Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
kalap


__ADS_3

"Jangan bilang bang defan gitu, dia suami yang baik dan perhatian. Bukan over protektif!" hardik Dira, menurunkan tangannya dari bibir tipis Carol.


"Iya, deh!" imbuh Carol, mengalah demi kebaikan agar tidak ribut.


Dira masuk ke dalam kamar ganti, mencoba beberapa kemeja dan rok. Sepasang baju akan dibelinya setelah merasa cocok di tubuhnya.


Kemudian, Dira mengatakan pada tiga temannya untuk ikut berbelanja. Bahkan, ia juga akan membayar seluruh belanjaan ketiga temannya.


"Ambil aja baju yang kelen suka!" ujar Dira.


"Serius?" sambar Shinta, merasa tak percaya ada kesempatan seperti ini, Dira pun mengangguk meyakinkan.


"Asik!" tambah Jenny.


"Berapa baju?" seloroh Carol, sebab ia suka kalap kalau belanja.


"Sepasang ajalah! Bangkrut nanti aku," kekeh Dira.


"Oke!" jawab ketiganya kompak.


Ketiga sahabat Dira langsung berburu mengelilingi butik. Carol mencari baju kasual untuk dipakainya saat ke kampus.


Sedangkan Shinta dan Jenny memilih dress untuk dipakai saat bermain maupun ibadah. Tak berselang lama, ketiganya berkumpul membawa baju yang sudah dicoba. Dira melakukan pembayaran.


****


Di kantor, satu notifikasi masuk ke layar ponsel Defan.


Ting ...


Pesan yang masuk tertanda dari bank tempat menyimpan uang sebagai nasabah prioritas. Tertulis pengeluaran hari ini, masuk ke dalam pesan di ponselnya.


Sejak lama, Defan memang menyalakan notifikasi untuk pengeluaran penggunaan ATM tersebut, mewanti-wanti jika sewaktu-waktu ATM hilang dan disalah gunakan. Namun, notifikasi yang akan masuk untuk transaksi 1juta keatas.


Bank BCU


Transaksi Rp5.000.000 dari butik Beauty.


Defan terkejut melihat pengeluaran istrinya dalam beberapa jam. Ia memastikan kembali angka tersebut.


"Dipakai untuk apa uang sebanyak itu!" gumam Defan, menatap intens layar ponselnya.


Namun, ia tidak segera menghubungi sang istri. Dia akan menunggu penjelasan Dira mengenai pengeluarannya hari ini. Lagi pula, ATM itu sudah diberikan untuknya. Sehingga, Defan tidak ada hak lagi untuk mencampuri pengeluaran isi ATM tersebut.


*****


"Keliling lagi, yuk!" ajak Dira, belum juga puas berbelanja.

__ADS_1


"Dir, nanti kau nggak dimarahi suamimu? Belanjaan kita sebanyak itu pengeluarannya," keluh Carol, sebab ia merasa tak enak berbelanja menggunakan uang temannya.


"Nggak apa-apalah! Sekali-kali," sahut Dira.


"Emang kau udah minta izin bang defan?" tampik Shinta, sebenarnya ia tak peduli, justru senang saja ditraktir oleh sahabatnya yang menjadi orang kaya baru (okb).


"Ehm ... nanti kubilang deh!" ucap Dira, lalu berjalan menyusuri mall.


"Iya, harus kau bilang loh, Dir! Nanti kami dibilang parasit pula, memanfaatkan kekayaan suamimu!" tambah Jenny, mengingatkan.


"Iya, selow sih!" jawab Dira dengan malas.


Kemudian, ia masuk ke dalam store sepatu. Diekori oleh ketiga sahabatnya yang juga ikut masuk. Melihat-lihat seisi pajangan sepatu.


"Eh, kau kesambet apa sih kok tiba-tiba belanja!" celetuk Carol, tak biasa melihat tingkah sahabatnya suka menghambur-hamburkan uang.


"Lagi pengen aja! Udah lama aku nggak belanja," jawab Dira, mengedarkan pandangan, mencari sepatu flat untuk dipakai ke kampus.


"Eh, lihat ini we! Bagus nggak kira-kira?" Dira mencoba satu sepatu, lalu berjalan seraya menatap cermin di bawah, yang memantulkan keindahan kakinya.


"Bagus!" jawab Shinta dan Jenny kompak.


"Bagus kok tapi coba yang ini deh!" usul Carol, memberikan satu sepatu flat berwarna hitam doff yang polos tetapi sangat cantik.


Dira langsung merebutnya, lalu mencoba sepatu tersebut. Benar saja pendapat Carol, sepatu itu pas di kakinya.


"Kak, tolong bungkus ini yang baru, size 38," ucap Dira pada seorang pelayan.


"Eh, kelen kalau mau sepatu juga, ambil aja masing-masing 1 ya!" papar Dira, tanpa meminta izin pada suaminya.


"Siap, bos!" sambar Shinta dengan semangat menggebu.


"Asik!" sergah Jenny, bergegas berkeliling mencari sepatu incarannya.


"Kau yang bayar lagi, Dir?" protes Carol, tak ingin kena omelan oleh suami Dira nantinya.


"Iya, udah tenang aja!" terang Dira.


Store sepatu itu sangat terkenal, produknya juga terbilang mahal dengan kualitas yang sangat bagus. Tak heran, banyak wanita yang mengincar produk keluaran terbaru dari store tersebut.


Carol pun mengikuti jejak kedua teman lainnya. Ia berlau pergi, mencari sneakers untuk dipakai ke kampus. Sementara Shinta mencari hells dengan tinggi lima centimeter untuk dikenakan jika gebetannya mengajak jalan bersama.


Sedangkan Jenny, ia mencari sepatu wedges, untuk dikenakan dalam kegiatan formal di kampus maupun tempat-tempat lainnya.


Ketiganya kembali lagi menghampiri Dira yang menunggu di kasir. Menunggu pelayan membawakan sepatu sesuai pesanan masing-masing.


Dira melakukan pembayaran dengan santai. Ia memberikan kartu ATM pada kasir. Tak berselang lama, mereka pun melanjutkan lagi acara berkeliling mall.

__ADS_1


****


ting ...


Defan langsung mengecek ponsel, di mana ada satu pesan yang muncul pada pop layar ponselnya.


Bank BCU


Transaksi sebesar Rp2.000.000 di store footie.


Kali ini, Defan terbelalak lagi melihat pengeluaran dari istrinya. Dalam sehari, Dira sudah mengeluarkan 7 juta, yang dia sendiri tidak mengetahui kegunaan uang tersebut.


Belum lagi, printilan-printilan jajan Dira yang tidak terdeteksi masuk ke notifikasi ponselnya. Sebab, hanya nominal sejuta keatas yang akan mendapatkan pesan dari bank tersebut.


"Yaampun, anak ini belanja apa sih sampai pengeluarannya sebanyak itu!" batin Defan, sembari menyugar rambutnya karena baru kali ini melihat sang istri kalap berbelanja.


*****


"Dir, makan dululah! Nggak kerasa udah sore aja, suamimu jadi datang?" ucap Jenny, mengingatkan Dira yang dari tadi sibuk berbelanja untuk diri sendiri.


Keempat orang tersebut menenteng barang belanjaan masing-masing. Lalu, menuju sebuah restoran untuk makan sore, sekaligus menunggu suami Dira datang.


"Bentar aku telepon." Dira meletakkan semua belanjaan di meja, lalu menelepon suaminya.


****


Defan baru saja memasuki mobil, ia ingin segera tiba di mall tempat istrinya menghabiskan waktu.


Drtt ... drtt...


Ponsel Defan bergetar, ia langsung mengambil dari dalam saku. "Halo, Yang," sapa Defan, sembari menyalakan mesin mobil.


"Abang, jadi ke sini kan? Aku tunggu di restoran Nany, ya! Di dalam mall kok!" ucap Dira.


"Iya, Sayang!" Defan mematikan teleponnya secara sepihak karena ingin segera sampai di mall.


Ia melajukan mobil dengan kecepatan sedang, selama 20 menit, akhirnya tiba di perpakiran mall.


****


"Pesan aja, nggak usah kelen pikirkan harganya!" celetuk Dira, membuat sahabatnya semakin bersemangat.


Namun, tidak bagi Carol. Ia justru protes karena sehari ini Dira sudah mengeluarkan banyak uang untuk mereka berbelanja.


"Dir, kalau suamimu marah gimana?" beber Carol, menatap lekat wajah Dira yang polos tanpa rasa bersalah.


"Nggak apa-apa, nanti aku jelaskan sama dia," jawab Dira, sembari menatap ponselnya yang tidak ada notifikasi.

__ADS_1


Dira dan ketiga sahabatnya melakukan pemesanan makanan. Tak lupa, Dira juga memesankan steak untuk suaminya sehingga tidak perlu menunggu waktu lama.


"Dir, nanti jangan lupa bilang sama bang defan, nggak enak loh aku!" terang Carol.


__ADS_2