Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
jahil


__ADS_3

*hening


"Abang ngapain sih lihatin aku kaya gitu kali," sindir Dira seraya memalingkan wajahnya kesamping.


"Ih kepedeann!! Siapa juga yang lihat kau." Defan beranjak kembali ke samping Dira.


Keduanya saling diam, larut dalam pikirannya masing-masing. Jam telah menunjukkan pukul 9 malam, Defan sudah mulai menguap karena rasa kantuk menyerangnya.


"Abang tidur duluan ya. Udah ngantuk," pamitnya seraya menutup mulutnya dengan tangan agar tidak terbuka lebar saat menguap.


"Hemmm." Dira memunggungi suaminya. Sedangkan Defan mulai menyipitkan kedua matanya yang serasa berat. Lima watt itulah kata mendeskripsikan mata Defan saat ini.


Grokk Grokkk


Belum sampai lima menit berpamitan, suara ngoroknya mulai memenuhi ruangan. Membuat Dira semakin gusar, tak bisa tidur karena suara pria itu begitu berisik.


"Aissss." Dira berdecit seraya menutup wajahnya dengan selimut. Berharap suara itu tak terdengar lagi. Namun, usahanya sia-sia. Suara itu bertambah keras. Ditambah adanya gertakan suara gigi membuat Dira semakin kesal.


"Ihh kenapa sih tidurnya harus ngorok plus giginya gretak-gretak! Mana tadi udah ketiduran pula aku, alhasil sekarang pasti begadang karena suara berisik ini," keluhnya seraya membalikkan tubuhnya menghadap sang suami.


Dira menatap lekat suaminya, seketika ia tersenyum. Wajah itu tetap tampan meski tengah tidur menganga serta dengan suara khas ngorok yang mengganggu telinganya.


Tak ada pengahalang diantara mereka. Dira sekarang tidak terlalu protektif, ia membiarkan tertidur begitu saja tanpa meletakkan sebuah bantal diantara mereka.


Lagipula, Defan pria yang tahu diri, tak akan menyentuh Dira semasa masih menyandang status sebagai pelajar. Terbukti, setelah melalui tiga hari kebersamaan mereka, Defan sangat mengetahui batasannya.


Belum pernah sekalipun pria itu mencoba untuk menyentuh dirinya, meski handuk Dira sempat melorot disaat hari pertama tiba di Bali untuk honeymoon.


Hanya saja Dira terkadang tak tahan dengan omelan suaminya yang melontarkan kata-kata tajam. Terlebih kebiasaan ngoroknya seperti sekarang ini.


Niat Dira untuk mengusili suaminya pun muncul. Ia mengambil sebuah liptint dari tas usangnya. Tas yang tak disukai oleh suaminya itu. Saat mengambil liptint, ia teringat akan perkataan suaminya yang meminta untuk membuang tas kesayangannya.


Dira masih memegang tas itu, ia keluarkan semua isinya kebawah lantai. Lalu membuang tas itu kedalam tong sampah yang ada didekatnya.


"Hmmm sepertinya kita harus berpisah. Maafkan aku." Dira meratapi tas usangnya, tapi tas itu benar-benar usang. Sudah wajar ia harus berpisah dengan tas yang menemaninya selama dua tahun terakhir.


Ia juga tak mau membuat suaminya malu, karena selalu menggendong tas usang tersebut.


"Bye!" kata terakhir yang diucapkan oleh Dira pada tas kesayangannya. Sepertinya esok ia harus membeli tas baru sebagai penggantinya. Tentunya menggunakan uang suaminya.

__ADS_1


Ditangan Dira masih ada sebuah liptint yang daritadi ia pegang. Jiwa kejahilannya mulai menguasai. Sudut bibirnya melengkung seketika.


Otaknya menjadi terang benderang, ingin sekali rasanya mengerjai suaminya yang sedang pulas tertidur. Sebagai bentuk pembalasan dendam karena satu hari ini membuat hari-harinya terasa buruk, merasakan ketakutan dan kesakitan.


Perlahan Dira naik keatas ranjang, pelan tapi pasti, akhirnya dia duduk dengan nyaman diatas ranjang. Disamping pria arogan itu.


Tangan Dira mulai bergerak, mengoleskan liptint dibagian wajah suaminya yang sedang terbaring tanpa sadar.


Mulai dari bagian mata, ia melingkari kedua mata yang terpejam itu. Berlanjut ke bagian pipi, ia mencoret pipi kanan dan kiri dengan garis seperti berbentuk kumis kucing.


Batang hidungnya ia gariskan memanjang sebagai coretan tidak jelas. Terakhir, bibir itu dia pakaikan liptint secara merata, menjadikan bibir itu sangat memerah seperti cherry.


Hihihi Lucu banget sih suami akuu!! Gemes banget!


Dira bergumam seorang diri, menatap lekat wajah suaminya yang tercoret-coret dengan polesan liptintnya. Hasil karya terbarunya, Defan menjadi pria yang menggemaskan.


Selama memoleskan liptint, Defan bahkan tak berhenti mengorok. Membuat Dira semakin sebal. Ia tetap tak bisa tidur meski sudah mengusili suaminya.


Dira mengambil sebuah saputangan miliknya yang ada di lantai tanpa turun dari kasurnya, saputangan itu ia keluarkan saat tadi mengosongkan tas usangnya.


Kemudian dia menggulung saputangan itu berbentuk bulatan, lalu menyumpal mulut suaminya dengan sapu tangan tersebut.


Lagi-lagi Dira bergumam. Lalu merebahkan dirinya serta menutupi tubuhnya dengan selimut. Sudah tak ada lagi suara keributan. suara mengorok yang muncul dari mulut Defan.


*Hening


Akhirnya Dira bisa tertidur lelap setelah menjahili suaminya dengan berbagai cara. Beruntung, Defan tak terbangun meski mulutnya tersumpal dengan sapu tangan. Tapi mulutnya tak bisa menutup sama sekali. Kendati demikian, Defan tetap bisa tidur dengan pulas sepanjang malam.


\~\~\~\~


Pagi menyapa, cahaya teriknya matahari yang tinggi telah masuk ke sela-sela jendela kamar mereka. Pagi itu Dira dan Defan belum terbangun. Tetapi.... Tiba-tiba...


Kring-kring ada sepeda-sepedaku roda tiga...


Ponsel Defan berdering sangat keras. Memaksa keduanya terbangun karena nada dering itu begitu memekakkan telinga keduanya. Dira dengan cueknya tertidur lagi karena ponsel yang berbunyi bukan miliknya.


Sementara Defan mulai membuka kedua matanya. Mulutnya terasa kaku tak bisa menutup. Ada sesuatu yang mengganjal didalam sana.


Ia menjadi tak fokus untuk mengambil ponselnya yang terus berdering. Didudukkan dulu tubuhnya. Lalu mengambil sesuatu yang ada didalam mulutnya.

__ADS_1


Saputangan itu sudah basah dipenuhi air liur yang terserap dari mulutnya.


"Awwww." Defan merintih karena mulutnya terasa tegang karena semalaman terbuka.


Dasar gadis kecil! Berani-beraninya dia menyumpal mulutku dengan sapu tangan yang kotor ini.


Defan bergumam seraya membuang sapu tangan yang ada ditangannya ke arah lantai. Dia melirik Dira yang masih memejamkan matanya.


Ia raih ponselnya yang ada diatas nakas, melihat kontak yang tertera. Siapa gerangan yang menghubunginya pagi-pagi begini.


Id Caller: Dania


Huffttt


Defan membuang nafas kasarnya setelah melihat nama tersebut. Sahabatnya, ada saja cara yang ia lakukan untuk mengusik kebersamaannya bersama istrinya.


Tiba-tiba... Dering ponsel itu berbunyi kembali.


Kring-kring ada sepeda-sepedaku roda tiga...


Ia tatap ponselnya, lagi-lagi Dania meneleponnya. Ia tekan layar ponsel itu kearah kanan, menerima panggilan tersebut seraya mengetatkan rahangnya yang terasa sakit dan tegang.


"Ada apa Dan?" tanya Defan tanpa basa-basi.


"Def, ini ada anak kecil yang jadi korban dikasus yang kau tangani. Katanya dia mau bicara." Dania juga tanpa basa-basi menjawabnya karena anak kecil beserta keluarganya itu sudah menunggu sejak tadi.


"Oh! Apa dia mau bicara sekarang?" tanya Defan dengan serius. Ia tak mau kehilangan momen itu, karena itu akan menjadi satu-satunya bukti terkuat pada sidangnya nanti.


"Iya katanya dia mau membicarakan hal itu sekarang. Sudah kukatakan, kau sedang diluar kota. Tetapi keluarganya bersikukuh untuk berbicara sekarang."


Jawaban Dania membuatnya memutar otak. Salah satu caranya adalah harus mengajak anak itu berbicara langsung.


"Dan! Terima permintaan video call dariku," ucapnya dengan tenang.


Dania menerima permintaan video call. Menunjukkan wajah cantiknya yang tersenyum pada Defan. Seketika Dania tertawa keras ketika melihat wajah Defan dilayar ponselnya yang tercoret-coret tak jelas bentuknya.


Hahahahhahahaha


"Kenapa kau? Kok malah ketawa! Cepat kasih ponselnya pada anak itu," titah Defan tak memerdulikan tawa keras sahabatnya.

__ADS_1


"Tunggu! Hahahaha." Dania kembali tertawa, malah tak memberikan ponselnya pada anak tersebut.


__ADS_2