.


Ketiga senior tertatih-tatih melintasi lorong kampus. Hingga akhirnya tiba di klinik kesehatan. Seorang dokter muda langsung menangani mahasiswa yang jatuh pingsan terkulai lemas.


"Kenapa dia?" tanya sang dokter.


"Pingsan, dok! Tadi berdiri dua jam di tengah lapangan! Tolong periksakan!" pungkas Jefri, merebahkan tubuh mahasiswa tersebut di brangkar.


****


Defan terus melirik jam yang melingkar di tangan. Ia tak sabar waktu segera berlalu. Jadwal dinner bersama sang istri sudah dinanti. Saat itu, masih menunjukkan jam 4 sore.


Defan masih sibuk mengurus pekerjan. Namun, Sekretaris Desman datang memanggil dirinya.


Tok ... Tok ...


Juni dengan sigap membukakan daun pintu. "Ada apa, bu?" tanya Juni, tersenyum ramah.


"Ada pak defan?"


"Ada, silahkan masuk." Juni kembali ke tempat duduk.


Sang sekretaris CEO, masuk ke dalam ruangan. Melangkah gontai mendekati Defan. "Permisi, pak, anda sudah ditunggu diruangan pak bos!" ucap Sekretaris sembari menundukkan kepala.


"Baik. Saya segera ke sana!" jawab Defan.


Ia beranjak setelah membenahi berkas-berkas yang berserakan di atas meja. Melangkah gontai ke luar ruangan.


"Jun, saya ke ruang pak bos dulu!" pamit Defan, kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


Juni hanya menatap hingga punggung Defan tak terlihat lagi. Ia melanjutkan pekerjaan. Sejenak, ia memikirkan tentang nasib masa magang yang akan berakhir sebentar lagi.


"Apa aku harus tetap bekerja di firma hukum ini?" guman Juni, mengedarkan pandangan, ia merasa sedih jika harus meninggalkan posisinya.


__ADS_2