
"Maaf Inang, itu juga karena keputusan mamak. Makanya Dira hanya menurut saja." Dira menatap lekat mertuanya penuh haru, mertuanya itu sangat pengertian. Tidak pernah galak bahkan memarahinya.
"Iya ... untuk bulan berikutnya, KB sama Inang saja. Oh ya ... Inang mau bilang, inti pembicaraan kita sekarang ini. Tadi Inang belikan kau lingerie yang banyak. Ya ... siapa tau kau sama Defan mau ina inu hehehe," kekeh Melva membuat mulutnya itu terbuka lebar, dengan sigap ia menutup dengan kedua tangannya.
"Oh ... jadi lingerie itu Inang yang belikan ya? Hampir saja aku curiga sama bang Defan." Dira dan Melva tertawa bersama.
"Iya sayang ... soalnya kau kan belum punya baju dinas untuk melayani suamimu," sambung Melva menatap lekat manik indah milik Dira.
Dira mengangguk patuh tetapi ia terus saja melontarkan pendapatnya. "Aku malu Inang. Apalagi di depan suamiku. Bajunya seksi kali. Jangan kan memakainya, memegangnya saja aku malu."
Melva meraih tangan mungil milik Dira, ia terus menenangkan menantunya itu. "Nggak apa-apa sayang. Namanya juga baru menikah, wajar kalau masih malu-malu meong hehehe. Tapi nanti lama-lama terbiasa kok," ucap Melva meyakinkan.
"Kalau Inang dulu gimana pas baru nikah sama amang?" celetuk Dira dibalas dengan senyuman dari Melva.
"Ya gimana ya? Inang juga bingung mulainya dari mana. Kalau Inang juga dulu dijodohkan juga sama amang simatuamu. Ya persislah kaya kau sama Defan sekarang. Semuanya serba malu-malu. Bedanya Inang sudah cukup dewasa waktu itu, jadi kami bisa menjalani hubungan ranjang setelah sama-sama siap sekaligus belajar bersama," cerita Melva panjang lebar.
Dira pun hanya mengangguk-angguk mendengar cerita itu. Namun, Melva melanjutkan lagi ceritanya.
"Dulu, untuk memegang tangan amangmu saja, Inang nggak berani. Amangmu sikapnya dingin kali! Huh jadi takut kalau ingat masa-masa dulu."
"Loh sama dong kaya bang Defan? Udah dingin, kaku, egois, arogan," jelas Dira dengan polosnya membuat melva tertawa semakin terbahak.
Hahahahahah
"Namanya juga anak-bapak. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya sayang. Begitu sikap bapaknya, begitu pula sikap anaknya," tutur Melva.
"Terus akhirnya bagaimana amang bisa luluh dan jatuh cinta sama Inang?" Dira semakin penasaran dengan kisah percintaan mertuanya.
"Karena aku orangnya penuh kelembutan, dia akhirnya luluh juga. Malah perhatian sekali. Lihat tuh sekarang, kalau aku nggak ada pasti dicariin sama dia. Tuh orangnya udah pulang." Melva menunjuk wajah Desman yang baru saja muncul dari ruang tamu.
"Kok cepat pulangnya pak?" ujar Melva menatap lekat suaminya. Ia pun langsung berdiri mengambil alih tas kerja milik suaminya itu.
Melva juga memberikan kode pada Dira kalau ia boleh pergi dari tempat itu. Sebelum Dira kembali ke kamarnya, ia menyalami mertuanya sebagai tanda hormat lalu pamit untuk masuk ke kamar.
__ADS_1
"Lagi nggak ada kerjaan. Jadi pulang cepat. Lagian bapak kangen berat sama mama," goda pria paruh baya itu sembari menoel dagu istrinya.
"Ih bapak, malu udah tua! Udah tua masih saja bucin, dulu aja dinginnya kaya kulkas," sambar Meva mengingat kenangan masa lalu mereka.
"Loh-loh, apa-apaan ini? Kok tiba-tiba ingat masa lalu?" cecar Desman yang terkejut dengan penuturan istrinya.
Sudah lama ia tak mendengar cerita-cerita seperti itu. Setelah Melva dan Desman menikah, perlu satu tahun lamanya bagi Melva untuk membuat Desman jatuh cinta hingga akhirnya sebucin itu dengan istrinya.
Walaupun masih tua, cinta mereka tetap terjaga, bahkan Desman tak pernah mau lama-lama berpisah dengan istrinya.
"Itu loh, tadi mama habis cerita sama Dira. Tentang masa lalu kita, dia penasaran sekali. Karena proses pernikahan kita dengan menantu kita itu kan 11 12. Alias sama-sama dijodohkan," ungkap Melva mengerling pada suaminya itu.
Melihat godaan demi godaan dari istrinya, membuat Desman merasa bahagia. Lelahnya seketika menghilang. Wajah cantik istrinya itu saja sudah membuat dia tenang, apalagi godaan, bisa-bisa Desman langsung mengajaknya ke kamar.
"Ma ... masih sore jangan goda-goda akulah. Nggak enak sama anak-anak!" sindir Desman.
"Ah bapak bisa aja." Melva mencubit pinggang suaminya dengan lembut.
"Yuk ah ke kamar," ajak Desman mengerling. Tak lama ia mencium pipi Melva penuh kelembuta seraya berjalan menyusuri ruangan.
"Jangan disini dong pak! Kalau anak-anak lihat bagaimana?" hardik Melva.
Keduanya berjalan menuju kamar mereka yang tak jauh dari ruang keluarga. Melva meletakkan tas kerja suaminya di meja, dilanjutkan dengan membukakan dasi dan kaos kaki suaminya.
Tapi Desman malah berharap lebih dari itu. Ia meminta istrinya untuk membukakan seluruh pakaian yang ia kenakan hari itu.
"Ssttt ... sekalian dong," pinta Desman memelas. Kemesraan keduanya tak pernah luntur, meski sudah tua. Kedua pasangan ini memang sangat mesra, selalu menjaga kehangatan keluarga.
"Ih bapak! Bisa aja nih mulainya," sindir Melva malu-malu.
Ia menuruti saja keinginan suaminya. Hingga keduanya saling membalas. Melva melepaskan seluruh pakaian suaminya, sedangkan Desman pun ikut melucuti pakaian milik istrinya itu.
Keduanya menyatu sore itu. Meskipun sudah merasa tua, hubungan ranjang mereka tetap tidak pernah absen ataupun terlewatkan. Mereka sudah berkomitmen untuk terus bersikap layaknya masih muda dulu.
__ADS_1
Melva yang sudah melalui masa monopousenya juga tetap melayani suaminya sesuai kodratnya sebagai seorang istri.
*****
Dira sedang asik berseluncur di media sosialnya. Ia masih mencari sosok suaminya yang belum terlihat sejak kepergiannya mencari mbak Nena tadi.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi terbuka. Defan keluar dari balik daun pintu. Sontak, hal itu membuat Dira terkejut lantaran Defan telah masuk kamar mandi sejak satu jam yang lalu.
"Abang ngapain? Daritadi nggak keluar-keluar," cecar Dira yang melihat ekspresi suaminya merasa lega setelah mengeluarkan semua hajatnya.
"Lagi meeting aku tadi makanya lama," kekeh Defan yang kerap memberikan sebutan untuk pembuangan hajatnya dengan nama panggilan meeting.
"Meeting apaan? Kok di kamar mandi meetingnya?" sosor Dira tak nyambung.
"Ya ... meeting pentinglah! Masa nggak tahu sih," kilah Defan sekaligus menghempaskan tubuhnya diatas ranjang.
"Apa sih bang. Nggak ngerti aku maksudnya." Dira menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa percakapan mereka sangat absurd.
"Anak kecil nggak perlu tahulah!" Defan mencubit hidung Dira untuk mengejeknya.
"Dir?" panggil Defan mengalihkan perhatian Dira karena terus saja menatap ponselnya.
"Hmmm."
"Oh ya bang, amang tadi udah pulang loh. Abang juga kok bisa cepat pulang. Bukannya pulang kerja itu jam 5 ya? Kok bisa pulang jam 2 siang?" cecar Dira.
"Oh aku pulang karena memang sudah selesai kerja. Apa iyah bapakku udah pulang? Masa sih jam segini udah pulang. Biasanya kalau belum jam pulang kerja nggak mau pulang tuh opung-opung," beber Defan dengan entengnya.
"Hah? Opung-opung? punya cucu saja tidak," decit Dira memalingkan wajahnya, menatap lekat suaminya itu.
*Abang lagi kode ya? Biar bisa bikinin cucu buat opungnya?**🤣*
__ADS_1