Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
pelukannya


__ADS_3

Pak Jay kebingungan melihat gelak tawa Dira. Meski satu tangannya fokus memegang kemudi stir, satu tangannya menggaruk-garuk tengkuknya yang terasa gatal karena kebingungan.


"Emang kenapa bu, pak Defannya?" tanyanya kebingungan.


"Kemarin bang Defan bilang nama bapak, pak Jay. Asal nyebut padahal tapi ternyata memang benar hahaha," kekeh Dira tertawa sendirian.


Pak Jay masih kebingungan dengan maksud Dira. Sementara Defan masih beristirahat, menenangkan matanya yang terasa berat.


"Sssttt jangan berisik. Tidur aja kau Dir," sindir Defan yang kesal melihat kehebohan istrinya.


*Hening


Pak Jay fokus dengan stir serta jalanan yang ada didepannya. Sedangkan Dira menatap layar ponselnya, menyalakan musik dengan keras yang tersambung dengan earphonenya yang sudah menempel ditelinga.


Hoaaammm


Dira menguap setelah tiga lagu terputar. Lantunan lagu itu membuatnya mengantuk. Ia menyandarkan tubuhnya pada jok mobil. Sedangkan kepalanya disandarkan pada kaca mobil yang ada disampingnya, memejamkan kedua matanya dengan rapat.


Tak berselang lama, Dira sudah bergelut dengan mimpi indahnya. Sementara Defan masih dengan kondisi mata tertutup tetapi tak bisa tidur nyenyak seperti istrinya.


Padahal matanya sudah terasa sangat berat, tapi ia merasa tidak nyaman untuk tidur.


"Pak hati-hati jalanannya," titah Defan memperingatkan. Supir itu hanya mengangguk patuh, menuruti keinginan Defan.


Ia menoleh kesebelahnya. Melihat Dira yang kepalanya berkali-kali terbentur kaca mobil yang menjadi tempat penyandarannya. Ia menjadi kasihan dengan gadis kecil itu. Bahkan, sudah menjadi kebiasaannya tertidur dengan musik yang menyala dengan keras.


Apa nggak rusak itu gendang telinganya?


Defan bergumam seraya menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan kebiasaan Dira, mendengarkan musik dengan suaranya sangat kencang.


Defan mengambil earphone yang ada ditelinga itu, mengantonginya ke dalam saku celananya. Kemudian ia mematikan putaran musik yang ada dilayar ponsel Dira.


Defan meraih kepala Dira, menariknya dengan lembut, menyandarkannya pada dada bidangnya. Tangannya satu memegang pundak Dira agar tubuhnya tak bergoyang-goyang mengikuti jalanan mobil.


Lalu, Defan bersandar pada joknya seraya menyipitkan kelopak matanya dengan erat. Mencoba untuk tidur. Anehnya, dalam waktu lima menit ia sudah tertidur, mendekap erat Dira dipelukannya.


Pak Jay hanya tersenyum melihat Defan dan Dira yang begitu mesra. Apalagi Defan sangat menjaga istrinya selama perjalanan.

__ADS_1


Tapi pak Jay mencoba tetap fokus untuk berjalan, meski kedua penumpangnya telah tidur nyenyak berpelukan.


Ketika ada polisi tidur ataupun jalan bolong, lajunya ia kurangi. Sehingga tidak menyebabkan guncangan besar didalam mobil, khawatir akan membangunkan dua sejoli itu.


Selama dua jam perjalanan Dira dan Defan tertidur sangat nyenyak. Tiba-tiba pak Jay menghentikan mobilnya tepat didepan halaman hotel.


Sebenarnya ia tak tega untuk membangunkan Defan dan Dira, berhubung mereka sudah sampai, sebaiknya pasutri itu beristirahat didalam kamar hotel agar lebih nyaman.


"Maaf pak, kita sudah sampai," ucap pak Jay menggoyangkan tangan Defan dengan pelan.


Bukannya Defan yang terbangun, malah Dira yang lebih dulu membelalakkan kedua matanya.


Ia melirik pak Jay yang sudah menunggu mereka terbangun dari tidur pulas. Badan Dira terasa kaku, tak bisa bergerak. Ternyata ada sebuah tangan yang memeluknya dengan erat.


Ia melonggarkan eratan tangan tersebut. Hingga akhirnya ia bisa bergerak bebas.


"Udah sampai kita ya pak?" ucap Dira dengan sedikit berteriak agar Defan terbangun.


Sontak saja, Defan benar-benar terbangun karena kaget mendengar suara istrinya yang berteriak disebelah telinganya.


"Kenapa nggak bangunin daritadi pak Jay?" tutur Defan seraya mengucek kedua matanya yang masih terasa berat.


"Nggak apa-apa pak! Santai saja. Terimakasih untuk hari ini," jelas Defan setelah keluar dari mobilnya.


"Baik pak, kalau begitu saya pamit dulu," sambung pak Jay mengakhiri obrolan mereka malam itu.


Dira dan Defan masuk kedalam hotel. Melintasi lobi, menunggu kedatangan lift di lantai satu.


Ting


Keduanya masuk lift setelah mendengar suara pintu yang terbuka. Mereka berdua saling diam, larut dalam pikirannya masing-masing. Tak ada yang memulai percakapan lebih dulu.


Sebenarnya Dira ingin bertanya tentang kejadian tadi. Kejadian saat Defan memeluknya dengan erat saat berada didalam mobil. Tapi Dira merasa tak enak hati jika ujung-ujungnya malah pertengkaran yang terjadi.


Keduanya masuk ke dalam kamar hotel. Dira langsung masuk ke kamar mandi, ingin membasuh tubuhnya karena terasa lengket, seharian beraktivitas kena teriknya matahari sehingga tubuhnya berbalut keringat.


Bau nyengat dari matahari pun masih terasa ditubuhnya. Sementara Defan masih membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Ingin sekali ia melanjutkan tidurnya karena matanya masih terasa sangat berat.

__ADS_1


Huftttt


Defan mengeluarkan nafas kasarnya, menatap langit-langit kamar mereka. Ia memikirkan apa alasan yang hendak ia sampaikan pada Dira jika bertanya soal pelukan erat tadi?


Seketika Defan menjadi gusar, menggosok-gosok kedua kakinya meski tidak gatal.


Bodon kali aku kenapa nggak bangun duluan. Malah Dira yang duluan bangun, pasti dia shock lihat aku peluk-peluk dia!


Defan bergumam seorang diri meratapi kebodohannya. Ia bahkan tak berani mengeluarkan kata apapun sedaritadi. Ia jadi menyesali perbuatan bodohnya.


Sementara Dira didalam kamar mandi sedang asik berendam didalam bathup. Ia sendiri masih bertanya-tanya mengapa dirinya ada didekapan sang suami saat tidur tadi?


Apakah ia mengigau atau bergerak sendiri menuju dekapan suaminya. Mungkinkan hal itu terjadi? Ia jadi takut jika dirinyalah yang benar-benar menerobos masuk ke pelukan suaminya.


Aduh! Gimana ini, bang Defan marah nggak ya? Apa dia tau tadi aku tidur dipelukannya? Ahhhhhh aku malu mau keluar.


Dira berteriak-teriak hanya dialam batinnya. Teriakan itu tak mungkin didengar oleh orang termasuk Defan.


Tok...Tok..


"Dir masih lama?" teriak Defan dari balik pintu. Sejak tadi ia sudah beranjak, ingin sekali rasanya merendam tubuhnya dengan air hangat agar lelahnya menghilang.


"Bentar bang!" sahut Dira dari dalam.


Ia bergegas menyudahi ritual mandinya. Membalutkan handuk ditubuh indahnya. Tak lupa ia mengakhiri bersih-bersihnya dengan menyikat deretan gigi yang rapih dan cantik itu.


Senyum ala peps*dent ia tunjukkan di cermin untuk mengetahui deretan gigi rapih itu sudah bersih dan mengkilap.


Setelah selesai, akhirnya ia memberaniman diri keluar. Tetapi jantungnya serasa berdegup kencang, memompa dengan kecepatan yang tak biasa. Ia malu untuk menemui suaminya yang sedang menunggu didepan daun pintu.


Ceklek


Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan Defan. Ia bergegas masuk ke kamar mandi tanpa basa-basi, melewati tubuh Dira yang serasa canggung.


Pintu kamar mandi itu ia tutup rapat, sedangkan Dira langsung menyingkir melihat pria itu terburu-buru masuk ke kamar mandi.


Apa dia sengaja menghindariku?

__ADS_1


Dira memikirkan hal yang tidak-tidak. Larut dalam pikirannya sendiri, bahkan ia sendiri masih merasa canggung menghadapi suaminya.


__ADS_2