Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
Malah Trauma?


__ADS_3

"Aku bisa jalan karena ku kuat-kuatkan aja. Sebenarnya jalanku kayak bebek. Cuma karena ada kalian, aku pura-pura kuat. Hihh pokoknya mengerikan. Kata orang enak habis malam pertama, nyatanya itu bohong!" ungkap Dira seraya menyilangkan tangan lalu mengelus lengannya sendiri karena bergidik ngeri.


"Ah, serius kau? Jadi nggak enak anu-anu? Tapi kok orang-orang ketagihan sih!" Shinta menimpali semakin penasaran.


"Ketagihan dari mana? Aku aja takut kalau kedua kali disentuh bang Def! Malam ini aku nggak mau lagi. Pokoknya kayak ada yang robek," ujar Dira mendramatisir agar ketiga wanita itu semakin ketakutan.


"Waduh, aku jadi takut mau nikah," ucap Carol polos.


"Coba dulu, Rol, biar tahu kau rasanya," kekeh Dira.


"Ah, kau Dir, malah nakut-nakuti kami pulak!" erang Jeny lalu menarik rambut Dira merasa frustasi dengan cerita wanita itu.


"Awww!" pekik Dira kesakitan.


Drrrt Drrrtt


Ponsel Dira berbunyi, tertanda kontak 'Suamiku' ada di layar.


"Ssstt, diam kelen semua!" kata Dira memperingati.


Ia menggeser layar itu, menerima panggilan sang suami.


"Halo, sayang, udah makan?" tanya Defan dari seberang teleponnya.


Dania dan Juni hanya mendengarkan Defan bertelepon dengan seseorang. Kalau Dania, sudah mengenal orang itu. Sedangkan Juni, ia tak tahu rupa istri Defan.


Dania dan Juni saling tatap ketika mendengar kata-kata sayang yang terlontar dari mulut Defan. Apalagi Dania, baru kali ini dia mendengar kata itu secara langsung. Selama ini, yang ia tahu Defan dan Dira belum akur.


Tapi sekarang malah memanggil sayang? Apa Dania dan Juni tidak salah dengar?


"Udah suami, abang makan apa?" tanya Dira dari ujung telepon.


Jenny, Shinta, dan Carol saling menoel lengan masing-masing. Rupanya sahabat mereka sudah bisa bermesraan.


"Abang, makan nasi goreng. Kau makan apa?"


"Aku pesan pizza, bang. Masih mau lanjut makan lagi. Abang pulang jam berapa?" cecar Dira bermata genit pada ketiga sahabatnya agar tidak meledek.


"Jam 5 sore pulang kok! Bilang sama teman-temannya, sebelum abang pulang mereka sudah pulang duluan ya!" Love you! Muach!" sosor Defan membuat kecupan membulat di bibir.


Juni dan Dania saling terkekeh melihat pria dingin itu bisa bersenda gurau. Bahkan terlihat bucin sekali terhadap istrinya.

__ADS_1


Juni dan Dania bahkan sempat lupa kalau mereka berdua tidak akur. Gelagat Defan membuat keduanya terkekeh tanpa henti.


"Iya, suami sayang, love you too," jawab Dira tanpa membalas kecupan itu, ia malu melakukan hal itu lantaran dipelototi oleh ketiga sahabatnya.


Dira mematikan sambungan telepon, sedangkan Defan menggerutu karena Dira tak membalas kecupannya.


"Ck!" decak Defan sebal, menggerutu seorang diri lantaran kecupannya diabaikan.


"Kenapa, Def?" tanya Dania beraut wajah datar, pura-pura tak mengetahui alasan Defan menggerutu.


"Nggak apa-apa!" Defan pun menggaruk-garuk tengkuk karena merasa malu sendiri.


"Jun, emang bosmu ini selalu kayak gitu nelepon istrinya?" cecar Dania meledeki sahabatnya.


Juni pun menggeleng, ia justru terkejut saat bosnya bisa bertindak sejauh itu. Selama ini, Defan tak pernah bernada mesra pada perempuan.


"Waduh, udah diapain si Dira kau, Def? Sampai semesra itu!" desis Dania memicingkan mata.


"Ah, kepo kalilah kau!" dengus Defan kesal. Ia yang tadi masih berdiri, langsung menghempaskan bokongnya di kursi kebesaran.


Defan bahkan merasa tengsin dan malu karena sudah bertingkah bak remaja. Seperti orang yang baru saja jatuh cinta. Defan larut dalam pikirannya sendiri.


Aduh! Bodoh kali aku pake muach! muach! segala! Lupa kali aku ada si Dania sama Juni di ruangan ini!


"Ayo, kerja lagi, Jun!" titah Defan tegas.


Juni pun langsung berjalan tergopoh-gopoh karena rasa kenyang belum menghilang. Sedangkan Dania, hanya terdiam menunggu Defan mengusirnya.


"Kau ngapain lagi di sini, Dan?" tegur Defan penasaran.


"Oh ... hehe! santai! Aku mau keluar kok!" Dania mengangkat kedua tangannya, menghadapkan telapak tangannya pada wajah Defan, lalu beranjak dari tempat duduk.


"Aku kerja dulu ya! Muachhh!" ledek Dania seraya terkekeh gemas dengan sahabatnya itu, lalu berlari kencang meninggalkan ruangan Defan.


Wajah Defan pun seketika memerah padam seperti kepiting rebus. Rasa malu bukan kepalang mendera di dadanya.


"Sial!" umpat Defan bergumam.


Sedangkan Juni, hanya menatap pria itu dengan rasa penasaran. "Pak bos bisa mesra juga ya! Lucu kali rasaku hihi," batin Juni menertawai Defan, namun ia menyembunyikan perasaan itu dan memasang wajah datar.


"Kok bengong, Jun? Udah kerja lagi!" keluh Defan, ia mengacak-acak rambutnya merasa frustasi.

__ADS_1


*******


"Ecieee ... udah sayang-sayangan. Katanya sakit, serem, takut tapi kok jadi mesra kali," sindir Carol menatap wajah Dira penuh selidik.


"Yah, kalau sudah melakukan penyatuan suami istri pasti kalian merasa istimewa. Kalau soal rasa yang ku ceritakan tadi memang benar kok! Nanti kelen juga merasakan, hih," berang Dira seolah-olah bergidik ngeri. Ia masih konsisten menakuti ketiga sahabatnya.


"Aku jadi takut nikah we!" celetuk Shinta ketakutan, terbawa suasana dengan cerita Dira.


"Hah, jadi kau nggak mau nikah?" cecar Jenny ikut terpengaruh dengan cerita itu.


"Iya, ihhh ... takut kali aku. Nggak mau aku anu-anu kayak gitu. Membayangkan cerita si Dira aja udah merinding errr," erang Shinta benar-benar ketakutan.


"Iya, jujur aku juga jadi takut. Apa memang betulnya itu, Dir?" sosor Jenny.


"Betulan loh we, ngapai aku bohong! Masak aku harus tunjukkan yang robek itu. Nanti kelen malah trauma," racau Dira semakin menakuti.


"Ish!" decak Shinta dan Jenny serentak. Bulu mereka pun meremang ketakutan mendengar penuturan Dira. Sama halnya dengan Carol, dalam diam pun ia merasa ketakutan juga.


"Eh, nanti kelen pulang sebelum jam 5 sore ya. Itu tadi pesan bang Def!" tegas Dira mengingatkan ketiga sahabatnya.


Mereka berempat pun fokus kembali menyantap makan siang yang belum tersentuh di atas meja. Tadi sempat tertunda lantaran cerita yang mengerikan dari Dira.


Sambil menikmati makan siang, Dira pun menyetel film melalui platform. Ke empat wanita itu sangat suka menonton film korea serta drama-drama dari negara itu.


"Mau film apa? Mau nonton miracle in cell no 7 nggak? Recommended kali loh, sampai di remake filmya di indonesia," tutur Dira meminta pendapat ketiga sahabatnya.


"Oh iyanya? Aku sering juga lihat iklan film itu tapi katanya sedih kali," papar Carol.


"Cobalah, Dir. Pasang aja! Aku jadi penasaran versi aslinya," tambah Shinta.


"Iya, iya! Itu aja coba stel!" kata Jenny menyakinkan.


Dira pun memulai film korea yang bertemakan kehidupan ayah dan anak. Seorang ayah yang memiliki keterbelakangan mental telah difitnah melakukan tindakan sesual pada teman sekelasnya ditingkat TK. Bahkan, sang ayah masuk penjara akibat fitnahan itu.


Keempat wanita itu menangis tersedu-sedu kala filmnya telah mengisahkan perjuangan sang anak bisa masuk ke jeruji besi tempat penahanan sang ayah. Apalagi, berkat bantuan teman-teman di selnya yang turut membantu perjuangan sang anak bisa bertemu sang ayah.


"Aduh, nyesal kali aku nonton film ini bah! Banjir mataku hiks hiks," ucap Jenny menangis tersedu-sedu, air matanya pun membanjiri pipi mulusnya, lalu ia menyeka tanpa henti. Tak ketinggalan juga dengan Carol dan Shinta.


Meski film itu telah lawas tetapi perasaan penonton seakan teraduk-aduk. Sama halnya dengan Dira, ia bahkan sudah menonton film itu untuk kesekian kalinya. Tapi tetap saja air mata berseluncur dari pelupuk mata.


"Hiks hiks hiks hiks." Tangisan ke empat wanita itu memenuhi seisi ruangan saat sang ayah divonis hukuman mati.

__ADS_1


"Aduh, sedih kali aku! Nggak tega aku lihat bapak itu. Apalah salahnya sih! Padahal dia hanya niat menolong anak perempuan yang jatuh itu, malah dituduh mau memerkosanya! Itu semua gara-gara berawal dari tas sailormon itulah! Sial!" cibir Jenny mengerang dalam amukannya.


__ADS_2