Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
ada yang salah?


__ADS_3

"Udah makan, sayang?" balas Defan, melalui sambungan telepon itu.


Defan sudah mulai sering menghubungi istrinya. Bahkan, ia tak mau, Dira merasakan kesepian, kala ia tengah bekerja. Sesekali meluangkan waktu untuk menelepon tidak ada salahnya.


"Belum, bang. Baru saja mau makan, nyari makanan yang bisa di makan sih tepatnya hehe," canda Dira tertawa pelan.


"Oh gitu, jangan makan mie instant lagi loh. Tadi malam kan sudah makan itu. Kalau nggak ke minimarket di bawah, atau kafe di samping gedung. Cobain aja makanannya," tutur Defan mengarahkan.


"Iya, abang suami," kata Dira menuruti perkataan pria itu.


"Kok abang suami sih? Udah abang, pakai suami lagi," protes Defan yang merasa aneh dengan panggilan sayang dari istri kecilnya itu.


"Ya, suka-suka akulah! Memangnya kenapa? Aku sukanya manggil, abang suami. Lucu tahu!" timpal Dira tak mau mengalah.


"Yaudah, terserah, sayang aja! Jangan lupa makan, kalau malas keluar, pesan online saja," titah Defan.


"Oke, abang suami." Dira mematikan sambungan teleponnya.


"Love You—" Defan baru saja melontarkan kata-kata itu, tiba-tiba terdengar nada tut, pertanda sambungan telepon itu telah terputus.


"Hmmm! Dasar anak kecil, nggak bisa mesra dikit." Defan menggelengkan kepala.


Defan sendiri pun berani mengucap kata-kata itu lantaran asistennya tak berada di dalam ruangan yang sama. Juni, 15 menit yang lalu telah pergi ke kantin sesuai arahan Defan.


Ia diminta membelikan makan siang. Makanan apa saja, sesuai menu yang terlaris pada siang itu.


****


Di kantin kantor, Juni bertemu dengan Januar. Kebetulan mereka berpapasan secara tak sengaja saat hendak ke satu kantin favorit untuk memesankan makanan.


"Jun, tunggu di situ aja, yuk?" ajak Januar.


"Bentar, aku pesankan makanan untuk bosku dulu. Kau kan udah mesan duluan," sergah Juni menatap sinis ke arah Januar.


"Iya." Januar pun duduk di kursi yang ia tunjuk. Menunggu kedatangan Juni. Saat melihat punggung wanita itu, hati Januar bergetar hebat.

__ADS_1


Sejak lama, Januar sudah mengagumi Juni yang pekerja keras. Bahkan, rumor tentang kedekatan Juni dan bosnya pun diabaikan oleh Januar.


Januar yakin, kalau Juni adalah perempuan baik-baik. Tidak mungkin ada niatan untuk mengganggu suami orang. Sebab, kabar Defan sudah menikah sangat jelas diketahui seluruh karyawan kantor, terkecuali bagi Juni.


Ia justru orang terakhir yang menggetahui status bosnya. Sebab, Juni tak suka berbaur dengan karyawan lain. Selalu berkerja bersama Defan.


Sementara itu, Defan juga tak pernah menyinggung tentang pernikahannya sendiri. Bahkan menyampaikan kepada asistennya. Hingga waktunya tiba, Juni baru mengetahui akhir-akhir ini, saat Dira sangat sering menelepon suaminya.


"Bu, saya pesan iga bakar sama nasi rames ajalah," ujar Juni pada ibu kantin, setelah melihat menu khusus hari ini di papan kantin.


"Baik, mbak. Tunggu sebentar, ya?" kata Ibu Kantin.


Juni langsung duduk di sebelah Januar dengan rasa malas. Namun, ia tak bisa lagi menghindari pria itu. Sebab, Januar juga tengah menunggu pesanan tiba.


"Jun, jadi kau habis magang di sini, mau kerja di mana?" celetuk Januar, ia sebenarnya sangat penasaran dengan lanjutan pekerjaan Juni.


"Kalau bisa, aku mau kerja di sini lagi. Tapi bukan sebagai asisten, jadi sebagai pengacara kayak bosku," ucap Juni.


"Oh, gitu ya? Emang perusahaan ini lagi menerima pengacara baru gitu?" sahut Januar.


"Aku juga mau nyobalah. Katanya kalau pengacara yang gabung ke perusahaan ini, sudah pasti jadi pengacara sukses," imbuh Januar.


"Ah, tahu dari mana kau?" Juni menatap penuh selidik ke arah Januar.


"Loh, nggak kau lihat rupanya pengacara di sini? Semuanya ngak ada yang gagal loh, itu sudah jadi topik terhangat di perusahaan ini," tandas Januar.


"Baguslah kalau gitu, semakin yakin aku minta rekomendasi dari pak Defan untuk bergabung ke perusahaan ini."


"Pesanan, kak Januar," panggil Ibu Kantin.


"Eh, pesananmu itu udah jadi," seloroh Juni, menunjuk ke arah ibu kantin yang sedang menunggu.


"Bentar, ya!" Januar mengambil pesanan, lalu melakukan pembayaran.


Tak lama kemudian, pesanan Juni pun juga datang. "Mbak Jun, ini pesanannya." Ibu Kantin mengangkat kantong milik Juni.

__ADS_1


"Jun, aku pamit duluan, ya," kata Januar saat berpapasan dengan Juni yang berjalan ke arah pengambilan pesanan.


"Iya, iya." Juni tersenyum ramah pada pria itu.


******


Akhirnya, Dira memilih memesan online untuk makan siang. Padahal, ia sempat merasa kesepian tetapi tetap merasa malas untuk keluar rumah.


Saat 20 menit yang lalu, Dira memesankan ayam geprek yang tengah viral. Menu itu sudah dicintai kebanyakan orang. Selain rasa pedas yang khas, ayam kriuk itupun sudah menjadi favorit semua orang.


Tok ... Tok ...


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Dira saat menunggu di meja makan. Ia berjalan gontai, mendekati ke arah daun pintu.


Pria paruh baya membawa kantongan plastik berisi pesanan. "Terima kasih, pak. Tipsnya melalui aplikasi," ujar Dira meraih kantong plastik yang disodorkan.


"Sama-sama, kak." Pria itu kemudian pergi setelah mengantarkan pesanan.


Dira langsung membuka dua potong ayam greprek yang ia pesan tanpa nasi. Sebab, untuk nasi, sudah ia masak sejak berpulang dari sarapan pagi tadi.


Mata Dira berbinar saat menatap makanan terenak yang pernah ada. Ayam krispi yang digeprek tidak terlau hancur, lalu dibalut sambal bawang yang khas. Bau bawang putih dari sambal itupun sudah membuat perut Dira semakin meronta.


Tak hanya itu, ayam geprek dilengkapi pula dengan lalapan, selada air serta beberapa potongan timun. Dira langsung mengambil nasi putih hangat dari penanak nasi. Satu porsi besar berada di atas piring karena ia begitu lapar.


"Duh, kenapa, ya? Akhir-akhir ini makanku banyak kali," lirih Dira seraya berjalan gontai ke meja makan.


Ia memindahkan dua potong ayam geprek ke atas piring yang telah terisi nasi dengan porsi besar. Sebelumnya, ia juga sudah mencuci tangan di wastafel agar bisa melahap makanan itu langsung dengan tangan kanan.


Tak perlu menunggu lama, Dira langsung menyantap ayam geprek dengan nasi hangat. Dia begitu lahap, menghabiskan seluruh makanan tanpa meninggalkan jejak di piring.


Semuanya bersih, dalam 10 menit, Dira yang masih kepedasan menghabiskan nasi serta dua potong ayam geprek tersebut. Bahkan, lalapan juga ikut berpindah ke dalam perut.


Piring terlihat sangat licin, sambalnya pun ikut habis. "Benar-benar licin." Dira memincingkan mata, menatap aneh ke arah piring.


"Kayaknya ada yang salah nih, kok bisa kuhabiskan makanan sebanyak itu ya? Dalam waktu singkat pula." Dira berjalan gontai, langsung mencuci piring bekas makannya agar tidak ada yang kotor.

__ADS_1


__ADS_2