Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
membantah senior


__ADS_3

Shinta mengungkapkan rasa sukanya secara terang-terangan. "Abang, aku suka sama abang! Kalau bunga ini diterima, berarti abang mau menerima pernyataanku. Abang akan jadi crush bagiku selamanya!" ungkap Shinta, menyodorkan ikatan bunga yang berhasil dia ambil dari taman-taman kampus.


"Hooooo ... terima, terima, terima," teriak maba lain dengan kompak seraya bertepuk tangan.


Shinta masih terkaku, menyodorkan satu ikatan bunga, satu tangan lagi membungkam mulutnya karena masih deg-degan apakah ungkapan cintanya akan diterima atau tidak.


Namun, senior tampan yang menatap Shinta dengan datar mengambil ikatan bunga itu. Ia hanya menghargai pemberian Shinta, tidak lebih.


"Ciyeeeee!!!" teriak kumpulan maba itu.


Shinta menutup wajahnya dengan kedua tangan. Semakin malu melihat reaksi maba lain yang memujinya. Namun, tak semua memuji aksi Shinta, beberapa maba wanita yang menginginkan senior itu juga mencibirnya.


"Yealah, gitu doang juga aku bisa!" timpal maba lainnya.


"Sama! Aku juga berani kok lakuin hal itu," sambung maba lain lagi, dengan ekspresi jutek.


Keseruan ospek di fakultas hukum, membuat Shinta semakin terkenal. Ia dikatakan sebagai perempuan pemberani dari seluruh maba di tingkatan itu.


*****


"Yaudah, kau sekarang dihukum! Keliling lapangan 10 kali!" ucap Jefri, sedikit membentak sehingga Carol terkejut.


"A–apa, bang? 10 kali?" tanya Carol, memastikan.


Semua maba yang hadir semakin takut, pasalnya hukuman fisik seharusnya tidak diperbolehkan lagi untuk dilakukan saat ospek. Namun, tidak berlaku bagi Jefri, yang dikenal sebagai senior yang kejam.


Ia sangat suka menyiksa maba hingga mereka memohon ampun. Meski dengan satu syarat, maba tersebut tidak sampai pingsan atau masuk rumah sakit karena akan membuat citra para senior dan kampusnya semakin buruk.


"Iya, cepat!" kata Jefri, penuh penekanan.


Carol pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Jefri. Hingga dua putaran, nafas Carol sudah terengah-engah. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan tapi ia bertahan demi melaksanakan tugas dari sang senior.


"Kalian lihat dia! Kalau kalian bikin kesalahan, akan berakhir sama dengannya!" ketus Jefri.


"Sstt ... jangan galak-galak, bos," ujar Senior lain, Judika, bertampang polos tetapi memiliki sikap tegas juga sama seperti Jefri meski hatinya lebih baik dari teman seangkatannya itu.

__ADS_1


"Diam!" Jefri melotot pada Judika sebagai balasannya.


"Oke, semuanya! Kita mulai kegiatan hari ini, senior di depan kalian ini, akan mengecek semua atribut yang dipakai. Kalau tidak lengkap akan dihukum. Mulai dari ujung sana! Maju ke depan!" tegas Jefri.


Para maba secara bergantian melaksanakan perintah seniornya. "Eits, tunggu dulu! Jangan jalan biasa dong, jalannya jongkok!" tandas Jefri lagi.


Semua anak mulai ketakutan, satu-persatu mulai berjalan jongkok. Atribut yang dipakai dipastikan kembali. Khususnya, kalung dengan gambar diri masing-masing menunjukkan foto terjelek mereka akan diteliti.


Bila tak lolos dari seleksi senior, maba itu akan berakhir mendapatkan hukuman. Atribut yang dicek mulai dari kalung tali plastik dengan kelengkapan foto jelek, kaos kaki warna-warni yang dipakai, serta topi dari ember.


Bahkan, mahasiswa yang ketahuan memakai make-up tebal pun akan diberikan hukuman berat. "Kau, lolos! Kau, lolos! Kau, ke belakang sana!" ucap Jefri, saat menyeleksi satu-persatu.


Hingga akhirnya, Carol sudah berhasil berlari sebanyak 10 kali di lapangan, ia kembali ke dalam kumpulan maba yang masih dalam tahan penyeleksian.


"Eh, kau yang tadi, maju!" kata Judika, mengambil alih Carol.


Sebenarnya, pria itu tak tega melihat maba cantik seperti Carol diberikan hukuman keliling lapangan 10 kali. Oleh karena itu, ketika ia melihat kedatangan Carol, ia langsung memerintah Carol mendekatinya.


Jefri yang melihat Carol sudah lengkap dengan atributnya tetapi satu kekurangannya. Ia lupa memakai topi ember di atas kepala. "Mana topimu?"


Yang diingatnya hanya memakai kalung serta kaos kaki warna-warni. Mendengar jawaban Carol yang masih tergagu, Jefri tiba-tiba menoleh ke arahnya.


"Kenapa, Jud?" tanyanya, mengagetkan Judika saat itu juga.


"Udah, kau urus aja itu. Yang ini, biar aku yang urus," ucapnya mengalihkan pandangan Jefri.


Namun, Jefri malah semakin memperhatikan Carol. Setelah dilihatnya lagi, itu wanita yang tadi mendapatkan hukuman darinya.


"Kau pindah ke sini, Jud!" timpal Jefri, lalu bergerak cepat menghampiri Carol.


"Sial!" umpat Judika, rencananya gagal untuk mengawasi Carol.


Jefri langsung menelisik tubuh Carol, ada satu yang kurang yakni topi ember miliknya. "Mana topimu?"


Carol hanya terdiam menatap Jefri dengan tatapan mata elang yang seakan ingin menerkam. Kepalanya menunduk ketakutan.

__ADS_1


"Aissh," decak Carol lirih, tak ingin sampai terdengar ke gendang telinga Jefri.


"Mana?" bentak Jefri, karena Carol terdiam cukup lama.


"Lu–lupa, bang!" jawab Carol dengan lirih.


"Apa? Kalau ngomong yang jelas!" bentak Jefri lagi, sehingga anak lain mengarah menatap Carol dan dirinya.


"Lupa, Bang!" balas Carol, sedikit berteriak.


"Apa? Berani kau bentak seniormu! Sekarang berkeliling jongkok di lapangan! 10 kali!" desak Jefri, berkata penuh penekanan.


"A–apa?" Carol sangat syok mendengar permintaan itu, kakinya sudah terasa keram setelah berkeliling lapangan tadi.


Kini, ia harus berkeliling lagi tapi dengan keadaan berjongkok. Hal yang mustahil baginya, bisa-bisa kakinya akan terasa seperti patah.


"Apa kau pekak? Nggak dengar apa yang kubilang tadi?" Jefri melotot tajam kepada Carol.


"Tadi saya sudah keliling lapangan 10 kali, bang. Sekarang masa harus keliling lagi? Apalagi jongkok, abang gila, ya? Ngasih hukuman tuh pakai logika, jangan nyakitin fisik orang!" bantah Carol, berteriak-teriak tanpa rasa takut.


"Dasar! Kau ini masih junior! Sudah berani membantah seniormu! Apa bapakmu yang punya kampus ini, hah? Makanya kau berani membantah?" hardik Jefri, adu mulut pun semakin tajam.


"Kalau iya, kenapa? Abang takut di DO dari kampus ini?" tantang Carol, menyeringai ke arah Jefri, sontak membuat pria itu semakin geram.


"Helo! Ini kampus milik pemerintah! Tidak ada campur tangan bapakmu!" kata Jefri, semakin nekad beradu.


"Terus? Maumu apa? Coba kau aja yang keliling lapangan sembari berjongkok!" tampik Carol, membalikkan keadaan.


"Sanggup nggak, kau?" Carol sengaja memancing amarah seniornya, sebab ia tak takut untuk disalahkan. Menurutnya, hukuman itu cukup menyiksa bagi maba baru seperti dirinya.


Jefri seketika terdiam, akhirnya ia kalah debat dari Carol. Sebab, kakinya juga tak sekuat dulu saat ia sudah terkena cedera karena tandingan futsal dua tahun yang lalu.


Mendengar perdebatan antara Carol dan Jefri, maba lain berdecak kagum pada keberanian Carol. Mereka tak menyangka ada yang berani melawan senior kejam seperti Jefri.


"Sudahlah, bro! Kasih hukuman lain aja," tutur Judika, saat menghampiri Jefri dan merangkulnya untuk menyadarkan lamunan pria itu.

__ADS_1


"Kau urus saja dia!" sanggah Jefri, kemudian pergi dari lapangan dengan rasa kesal yang memuncak.


__ADS_2