
Defan, Dira dan ketiga sahabatnya masuk ke dalam sebuah ruangan khusus. Ruangan khusus untuk pelanggan VIP. Ruangan yang telah dipesan oleh Defan sehari sebelumnya.
Mereka berlima duduk didalam ruangan itu. Interior ruangan sangatlah mewah, karena resto itu hanya untuk kalangan atas. Dira dan ketiga sahabatnya sangat takjub melihat isi ruangan yang dilengkapi dengan perabotan yang mewah dan mahal.
Pramusaji mulai menyiapkan makanan. Makanan itupun juga sudah dipesan sehingga disajikan dengan cepat oleh para pelayannya.
"Diraaaa! laki-laki kayak gini jangan kau sia-siakan!" bisik Carol yang masih tak menyangka dengan perlakuan Defan kepada paribannya.
Dira kebingungan mendengar bisikan Carol. Apa istimewanya dari Defan hingga tidak boleh disiak-siakan? Hati Dira masih tertutup, ia belum jatuh cinta pada Defan yang akan menjadi suaminya sebentar lagi.
Padahal perempuan manapun harusnya mengetahui kalau perlakuan Defan ke Dira sangatlah perhatian dan istimewa. Dira memang anak kecil yang polos. Belum waktunya untuk mengerti tentang dunia percintaan.
"Silahkan makan," ucap Defan ketika semua makanan telah tersaji.
Dira dan ketiga sahabatnya dengan lahap memakan makanan tersebut. Begitu juga dengan Defan. Mereka makan bersama menghabiskan makanan yang tersaji di meja makan.
Menu itu banyak tapi dengan porsi yang sedikit. Sehingga yang memakannya tidak terlalu kekenyangan. Porsinya pas untuk mereka.
"Tumben abang ajak aku kesini?" tanya Dira polos.
"Lagi pengen makan disini aja! kebetulan aku mengingatmu," ucap Defan dengan dingin.
Sebenarnya bukan seperti ini rencana Defan. Makan berdua secara romantis yang dia inginkan untuk memperkuat ikatan dengan calon istrinya.
Tapi takdir berkata lain, Dira tak akan ikut dengan Defan jika ketiga sahabatnya itu tidak diajak. "Bang! enak juga makan disini. Nanti kalo Dira udah jadi istri abang, sering-seringlah ajak kami ke tempat kayak gini," pinta Shinta.
"Iya bang, jangan celit-celit nanti abang ya!!" tambah Jenny.
Sedangkan Carol memilih diam dan tak berkomentar apapun. Dia masih menikmati dessertnya.
"Selesai makan kita kemana lagi bang," tanya Dira serius, dia penasaran apalagi kejutan yang akan diterimanya.
__ADS_1
"Kelen mau kemana emang," Defan malah bertanya balik pada Dira dan ketiga sahabatnya.
Carol mencolek lengan Jenny, bertanya apakah mereka akan melanjutkan perjalanan atau memilih pulang."Enaknya kemana nih?" bisik Carol.
"Jalan-jalan lah!" Jenny menjawabnya. Dira dan Shinta mengangguk menyetujui pendapat Jenny.
Akhirnya Dira membuka suaranya mewakili teman-temannya dan menjawab. "Gimana kalau kita ke Danau siombak?" Dira kemudian melihat Defan dan ketiga temannya.
Carol, Shinta dan Jenny mengangguk dan setuju dengan pilihan Dira. Defan terdiam, karena dia tidak pernah berkunjung ke tempat wisata seperti itu.
"Tempat apa itu?" tanya Defan datar.
"Wisatalah bang! tempatnya seru kok! enak banget lihat pemandangan," tutur Dira dengan semangat.
"Oke! kelen tunjukkan aja jalannya," balas Defan.
Setelah selesai makan, mereka berlima keluar dari restoran dan masih mendapat perhatian dari para pengunjung resto. Defan memberanikan Diri untuk menegur orang-orang yang memperhatikan mereka.
Ucapan Defan sangat ampuh sehingga tidak Da yang berani untuk memperhatikan mereka.
Defan mulai mengendarai mobilnya. Sepanjang perjalanan, Dira yang menjadi penunjuk jalan. Tempat itu memang sering dikunjungi oleh Dira dan ketiga temannya karena tempatnya enak dan gratis kalau masuk.
Selain itu mereka juga disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Tak hanya itu, di kawasan tersebut juga terdapat tempat bermain dan ayunan khusus mereka yang berpasangan.
Carol, Jenny dan Shinta akhirnya memisahkan diri. Mereka memberikan waktu dan ruang bagi Dira. Carol sengaja mengajak dua sahabatnya untuk ikut dengannya. Karena ia tahu Defan ingin sekali berduaan dengan Dira.
Padahal Dira tadinya juga ingin bersama ketiga sahabatnya. Tapi dengan tegas Carol menolak dan meminta Dira agar menemani paribannya itu.
Dira berjalan beriringan dengan Defan. Dira juga mengambil ponselnya mengabadikan beberapa foto menarik. Dia mengajak Defan bergaya pada beberapa spot foto dan mengambil jepretan selfie mereka berdua.
Defan dengan ekspresi datarnya bisa menikmati alam sekitar dari pemandangan danau itu.
__ADS_1
"Tempatnya emang sepi kayak gini ya?" Defan bertanya dengan datar.
"Enggak kok bang. Mungkin karena lagi sepi aja kali. Anak-anak lain banyak yang datang kesini, kebanyakan pelajar kaya kami ini," jawab Dira.
Defan meraih tangan Dira dan menggenggamnya. Kemudian menarik Dira untuk menyusuri jalan saat itu. Mereka berdua berlari-lari kecil dipinggiran danau.
Akhirnya tanpa sadar Defan tak kunjung melepaskan tangannya yang terus bergandengan dengan Dira. Dira daritadi secara sadar kalau tangannya dipegang oleh paribannya.
Tapi ia sungkan untuk meminta dilepaskan tangannya. Akhirnya Dira lebih memilih mengikuti jalan Defan yang santai dan lambat.
Tidak terasa sudah sore, mereka akan menyaksikan sunset, tenggelamnya matahari. Perlahan langit-langit mulai gelap. Auranya sangat berbeda, melihat sunset di pinggiran danau siombak menjadikan bayangan matahari terlihat sangat indah.
"Bagus sekali," lirih Defan dengan pelan.
Dira juga menikmati pemandangan itu. Mereka sedang fokus memperhatikan sunset, tiba-tiba ketiga sahabatnya menghampiri.
Duaaaar!
Suara mengejutkan datang dari Jenny. Defan terkejut sedangkan Dira menyambut kedatangan tiga sahabatnya dan tersenyum. Belum juga Defan melepaskan tangannya, diam-diam Shinta, Jenny dan Carol fokus memperhatikan Defan yang memegang erat tangan Dira.
Defan tidak mau melepaskan tangan Dira sema sekali meski dia menyadari kedatangan teman-teman Dira.
"Cieeee abang so sweet kali lah. Dari tadi tuh genggam tangan Dira," ejek Carol pada Defan dan Dira.
Dengan cepat Defan melepaskan genggaman tangannya. Dira merasa malu-malu didepan temannya.
"Enak ya Dir punya calon suami," sindir Shinta.
"Kalo mau kaya Dira, suruh mamakmu jodohin kau," celetuk Jenny dan ia terkekeh sendiri dengan perkataannya padahal ia sendiri juga ingin merasakan seperti Dira.
"Manalah bisa kita dapat kayak abang Defan ini. Udah ganteng, kaya pulak," sambung Carol.
__ADS_1
"Udahlah wee! jangan kelen ejek-ejek abang itu," Dira menegur tiga temannya agar berhenti bercanda.