Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
passionmu


__ADS_3

Setelah semua selesai menyantap sarapan pagi, akhirnya semuanya pun mulai berangkat kerja dan ke kampus terkecuali Melva yang masih tetap tinggal di rumah seorang diri ditemani oleh 10 pembantunya.


Dira dan Defan berpamitan pada kedua orang tuanya, mereka langsung pergi berangkat, sebelumnya sepasang suami istri itu sudah mencium punggung tangan kedua orang tuanya kemudian berlalu pergi.Sementara Niar berangkat seorang diri menggunakan mobil pribadinya termasuk sang Bapak juga diantarkan oleh sopir pribadinya.!


"Hati-hati," teriak Melva saat tiga mobil beriringan keluar dari halaman rumah, Melva pun melambaikan tangan dari ambang batas pintu dengan mengulum senyum.


Defan bergegas melajukan mobil menuju kampus. Kebetulan, pagi itu Dira memang sedang ada jadwal kuliah pagi sehingga harus bergegas ke sana dan tidak boleh terlambat seperti kemarin.


****


Hari ini, Sahat sedang mengajukan cuti selama sehari, sebab ia ingin merealisasikan rencana mereka tentang pembukaan usaha sembako yang akan dilakukan di dalam rumah. Oleh karena itu, pagi-pagi sekali Rosma dan Sahat sudah mulai mencari grosir yang akan menjadi pemasok sembako di warung mereka nantinya.


"Pak, buruan!" ucap Rosma dengan sedikit berteriak dari depan pintu, ia tengah menunggu suaminya yang masih bersiap-siap untuk berangkat bersama.


Menggunakan kendaraan bermotor, akhirnya sepasang suami istri itu berangkat ke pasar yang menjadi target tempat mereka untuk mencari pemasok berbagai bahan sembako yang akan dijual nantinya.


Rosma sudah semakin yakin dengan hasil sisa uang 50 juta, bisa menggunakan uang itu untuk untuk berjualan sementara waktu demi mendapatkan uang tambahan agar biaya kehidupan tertutupi. Sedangkan uang 50 juta lagi, sudah mereka masukkan ke dalam bank untuk dibuatkan tabungan berjangka agar nantinya Parulian bisa kuliah menggunakan uang tersebut.


Setelah tiba di pasar yang menjadi incaran sepasang suami istri itu, keduanya mulai berkeliling dan berpisah mencari beberapa bahan pemasok beras. Sedangkan Sahat mencari pemasok bahan-bahan sembako lain seperti gula, minyak serta yang lainnya.


Keduanya berpencar untuk mencari semua bahan keperluan. Rencana membuka warung sembako ini memang belum diketahui oleh Dira, mereka sengaja tidak ingin mengabarkan tentang rencana membuka bisnis baru tersebut, karena tidak ingin membuat Dira merasa khawatir meskipun mereka sangat bersemangat untuk memulai usaha ini.

__ADS_1


Beberapa jam berlau, beberapa toko pun sudah dikelilingi oleh sepasang suami istri itu, mereka akhirnya menemukan toko yang akan menjadi pemasok bahan baku saat penjualan sembako.


Bahkan, tak segan-segan Rosma dan Sahat sudah memasukkan uang untuk pembelian bahan sembako, semua hasil belanjaan merekanpun segera diantarkan ke alamat rumah. Sahat dan Rosma meyakini bahwa usaha ini akan berkembang sebagai salah satu jalan untuk menghasilkan uang daripada mereka tidak ada pemasukan sama sekali dengan pengeluaran sangat tinggi.


Sahat dan Rosma juga menyiapkan beberapa jualan yang akan dijajakan pada anak-anak, walaupun untungnya sedikit tapi setidaknya ia tak membuat anak-anaknya pergi ke warung lain hanya untuk membeli jajanan.


***


Dira baru saja mencium punggung tangan suaminya, lalu mencium bibir pipi hingga kening suaminya dengan sangat mesra. Keduanya pun berpisah setelah Dira tiba di halaman kampus. Kemudian, Defan pun segera menginjakkan gas, meninggalkan halaman kampus Dira. Ia bergegas menuju kantor karena sudah banyak tugas yang menantikan kehadirannya.


****


Dira segera ingin berkumpul bersama teman-temannya di kantin kampus. Kebetulan sekali, hari itu mereka memiliki jadwal yang sama yakni kuliah pagi semua sehingga mereka sudah bersepakat untuk berkumpul di kantin.


Kemudian, Dira berlari kecil untuk segera menghampiri ketiga perempuan itu. Aneh, pikiran Dira melantur saat ia mengedarkan pandangan, karena tak melihat kehadiran Jefri yang biasanya selalu berada di sekitar Carol. Entah mengapa ia merasa kehilangan dan tidak terusik lagi.


"Tumben hari ini nggak ada Bang Jefri," celetuk Dira saat ia berdiri di samping Carol, ia ingin menarik kursi dan duduk di sana.


"Nggak tahu dia ke mana. Dari kemarin udah nggak ada kabar," kata Carol seraya menyematkan senyum tipis di wajah.


"Udah putus kalian? Baru juga beberapa hari pacaran masa udah putus sih," sambar Shinta yang tersenyum kegirangan, ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada hubungan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Belum kok, mana ada kami putus cuma nggak ada komunikasi aja," ungkap Carol.


Semalaman, memang Carol dan Jefri saling memutus komunikasi, mereka sangat gengsi untuk memberi kabar terlebih dahulu. Memang Jefri awalnya sengaja ingin memberi pelajaran pada Carol karena menurutnya Carol terlalu menyepelekannya sebagai seorang pacar.


Sedangkan Carol memiliki ego yang terlalu tinggi, ia memang tak suka menghubungi pria itu lebih dulu sehingga dia menunggu kabar Jefri lebih dulu. Tapi Carol tak menampik jika Jefri sewaktu-waktu mengirimkan pesan, tentu saja ia akan membalas dengan cepat.


Pagi itu, Jefri juga tidak ada jadwal ngampus sehingga sekarang tak bertemu dengan kekasihnya. Sehingga rasa khawatir terus menggeluti di hati Carol.


"Eh, sarapan dulu!" ucap Jenny pada Dira yang baru saja duduk bertabung bersama mereka, sementara ketiga wanita itu sudah memiliki makanan masing-masing di hadapannya.


"Aku udah kenyang kali loh, tadi makan banyak kali di rumah mertuaku. Soalnya kami semalam nginep di sana. Pagi-pagi mertuaku udah masak banyak-banyak. Sayang kalau nggak dihabiskan," tutur Dira seraya terkekeh.


"Enaknya punya mertua yang baik dan perhatian begitu plus kaya pula," lanjut Shinta.


Sahabat Dira yang satu ini kerap sekali memberikan pendapat yang tak sesuai dengan yang dibicarakan kala itu. Meski ia hanya meluapkan kata-kata yang ada di dalam pikirannya saja.


"Ah, pikiranmu terus saja tentang orang kaya, udah kau fokus kuliah aja, tuntasin dulu kuliahmu jangan sampai terbengkalai dan putus kuliah ditengah jalan," sela Dira, menatap sinis sahabatnya.


Entah kenapa menurut Dira, Shinta memiliki pemikiran yang sangat awam, ia terlalu agresif ingin keluar dari jeratan kemiskinan hingga berpikiran ingin mencari pria kaya seperti yang dimiliki oleh Dira.


"Iya, kau suka kali nggak nyambung, orang ceritain apa tiba-tiba nyinggung orang kaya," sesal Jeni menatap sengit sahabatnya itu, keduanya memang kerap sekali berdebat hal-hal yang tidak masuk akal.

__ADS_1


"Udah Intinya kau fokus kuliah, nggak usah kau harapkan laki-laki kaya, Shin. Kenapa kau nggak berpikiran untuk membuat dirimu sendiri kaya dulu dengan cara beresin kuliah lalu bekerja sesuai dengan passionmu. Dapatkan uang sendiri dululah!" saran Dira sok bijak dengan rasa jengkel di dada.


Shinta hanya menyengir kuda dan terkekeh kecil mendengar pendapat teman-temannya tetapi ia hanya memasukkan pendapat teman-temannya dari kuping kanan hingga keluar melalui kuping kiri. Bahkan, dia pun tak menanggapi omongan para sahabatnya. Fokus utama Shinta yakni tetap mencari pria kaya raya seperti pacar Carol dan suami Dira.


__ADS_2