Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
Suka samaku?


__ADS_3

Pesawat yang ditumpangi Defan dan Dira baru saja landing di Bandara Kualanamu. Selama perjalanan, keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Seluruh keluarga telah menunggu kedatangan pasutri baru itu. Bahkan keluarga Dira sampai datang berkunjung ke rumah Defan hanya untuk sekedar menyapa kedatangan mereka.


"Inang... Amang," teriak Dira dari depan pintu rumah, mencari sosok kedua mertuanya setelah kepulangannya dari Bali.


Sedangkan Defan berjalan santai dengan raut wajah yang dingin tetapi sangat gagah. Ia melangkah lebar menyusuri rumah. Sayangnya, tak ada satu orang pun yang terlihat di rumah itu.


"Ma... Pa?" teriak Defan seraya memutar kedua bola matanya, menelisik setiap isi ruangan.


Melintasi ruang tamu, menuju ruang keluarga, hingga akhirnya saat di dapur mereka dikejutkan hal yang tak terduga.


Daaaarrrr


Selamat Datang Pengantin Baru


Teriak orang-orang dengan kompak membuat Defan dan Dira tersentak kaget seraya mengelus dadanya dengan pelan.


"Astaga! Kaget kali aku," pekik Dira melihat kemunculan dua keluarga dari balik meja makan.


Kedua orang tua mereka mendekat dengan senyum lebar. Defan dan Dira menarik kursi makan, duduk disana dengan tenang, meletakkan bawaan mereka diatas meja, kecuali koper yang berisi baju kotor.


Oleh-oleh telah disiapkan, Dira dan Defan menatap semua orang yang ada saat itu. Semuanya lengkap, orang tua Dira serta adik-adiknya bahkan orangtua Defan dengan adik-adiknya.


Defan tak menyangka mengapa adik-adiknya mau diajak untuk menyambut kedatangan mereka.


"Kok tumben ikut si Niar sama si Anggi ini," celetuk Defan, menatap serius kedua adiknya. Ia tahu kalau kedua adik perempuannya itu tak suka berkumpul-kumpul seperti sekarang.


Sementara Niar dan Anggi memasang muka malas, mereka terpaksa mengikuti keinginan kedua orang tuanya karena besan mereka bertamu ke rumah itu.


"Ya mau gimana lagi? Ada tulang sama nantulang disini," ketus Niar berlalu begitu saja meninggalkan kerumunan di meja makan.


"Kak, tunggu!" teriak Anggi seraya mengikuti jejak sang kakak ke arah kamarnya.


Niar dan Anggi memilih masuk ke dalam kamar, seperti biasa rutinitas mereka hanyalah bermain ponsel, mendengarkan musik serta belajar.


Melva dan Desman hanya melemparkan senyuman pada keluarga Dira karena rasa sungkan, sehingga mereka melihat tingkah kedua anaknya yang pergi tanpa pamit.

__ADS_1


Sementara kebingsingan di meja dapur tak henti-henti. Setelah kegiatan penyambutan berakhir, Desman dan Sahat memilih untuk bersantai di teras rumah sembari menyesap kopi dan rokoknya.


Sedangkan Melva, Rosma dan kelima adik Dira, masih duduk santai di meja makan.


"Ini untuk inang, ini untuk mamak, sama ini untuk adek-adek." Dira menyodorkan bungkusan yang telah dia siapkan sehari sebelum kepulangan dari Bali.


Hore.. Horee...


Adik-adik Dira berteriak kegirangan mendapatkan oleh-oleh dari sang kakak. Dira yang rasanya sudah lama tak melihat kegembiraan itu tersenyum lebar.


Melva dan Rosma serentak membuka isi kantong plastik miliknya. Melva mendapatkan kaos yang mirip dengan yang dipegang oleh Rosma.


Melva tersenyum ringan, ternyata menantunya tak mengecualikan apapun oleh-oleh darinya walau hanya sekedar kaos murah.


Sementara Defan merasa jadi tak enak hati melihat mamanya mendapatkan oleh-oleh hanya kaos murahan dari Bali. Ia mengerutkan keningnya, kebingungan melihat ekspresi mamanya saat ini.


Apa mama terima oleh-oleh murahan itu? Tapi kenapa dia tersenyum seperti bahagia? Harusnya aku mampir ke Jogg*r atau hardr*ck untuk beli oleh-oleh keluargaku. Hmmmm


Pandangan Defan terus tertuju pada mamanya saat ini, kemudian beralih ke pemandangan yang tak disangkanya. Ekspresi Rosma tak kalah mengherankan. Rosma justru merasa paling bahagia mendapatkan oleh-oleh tersebut.


Kok inang itu malah senang kali? Lebih senang dari mamaku! Apa dia belum pernah dapat oleh-oleh dari Bali?


"Inang suka nggak oleh-olehnya?" celetuk Defan penasaran.


"Iya hela! Nggak pernah aku dapat oleh-oleh Bali. Sekalinya dapat oleh-oleh, boruku yang bawa," jawab Rosma menggulum senyum lebarnya.


"Nanti kapan-kapan inang ikutlah ke Bali," sambung Defan dengan ramah-tamahnya.


Dira menoleh menatap wajah Defan yang sedang tersenyum manis pada mamaknya. Ia tak menyangka Defan sudah berniat mengajak orang tuanya untuk berjalan-jalan ke Bali.


"Wah, mau kelen ajak kami ke Bali? Pasti maulah aku ikut. Kapan rupanya?" balas Rosma dengan semangat bertubi-tubi.


"Hehehe nantilah Inang, sekarang kami kan baru pulang. Nanti kapan-kapan kami kabari, kalau Dira sedang libur," ujarnya.


"Iyalah hela. Kabari aja nanti ya," jelas Rosma saat mencoba pakai baju yang dibawa boru panggorannya.


"Bagus juga ya edak," ucap Rosma pada Melva yang sedang duduk memperhatikannya. Dan mendapat jawaban anggukan pelan dengan senyum tipis Melva.

__ADS_1


"Mak, kok mamak nggak bilang-bilang mau kesini? Aku kan bisa ke rumah," cetus Dira merasa tidak enak dengan mertuanya, karena rumah itu diramaikan oleh keluarga Dira.


"Nggak apa-apalah Dir, biar sekali-kali ramai rumah ini. Lagian kami kasih kejutan, kalau bilang-bilang, ya nggak kejutan lagi namanya," seru Melva tersenyum tipis.


"Iyah, takutnya malah ngerepotin Inang loh," sesal Dira seraya tertunduk.


"Nggak apa-apa sayang! Banyak pembantu di rumah ini yang bisa disuruh, nggak ada repot-repotnya kok," kilah Melva.


Defan beranjak dari kursinya, tubuhnya merasa lelah efek perjalanan dari Bali.


"Ma, Nang, aku pamit dulu mau ke kamar ya. Istirahat bentar." Defan berjalan gontai menuju kamarnya di lantai dua.


Ia menghempaskan tubuhnya diatas ranjang, sudah hampir seminggu ia meninggalkan kamar ini. Tetapi kamar itu tetap bersih dan tertata rapih sesuai keinginannya.


Ia memejamkan matanya sebentar, tiba-tiba tertidur pulas karena rasa jet lag yang mendera. Istirahat sebentar dimanfaatkannya sebelum melihat kepulangan mertua serta ipar-iparnya nanti.


Disisi lain, Dira bersama mertua dan mamaknya sedang sibuk didapur. Mereka memasak, menyajikan untuk makan malam.


Kepulangan Dira dan Defan sudah menjelang sore hari. Oleh karena itu, Melva meminta agar besannya tetap tinggal di rumah sampai menyelesaikan makan malamnya.


"Gimana Dir, udah akrab kau sama si Defan kami?" tanya Melva dengan tatapan penuh selidik.


Mendengar pertanyaan itu, Dira terdiam. Entah apa yang harus dia katakan pada mertuanya. Jika dibilang akrab, tentu tidak. Dibilang tidak, tapi sudah mulai akrab.


"Nggak tahulah Inang, Dira pengen akrab tapi bang Defan dingin kali pun," seloroh Dira tanpa basa-basi.


"Dingin kenapa?" sahut Rosma penasaran.


"Ya namanya juga dijodohkan, belum saling kenal gitu loh mak. Ya sama-sama cuek," jawab Dira datar.


"Oh biasanya itu boru, kalau terus-terus ketemu nanti bisa jatuh cinta. Ya nggak dak," kekeh Rosma.


"Iya Dir, betul apa yang dibilang mamakmu itu. Ibaratnya kalian masih pendekatan. Jadi sabar-sabar aja sampai Defan luluh. Lagipula kalian pun nikah baru satu minggu," tutur Melva tersenyum.


"Jadi gimana caranya Inang, supaya bang Defan bisa suka samaku?" sosor Dira memicingkan matanya.


Rosma dan Melva saling melirik mendengar lontaran pertanyaan Dira. Mereka saling menoel lengan satu sama lain sembari tertawa keras.

__ADS_1


Hahahahahahah


Ruangan dipenuhi gelak tawa yang membuat Dira kebingungan dan salah tingkah.


__ADS_2