Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
kebun


__ADS_3

"Berapa untuk fotonya pak." Defan menunggu keputusan fotografer dadakannya.


"Satu lembarnya cuma 40ribu pak. Untuk biaya sewa perahu 150ribu," balas supir perahunya.


Defan mengambil dua lembar uang kertas berwarna merah dari sakunya, lalu diberikan pada sang empunya perahu.


"Terimakasih pak!" Defan melambaikan tangannya dengan senyum ramah kepada bapak tersebut. Mereka berdua meninggalkan pura saat itu juga.


Tak terasa sudah menjelang sore hari. Defan dan Dira bergegas keluar, mencari supir mereka. Defan langsung menemukan mobil travel mereka di perparkiran.


"Kemana lagi ya pak?" tanya Defan setelah menduduki kursi joknya dengan nyaman, Dira pun disampingnya tengah beristirahat.


"Kebun Stroberi Bedugul pak." Supir itu tetap fokus mengendarai mobilnya dengan kecepatan laju sedang.


"Wah cocok tuh pak! Segarlah sore-sore gini makan stroberi," celetuk Dira, karena buah stroberi adalah kesukaannya.


"Iya bu, segar banget pastinya. Makanya saya bawa kesana," supir menimpali dengan antusias.


Sementara Defan hanya diam menyaksikan percakapan antara dua orang tersebut. Cuma memerlukan perjalanan selama tiga puluh menit, mereka tiba di Bali Strawberry Farm & Restaurant.


Dira begitu bersemangat, buah kesukaannya bisa langsung ia makan setelah memetik langsung dari pohonnya.


Dira dan Defan berjalan gontai berdampingan memasuki kebun stroberi tersebut. Wanginya saja sudah tercium dari perkebunan yang luas itu.


Setelah masuk, tak lupa Dira mengambil sebuah keranjang untuk tempat hasil memanennya.


"Bang! Ayo ikutan metik. Jangan diam aja dong," titah Dira begitu riang.


Sementara Defan begitu malas berurusan dengan tanaman. Lebih baik ia duduk beristirahat atau bersantai menikmati sajian makanan di restaurant tersebut.


Tetapi Dira terus memaksanya untuk ikut memetik langsung buah kesukaannya itu. "Bang ih, cepetan dong! Jangan duduk aja," rengek Dira dengan manjanya. Membuat Defan semakin luluh ketika mendengar rengekan manja dari gadis kecil itu.


Defan beranjak dari kursinya mendekati Dira. Mereka memasuki kebun hijau yang luas. Dira dengan senangnya berjalan sampai melompat-lompat kecil karena kegirangan.


Dira mencoba memetik satu buah stroberi. Buah yang sangat segar berwarna kemerahan sangat mengkilap.


Glek


Dira langsung menelan air liurnya saat menatap buah yang ada tangannya. Buah itu langsung ia lahap, dikunyah dengan pelan menikmati sensasi rasanya.


"Heeemmm segar banget!" teriak Dira seraya melompat kegirangan.


Rasa dari buah itu sangat segar, sedikit rasa asam tapi juga terasa manis dilidah. Buahnya begitu renyah, sampai dimulut sangat lembut ketika dikunyah.

__ADS_1


"Abang cobain deh satu." Dira menyodorkan satu buah yang dipetiknya lagi kepada pria itu. Pria yang mematung dari tadi disamping Dira, bukannya membantu memetik buah kesukaan istrinya.


"Nggak ah! Nggak suka," desis Defan menolak buah yang sudah ada didepan mulutnya.


Tetapi Dira memaksa, ia langsung memasukkan buah storberi yang ada ditangannya ke mulut pria itu.


"Ihh ngapain sih," tolak Defan ingin mengeluarkan stroberi dari mulutnya tapi langsung dicegah oleh Dira.


Dira menutup mulut Defan dengan kedua tangannya.


"Eeuhhh Ehmmm." Defan mengerang tak bisa mengatakan apapun. Rasanya engap, tetapi dia langsung mengunyah stroberi yang ada dimulutnya agar bisa berbicara.


Glek


Stoberi itu telah habis dia telan. Ehmm... Ternyata rasanya tidak seburuk yang ia bayangkan. Selama ini ia mengira rasa stroberi itu hanya asam saja, tetapi ketika menikmati satu buah yang baru saja dipetik, sensasi rasanya begitu berbeda dengan kebanyakan stroberi yang dijual di market.


Kok enak ya? Segar lagi..


Ia bergumam seraya menikmati sisa stroberi yang ada dimulutnya.


"Gimana? Enakkan bang? Mau nambah lagi?" usul Dira dengan semangat.


"Lumayan," ketus Defan menyembunyikan perasaannya yang menikmati stroberi itu.


Krezz Krezz


Suara kunyahannya begitu nyaring. Buah itu sangat segar sehingga Defan begitu menikmatinya.


Dira melanjutkan memetik buah stroberi yang dipilihnya. Buah yang besar dan merahlah yang menjadi incarannya.


"Bang, ambil satu keranjang lagi deh," titah Dira.


Defan mengangguk patuh, berjalan mengambil satu keranjang untuk buah stroberi lainnya. Keranjang pertama sudah terisi sangat penuh, tapi Dira belum merasa puas.


Ia harus memanfaatkan kesempatan itu, selagi masih berada langsung di kebunnya. Kebun yang entah berapa hektar tetapi sekilas sangatlah luas.


"Bang bantuin dong! Jangan diam saja!" protes Dira ketika melihat Defan hanya berdiri mematung, menunggu sampai Dira selesai.


"Hemmmm." Defan mulai memetik buah stroberi yang ada didepannya. Tetapi ia tak tahu cara memilih buah yang mana yang akan dipetik.


"Dir, yang mana harus abang petik?" tanyanya kebingungan seraya menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


"Pilih saja yang besar dan merah, itu tanda ya sudah matang," lontar Dira penuh keyakinan mengajarkan suaminya tersebut.

__ADS_1


Defan mengangguk dengan senyum tipisnya. Ia mulai memetik buah sesuai yang dikatakan istrinya tadi. Keranjangnya pun terisi penuh.


Dira terkejut melihat isi keranjang Defan. Disana penuh stroberi yang gemoy alias besar-besar sangat merah.


"Pintar juga abang ya milihnya," puji Dira mengerling, seketika Defan jadi malu-malu mendengar pujian dan kerlingan istrinya.


"Siapa dulu dong, suamimu!!" ucap Defan penuh penekanan.


"Astaga abang! Tumben ngaku-ngaku suami aku," goda Dira.


Upss! Salah ngomong kayanya aku.


Defan bergumam seorang diri, suasana menjadi kaku.


"Kan emang suamimu. Emangnya suami siapa lagi?" kilah Defan memulai dengan nada dinginnya.


"Hemm cari ribut lagi deh. Mulai lagi," timpal Dira tak mau mengalah.


"Yaudah ayo bang, bayar dulu nih stroberinya," Dira melanjutkan.


"Iya." Defan mengekori istrinya yang mengarah ke kasir. Disana berat stroberi hasil petikan sendiri ditimbang. Semuanya dari hasil dua keranjang itu ada 3kg stroberi.


"Banyak juga ya bang. Kirain hanya sampai dua kilo," bisik Dira membuat Defan kegelian.


"Kau sih ngambilnya banyak. Pakai nambah-nambah keranjang lagi," sela Defan.


"Yaudah buruan bayar," decit Dira tak ingin tergiur menambah stroberinya lagi.


Daritadi pandangannya tak lepas-lepas dari ladang stroberi itu. Kalau bisa, satu ladang itu menjadi miliknya, karena ia sangat menyukai stroberi.


Defan menenteng satu kantong plastik besar hasil panen mereka.


"Kemana lagi nih?" tanyanya sebelum kembali ke mobil.


"Ngopi syantik dululah bang, disitu." Dira menunjukkan restoran yang masih menyatu dengan kebun stroberi itu.


"Yaudah ayo." Defan berjalan gontai memasuki restoran, diekori oleh istrinya.


Satu kopi Defan pesan, sedangkan Dira memesan jus stroberi. Tak lupa mereka juga memesan cemilan untuk menambal isi perut mereka yang agak terasa kosong.


"Nggak bosan apa? Tadi baru makan stroberi plus dibawa pulang juga. Eh sekarang malah pesan jus stroberi lagi haduhhh," sosor Defan kebingungan lihat sikap sang istri.


"Ya mumpung stroberinya segar kaliloh bang. Beda rasanya dengan stroberi yang ada di super market," terang Dira.

__ADS_1


Bantu votenya yuk sayang yuk!! Terimaksih🥰


__ADS_2