Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
masalah rumah tangga


__ADS_3

"Biasalah, masalah rumah tangga hehe," jawab Defan dengan polosnya.


"Iya, masalah apa tapi?" desak Anggi dengan tatapan penuh selidik. Ia pun penasaran dengan abang dan iparnya yang memperlihatkan raut wajah tak biasa.


Defan tampak frustasi, sedangkan Dira penuh tatapan amarah.


"Tadi abang jalan sama Dania. Cuma perayaan kok. Eh ketemu istriku, di tempat karaoke," cerita Defan singkat.


"Hah? Berdua di tempat karaoke." Anggi histeris mendengar cerita abangnya itu.


Defan mengangguk pelan. Namun, ia merasa tidak ada yang salah. Karena yang dilakukannya dengan Dania hanya sebatas bernyanyi. Tidak lebih!


"Abang udah gila ya? Kemarin pas ketemu di mall aja, edak itu udah merajuk-rajuk. Eh ... sekarang malah karokean berdua," cela Anggi.


"Ada apa nih ribut-ribut?" tanya Niar yang baru saja keluar dari kamarnya, melihat Anggi dan Defan mengobrol begitu serius.


"Nggak apa-apa kak! hehe," kilah Anggi tak mau ketahuan pada Niar kalau ia sudah lebih dekat dengan Dira.


"Yaudah sana minggir. Ngapain kumpul disini," sindir Niar, ia pun berlalu pergi menuruni anak tangga meninggalkan Defan dan Anggi.


Sementara, Defan dan Anggi masih melanjutkan percapakannya. "Bang, kasian kalilah edak itu. Udah punya suami tapi nggak pengertian Ck!" decak Anggi semakin sebal melihat tingkah laku abangnya.


"Apa sih anak kecil! Sok tahu!" ledek Defan. Ia pun segera menarik daun pintu, meninggalkan Anggi yang belum selesai bicara.


"Bang! Cepat minta maaflah!" teriak Anggi sebelum Defan menutup pintu kamarnya.


Defan masuk mencari sosok istrinya di dalam kamar. Ternyata sedang asik duduk diatas ranjang. Namun, ia mengganti bajunya lebih dulu.


Ah mandi dulu deh biar segar!


Defan tampak berpikir padahal tangannya sudah memegang satu helai kaos rumahan. Namun, kaos itu ia kembalikan lagi. Ia langsung berjalan menuju kamar mandi.


Sebelumnya, ia lihat Dira sedang asik memegang ponselnya duduk diatas ranjang. Tanpa menoleh sedikit pun padanya. Dira pun tahu kalau suaminya sudah masuk ke dalam kamar, tadi ia sempat mencuri-curi pandang saat suaminya itu menarik daun pintu.


Di atas ranjang, Dira sudah bersih. Mandi serta memakai baju piyama padahal masih sore. Tepatnya jam 5 sore.


Di dalam grup watsapp Dira, sudah ramai chat dari teman-temannya.


Carol


Aku udah sampai rumah we, eh kek mana tadi bang Defan sama Dania?


Jenny


Bang Defan antar kami sampai rumah kok tapi dia antar Dania dulu hahaha


Shinta


Mukanya si Dania butek kali! Kelitan kok dia kesal dari tadi


Carol


Terus kayak mana suamimu, Dir?


Dira pun merasa terpanggil, padahal ia hanya membaca pesan-pesan temannya tanpa berniat membalasnya.


^^^Dira^^^

__ADS_1


^^^Ada ... lagi mandi. Biasalah nggak merasa bersalah tuh!^^^


Jenny


Wah parah! Kerjain ajalah Dir wkwkwk


Shinta


Kerjain apa lagi Jen? Nggak puas-puas kau tadi ngerjain dia?


^^^Dira^^^


^^^Bingung mau kerjain apa lagi ... ^^^


Jenny


Sembunyikan saja ponselnya?


^^^Dira ^^^


^^^Enggak ah, nggak berani. Takutnya dia dihubungi soal kerjaan.^^^


Jenny


Dia ada niatan minta maaf nggak?


^^^Dira^^^


^^^Nggak ada tuh, cuek aja.^^^


*Carol dan Shinta diam, hanya memantau ...


Jenny


^^^Dira ^^^


^^^Godain gimana?^^^


Jenny


Ya, selayaknya istri


^^^Dira^^^


^^^Nggak ah, malu! Aku lagi mode merajuk!^^^


Jenny


Terus kerjain apa ya? kelen ada saran woi? Kok diam aja daritadi yang dua itu?


Carol


Aku mantau kok, udahlah biarin saja! Lupain aja masalah itu Dir. Kalau kau semakin cuek, dia pasti makin gelagapan!


Shinta


Bener tuh, cuekin ajalah! Kalau kemana-mana nggak usah mau

__ADS_1


^^^Dira^^^


^^^Kebetulan! Rencananya dia malam ini mau ajak jalan. Tapi nggak tahu jadi apa enggak setelah kejadian ini? ^^^


Jenny


Yaudah diamkan aja dia! Biar tahu rasa, kalau diajak jalan jangan mau kau ya?


^^^Dira^^^


^^^Oke deh! Udah dulu ya...^^^


Dira pun mematikan ponselnya. Ia mulai mempersiapkan buku-buku pelajarannya. Mengecek bila ada PR yang diberikan guru. Padahal masih sore tapi dia ingin segera menuntaskannya. Biar bisa tidur lebih cepat hari ini.


Ceklek


Suara tarikan handel pintu terdengar, Defan keluar dari kamar mandi. Rambut yang basah, bertelanjang dada, hanya bagian kejantanannya yang ditutupi dengan sehelai handuk.


Setelah keluar dari kamar mandi, ia menyugar rambutnya ke belakang agar tampak rapih. Langsung ia menuju lemari, mengambil kaos rumahan yang ada di dalam sana.


*hening


Tanpa ada sapaan dari Defan. Keduanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Defan sibuk bercermin lalu memakai bajunya.


Sedangkan Dira sibuk belajar. Ada satu pelajaran yang diberikan PR oleh gurunya.


"Ehemm..." Defan bergumam sengaja mencari perhatian istrinya. Tapi Dira tak kunjung menoleh.


"Dir ..." Panggilan Defan tak juga disahuti oleh Dira. Dira cuek saja sesuai permintaan teman-temannya.


"Dir ... abang mau minta maaf," lirihnya tertunduk malu. Defan sangat gengsi untuk meminta maaf.


Tapi Dira pun tak juga menjawab permintaan maaf suaminya.


"Dir ... dengar nggak?" tanya Defan serius lantaran perempuan itu sengaja menyuekinya.


"Abang minta maaf udah salah. Seharusnya abang berkabar dulu. Minta izin samamu sebelum jalan sama dia." Defan pun enggan menyebut nama Dania khawatir istrinya akan murka lagi.


"Lain kali abang bakal bilang kalau mau jalan sama perempuan lain." Defan menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal lantaran tak ada jawaban dari istrinya.


"Dir ... abang lagi bicara loh ini! Masa dari tadi dicuekin," berang Defan agak meninggikan suaranya.


Dira pun baru saja menyelesaikan PRnya. Ia langsung merapihkan buku-buku sesuai mata pelajarannya. Tapi, ia melirik ponselnya, memastikan hari apa sekarang. Baru ingat kalau besok adalah hari minggu. Sia-sia sudah usahanya untuk mengerjakan PR.


Tapi ia langsung saja merapihkan buku-buku sesuai mata pelajaran untuk hari senin. Ia masukkan semua ke dalam tasnya. Lalu menyimpan tas itu ke dalam lemari.


Eh ... Dira melihat tas yang dibelikan mertuanya. Ia mengambil tas itu, lalu mengganti tas yang diberikan Defan dengan tas pemberian mertuanya. Tentunya di depan mata Defan.


Ia memindahkan semua buku-bukunya ke dalam tas yang memang tak ia sukai sebenarnya. Tapi ia ingin membalas dendam pada suaminya.


Defan yang melihat kejadian itu pun semakin kesal.


Hahhhh


Defan menarik dan membuang nafas kasarnya. Ia semakin frustasi melihat tingkah istrinya yang kekanakan. Meski sedang duduk diatas ranjang, Defan menyugar rambutnya dengan rasa frustasi yang kian memuncak.


Tidak ada jawaban dari Dira tapi wanita itu langsung melakukan action sedang mode ngamuk. Tas merah maroon pemberian suaminya itu ia masukkan ke dalam lemari tanpa pikir panjang.

__ADS_1


Defan bingung harus bagaimana lagi menghadapi istri kecilnya. Permintaan maaf sudah ia lontarkan tetapi tak ada jawaban sama sekali.


__ADS_2