
Saat seperti ini, ia masih memikirkan kehadiran Defan. Mengharapkan pria itu di sampingnya seperti kemarin. Menemani disaat ia merasakan duka yang begitu dalam.
*****
"Ma ... mama?" teriak Niar dari pintu depan rumah. Ternyata ia tak jadi ngampus lantaran dosen yang membimbing tidak hadir.
"Apa boru?" balas Melva yang berjalan dari ruang keluarga menuju depan pintu.
"Jadi nggak ke rumah kak Dania? Aku nggak ada jam kuliah ternyata. Dosenku nggak masuk," ucap gadis itu dengan rasa malas.
"Jadi dong! Emang kau jadi ma ikut?" cecar Melva, karena tadi Niar menolak ajakan mamanya.
*****
Defan dan asistennya masing-masing disibukkan dengan pekerjaan. Beberapa kasus masih dikaji sebagai pertimbangan untuk kelanjutannya.
Selain itu, ada kasus yang mulai berjalan. Namun, ditengah kesibukkan pekerjaan, Defan teringat pada sang istri. Ia meraih ponsel itu, sebelum menghubungi, ia lihat jam saat itu masih jam 11 siang.
Sepertinya, ia harus menunggu hingga satu jam lagi, saat wanitanya istirahat sekolah.
Drrtt drrttt
Ponsel Defan bergetar saat masih digenggaman. Tertera nama Dania di sana. Namun, Defan tak langsung mengangkatnya. Ia menunggu sampai akhir ponselnya bergetar.
Panggilan pertama, Defan abaikan. Rupanya, Dania tak henti menghubungi. Panggilan kedua, Defan menatap dengan tajam ponsel itu. Sampai akhirnya, ia mengangkat sambungan teleponnya.
"Iya, Dan, kenapa?" tanya Defan dari seberang teleponnya.
"Kau kesini nggak, Def?" ujar Dania.
"Hari ini aku sibuk, mungkin esok saat pemakaman aku datang."
"Yah ... aku lagi berduka gini, Def? Kau nggak menemaniku," lirihnya tertegun, menunggu jawaban lelaki itu alih-alih akan terbuai dengan keluhannya.
"Nggak bisa, Dan. Kemarin, aku di sana seharian. Hari ini, aku harus menuntaskan pekerjaanku dulu," paparnya beralibi.
Sebenarnya, Defan tak mau ke rumah Dania lantaran akan memberikan masalah baru lagi dalam keluarga. Sebab, kemarin saja, Dira sudah merajuk padanya. Apalagi jika tiga hari berturut-turut dirinya menemani sahabatnya.
Bisa-bisa perpecahan yang terjadi antara ia dan sang istri. Untuk hari ini, lebih baik Defan menuntaskan pekerjaan yang terbengkalai.
"Yah ... aku kesepian, Def!" balas perempuan itu tak tahu malu.
"Aku mengerti tapi disisi lain, aku juga memiliki tanggungjawab, Dan. Harusnya kau tahu itu. Sudah dulu ya," pamit Defan, mematikan panggilan secara sepihak.
Hufft
Defan mengeluarkan nafas kasarnya. Ia baru saja menghindari sahabat yang tengah berduka. Bukan bermaksud tidak bersedia ada disisinya dikala sedih. Tetapi Defan juga mengerti kondisinya saat ini telah memiliki keluarga kecil. Lain cerita, jika ia belum meminang Dira.
Jarak hubungan persahabatan itu mulai mengendur. Bahkan, Defan harus sadar diri bahwa dirinya hanyalah milik Dira bukan perempuan lain.
__ADS_1
*Pak, ini sudah selesai." Juni memberikan dua berkas kasus yang baru saja dikaji. Ia menuntaskan pekerjaan dengan sangat cepat. Membuat Defan terkejut.
"Udah selesai?" beo Defan menatap serius wanita yang ada di hadapannya.
"Iya pak, silahkan dicek saja," kata Juni dengan yakin.
Defan mengambil dua berkas kasus itu. Betapa kagetnya ia, kepintaran Juni diluar batas penampilannya yang sederhana. Ia mengancungi jempol atas kinerja perempuan itu.
"Mantap! Pintar kali kau ya! Kerjakan yang lain," puji Defan sekaligus mengacungkan jempol.
****
"Makan apa nih enaknya?" tanya Carol saat mereka berbondong-bondong keluar kelas setelah bel istirahat berbunyi.
"Aku masih kenyang loh. Mungkin karena makan gorengan tadi!" tutur Dira.
"Ya, minum ajalah di kantin," sambar Shinta.
"Iya deh!"
"Makan soto, yuk!" Jenny memberikan pendapatnya.
Baru lima menit yang lalu mereka duduk di kursi kantin. Ponsel Dira pun bergetar.
Drrrt drrttt
"Lagi makan siang, ya?" Defan masih hectic dengan lembaran kertas di depan.
"Iya bang. Tumben nelepon, ada apa?" ucap Dira seraya berbisik pada sahabat-sahabatnya.
"Siapa?" tanya Carol lirih.
"Suamiku!"
"Oke! Lanjut, kami pesan makanan dulu!" Carol bersama kedua sahabatnya langsung berpencar untuk memesan makanan.
"Kangen aja!" celetuk Defan.
"Nggak salah ngomong?" cecar Dira dengan tatapan penuh bingung.
"Nggak kok! Nanti pulang sekolah, aku jemput ya!" jawab pria itu.
"Emang abang nggak kerja?"
"Kerja! tapi bisa keluar sebentar demi menjemput istri!"
"Nggak biasanya! Yaudah abang lanjut aja kerjanya, aku mau jajan dulu. Ini lagi di kantin." Dira langsung mematikan teleponnya seraya tersenyum-senyum sendiri.
Perempuan itu menjadi salah tingkah mengingat-ingat perkataan suaminya yang sempat menuturkan rasa rindu.
__ADS_1
"Daar! Hayo ngalamunin apa kau? Pikiran jorok ya," kekeh Jenny saat mengagetkan sahabatnya.
"Enggaklah! Masa sama suami sendiri pikiran jorok!" kilah Dira.
"Kau mau pesan apa? Biar sekalian ku pesankan," kata Jenny.
"Setelah ngobrol sama bang Defan, entah kenapa aku jadi lapar. Kau tadi pesan apa?" timpal Dira.
"Aku pesan soto! Sesuai pendapatku tadi."
"Yaudah, samakanlah!"
"Oke! Aku ke bu kantin lagi deh." Jenny berlari ke tempat tadi. Ia memesankan satu tambahan soto untuk Dira.
*******
"Buruan, Niar!" titah Melva setelah memakai setelan formal berwarna hitam untuk ke rumah Dania.
Niar datang menghampiri dengan pakaian berwarna hitam seperti sang mama. Anehnya, gadis yang lebih suka berpenampilan tomboy itu malah memakai rok. Membuat Melva tertawa hingga terpingkal-pingkal saat anaknya merasa tak nyaman.
"Ngapain pula kau pake rok! Jadi repot orang lihatnya," keluh Melva memicingkan mata.
"Biar sopan ma ... masa ngelayat pakai celana jeans!" tampik Niar malu-malu.
"Iya sih ... cuma aneh aja lihat kau ribet kayak gitu. Bentar-bentar kau kibaslah rokmu itu. Jalanmu pun entah kayak mana!"
"Jadi pergi nggak? Kalau nggak jadi, aku ke kamar lagi nih!" ancam Niar menatap tajam wanita paruh baya itu.
"Yaudahlah, ayok! Bisanya kau nyetir pakai itu?" Melva memastikan, baru kali ini Niar memakai rok. Ke kampus saja, ia bahkan tak pernah mau memakai rok kecuali untuk kegiatan formal.
"Bisa ma!" Ayo, cepat!" ajak Niar.
Melva langsung melangkah lebar mengikuti langkah kaki Niar yang cepat. Keduanya, masuk ke dalam mobil.
Selama 15 menit perjalanan, dua-duanya larut dalam pikiran masing-masing. Niar sibuk menyetir, Melva hanya memperhatikan jalanan.
*******
"Jun, tolong belikan makan siang kita. Di kantin kantor aja," titah Defan, perutnya terasa bergejolak karena rasa lapar. Ia mengeluarkan uang dua lembaran merah, memberikannya pada Juni.
"Baik pak." Juni mengambil uang itu, langsung ke kantin perusahaan. Sampai di sana, ia kebingungan untuk memesan makanan lantaran Defan tak berpesan makanan apa yang ia inginkan.
Juni memperhatikan menu-menu yang ada di sana karena sangat banyak. Akhirnya, Juni pun ingin menelepon atasannya. Tapi, ia lupa kalau sedang tidak membawa ponsel.
"Maaf bu, menu spesialnya apa hari ini?" tanya Juni pada ibu kantin di kantornya.
"Chicken cordon blue dan nasi goreng mbak," sahut wanita itu.
"Saya beli keduanya aja bu! Dibungkus ya!" Juni menunggu pesanan di tempat duduk.
__ADS_1