
Dengan buru-buru Dira mengambil handuknya yang terjatuh diatas lantai. Wajahnya merah padam, ia mengutukki kelakuan bodohnya hari ini.
Defan terbahak pontang-panting melihat kecerobohan Dira. Meski tawanya hanya dalam hatinya saja. Dimulutnya sengaja ia tahan-tahan karena tak mungkin melakukannya dengan suasana canggung seperti ini.
Astaga Dira! Kau ini! Sengaja ya pamer body," ledek Defan menahan gelak tawanya dihadapan Dira.
"Abang sih ngapain tiba-tiba ada didepanku! Akukan jadi panik, nggak tahu pula aku kalau handukku longgar," ketusnya kepalang malu. Dira sudah menahan rasa malunya, tubuh nakednya sudah dipandang oleh Defan sejak lama, bak nasi sudah menjadi bubur, Dira pun harus mengikhlaskannya secara cuma-cuma.
Meskipun itu bukan kali pertama, Defan sudah melihatnya dimalam pertama mereka. Cuma kali ini, Defan sangat tak menyangkanya pemandangan seperti itu akan ia lihat kembali. Dira tak memakai sehelai benangpun berdiri dihadapannya.
"Gila si Dira! Bikin orang ngences aja," gumamnya sambil menelan kembali air liurnya. Tubuh mulus Dira yang ramping dan sexy terbayang-bayang dipikiran Defan.
Sangat disayangkan, ia tak bisa menyentuh tubuh gadis yang berusia tujuh belas tahun itu. Ia harus menahan hasratnya meski menyaksikan Dira yang sudah menunjukkan tubuhnya secara sukarela.
Karena suasana mendadak canggung akibat ulah Dira yang teledor, Defan pergi ke meja makan. Disantapnya beberapa makanan yang ada dihadapannya dengan rasa sedikit kesal karena menyia-nyiakan makanan yang lebih menggiurkan yaitu tubuh Dira.
Sedangkan Dira sibuk mencari bajunya yang ada di dalam koper. "Sial! Udah terlanjur malu kali aku dilihat abang itu! Dilihatnya pula tubuhku secara cuma-cuma. Bodoh kali pun aku," ia memaki diri sendiri, karena kelalaiannya sore ini.
"Sial kali pun. Bodoh kali aku!" umpatnya lagi sembari menemukan sepasang baju tidur didalam koper. Ia langsung menarik baju tidur itu, membawanya ke kamar mandi dan memakainya disana.
Karena merasa sangat kesal, seraya memakaikan baju, ia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. "Bodoh! Bodoh! Paok kali aku memang," umpatnya menyesali tindakan bodohnya tadi.
TOK TOK!!
Suara ketukan pintu kamar mandi menghentikan aksi Dira yang tengah merutukki kebodohannya. Ia langsung bergegas memasangkan kancing pada piyamanya.
"Dira! Dira! Buka," teriak Defan memerintahkan Dira untuk membuka pintu kamar mandi sambil mengetukknya dengan kencang.
"Bentar abang," balasnya sigap seraya merapihkan rambutnya didepan kaca yang berada diatas wastafel kamar mandi.
Tak lama kemudian Dira menarik daun pintu kamar mandi, menatap tajam Defan dengan rasa kekesalannya yang memuncak.
"Ada apalagi sih bang?" keluhnya dengan nada malas. Wajah Dira masih sangat merah apalagi saat ini sedang berhadapan dengan paribannya yang sudah menjadi suaminya.
"Minggir! Saya mau mandi," tutur Defan cuek dan menyingkirkan tubuh Dira dari samping pintu kamar mandinya.
Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi, menarik daun pintu dan menutupnya dengan keras. Sedangkan Dira masih mematung didepan pintu kamar mandi.
Brug!
"Astaga kencang amat sih banting pintunya," gerutu Dira tak habis pikir dengan tindakan suaminya yang hobi sekali membanting pintu.
Dira mengambil ponsel miliknya didalam tas usangnya, kemudian membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Ia teringat pada ketiga sahabatnya atas kejadian tadi.
__ADS_1
Dibukanya layar ponsel itu, memulai dengan aplikasi watsapp yang ada di ponselnya. Satu grup perkumpulan mereka langsung ia sambar.
Dira
Weee!! Gimana ini wee!! Tolong kelen dulu aku. Masa tadi handukku kedodoran dan jatuh. Malu kali aku telanjang didepan abang itu.
Pesan Dira langsung dibaca oleh ketiga sahabatnya, membuat mereka tertawa terpengkal-pengkal. Cukup mendapatkan respon yang unik-unik dan memaki tindakan bodoh dirinya.
Jenny
Kok paok kali lah kau Dir. Tapi lumayan lah abang itu, ada tontonan gratis uhuyyy. Malam ini bisa lanjut gas!! xxixixixi
Carol
Wah!! Sepertinya kita akan punya ponakan baru nih. Jadi kek mana reaksi abang itu?
Dira
Diam aja sih dia, malah dia bengong ngelihat bodyku yang mulus! wkwkwkkw
Shinta
Jangan lupa pengamannya bos! Ingat kita masih sekolah huahahaha
Dira
Jenny
Anggap santai aja, kan dia udah jadi suamimu. Anggap aja itu awal mula percintaan kalian hehehe
Carol
Iya betul kata Jenny. Gausah kau pikirkan itu Dir, tapi kalau diajak ehem ehem gas ajalah. Kan udah kau tawarkan tubuhmu peace aahh
Shinta
Pokoknya ingat pengaman!!!
Dira
Udahlah dulu ya we! Takut abang itu datang, dia lagi mandi. Aku mau tidur aja!
Dira menutup layar ponselnya, ketiga sahabatnya itu tidak ada yang memberikan saran yang benar.
__ADS_1
Dira menyimpan ponselnya diatas nakas, merebahkan tubuhnya seraya memejamkan matanya. Entah apa yang akan ia lakukan untuk mencairkan suasana malam ini.
"Haduhh gimana kalau abang itu malah makin penasaran setelah lihat tubuhku. Huffhhh," gumamnya sambil mengeluarkan nafas kasarnya.
Ceklek
Suara tarikan pintu kamar mandi, Defan rupanya baru selesai mandi. Aroma sabun begitu kuat dan menusuk hidung Dira.
"Kok wangi kali abang ini, perasaan kami pakai sabun yang sama. Tapi pas aku mandi nggak sewangi ini lah," batinnya tanpa membuka kedua matanya.
Ia tak berani melihat wajah Defan karena masih sangat malu atas kejadian tadi.
Defan keluar dari kamar mandi, aroma sabunnya begitu kuat. Tubuhnya yang tinggi dengan body yang gagah memang mampu melunakkan hati para wanita sekitarnya.
Tak terkecuali Dira, Dira sebenarnya menyukai Defan. Suka dalam arti mengakui kegantengan paribannya itu. Namun ia belum sepenuhnya jatuh cinta, karena pikirannya masih polos dengan target menyelesaikan sekolahnya lebih dulu.
Dira mengintip Defan yang sedang bercermin didepan meja rias. Tubuh gagahnya dipandangi oleh Dira dengan hati-hati agar tak ketahuan.
Ia terpukau dengan kegantengan Defan, meski hanya menutup bagian pinggang hingga pahanya dengan lilitan handuk. Percikan air yang ada ditubuhnya belum sepenuhnya ia keringkan dengan handuk.
Rambutnya yang basah membuat wajahnya tampak segar dan menggoda. "Ganteng sih," gumam Dira seraya tersenyum simpul.
"Kalau mau lihat langsung aja kali! Nggak usah ngintip-ngintip," sindir Defan yang melihat kelakuan Dira dibalik pantulan cerminnya.
hehehe
Dira mengeluarkan tawanya dengan pelan. "Bukan ngintip bang, aku mastiin aja yang keluar itu abang bukan setan," candanya dengan senyum picik sambil memandangi tubuh Defan yang cukup atletis.
Defan tampak santai tak perduli kalau Dira sedang memelototi tubuhnya. Bahkan ia tak malu-malu seperti Dira tadi.
Dengan santai ia menarik koper yang tak jauh dari posisinya saat ini. Ia buka perlahan dan mengambil piyama yang serupa dengan dipakai oleh Dira.
"Lah dia juga pakai itu. Jadi couple," lirih Dira pelan agar tak kedengaran oleh suaminya.
Defan memakai bajunya didepan Dira. Malah Dira yang tersipu malu karena Defan tak beranjak ke kamar mandi.
"Kok pakai disini sih bang! Ke kamar mandi sana," perintah Dira tak didengarkan oleh Defan. Dengan cuek ia memakai bajunya sampai lengkap.
"Untung itu handuk nggak dia lepas dulu. Kalau dia lepas bisa-bisa ada babak baru," gumam Dira sembari tersenyum sinis.
Defan yang sudah selesai memakai bajunya, melemparkan handuk bekasnya ke atas kursi meja rias didekatnya. Ia malas sekali untuk berjalan ke kamar mandi.
Lalu mendekati Dira yang sedang asik memandangi wajah tampannya dengan ekspresi malu-malu.
__ADS_1
"Lagi mikirin hal kotor ya," sambar Defan dingin seraya menghempaskan tubuhnya diatas ranjang.
*Yuhu!! jangan lupa supportnya untuk author. Kalau perlu saweran hadiahnya juga xixixixi **🥰 *