Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
menahan malu


__ADS_3

"Siap, suamiku!" Dira dan Defan langsung menyantap makan malam.


Keduanya pun asyik berbincang setelah menyelesaikan makan malam itu sehingga Dira lupa untuk membalas pesan dari teman-temannya.


Sementara di grup chat sudah sangat ramai, ketiga wanita itu sangat heboh bahkan meminta pajak jadian karena Carol sudah menerima Jefri sebagai pacarnya.


Carol


Awalnya aku terima karena aku kasihan kali lihat wajahnya tapi kok lama-kelamaan jantungku terus berdetak gak henti-henti saat dekat dia. Terus dia melas kali, jadi nggak tegalah pokoknya!


Shinta


Rol, kasih kami lah pajak jadian.


Jenny


akhirnya kau jatuh cinta juga ya sama dia. Selamat Menempuh Hidup Baru ... eh!!


Carol


Iya, nggak kusangka kali awalnya memang, aku udah tolak dia berkali-kali. Cuma karena nggak tega, pas terakhir kali dia nembak aku, jadi kuterima saja. Dah gitu dia kasih aku cincin, cantik kali!


*Carol mengirimkan foto*


Jenny


Jadi kapan kau kenalkan si Enjep itu sama kami?


Shinta


Woi ... nggak kalian tanggapi aku ya, aku minta pajak jadian loh Rol!


Carol


Nanti pajak jadiannya, sekalian aja kubawa si Enjep sama kelen, biar sekalian ku kenalkan.


Jenny


Oke, Mantap lah gitu kalau punya pacar yang royal dan romantis!

__ADS_1


Shinta


Aku kapan sih punya pacar yang ganteng kayak romantis gitu? Yang paket lengkap lah!


Jenny


Udah Shin, sabar kau, fokus aja kau selesaikan dulu kuliahmu!


Shinta


Kau nggak berniat pacaran, Jen? Kok nggak ada kau dekat-dekat sama cowok manapun.


Jenny


Enggak lah belum ke situ pikiranku, kuliah aja udah bikin aku stress apalagi punya pacar makin bikin aku bisa gila kayaknya!


Sementara Dira dan Defan asik berbincang sehingga Dira lupa untuk membalas chat dari teman-temannya. Bahkan ia dan Defan tengah berbaring di ranjang. Dira menyandarkan kepala di bahu sang suami, keduanya asyik dan sibuk memikirkan masa depan.


"Yang, kau mau program hamil atau enggak?" tawar Defan, mengelus pucuk kepala sang istri.


"Santai aja lah, Bang nggak usah terlalu buru-buru. Lagian aku masih lama kuliah, nanti kalau promil terus tiba-tiba hamil bagaimana? Padahal lagi fokus kuliah jadi terpaksa mengajukan cuti!" imbuh Dira.


"Iya sih, jadi kita nggak usah promil nih?" tanya pria itu lagi.


"Terus kalau lama isinya bagaimana?" balas Defan.


"Ya, bilang aja sama Amang dan Inang, suruh mereka bersabar untuk menimang cucu. Namanya juga rezeki, harus diterima kapan datangnya, mau lama atau pun mau cepat," kilah Dira seraya berpikir keras tentang percakapan mereka.


"Apa kau fokus menyelesaikan kuliahmu dulu?" sambung Defan.


"Nggak juga sih, kalau misalnya aku tiba-tiba hamil, aku terima saja. Mungkin aku akan mengajukan cuti, baru aku akan melanjutkan kuliah lagi ketika sudah melahirkan!" ungkap Dira, menatap manik indah suaminya.


"Yasudah, kau atur sajalah!" kata Defan pasrah.


Dira dan Defan akhirnya berbaring bersama, mereka larut dalam pikiran masing-masing. Dira memikirkan bagaimana jika kehamilan itu memang berlangsung cukup lama. Bahkan hingga ia lulus dari kuliah tapi tak kunjung hamil, Dira semakin khawatir jika dicecar oleh pihak keluarga.


Berbeda dengan Defan, pria itu ingin secepatnya menimang bayi yang diidam-idamkan sejak awal menikah. Hanya saja kendalanya cukup banyak, bahkan dirinya juga sudah berusaha terus untuk menghamili istrinya.


Defan sudah berkali-kali mengajak istrinya untuk berhubungan intim tapi hasilnya tetap nihil. Rezeki itu tak kunjung menghampiri mereka berdua. Seorang bayi tak kunjung mengisi rahim Dira kembali.

__ADS_1


*****


Rosma menceritakan tentang uang yang diterimanya dari Dira pada suaminya setelah pulang kerja. Sebab, sejak pengiriman uang itu tadi pagi, dia belum menyampaikan pada suaminya. Tak hanya itu, Rosma juga ingin menyadarkan suaminya agar tak lagi berbuat hal-hal yang menyusahkan keluarga.


"Pak, aku sudah menceritakan kisah penipuan yang Bapak alami!" celetuk Rosma, saat menemani suaminya di ruang tamu untuk mengopi sore itu.


"Kepada siapa Mamak ceritakan?" balas Sahat.


"Ya, keborumu lah, siapa lagi yang bisa mau mendengarkan keluhanku," timpal Rosma ketus.


"Astaga ... lalu apa katanya?" ucap Sahat, menatap penuh selidik.


"Ya, dia bilang akan memberitahukan pada hela kita agar bisa membantu bapak mencari penipu itu. Dira juga memberikan uang pada Mamak untuk belanja selama sebulan ke depan!" beber Rosma panjang lebar.


"Apa Mamak nggak malu minta uang sama borumu? Apalagi dia sudah menikah!" gerutu Sahat, memicingkan matanya.


"Buat apa malu? Toh dia juga sudah tahu kondisi orang tuanya sejak kecil. Lagian ini ulah bapak semua, coba kalau bapak nggak menghabiskan uang itu dengan sia-sia, sudah pasti kita tidak akan kesulitan seperti sekarang dan minta-minta sama boru kita itu!" ketus Rosma, mencebikkan bibirnya dengan kesal.


"Ini namanya musibah yang sudah tidak bisa dihindari lagi!" seloroh Sahat, dengan nada meninggi.


"Bukan musibah itu namanya kalau bapak yang membuatnya secara sadar. Jadi sama siapa lagi aku meminta pertolongan kalau bukan ke boru kita? Gaji bapak saja sudah tidak ada karena sudah habis untuk membayar hutang untuk kepentingan judi bapak itu!" sosor Rosma, menatap dengan sengit suaminya.


"Mau gimana lagi, ini semua sudah rencana Tuhan!" kata Sahat pasrah sembari menyesap rokoknya.


"Nggak ada itu rencana Tuhan tapi rencana Bapak sendiri," hardik Rosma dengan ketus.


Keduanya pun terus beradu mulut tak henti-henti. Suara mereka bahkan terdengar ke telinga anak-anak lelakinya, membuat suasana di rumah semakin gaduh.


Untung saja, anak-anak lelaki itu hanya diam di kamar masing-masing, mendengarkan ocehan kedua orang tuanya yang sibuk membicarakan tentang kasus penipuan serta uang yang diminta pada kakaknya untuk kebutuhan sehari-hari.


"Berapa rupanya, Mamak minta sama si Dira?" sambung Sahat.


"Mamak, minta 5 juta tapi dikirimnya 10 juta. Ya, Mamak terima saja lah," lirih Rosma, tersenyum tipis.


"Tapi sudah tahu suaminya? Kalau kita meminta uang dari dia?" cecar Sahat, merasa malu lantaran istrinya tak berkompromi dulu untuk meminta uang tersebut.


"Sudah sepertinya, soalnya mamak sudah mengingatkan saat dia mentransferkan uang itu," tandas Rosma.


"Aduh! Malu kali lah aku menghadapi Hela itu," kata Sahat dengan lirih.

__ADS_1


"Ngapain, Bapak malu, toh dia udah tahu kok sejak dulu gimana tabiat Bapak," sela Rosma.


"Udahlah, Bapak jadi pusing memikirkan itu semua. Sudah tidak ada uang, si penipu itu pun tak kunjung ditemukan, entah di mana dia sekarang, memang sudah niat kabur itu. Sekarang malah makin pusing karena harus menahan malu sama hela itu!" sungut Sahat, mengerutkan keningnya.


__ADS_2