
Drrrttt drrtt
Ponsel Defan bergetar. Hanya Juni yang mendengar tapi ia tak berani untuk mengangkat panggilan itu.
"Aduh, gimana nih? Pak Defan juga nggak balik-balik!" gerutu Juni mondar-mandir di samping kursi kerja. Ia pun mendekati meja kerja Defan, melirik kontak yang tertera di layar ponsel.
"Hmmm ... Dira?" Juni tak berani mengangkat panggil itu. Ia pun mengabaikan panggilan tersebut meski ponselnya sudah tak berkedip menyala lagi.
Drrrttt Drrrttt
Panggilan kedua, Juni semakin panik. Apakah ia harus mengangkat panggilan itu? Namun, nantinya ia dianggap lancang telah berani mengangkat panggilan yang belum jelas siapa perempuan yang menghubungi bosnya.
"Biarkan sajalah!" batin Juni, ia pun kembali ke meja kerja, melanjutkan pembacaan berkas yang hampir rampung.
********
"Jun, siapkan kepindahan kita!" titah Defan setelah ia tiba di ruangan.
"Kemana pak?" jawab Juni kebingungan.
"Ke ruangan atas, di samping ruangan pak bos." Defan mengangkat jari telunjuk, mengarahkan ke atap langit.
"Kenapa kita pindah pak?" Juni agak tertegun karena ruangan yang saat ini digunakan, sudah dirasa sangat nyaman.
"Katanya ruangan ini terlalu kecil. Kita pindahkan semua sekarang, akan ada yang membantu nanti. Besok biar lebih santai menempatinya," tandas Defan mulai memasukkan berkas ke dalam box biru untuk pindahan.
Karena kesibukan untuk berpindah, Juni sampai lupa menyampaikan kalau tadi ada yang menghubungi Defan saat ia meninggalkan ruangan.
Bahkan, Defan pun tak mengingat ponsel itu. Ia sibuk saja packing semua barang untuk dipindahkan ke atas.
******
"Bang Def, mana sih? Katanya mau pulang tepat waktu! Ini sudah jam lima malah nggak ada kabar. Ditelepon juga nggak diangkat dari tadi," sesal Dira yang merebahkan diri diatas ranjang.
Tiga puluh menit yang lalu, Dira sudah mengusir ketiga temannya untuk bergegas pulang.
"Cepat sana kelen pulang! Gawat nanti kalau suamiku datang, kelen masih ada disini!" gerutu Dira mulai mengemasi barang-barang temannya yang ada diatas meja ruang tamu.
__ADS_1
Dira bahkan meminta agar tiga perempuan itupun merapihkan semua sisa-sisa makanan serta sampah yang masih berserakan di atas lantai.
"Slow lah, Dir! Kami masih bersih-bersihkan ini loh!" ucap Carol penuh kelembutan.
Ia memunguti seluruh sampah yang berserak. Sementara Jenny mengangkat semua gelas yang ada di ruangan keluarga, dan Shinta lah yang menyucinya.
Ketiga perempuan itu sibuk membantu Dira dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dira pun ikut menyapu lantai untuk menghilangkan remahan-remahan bekas cemilan yang mereka habiskan semasa mengobrol.
Dalam waktu 10 menit, semua sudah kinclong kembali keawal. Dira mulai bersemangat setelah mengingat janji Defan yang akan pulang tepat waktu.
"Dir, kami pulang ya!" pamit ketiga wanita itu saling mencium pipi kiri-kanan secara bergantian.
"Makasih untuk semuanya, Dir. Kapan-kapan kami kesini lagi! Ingat weekend ini kita mau liburan!" cetus Jenny mengingatkan.
"Siap bos! Bisa kelen langsung ke parkiran kan? Capek kali aku, kalau bolak-balik repot nanti!" tutur Dira menepuk bahu Carol dan Jenny dengan kedua tangan.
"Tenang! Aman! Nggak cuma sekali kami kesini!" Ketiga wanita itu berjalan gontai sambil membalikkan badan lalu melambai ke arah Dira.
Dira pun melambai sembari tersenyum sumringah hingga ketiga wanita itu memasuki lift dan menghilang dari pandangan.
******
Defan pun melirik jam di tangan, sudah jam 6 sore tepatnya. Pria itu mencari keberadaan ponsel yang daritadi ia lupakan.
"Jun, apa kau lihat ponselku?" Defan mengedarkan pandangan, mencari ke sana– ke sini.
"Oh, ada di meja kerja bapak. Maaf, tadi saya lupa menyampaikan kalau tadi siang ada panggilan. Dari .... ehm ..." Juni tampak sedang berpikir.
"Siapa?" Defan langsung bergegas mengambil ponsel lalu melihat di layar.
Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Dira. Ia langsung menghubungi ulang wanita itu.
"Halo, sayang, maaf aku terlambat pulang. Di kantor sedang sibuk pindah-pindah," ucap Defan melalui sambungan telepon itu.
Sejenak, Juni langsung berpikir kalau yang bernama 'Dira' itu memanglah istri Defan. Dia baru bisa mengingat kembali nama tersebut.
"Abang, gimana sih! Tadi kan sudah janji mau pulang jam 5 sore. Sekarang udah mau malam loh, lihat di luar matahari aja sudah mau terbenam," tegur Dira dari kejauhan.
__ADS_1
"Iya, sayang! Maaf, ini kejadian mendadak. Bapak nyuruh aku pindah ruangan. Jadi sejak sore tadi, aku siap-siap berpindah. Supaya besok tidak terlalu repot." Defan pun menyingkirkan box yang telah terisi penuh.
Sementara Juni, masih tampak memacking seluruh barang yang tersisa.
"Aku jadi sendirin nih! Aku kesal sama abang, nggak pernah janjinya di tepati." Dira mematikan telepon itu secara sepihak.
"Duh, kebiasaan merajuk si sayang!" gumam Defan menggaruk-garuk tengkuknya. Merasa resah kalau malam ini tidak akan mendapatkan jatah sebagai suami.
"Jun, masih hanyak yang belum dimasukkan berkasnya?" tanya Defan, mengedarkan pandangan tetapi tinggal beberapa berkas yang belum dimasukkan ke dalam box.
"Tinggal itu saja kok, pak! Oh iya, saya baru ingat yang telepon bapak tadi namanya 'Dira'. Maaf saya lupa kasih tahu pak," sesal Juni.
"Nggak apa-apa! Cepat kemasi semua! Saya harus pulang secepatnya." Defan pun keluar, memanggil satpam yang bertugas malam itu.
"Pak, tolong angkat semua box biru dari ruangan saya, pindahkan ke atas!" kata Defan mengarahkan.
Satpam itu pun memanggil beberapa teman lain untuk membantu, lalu mengekori Defan yang sudah berjalan lebih dulu menuju ruangan.
"Yang mana saja, pak?" tanya seorang satpam yang berdiri di ambang batas pintu.
"Itu semua, pindahkan ke lantai teratas, di samping ruangan pak Desman. Besok, saya harus lihat semua sudah ada di dalam ruangan itu."
Defan mengambil tas dan jas yang menggantung. "Ayo, Jun pulang! Sudah selesai semua kan?" tanya Defan saat memastikan semua box berisi berkas itu sudah dikemas.
"Sudah pak!" Juni juga mengambil tas dan sepatu yang sempat ia lepaskan saat mengemasi barang.
"Kau, saya yang antar!" kata Defan merasa tak enak lantaran telah melibatkan Juni dalam kepindahan, sehingga wanita itu terpaksa lembur hingga malam.
"Baik, pak!" Juni pun menurut saja. Ia berjalan mengekori sang bos menuju perparkiran. Malam itu, kantor sudah sangat sepi, hanya ada satpam yang berjaga di setiap titik.
Defan dan Juni melenggang dengan santai, keduanya sering kali bersama.
******
"Awas aja ya, bang! Lihat nanti pembalasanku!" gerutu Dira berguling-guling di atas ranjang.
Padahal, dia sudah berdandan setelah mandi sore. Berharap suaminya itu akan terpesona melihat kecantikan dirinya. Namun, usahanya sia-sia!
__ADS_1
Dira bahkan tak peduli jika pria itu datang. Dandanannya telah di hapus, ia tak lagi memakai make up tipis natural. Rambutnya bahkan acak-acakan karena ia terus berguling-guling meratapi kekesalan malam itu.