
Disclaimer!
Ada adegan ranjang 18+
Yang nggak suka, langsung skip aja ya!!
"Itulah! Sempat palak juga aku sama mertuaku. Hampir aku mau diceraikan, disuruh sama keluarga suamiku. Dah gitu disuruhnya pulak keluarga kita mengembalikan sinamot yang nggak seberapa itu!" geram Devi, mengingat masa tempo dulu saat ia mengalami hamil anggur berkali-kali.
"Iya, untung aja mamak sama bapak kita sabar. Meminta tunggu kehamilan ke empat, kalau gagal lagi jadilah kau cerai, ya!" tandas Melva, setelah ingatannya kembali tentang masa kelam adik perempuannya.
"Hu'um ... kau lihatlah, sekarang mertuaku senang kali! Bisa dapat empat cucu yang cantik dan ganteng!" imbuh Devi, berdecak kagum pada diri sendiri.
*****
Ikan bakar telah matang. Seluruh keluarga berkumpul di ruang tamu. Makanan prasmanan juga sudah disajikan. Semua menikmati hidangan malam itu.
Defan sengaja membawakan satu piring untuk istrinya. Ikan mas bakar dan kepiting tawar yang diolah menjadi kepiting saos padang oleh pihak vila.
Bahkan, tak tanggung-tanggung, Defan menyuapi istrinya di sudut ruangan. Berdua menikmati hidangan makan malam yang nikmat dan menghangatkan.
"Bang, enak, ya! Ikannya!" tutur Dira, memuji keahlian suaminya, memanggang ikan tersebut.
"Mama yang bumbuin, aku tinggal masak aja kok, Yang!" papar Defan.
"Pantas! Bumbunya kerasa enak, nggak mungkin juga sih abang yang bumbui," ledek Dira, tertawa kecil.
"Ih ... dasar anak kecil." Defan mencubit hidung istrinya dengan gemas.
***
Opung Matua masih penasaran, tersisa satu hari lagi untuk liburan esok. Opung Matua memanggil Defan agar mendekat.
"Def, sini dulu!" ujar Opung Matua, menganggukkan tangan.
"Bentar, ya, Yang! Abang dipanggil opung!" Defan bergegas pergi, meninggalkan istrinya yang masih menyantap sisa ikan bakar.
"Kenapa, Pung?" tanya Defan, setelah duduk di sebelah Opung Matua.
"Besok ke mana lagi kita?" tanya Opung Matua.
"Besok kita sekaligus pulang, pung. Kita akan singgah ke bukit si bea-bea, yang ada patung Yesus tertinggi itu loh, Pung!" beber Defan.
__ADS_1
"Oh ... cuma ke situ aja?" balas Opung Matua, masih ingin berkelana berkeliling pulau samosir.
"Sama ke air terjun Efrata, Pung!" sahut Defan.
"Oh ... baguslah itu! Jadi pulang sore kita dari sini?" tambah Opung Matua, dijawab dengan anggukan Defan.
"Okelah ... yaudah sana kau istirahat. Opung juga mau segera ke kamar!" timpal Opung Matua.
Defan bergegas menghampiri istrinya yang tak kunjung beranjak dari tempatnya. Dira masih memakan ikan bakar yang tersisa. Beberapa orang sudah berpergian dari ruang tamu.
Namun, para bapak-bapak masih saja menongkrong di depan vila, menikmati kopi malam sekaligus berbincang.
Jarang-jarang ada kegiatan berkumpul seperti ini, jadi dimanfaatkan oleh semua orang untuk menikmati liburan sekaligus bercanda gurau.
"Yang, ayo kita ke kamar aja deh!" ajak Defan, merasa lelah jika harus ikut berkumpul dengan bapak dan mertuanya di depan Vila.
"Abang nggak nemenin bapak sama amang?" ucap Dira, melirik ke arah depan vila.
"Engga akh! Capek abang! Mau tidur sama istri aja! Mau peluk-pelukan biar bisa saling menghangatkan!" bisik Defan, bernada sedikit nakal.
"Ih ... apaan sih!" timpal Dira, sembari menepuk pundak suaminya.
"Ayo!" ajak Defan, menarik lengan istrinya agar segera beranjak.
"Nggak usah! Mereka sudah pasti mengerti!" lanjut Defan, tak memperbolehkan istrinya untuk berpamitan.
"Yaampun!" desah Dira, akhirnya pasrah beranjak mengekori suaminya yang berjalan sambil menarik lengannya.
****
10 menit yang lalu ...
Opung Matua dan Opung Tiur sudah merasa lelah dan masuk ke dalam kamar lebih dulu. Disusul dengan kepergian cucu-cucu Opung Matua yang lainnya.
Lalu, Dira dan Defan juga ikut masuk ke dalam kamar. Tinggal para orang tua yang tersisa, masih bercanda gurau dengan kesempatan yang ada.
"Kabarnya udah rumah baru kau, ya, Ito!" celetuk Namboru Dira—Tina.
"Ehe ... udah lama pun. Kecilnya rumah kami," balas Sahat.
"Ah ... luas kayak gitu dibilang kecil. Jadi kayak mana lagi yang betul-betul kecil?" timpal Melva, terkekeh.
__ADS_1
"Bah ... kok nggak kau bikin acara selamat-selamatnya, Bang!" ujar Adik Sahat—Sohit Tampubolon.
"Pala rumah kecil gitu dibikin selamat-selamat! Kalian lah datang ke rumah, kapan mau datang?" sambung Sahat, mengusulkan keluarganya untuk berkunjung.
"Tuan rumahlah yang mengundang, masa kami tiba-tiba datang!" kilah Sohit.
"Kalau kami memang nggak ada acara apa-apa, maklum hidup lagi susah!" keluh Sahat.
"Ealaah, susah terus dari jaman si Dira belum kawin sampai udah kawin," protes Devi.
Sementara yang berani protes hanya adik dan kakak kandungnya Sahat. Ipar-iparnya hanya memilih diam saja, memperhatikan obrolan tentang rumah yang mereka tempati.
****
Di dalam sebuah kamar, tampak sepasang suami istri tengah memadu kasih. Keduanya tak mau lepas dari pagutan bibir yang sudah berlangsung sejak lima menit yang lalu.
Rasa rindu akan sentuhan-sentuhan itu seketika menghilang saat keduanya saling meluapkan rasa kasih sayang yang tak bisa disampaikan dalam hubungan suami istri selama 40 hari kemarin.
"Yang, goyangnya yang kencang," pinta Defan, setelah melepaskan pagutan, Dira mendominasi penyatuan malam itu, berada di atas tubuh suaminya.
"Hu'um!" ucap Dira, sembari mengigit bibir bawahnya, menikmati penyatuan malam yang cukup erotis.
Keduanya tak lagi berbalut kain, di tengah riuh keributan di depan vila dan ruang tamu, Dira dan Defan tak memperdulikan orang-orang yang ada di luar kamar. Keduanya melakukan penyatuan untuk memuaskan hasrat masing-masing.
"Ah ... ah ..." rintih Defan, menikmati alunan permainan malam itu.
"Enak?" tanya Dira, setelah melihat wajah suaminya dari atas, tetap tampak ganteng dan keren meski merasakan kenikmatan malam itu.
"Iya," jawab Defan lugas, tanpa pikir panjang sembari merintih menikmati permainan istrinya.
Suasana yang dingin membuat keduanya semakin lengket dan saling menghangatkan. Penyatuan dengan durasi lama juga membuat keduanya saling menikmati.
Dira juga mencumbu suaminya, lalu melumaat mulut suaminya dengan lembut. Menjelejahi rongga mulut itu, bertukar shaliva, hingga terdengar decakan dari pagutan yang tak kunjung lepas.
"Bang, pelan-pelan! Nanti terdengar keluar loh!" bisik Dira, setelah melepaskan pagutan keduanya, Defan pun hanya mengangguk.
Penyatuan berakhir setelah Defan dan Dira sama-sama merasakan puncak kenikmatan. Dira menghempaskan tubuhnya ke samping suaminya, meski deru nafas memburu masih terdengar. Degupan jantung keduanya masih berpacu cepat meski permainan telah berakhir.
"Makasih, Sayang!" ucap Defan, mendaratkan satu kecupan di kening sang istri.
Dira hanya mengangguk sekaligus merasakan kelelahan. Kening dan tubuhnya dipenuhi air keringat. Sementara Defan, tidur menyamping sembari menatap istrinya dengan mata berbinar.
__ADS_1
Istri yang selama dua tahun terakhir ia jaga, kini sudah hanyut dalam dekapannya. Bahkan, Dira sangat lihai melakukan peran sebagai seorang istri.