Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
liburan keluarga besar


__ADS_3

Seketika, Defan pun terdiam kaku, tak berkutik untuk melakukan penolakan. Baru saja ia memikirkan alibi agar tak bisa mengikuti acara keluarga tapi malah disuruh untuk menyiapkan acara liburan untuk keluarga besar.


"Kapan rencanya, pung?" tutur Defan, mengulur pembicaraan padahal ia sendiri sudah mendengar jadwal liburan minggu depan.


"Ah, tanyalah sama tulangmu, eh amang simatuamu! Tadi janjinya, minggu depan kita berangkat!" ucap Opung Matua.


"Iya-iya, Pung!" Defan segera menghampiri mertuanya, menanyakan jadwal rencana liburan itu.


"Amang, jadi berangkat ke toba minggu depan?" tanya Defan, menunggu persetujuan dari sang mertua untuk mempersiapkan segala hal.


"Jadi, hela! Kenapa rupanya?" timpal Sahat, menatap menantunya.


"Opung nyuruh aku yang siapkan acara liburan mulai penginapan, akomodasi, makanan dan lainnya," jawab Defan, menyampaikan pesan opung matua.


Sahat berpikir sejenak, alangkah baiknya jika ada yang membantu dirinya untuk mempersiapkan acara tersebut. Sebab, dirinya sendiri masih sangat awam mempersiapkan acara liburan. Apalagi ini perihal hajat keluarga besar.


"Iya, baguslah itu! Kau carilah nanti penginapan dan lainnya. Nanti amang transfer semua biaya untuk liburan keluarga besar," ujar Sahat.


*****


Acara arisan keluarga ditutup. Semua sanak keluarga besar Tampubolon sudah pulang ke rumah masing-masing. Tinggal Desman, Defan dan Dira yang masih berada di kediaman itu.


"Kau ada perlu apa ke sini, Def?" cecar Desman, mengingat kembali maksud kedatangan anaknya, setelah semua keluarga pergi.


"Kami memang sengaja ke sini, pak! Mau nginap di sini, sudah lama tidak tinggal di rumah ini! Ngomong-ngomong, si Niar mana, pak? Nggak kelihatan batang hidungnya!" sambung Defan, hendak beranjak sembari menarik tangan istrinya.


"Ah, di kamar paling dia itu! Jadi kalian berdua nginap di sini? Istirahatlah, sudah malam. Bapak juga mau segera ke kamar!" tambah Desman, ikut beranjak, lalu berjalan gontai menuju kamar utama.


Sedangkan Dira dan Defan juga beranjak dari ruang tamu. Keduanya berjalan gontai, menuju lantai dua, di mana kamar Defan berada. Meski Melva tak berada di rumah, keadaan kediaman itu tampak sangat rapih dan bersih.


Tak hanya itu, saat Defan membuka kamar, melebarkan daun pintu, kamarnya seakan tiap hari dibersihkan, dirawat, seperti kamar-kamar lain yang berpenghuni.


"Bang, kok rapi kali kamarnya!" papar Dira, menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.

__ADS_1


Rasa lelah tak lagi terelakkan, dirinya sudah merasa ingin menutup pelupuk mata. Masuk ke alam dunia mimpi, untuk merehatkan diri.


"Tiap hari kan ada yang bersihkan, yang!" ujar Defan, membuka kemeja di depan sang istri, menghempaskan baju dan celana di atas lantai, lalu mendekati istrinya setelah bertelanjang dada hanya memakai dalaman saja.


"Ih, abang! Jauh-jauh ah!" Dira menghindar ketika Defan memeluknya.


"Astaga, aku suamimu loh," ucap Defan mendramatisir.


"Mandi sana! Ingat, aku masih nifas!" celetuk Dira, duduk bersila di atas ranjang.


"Iya, abang tahu!" Orang cuma peluk doang kok!" sesal Defan, istrinya selalu saja menghindar bila menjurus ke dunia intim.


"Yaudah, mandi sana! Bau!" ledek Dira, menutup lubang hidungnya.


"Ih, kau juga bau loh, yang! Ayo mandi sama-sama," usul Defan, seraya mengerlingkan mata.


"Enggak ah, bukannya mandi, malah melakukan aneh-aneh nanti. Nggak enak, ini di rumah amang!" kilah Dira, menghempaskan lagi tubuhnya di atas ranjang, setelah suaminya beranjak dari kasur.


*****


Seminggu berlalu ...


Hari ini, tepat jadwal memasuki weekend, kebetulan liburan keluarga besar Tampubolon segera dilaksanakan. Seluruh keluarga besar berkumpul di kediaman Opung Matua.


Termasuk Defan dan Dira. Moment liburan itu juga bersamaan dengan masa nifas Dira yang sudah berakhir. Alhasil, Defan bisa menikmati moment berdua dengan sang istri, mempersiapkan dunia baru untuk mendapatkan seorang bayi baru. Menggantikan bayi mereka yang sudah pergi lebih dulu.


"Ayo, cepat, mak, pak!" titah Sahat, pada kedua orangtuanya yang jalan beriringan dengan lambat lantaran kaki yang sudah tidak kuat.


Tampak sebuah bus besar bertingkat yang mewah terparkir di halaman rumah. Seluruh keluarga Tampubolon sudah masuk ke dalam bus, mulai dari 9 anak opung matua, hingga cucu-cucu yang jumlahnya sangat banyak.


Dira dan Defan sengaja duduk berdua di kursi paling depan. Mereka ingin menikmati momen liburan bersama itu sebagai rencana honeymoon yang selalu gagal.


Flashback on!

__ADS_1


Beberapa hari yang lalu ...


Defan sudah memesankan bus untuk akomodasi menuju Toba. Tak hanya itu, private vila yang luas dan memiliki banyak kamar, sengaja ia pesankan khusus untuk di tempati oleh keluarga besar.


Bahkan, Defan juga memesankan catering untuk setiap harinya disiapkan oleh pihak pemilik vila. Ia tak ingin keluarganya kelaparan ataupun kesulitan untuk mencari makanan.


Defan melakukan pembayaran dengan uangnya sendiri. Padahal, Sahat sudah menawarkan untuk memberikan 50 juta, sebagai biaya yang digunakan untuk keperluan liburan.


"Halo, hela, bagaimana acara liburan kita? Amang mau kirimkan uang arisan ini," ucap Sahat, melalui sambungan telepon. Ia sengaja menelepon Defan saat jam kerja, tentunya tak ingin merepotkan menantunya.


Ia tak ingin disangka mangkir memberikan biaya kebutuhan selama liburan. Terlebih, Defan sudah membantunya untuk mempersiapkan segala kebutuhan itu.


"Gausah, Amang! Nggak apa-apa, aku sudah bayar kok!" terang Defan, merasa tak enak bila mengambil uang pemberian mertuanya.


"Loh, kenapa? Ini uang arisan memang khusus untuk acara liburan kita. Jangan kau pakai uangmu sendiri," sergah Sahat, ia pun jadi merasa tak enak hati.


"Nggak apa-apa, Amang! Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan! Sudah dulu, ya, Amang! Aku mau kerja!" balas Defan, mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Defan menyiapkan rencana liburan mewah sekaligus untuk menyenangkan hati sang istri. Walau mereka kembali ke tempat yang menyisakan kenangan buruk, lantas tak membuat Defan mempersiapkan acara dengan asal-asalan.


Budget yang ia keluarkan pun tak sedikit. Demi mendapatkan kenyamanan untuk para tetua di keluarga, Defan mengeluarkan budget hingga ratusan juta. Ia juga tak menyampaikan biaya itu pada mertuanya.


Flashback off!!


Bus besar yang mewah, sudah mulai melaju. Para cucu-cucu berada di tingkat dua, sedangkan para orang tua termasuk Dira dan Defan, duduk di lantai bawah.


Mereka menikmati perjalanan, dengan lantunan musik batak yang sengaja distel selama masa perjalanan. Hingga 4 jam berlalu, bus tiba di Danau Toba.


Mereka akan menyebrang lagi menggunakan kapal feri. Setelah menaiki kapal feri, seluruh keluarga keluar dari dalam bus, menikmati pemandangan laut danau toba yang luar biasa.


"Masih trauma?" celetuk Defan, menatap lekat istrinya, di tepi kapal, menyaksikan pemandangan danau yang hijau.


"Ehm ... sedikit!" ucap Dira sembari terkekeh kecil, nyatanya ia menyembunyikan rasa trauma yang perlahan-lahan ingin dihilangkan.

__ADS_1


__ADS_2