
"Def? Kok bengong? Kau kenal mereka?" tanya perempuan itu seketika membuyarkan lamunan Defan karena terus berpikir mengapa Dira ada ditempat yang sama dengannya.
"Oh iya! Kenalkan anak ini Dira. Calon istriku!" ucap Defan dengan datar pada perempuan itu.
Sementara Dira menunggu Defan untuk mengenalkan perempuan itu padanya. Dira terpaku menanti lanjutan pengenalan itu.
"Bukan pacarnya itu lah woi! Buktinya Dira dikenalkan sebagai calon istri," bisik Jenny pada dua sahabatnya.
"Iyah sih. Kalau pacar nggak mungkin kan dia berani kenalin Dira," tambah Shinta mengiyakan kata-kata Jenny.
"Kalau dia siapa bang?" tanya Dira dengan songong. Dira dengan tiba-tiba membuka suaranya. Memberanikan diri untuk bertanya pada Defan, karena penasarannya sejak tadi belum juga terpecahkan.
"Oh iya! Abang jadi lupa ngenalin dia sama kau. Dia ini sahabat abang, dari SD kita sudah bareng-bareng. Namanya Dania," balas Defan dengan santai.
Dania mengulurkan tangannya agar berjabat tangan dengan Dira. Dengan cepat Dira meraih tangan tersebut, agar terlihat lebih sopan. Tapi Dira ingin sekali menyindir keberadaan perempuan itu. Secara spontan Dira mengeluarkan kata-kata pedasnya.
"Hah? Sahabat kok perempuan," celetuk Dira dengan sinis setelah melepaskan jabatan tangan mereka.
"Loh emangnya kenapa?" tanya Dania polos.
"Mana ada sahabat antara laki-laki dan perempuan. Pasti ada salah satu yang menyimpan rasa," sindir Dira.
"Nggak kok Dir, dia beneran sahabat abang," sahut Defan.
Persahabatan Defan dan Dania sudah berlangsung sangat lama. Selama ini Defan tidak pernah menyukai Dania. Tapi tidak dengan Dania, Dania sangat menyukai Defan. Tapi dia tidak ingin merusak persahabatan mereka. Ia tetap menjaga agar persahabatan itu terjalin.
Dania dan Defan sering sekali berjalan berdua seperti yang dilakukannya pada hari ini. Nonton film bioskop berdua, makan berdua, bahkan Defan dan Dania juga sekantor. Tapi Dania bukan seorang pengacara seperti Defan.
Dania direkrut oleh bapaknya Defan sebagai staf karyawan di kantornya. Perekrutan itu juga atas permintaan Defan. Ia tidak mau melihat sahabatnya kesusahan mencari kerja kesana kemari. Lagipula basic Dania dengan pekerjaan yang diberikan sangatlah cocok yaitu bagian administrasi di kantor Defan.
"Terus pertanyaan abang tadi belum terjawab. Kau nonton apa kesini?" ucapnya.
"Ya nonton film yang kaya abang tonton tadilah. Kan kita sama-sama distudio tiga," jawaban Dira yang jujur membuat Defan terkejut.
Bagaimana mungkin ia tidak menyadari kalau Dira satu studio dengannya.
"Kok bisa? Kau ngikutin abang ya?"
__ADS_1
"Dihh! Kepedean! Tahu juga enggak abang mau nonton disini. Aku sama sahabatku nonton bareng disini. Kami udah daritadi beli tiketnya. Lagian manalah aku tahu abang ada jadwal nonton disini,"
"Tanya aja tuh sama ketiga sahabatku. Sahabatku perempuan ya bukan laki-laki," ketus Dira.
"Emang kenapa sih kalau sahabatnya beda gender," tanya Defan dengan dinginnya. Sikap dinginnya mulai muncul karena mendengar jawaban dari Dira yang ketus dan sinis.
"Ya nggak taulah! Aku pamit pulang duluan bang. Takutnya dicariin mamak sama bapak," ucap Dira, kemudian berpaling dan mendekati ketiga sahabatnya.
Belum juga Defan menjawab, Dira sudah pergi lebih dulu dari hadapan Defan. Dira merangkul Jenny yang berada disampingnya. Mereka berjalan meninggalkan Defan.
"Def, makan dulu yuk," Dania lagi-lagi membuyarkan lamunan Defan saat sedang memandangi belakang tubuh Dira yang kian menjauh.
"Apa Dan?" tanya Defan karena tidak fokus pada perkataan Dania.
"Ayo makan dulu," ucap Dania sambil menggandeng lengan Defan, hal yang seperti biasa ia lakukan.
Kedekatan Defan dengan Dania kadang membuat iri para perempuan yang sedang mendekati Defan. Defan terlalu perhatian pada Dania, padahal ia hanyalah sekedar sahabat.
Apalagi mereka sering jalan berdua, bagaimana mungkin para kaum hawa yang mencoba mendekati Defan tidak iri? Kedekatan itu bahkan melebihi dari sekedar orang berpacaran.
Ditambah sikap dingin dan arogannya Defan sehingga perempuan yang baru saja mendekatinya lebih memilih untuk pergi.
Defan masih teringat dengan Dira. Belum juga mereka berbaikan, kini tambah lagi masalahnya. Dira tampak cemburu melihat kedekatan Defan dan Dania. Ucapan sindirannya juga membuat Defan semakin terngiang-ngiang.
"Def, minggu depan kan kau nikah. Aku jadi braidsmaid dipernikahanmu lah," pinta Dania.
Dania sudah mengetahui kalau Defan dijodohkan oleh kedua orangtuanya. Namun ia baru mengenal sosok perempuan yang dijodohkan dengan sahabatnya itu.
Selama ini Defan juga tidak pernah menceritakan tentang Dira. Defan sangat menghargai Dania. Ia tidak mau membuat Dania merasa kecewa karena kehadiran perempuan yang akan menjadi pendampingnya nanti.
"Jangan! Udah kau jadi tamu biasa saja. Nikmati semua hidangan makanan di pestaku," jawab Defan khawatir. Defan menolaknya secara halus, karena ia tahu Dira tidak akan menyukai jika Dania berada disekitarnya saat menikah nanti.
"Pasti karena calon istrimu ya? Sepertinya dia tidak menyukaiku," kata Dania.
"Enggaklah! Lebih enak jadi tamu biasa loh. Kalau kau jadi braidsmaid, emangnya kau mau disuruh-suruh sama anak 17 tahun itu?" Defan mulai menakut-nakuti sahabatnya agar tawarannya menjadi braidsmaid dibatalkan.
"Ah iya juga! Nanti aku disuruh sama anak kecil itu. Yaudahlah, lebih baik aku jadi tamu. Menikmati pestamu dan makan sepuasnya," jawab Dania dengan riang dan manjanya.
__ADS_1
Defan selama ini tidak pernah mengetahui perasaan Dania sebenarnya. Dari gelagat Dania juga orang-orang sekitarnya sudah tahu kalau Dania itu suka pada Defan.
Tapi Defan terlalu kaku dan tidak pernah peka. Padahal tingkah Dania ketika berada didekatnya seperti perempuan yang sedang mencari perhatian.
Bersikap sok imut dan manja-manja. Tapi Defan malah menganggapnya biasa saja, karena mereka sudah bersama sedari kecil.
Defan dan Dania makan di resto salah satu mall. Ternyata resto yang dipilih Dania adalah resto yang menyajikan menu utama steik. Seketika Defan teringat pada Dira.
Dira sangat menyukai steik. "Kalau tahu kesini, kita ajak Dira juga," gumamnya.
"Aaa...Apa tadi kau bilang Def," tanya Dania pura-pura tidak mendengar perkataan Defan.
"Ini kau ajak aku kesini. Makanan ini favoritnya Dira. Kalau tahu kesini, aku ajak dia makan dulu," balasnya dengan santai.
"Oh ini makanan kesukaan Dira?"
Dania langsung menyesal membawa Defan ke resto tersebut. Hilang sudah selera makannya karena Defan hanya mengingat Dira.
"Sial tahu gitu nggak usah makan disini," batin Dania.
Dania sangat tidak menyukai jika sahabatnya itu mulai memikirkan perempuan yang dijodohkan dengannya. Bahkan Dania berharap pernikahan itu tidak pernah ada.
Tapi karena Dira adalah paribannya Defan, sangat tidak mungkin untuk memisahkan keduanya. Dania akan berurusan dengan keluarga Defan jika menghalangi pernikahan mereka.
Oleh karena itu Dania lebih memilih diam. Memendam perasaannya demi kebaikannya sendiri. Agar ia bisa terus berada didekat Defan dan kerja di perusahaan milik keluarga Defan.
"Jadi makan nggak? Buruan pesan," Defan mengarahkan Dania agar segera menyampaikan pesanannya pada pelayan yang daritadi menunggunya.
"Jadi dong. Chiken Steik satu ya. Dan minumnya milkshake stroberi," Dania menyampaikan pesanannya. Sementara Defan sudah menyampaikan pesanannya dari tadi.
"Milkshake juga kesukaan Dira tuh,"
Defan terus-menerus mengingat Dira dan membuat Dania kesal dan jengkel. Wanita itu selalu ada dipikiran sahabatnya.
Apakah mungkin Defan sudah mulai jatuh cinta pada Dira? Sehingga terus-menerus mengingatnya.
"Def kau udah suka sama Dira? Daritadi kau ingat sama dia terus," tanya Dania penasaran.
__ADS_1