
Cukup memakan waktu 10 menit, Dira sudah diturunkan di depan sekolahnya. Lagi-lagi ia tak pernah mau berpamitan pada suaminya. Saat keluar dari mobil, Defan sengaja menahannya.
"Eh ... tunggu." Defan menyodorkan punggung tangannya pada Dira, menengadahkan kepalanya menatap Dira dari dalam mobilnya yang sudah berdiri disamping pintu mobil.
"Apa bang?" tanya Dira polos. Tak mengerti maksud suaminya.
"Ini." Defan menggoyangkan punggung tangannya agar diraih oleh Dira.
"Iya kenapa tangan abang?" tanya Dira sembari menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal lantaran merasa bingung.
"Biasakan pamitan sama suami. Permisi kek apa kek," tegur Defan merasa jengah pada gadis kecil itu yang tak mengerti juga aturan rumah tangga setelah mendapati status sebagai pasangan suami istri.
"Ya mana aku tahu! Aku belum terbiasa kayak gitu." Dira menatap sinis suaminya. Mau tak mau, ia mencium punggung tangan suaminya.
"Aku sekolah dulu bang," ucapnya lirih dengan malu-malu.
"Apa?" teriak Defan pura-pura tak dengar.
*******
"Dira nggak mungkin bolos hari ini kan? Gila sih dia kalau berani bolos! Ada guru killer yang ngajar, apalagi ada PR." Carol menggerutu karena tak kunjung melihat sahabatnya itu muncul dari pintu masuk.
"Sabar, belum juga bel bunyi," pungkas Jenny mengingatkan.
"Iya sih, cuma tinggal lima menit lagi pasti bel bunyi," sambar Shinta memperlihatkan jamnya.
*****
"Aku pamit sekolah dulu bang!" Dira setengah berteriak agar tak disuruh mengulang lagi ucapannya.
"Iya ... yang pintar belajarnya!"
Baru saja Dira mau beranjak tapi Defan memanggilnya lagi.
"Tunggu!" panggil Defan.
"Apalagi sih bang? Tinggal lima menit nih! Nanti aku terlambat!" gerutu Dira memasang wajah penuh amukan.
"Nih lupa." Defan menunjuk pipinya.
"Apalagi sih!" Dira semakin berang dengan kelakuan suaminya.
"Ini." Defan menunjuk pipinya lagi.
Karena diburu waktu, Dira pun langsung mencium pipi itu dengan cepat lalu langsung berlari memasuki gerbang sekolah.
__ADS_1
"Ck! Dasar anak kecil," decak Defan menggeleng kepalanya lalu tersenyum penuh kemenangan. Kemudian, ia menancapkan gas agar mobil melaju dengan cepat.
*****
Kringg\~Kring
Bel berbunyi bersamaan dengan kemunculan Dira dari depan pintu. Ia berjalan gontai dengan wajah yang memerah mengingat tadi sempat mencium suaminya secara terpaksa.
Kalau saja tidak diburu waktu, Dira ogah mencium pipi berahang tegas milik pria dingin itu.
"Nih dia orang yang ditunggu-tunggu datang juga!" Carol menunjuk wajah Dira penuh semangat. Shinta dan Jenny hanya tersenyum melihat kedatangannya.
"Ada apa?" lontar Dira merasa dicari-cari sejak tadi.
"Kukira kau nggak masuk sekolah hari ini. Udah kau kerjakan PRmu?" cecar Carol saat mengeluarkan satu buku tulis dan buku mata pelajaran yang akan dimulai pagi itu.
"Aman! Tenang! Kalau PR ini udah ku kerjakan dari lama!" papar Dira angkuh, menengadahkan kepalanya serta menepuk dadanya dengan bangga.
"Hmmm, cepat duduk. Udah datang tuh guru killer," Carol menarik lengan Dira yang masih berdiri di samping meja belajar mereka.
"Pelan-pelan ih," pekik Dira saat terduduk begitu keras diatas kursinya.
"Ups! Sorry," lirih Carol melemparkan senyum tipisnya.
"Pagi bu!" ucap semua murid dengan kompak.
"Berdiri!" titah Ketua Kelas memberi aba-aba.
Semua murid pun berdiri mengikuti arahan ketua kelas mereka. "Beri hormat!"
"Selamat pagi bu guru," sapa seluruh siswa dengan hormat.
"Duduk!" titah Ketua Kelas mereka. Semua murid pun duduk kembali dibangku masing-masing.
"Sekretaris kelas, kumpulkan semua PR!" kata guru killer mereka.
"Yang tidak memberikan tugas, saya kasih nilai nol," tegasnya lagi.
Semua murid membulatkan matanya, merasa deg-degan mendengar ucapan guru killer itu.
*******
"Pagi," sapa Defan pada setiap orang yang dilewatinya sejak masuk dari lobi kantor hingga ruangannya karena perasaannya tengah bahagia, mendapat satu kecupan meski secepat kilat dari istrinya. Kebetulan, pagi itu ia juga tidak bertemu dengan Dania. Dania belum datang ke kantor mereka.
Sejumlah berkas sudah menumpuk di mejanya. Ia mengabari satu calon klien pelaku KDRT yang sempat memberikan BAP kepadanya.
__ADS_1
"Halo ... selamat pagi pak," sapa Defan melalui sambungan telepon mereka.
"Pagi pak ... bagaimana? Apa bapak jadi mengambil kasus ini?" cecar kliennya itu to the point pada permasalahannya.
Sudah dua minggu berlalu, kasusnya pun berjalan agak lambat. Polisi masih mencari barang bukti serta kesaksian para saksi. Ia bahkan belum ditetapkan menjadi tersangka. Hal itupun membuat istrinya yang telah pulang ke rumah orangtuanya merasa berang.
Sebab, kasusnya serasa mandeg bahkan seperti tak diproses oleh pihak kepolisian.
"Saya akan mengambilnya pak," terang Defan menentukan pilihannya.
"Oke! Kalau begitu semoga kerjasama kita lancar," harap pria itu.
"Baik pak! Secepatnya saya akan mengurus hal ini." Defan mengakhiri sambungan teleponnya saat itu juga.
******
Desman baru saja menerima kabar dari Dania kalau ibunya baru saja meninggal. Dania pada sambungan teleponnya menangis terseduh-seduh, meminta izin langsung pada atasannya kalau tidak bisa masuk bekerja untuk hari ini.
Selama tiga hari kedepan, ia akan mengurusi prosesi pemakaman sang mama yang sudah hidup seorang diri, ditinggalkan suaminya lebih dulu sejak Dania umur 5 tahun.
"Amangboru, aku nggak bisa kerja hari ini hiks ... hiks..." Melalui sambungan teleponnya ia mengutarakan permintaan maafnya.
"Kenapa kau Dan?" desak Desman merasa khawatir lantara Dania sangat histeris menangisi keadaannya.
"Mamakku, Amangboru. Meninggal. Baru tadi pagi kucek saat membangunkan tidurnya sudah tidak ada nafasnya," lirih Dania seraya terus saja menangis dengan suara paraunya.
"Jadi siapa yang siapkan pemakamannya?" lontar Desman karena ia tahu Dania sudah tidak memiliki seorang ayah. Bahkan, dia harus menjaga adik-adiknya juga mulai detik ini.
"Akulah amangboru ... sama kerabat-kerabat mamakku. Ini aku lagi menunggu kerabat datang," jelas Dania.
"Yaudah, yang tenanglah kau. Yang tabah, nanti amangboru sama si Defan kesana!" Desman pun mematikan ponselnya. Melalui sekretarisnya, ia meminta agar mengabari anaknya kalau orang tua Dania baru saja meninggal dunia.
Dania sangat sibuk mengurusi kematian sang ibu serta adik-adiknya. Ia bahkan tak sempat untuk mengabari Defan secara langsung. Menurutnya, menghubungi bos besarnya adalah hal yang tepat karena nantinya akan disampaikan langsung kepada anaknya itu.
"A–apa?" tanya Defan yang langsung berdiri dari posisi duduknya saat mendengar kepergian ibunya Dania.
"Iya pak ... Pak Desman meminta saya menyampaikan kabar ini. Pak bos masih ada kerjaan. Mungkin bapak bisa mengatur jadwal untuk ngelayat ke rumah bu Dania," balas Sekretaris Desman.
"Baiklah ... terimakasih infonya bu," Defan mematikan sambungan teleponnya. Ia langsung menghubungi Dania tapi tak kunjung diangkat oleh wanita itu.
Karena Defan begitu khawatir, ia langsung berangkat pagi itu juga. Tak lupa ia mengirimkan pesan pada istrinya agar tidak ada kesalah pahaman lagi.
Bang Defan
Dir, Abang ke rumah Dania ya... Mamaknya meninggal dunia!
__ADS_1