Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
fotonya jelek


__ADS_3

Defan mengerutkan dahinya, tak habis pikir dengan akal istrinya begitu panjang.


"Mau kemana?" Defan menyorot gadis kecil yang berjalan menuju ke kamar mandi, meninggalkannya sendirinya.


"Mau pakai bajulah! Masa kita berdua pakai baju disini," balas Dira datar, lanjut berjalan gontai menuju kamar mandi, seraya mendekap baju ditangannya.


"Jangan lama-lama dandannya! Lihat nih udah jam 9 pagi, janjinya kita sekarang berangkat loh!" Defan memperingati, bergegas ia memakai setelan kasualnya.


Tak membutuhkan waktu lama, setelah Dira masuk ke kamar mandi, Defan sudah terlihat rapih. Baju santai ia kenakan untuk berjalan-jalan dihari terakhir mereka saat di Bali.


Esoknya Defan dan Dira akan pulang ke Medan. Jadi hari ini adalah hari ia menikmati kebersamaannya bersama gadis itu, sebelum nantinya pulang ke rumah, disibukkan kembali dengan pekerjaannya.


Defan menyugar rambutnya kebelakang, mengoleskan sedikit pomade agar rambut itu sedikit lebih rapih tanpa memerlukan sisir.


Setelah 10 menit berlalu, Dira tak kunjung keluar. Defan mendudukkan dirinya diatas ranjang, ia raih ponselnya diatas nakas.


Tidak seperti biasanya, Defan berseluncur pada media sosialnya. Satu foto yang membekas diingatannya, foto istrinya tengah histeris menaiki paralayang.


Ia menuju galeri diponselnya, memilih foto Dira yang tengah menangis serta berteriak. Foto Dira berwajah sendu, memejamkan matanya dengan erat, tak ada senyum terlintas diwajahnya.


Defan membuat lengkungan tipis disudut bibirnya sesaat melihat foto istrinya. Dalam foto itu, hanya tampak wajah Dira, sementara dibelakangnya tertangkap sebagian tubuh Defan saja.


Tapi itu menarik perhatiannya, dia tekan foto itu, lalu menguploadnya ke media sosial miliknya. Dengan caption "My little girl". Ternyata Dira memiliki ruang tersendiri dihati Defan.


Sekarang wajah Dira terpampang nyata di media sosial milik suaminya, meski ia sendiri tidak mengetahui betapa jelek wajahnya didalam foto itu.


Ceklek


Dira keluar dari kamar mandi. Cantik. Satu kata yang terlintas dibenak pria itu. Wanitanya begitu cantik dimatanya. Walau wajahnya hanya terpoles makeup tipis begitu natural, bibirnya menggunakan liptint berwarna soft pink glossy, rambutnya dicepol setelah dikeringkannya menggunakan hairdyer, mengekspose leher jenjangnya.


Baju yang dikenakan sangat sederhana tapi menunjukkan sisi fashionable. Baju yang dibelikan oleh mamanya Defan, baju-baju itu sepadan ditubuh Dira yang memiliki badan yang langsing berkaki jenjang.


"Heeemmm." Defan bergumam meneliti penampilan istrinya. Dari atas kebawah, tidak ada yang terlewat. Semuanya tampak cantik.


"Kok lama sih dandannya! Lihat nih sudah kelewat 20 menit," dengus Defan berlagak kesal. Namun ia menyukai penampilan istrinya hari ini.


"Ya! Namanya juga perempuan." Dira hanya mengambil ponsel diatas nakas, mengantonginya kedalam saku.


"Ayo," ucap Dira bersiap pergi.


"Udah gitu doang? Nggak bawa tas?" Defan mencari tas gendong usang istrinya. Tapi tak ada disekitarnya, tas yang sudah berada didalam tong sampah itu, belum ia sadari keberadaannya disana.


"Enggak." Dira berjalan gontai menarik handel pintu kamar mereka, didepan pintu ia masih menunggu suaminya bergerak.


"Abang cepat! Katanya udah terlambat," sungut Dira bingung pada suaminya sedaritadi yang tak bergerak, malah memilih diam.

__ADS_1


Pandangan Defan masih mencari tas istrinya yang biasanya ia bawa. Mencari kemanapun tidak diketemukan juga. Baru saja ia berdiri, pandangannya terhenti pada tong sampah yang ada disamping lemari baju hotel.


Begitu kagetnya ia, tas itu sudah tergeletak didalam sana.


Dia mendengarkan omonganku juga! Sekarang tas itu sudah dibuangnya.


Defan larut dalam pikirannya, sementara Dira menunggu hingga suaminya itu menghampiri.


"Bang cepatlah! Kasian loh bapak itu nunggu kita terus. Udah dikasih jam 9 pagi, masih saja terlambat," cetus Dira menasehati suaminya.


"Iyah," lirih Defan, berjalan gontai menghampiri istrinya.


Sepanjang melintasi koridor hotel, pikiran Defan masih tertuju pada tas milik istrinya. Ia harus membelikan tas baru sebagai gantinya. Namun, Defan tak berani menyinggung tas tersebut, meski mereka berdua sedang bersama, berjalan beriringan.


"Kemana kita hari ini ya bang?" seru Dira dengan semangatnya.


"Nggak tahu, tanya saja pada bapak itu," celetuknya singkat.


Sesampainya di lobi hotel, sopir mereka menyambut kedatangan mereka berdua. Dia langsung beranjak dari duduknya, bergegas menuju halaman perpakiran.


Karena sudah terbiasa sopir selalu meminta menunggu didepan halaman hotel, Defan dan Dira langsung keluar. Mereka berdiri menunggu sopir datang membawakan mobil tersebut.


Keduanya berhasil duduk dengan santai didalam mobil. Kali ini, Defan tak melayangkan pertanyaannya pada sopir tersebut. Justru Dira yang mempertanyakan lokasi tujuan mereka.


"Pak kemana hari ini?" Dira tampak antusias sekali dihari terakhir mereka liburan.


"Berapa lama kita sampai pak?" sambar Defan penasaran.


"Bisa sampai 1,5jam bahkan sampai dua jam pak. Istirahat saja dulu," terang sopir itu.


Dira mulai sibuk sendiri dengan ponselnya, begitupula dengan Defan. Defan fokus untuk membahas materi persidangannya.


Sedangkan Dira mulai berseluncur di media sosialnya. Ia baru saja memantau isi berandanya di instagram. Kemudian beralih ke eskplore, tiba-tiba ia melihat wajahnya pada bagian eksplore tersebut.


Wajah yang suram sekilas terlihat sebelum ia mengkliknya lebih jauh. Karena penasaran ia coba menekan foto tersebut. Benar saja prediksinya, kalau foto itu diposting oleh suaminya.


What? My little girl? Dia lagi ngenalin aku didunianya? Tapi kenapa harus foto sejelek ini sih??


Dumelan Dira hanya bisa diungkap dalam hatinya saja. Padahal orang yang mempostingnya berada disebelahnya, tapi ia tak berani protes minta foto itu dihapus. Bisa malu setengah mati Dira, kalau Defan tau, dirinya telah dipantau oleh Dira meski hanya melalui media sosial.


Dira beralih ke aplikasi watsappnya setelah menjepret layar postingan Defan. Ia masuk ke dalam grup obrolan bersama sahabat-sahabatnya.


^^^Dira^^^


^^^Woi! Aku nggak tahu lagi, ini bad news atau good news! Baru saja fotoku masuk dibagian eksplore, eh ga taunya suamiku yang upload. Aku nggak tahu mau senang atau sedih, masalahnya fotonya jelek kali loh! ^^^

__ADS_1


Fotonya pun ia lampirkan dalam grup obrolan mereka. Sontak, foto itu membuat kehebohan didalam grup.


Shinta


Kok jelek kali mukamu disitu? Apa nggak ada foto lain?


Carol


Berarti dia udah nggak sembunyiin statusnya lagi tuh, lihat captionnya, gemes banget nggak sih??


Jenny


Udah sahlah kau jadi nyonya Sinaga Dir, buktinya abang itu udah posting fotomu. Tapi kelen udah saling follow?


^^^Dira^^^


^^^Nggak ada ku follow dia, cuma postingannya muncul aja dibagian eksploreku. Ya, makanya kubilang tadi antara bad news atau good news nih 🥲^^^


Jenny


Coba kau followlah dia dulu. Masa suami istri nggak saling follow sih


Shinta


Jangan follow Dir, gengsilah. Harusnya dia sebagai suami yang follow duluan


Carol


Kalau namanya suami istri sudah terikat, nggak perlu lagi siapa yang duluan memulai eaaakk


^^^Dira^^^


^^^Nggak ah, malas aku mau follow dia. Ntar terbang lagi orangnya kegirangan. Lagian aku malu, masa fotoku sejelek itu yang dia posting. Padahal wajahkukan cantik kali😌^^^


Carol


Pede kali kau ya Dir, tapi memang kau cantik kok daripada sahabat suamimu ituu hahaha


Shinta


Wooi udah nggak usah ribut, Dir kau beresin dulu liburanmu. Kami masih belajar ini, please jangan bikin ngiri


^^^Dira^^^


^^^Yaudahlah ya weee, perjalananku masih panjang. Aku pamit dulu, met belajar keleeeen!! Semangat!!^^^

__ADS_1


Watsap obrolan itu berakhir, Dira menatap lekat suaminya yang sedang fokus pada pembahasan materi yang ada diponselnya.


__ADS_2