Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
dapat fotoku


__ADS_3

Di ibu kota, Anggi mengikuti masa ospek yang cukup mengasyikkan. Sebab, ia baru merasakan sebagai seorang maba, dengan kehebohan tugas-tugas yang diberikan oleh seniornya.


Selama seminggu ini, Anggi selalu pulang larut, sebab harus mengikuti ospek yang panjang. Berbagai hukuman ia anggap seru, seperti berkeliling area kampus dengan jalan jongkok sehingga menarik perhatian para senior di kampus itu.


Bahkan, memperkenalkan diri ke dosen-dosen, hingga menghormat pada tiang bendera di tengah-tengah lapangan dengan terik yang menyengat.


Seperti di hari keempat ospek, Anggi merasa senang bisa memiliki teman-teman baru dari berbagai kalangan daerah. Banyak anak-anak dari daerah lain berhasil masuk di kampus favorit yang sama dengan dirinya.


Semua siswa memiliki kepintaran tersendiri. Mereka saling bersaing untuk mendapatkan perhatian senior.


Selama hampir satu minggu terakhir, Melva mulai bosan dengan rutinitas yang hanya bisa bersantai di dalam apartemen anak bungsunya.


Kegiatan yang dilakukan pun hanya sekedar memasak, mencuci, menonton tv tanpa adanya teman mengobrol. Ia mulai bosan bahkan segera ingin pulang ke rumah, berkumpul bersama suaminya yang ditinggalkan hampir dua minggu terakhir.


*****


Memasuki makan siang, Defan mulai berhenti dengan aktivitas kerja. Ia meminta Juni membelikan makanan di kantin kantor.


Sembari menunggu kedatangan asistennya, ia kembali membaca ulang perkara korupsi yang akan digelar pekan depan. Dikabarkan, Jaksa sudah melakukan pemanggilan ulang pada bupati tersebut.


Peningkatan status baru pun akan segera ditetapkan. Defan hanya perlu menunggu waktu hingga penetapan hukuman pada kliennya.


*****


Saat jam makan siang, Shinta tak berkumpul dengan ketiga sahabatnya. Ia lebih memilih makan bersama dengan senior dan maba lain di dalam kelas.


Hasil masakan telah jadi, ruangan kelas dipenuhi aroma khas mie goreng. Aroma bumbu yang kuat sangat menggugah selera.


Shinta bahkan mengambil kesempatan untuk duduk di samping sang senior. Sebab, mereka satu kelompok sehingga bisa bersamaan.


Perempuan itu juga sudah mengabari tidak akan bisa berkumpul dengan teman-teman lainnya. Alasannya sangat klasik, masih melanjutkan kegitan ospek tanpa jeda istirahat.


****


Jenny dan Dira menyesap es teh manis dengan berat. Mereka sudah berada di kantin, menunggu kedatangan Carol. Saat jam istirahat tiba, Jenny dan Dira belum juga mengentaskan kerajinan tangan dari hasil daur ulang plastik.


"Jen, kita ini calon dokter apa calon seniman sih!" keluh Dira, menyesap es teh manis dengan buru-buru untuk menghilangkan dahaga.


"Nanti kita juga ada seninya kok, Dir!" celetuk Jenny, ikutan menyesap es teh manis lantaran dahaga yang menyerang.


"Seniman apa?" Dira masih memikirkan ucapan sahabatnya.


"Seniman jahit-menjahit!" Jenny terkekeh.

__ADS_1


"Menjahit apa? Emangnya kita tukang jahit?" sahut Dira, menatap sengit.


"Loh, nanti kan kita belajar menjahit tapi bukan jahit baju. Jahit daging orang, ihhh ..." erang Jenny seraya menakuti.


"Haha! Iya juga sih!" timpal Dira, ikut terkekeh.


"Iya dong, perlu seni juga itu!" jelas Jenny.


Tiba-tiba, Carol datang menghampiri. Dengan berat hati, ia duduk seraya menatap kedua temannya.


"Kenapa kau?" tanya Jenny, menatap Carol lekat, sepertinya sahabatnya itu tengah memikirkan sesuatu.


"Hmmm." Carol berdehem sekaligus menghembuskan nafas.


Flashback ...


Kelanjutan kuis tanya jawab Carol tak berbuah manis. Ia terpaksa kalah karena gagal menjawab pertanyaan dari Jefri.


Pertanyaan simpel diluar nalar, sudah menjadi andalan Jefri. Kuis-kuis yang biasa disampaikan saat ospek.


"Sebutkan apa yang dimaksud dengan ratu perak, biskuit lebih baik, dan alat tulis biasa aja!" tantang Jefri sedikit berteriak, memeriahkan kuis di dalam kelas.


"Hah?" Carol malah melamun, memikirkan jawaban yang tepat untuk kuis tersebut.


Lalu, ia malah protes, sebab kuis yang dilontarkan tidak masuk akal. "Pertanyaan macam apa itu!"


"3 ... 2 ... 1 ...! Habis waktunya! Hukumannya minta tanda tangan semua senior dan foto bersama!"


Semua siswa di dalam kelas berseru seraya menepuk-nepuk meja. "Woooo! Ayo, Rol! Dihukum ... dihukum ..." teriak maba di dalam kelas.


Namun, Carol tak kehabisan akal. Ia masih ingin menanyakan jawaban dari pertanyaan tersebut. Ia tak pernah kepikiran akan dilontarkan pertanyaan yang tidak masuk akal.


"Jawabannya apa, bang?" protes Carol, menatap tajam pada seniornya.


"Kau serius nggak tahu sama jawaban itu?" Jefri malah menertawai dirinya.


"Engga!" jawab Carol polos.


"Masa anak remaja sepertimu tidak tahu istilah itu! Berarti hidupmu terlalu kaku!" sesal Jefri, menatap sinis.


Carol hanya terdiam dan terpaku mendengar ucapan seniornya. Ia memang tak mengetahui istilah yang diucapkan tadi. Bahkan, baru kali ini, ia mendengarnya dalam kegiatan ospek.


"Oke, biar aku kasih tahu yeaaaa!" ucap Jefri menirukan nada si cepmek. *peace wkwkw

__ADS_1


"Yang lain pada tahu nggak?" Jefri malah bertanya pada maba yang duduk menatap perdebatan Carol dan Jefri.


Di sudut ruangan, Judika dan Gembi malah tertawa terbahak-bahak melihat kepolosan Carol sembari memicingkan mata.


"Tahu!" jawab Maba kompak.


"Ayo, coba sebutkan sama-sama!" titah Jefri sedikit berteriak, Carol hanya menatap dengan rasa malu.


"Jawabannya ... silver queen, better dan pulpen standar!" teriak Jefri bersama maba beriringan menjawab pertanyaan tersebut.


"Hah? Apa hubungannya makanan dan benda itu sama istilah tadi!" gumam Carol, mengedarkan pandangan, memang hanya dirinya yang tak tahu dengan istilah tersebut.


Flashback Off...


"Rol, kok melamun kau?" desak Dira, dengan tatapan menyelidik.


"Ah, berat kali pikiranku. Coba dulu kelen pikir, apa hubungannya ratu perak sama silverqueen?" tanya Carol, bernada sinis.


"Ya, gampang, tinggal artikan aja ke bahasa inggris istilah itu!" sahut Dira dengan cepat.


"Hah?" Carol lagi-lagi termenung, ia tak pernah memikirkan hal itu.


"Terus apa hubungannya biskuit lebih baik sama better?" tanya Carol lagi, belum memikirkan konsep pertanyaan tersebut.


"Ya, sama aja konsepnya, Rol! Tinggal ditranslate ke bahasa inggris loh, samakan dengan produk-produk yang ada di pasaran!" sesal Jenny menggerutu.


"Astaga! Oh, jadi nama pulpen yang sering kita gunakan alat tulis biasa aja?"


"Iyaa!!" jawab Dira dan Jenny kompak.


"Kok kelen bisa tahu sih? Aku malah nggak tahu istilah itu?" Carol menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, merasa kebingungan, sedangkan Dira dan Jenny malah tertawa terbahak-bahak.


"Ah, kau yang norak!" desis Jenny, tertawa terpingkal-pingkal.


"Makanya, hidup di era modern ini jangan terlalu dibawa serius. Lama-lama kau kayak suamiku!" timpal Dira, terkekeh kegelian.


"Astaga! Aku kurang gaul kayaknya!" sungut Carol, menepuk dahinya seorang diri.


"Jadi kau dihukum apalagi?" Jenny penasaran, sebab Carol selalu mendapat hukuman dari seniornya.


"Tapi seru loh, masa ospekmu, Rol! Ada yang dikenang gitu!" timpal Dira, tertawa-tawa melihat tingkah konyol sahabatnya yang terlalu polos.


"Dihukum minta tanda tangan sama foto bersama senior! Hiks!" beber Carol, dengan wajah yang ditekuk.

__ADS_1


"Lah, mendinglah itu daripada awal-awal hukumanmu! Disuruh keliling lapangan," ledek Jenny.


"Iya gitulah! Tapi si Jefri ngambil kesempatan! Dia jadi dapat fotoku saat berdua sama dia!" imbuh Carol, seraya merutuki kebodohannya.


__ADS_2