Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
hiburan


__ADS_3

"Iya, bang! Abang nggak lihat penampilanku berantakan!" ujar Dira, membentangkan tangan.


Memang penampilannya cukup berantakan, aksesoris yang dipakai tercecer asal-asalan. Rambutnya tampak kusut karena berlari-lari dari depan kampus sampai menuju ruangan jurusan kedokteran.


"Yaudah, cepat masuk!" titah Gamal, memperbolehkan Dira mengikuti ospek di hari ke lima.


Dira segera duduk di kursi kosong, jauh dari posisi kursi Jenny. Alhasil, mereka tidak bisa berbisik dan mengobrol menceritakan kejadian hari ini.


****


Defan baru saja melangkahkan kaki di lobi kantor. Berjalan dengan santai sembari menatap ponsel. Tak berselang lama, saat menunggu lift terbuka, Defan bertemu dengan Dania serta Juni di waktu yang bersamaan.


Juni hanya menyapa dengan senyuman. Sementara Dania seperti biasa, heboh meracau dengan suara cemprengnya.


"Def, kayak mana kabar istrimu?" ucap Dania basa-basi.


"Baik." Defan fokus menatap ponsel.


"Udah jadi kuliah dia?" Dania menatap Juni dengan sinis tapi terus saja melayangkan pertanyaan pada Defan.


"Jadi."


"Jurusan apa?" tambah Dania basa-basi.


Pertanyaan Dania sebenarnya membuat Juni juga penasaran. Dia ikut mendengarkan meski Defan menjawab dengan singkat.


"Kedokteran."


"Waw, hebat kali!" puji Dania.


Suasana hening, semua terdiam. Namun, mendengar jurusan yang dibicarakan, Juni juga merasa kagum. Bahkan, ia penasaran sebenarnya bagaimana sosok sang istri bosnya.


Hingga tinggal beberapa bulan terakhir bekerja dengan Defan, tak sekalipun Juni bertemu dengan Dira—perempuan yang kerap dibicarakan.


Ting ...


Suara pintu lift terbuka, Dania harus bergegas keluar karena sudah sampai di lantai di mana tempat ia bekerja.


"Def, Jun, aku duluan!" pamit Dania sembari tersenyum.

__ADS_1


"Iya."


"Iya, bu!" Juni tersenyum lebar setelah melihat kepergian Dania. Untung saja, Dania tidak terlalu berisik dan rewel. Hanya sekedar menanyakan kabar.


*****


Di ruang kelas jurusan hukum, Shinta sudah maju ke depan. Ia akan mendapatkan hukuman dari seniornya.


Nanda memberikan hukuman agar Shinta berjoget dengan musik dangdut di depan seluruh maba.


Sementara, hukuman dari Janu, Shinta harus membawakan tas seniornya seharian penuh, bukan hanya miliknya saja.


Dan terakhir, hukuman dari Panja, Shinta disuruh keliling lapangan hingga 5 putaran. Mendengar semua permintaan seniornya yang tidak masuk akal, gadis kecil itu protes.


"Macam betul aja aku harus melakukan semua itu! Ini hari terakhir ospek loh, bang, kak! Kenapa hukumannya nggak masuk akal. Dah gitu katanya satu hukuman kenapa jadi malah tiga hukuman? Gara-gara perkara makan kerupuk aja, kelen harus nyiksa aku," sergah Shinta, menatap dengan dingin ketiga seniornya.


"Jadi kau nggak mau melaksanakan perintah senior?" ancam Panja, menatap lekat manik Shinta, langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh perempuan itu.


"Yaudah, kalau nggak mau, silahkan keluar! Kau nggak akan ikut ospek terakhir hari ini," kecam Nanda, bernada tinggi dan keras.


Shinta pun termenung sembari memikirkan permintaan seniornya. Dikala hari terakhir pelaksanaan ospek, mengapa dirinya harus melakukan semua hukuman yang menyiksa diri.


Shinta melangkah tanpa mengucap pamit pada tiga seniornya. Ia melongos begitu saja, sontak ketiga seniornya menatap dengan tajam.


"Oke, dia memilih keluar!" sorak Panja diiringi tepuk tangan porak-poranda.


Nanda dan Janu juga ikut bertepuk tangan, mengejek kelakuan Shinta yang berani melawan ucapan seniornya.


"Lihat itu, kalau kalian berani seperti dia, kalian akan kami adukan ke dosen!" cerocos Janu, bertingkah angkuh.


****


Di dalam kelas jurusan arsitektur, ketiga senior sedang mengucapkan kata-kata perpisahan. Hari terakhir ospek, cukup bagi mereka melakukan kegiatan selama 4 hari.


Kini Jefri memberikan peluang untuk maba melakukan kegiatan senang-senang di hari terakhir. Meski Jefri bersikap galak, arogan dan dingin tapi lelaki itu memiliki hati yang lemah lembut dan perhatian.


Bahkan, Jefri akan mentraktir seluruh maba di kantin untuk merayakan hari terakhir pelaksanaan ospek.


Tak hanya itu, Jefri dan kedua temannya juga meminta maaf atas perlakuan kejam yang dilakukannya selama ospek.

__ADS_1


"Perhatian, semuanya! Saya sebagai senior, ingin meminta maaf atas perlakuan kejam dan sikap saya yang galak. Termasuk untuk seorang mahasiswa yang kemarin sampai tumbang. Saya minta maaf," ucap Jefri, penuh penyesalan sembari menunduk diekori oleh kedua temannya.


Judika dan Gembi juga melakukan hal yang sama. Seraya mengucap permintaan maaf, mereka akan membebaskan maba untuk melakukan apapun dihari terakhir.


"Kalian bebas hari ini mau ngapain! Pokoknya harus bersenang-senang! Dengan berat hati, kami harus mengucapkan kata perpisahan. Kita tetap bisa berjumpa di luar kegiatan ospek," ungkap Gembi, menyematkan senyuman indah.


"Yah, jadi kita nggak ada kegiatan hari ini, kak?" sambar Grite, padahal ia menanti kejutan ospek di hari terakhir.


Ketiga seniornya hanya menggeleng seraya tersenyum. "Kalian bebas mau ngapain aja tetapi dibawah pantauan kami. Namun, sebagai balasannya, saat jam makan siang, kalian akan ditraktir oleh bang jefri," teriak Judika, membuat para maba semakin heboh.


Hanya satu orang saja yang diam saat mendengarkan kata traktiran. Dia adalah Carol. Namun, Carol masih memikirkan bagaimana ketiga seniornya itu bisa lolos dari peringatan dosen pasca kejadian kemarin.


Flashback on!


Saat Jefri, Judika dan Gembi menunggu kesadaran seorang mahasiswa yang pingsan, mereka bertiga sudah membuat siasat. Mahasiswa itu diminta diam bahkan tak boleh menyampaikan ke dosen apalagi rektor.


Ketika maba terbangun, Jefri langsung menghampiri. "Dek, maaf, ya! Karena kami, kau sampai pingsan!" ujar Jefri, menjabat tangan maba tersebut, sebagai permintaan maaf.


Maba itu langsung terenyuh ketika melihat ketiga kehadiran seniornya yang menunggu hingga ia sadar.


"Iya, dek, kakak juga minta maaf. Kami nggak akan melakukan hal yang sama pada junior lain lagi!" ungkap Gembi, menunduk seraya menyesal.


"Gimana kondisimu, dek? Apa sudah baikan? Kami harap kau jangan menyampaikan kejadian ini pada dosen. Maaf atas tindakan ceroboh kami," tambah Judika, tersenyum tipis.


Maba itu hanya mengangguk, menuruti semua keinginan seniornya. Lagi pula, ia memang tak berniat melaporkan tentang kejadian ini pada pihak kampus.


"Nggak apa-apa, kak! Aku hanya kelelahan saja, aku juga nggak niat mau melaporkan kakak semua ke pihak kampus," tandas maba, membuat lengkungan lebar di sudut bibir.


Flashback Off!


"Jadi sekarang kita ngapain, kak?" tanya Grite lagi.


"Bebas! Apa ada usul?" Jefri malah kembali bertanya, ingin mendengar pendapat seluruh maba.


"Kalau gitu, gimana kita bernyanyi bersama, kak? Seru-seruan aja gitu! Anggaplah sebagai bentuk hiburan," sahut maba lain.


"Oke! Jud, kau punya gitar, kan?" cecar Jefri, ia tahu kebiasaan teman satunya itu.


Judika hobi sekali bernyanyi, setiap hari ia juga selalu membawa gitar. Termasuk hari ini, ia menyimpan gitar di dalam aula tempat peristirahatan senior.

__ADS_1


__ADS_2