Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
Transfer antar bank


__ADS_3

Sontak, Defan dan Juni menatap dengan sinis. Sebab, pagi-pagi begini sudah menerima tamu yang tidak diharapkan kedatangannya.


"Ada apa, Dania pagi-pagi sudah ribut dan datang ke sini?" tanya Defan, menatap penuh selidik.


"Mulai hari ini, aku akan bekerja di lantai yang sama dengan kalian. Mengurus pekerjaan pak bos," ujar Dania dengan bangga.


"Terus?" kata Defan, memicingkan mata.


"Otomatis aku jadi bisa bertemu kalian berdua setiap hari dong! Jangan lupa selalu sapa aku setiap pagi dan makan siang kita bisa bertiga!" celetuk Dania, terkekeh seorang diri.


"Astaga!" gumam Juni, menatap Dania dengan sengit, cobaan apalagi yang akan dihadangnya dengan kehadiran perempuan yang bersifat seperti ular suka berubah-ubah seiring waktu berjalan dan bersikap manis di depan bosnya.


"Kau kerja jadi apa? Kok jadi ngurus pak bos?" sambung Defan, mengedarkan pandangan seraya mengerutkan keningnya.


"Aku double job nih, kerja jadi sekretaris pak bos sekaligus mengurus keuangan kantor karena sekretaris yang lama mengundurkan diri tadi pagi," imbuh Dania, masih berdiri di ambang batas pintu karena tak ada yang mempersilahkannya masuk.


Defan hanya menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Sepertinya, Defan akan merasa pusing dengan kehadiran Dania. Contohnya pagi ini, Dania terlalu heboh dan sudah membuat ramai ruangannya sehingga menyebabkan kebisingan yang luar biasa.


"Ya, udah sana kerja kau! Jangan malah merumpi di sini, kayak nggak ada ada kerjaanmu," usir Defan, menghempaskan tangannya, menyuruh Dania lekas pergi dari ruangannya agar merasakan ketenangan.


"Astaga, santai dong. Jam kerja kan masih panjang. Lagian pak bos belum menyuruh pekerjaan adanya yang harus di handle," tampik Dania, menatap pria yang dianggapnya sahabat.


"Setidaknya kau harus standby lah di depan ruangannya, di meja kerjamu! Kalau ada tamu yang datang bagaimana? Siapa yang akan menerima?" pungkas Defan.


"Ya ... ya ..." cerocos Dania, seraya beranjak dari tempatnya menuju ruangan CEO S.N.G Lawfirm.


"Eh ... tunggu." Defan berteriak membuat Dania senyum-senyum sendiri berharap pria itu memang menginginkannya agar tetap berada di ruangan itu.


"Apalagi?" balas Dania, pura-pura bernada ketus. Ia berbalik badan lagi karena tadi sudah sempat mau meninggalkan ruangan ini.


"Jangan lupa tutup pintunya. Dasar jalangkung!" umpat Defan memplesetkan kata-kata jelangkung.


Defan berhasil membuat Dania berang dan menggerutu seorang diri.


"Ampun, kukira ada perlu apa, kan ada si Juni. Nggak penting banget sih!" berang Dania, seraya menghentak-hentakkan kakinya, lalu menutup pintu dengan keras sehingga mengejutkan kedua orang yang masih di dalam ruangan.


Defan kembali fokus bekerja, mulai sibuk mempersiapkan berkas-berkas sidang perkara yang akan ditangani khususnya perkara esok yang akan digelar.

__ADS_1


Sementara, Juni juga masih sibuk mengurus semua pekerjaan yang belum terpegang olehnya sejak kemarin.


"Pak, besok mau langsung ke pengadilan atau bertemu di kantor dulu?" ucap Juni, kemudian menatap bosnya.


"Jam berapa besok sidangnya?" hardik Defan.


"Seperti biasa, Pak sidangnya pagi hari jam 08.00 pagi. Semua bukti-bukti juga sudah lengkap jadi kita tinggal mengikuti persidangan aja."


"Oh ... ya, Bapak mau ada pertemuan dengan tersangka?" tambah Juni lagi, memberi saran.


"Untuk apa saya menemuinya?" Defan mengalihkan pandangan, awalnya fokus membaca berkas di atas meja, kini dia dan Juni saling menatap.


"Ya, barangkali Bapak mau mempertanyakan langsung kepada pelakunya atau bapak mendesaknya supaya ia mengaku pada persidangan pertama sehingga kita menang telak," tukas Juni, masih memberi saran.


"Nggak usah lah, lagian sudah banyak bukti untuk mendesaknya. Yang mendukung selain CCTV apalagi yang kita punya?" sergah Defan, memastikan.


"Banyak, Pak dari pengakuan kedua orang tua korban, pengakuan dari warga sekitar yang menyaksikan penculikan serta pengakuan dari tetangga si tersangka. Kemudian, ada barang bukti juga berupa CCTV serta visum korban termasuk hasil konsultasi psikiater tentang kondisi korban."


Defan pun mengangguk merasa yakin bisa memenangkan kasus ini.


****


Saat ini, Dira bersiap-siap untuk berangkat. ,Ia bergegas mandi mempersiapkan diri, tak lupa bersolek dengan make up yang natural.


Meski tidak berlebihan tetapi kecantikannya sangat terpancarkan. Sebelumnya, ia sudah mengirimkan pesan pada suaminya untuk mengabari.


Dira


Bang aku berangkat dulu ya, ke kampus naik ojek online.


Kemudian, Dira bergegas keluar dari rumah. Tak disangka ternyata saat pintu lift terbuka, ia bertemu dengan Angga. Hanya mereka berdua yang ada di dalam lift.


"Dir, jadi kayak mana tugas kita itu?" tanya Angga, menatap punggung Dira lantaran perempuan itu membelakanginya berada di depan, tak ingin mendekat.


"Nanti kita kerjakan aja di kampus. Lagian si Jenny nggak bisa datang ke rumahmu tadi pagi," ungkap Dira.


"Ya udahlah, kau mau ke kampus, kan?" tanya Angga.

__ADS_1


"Iyalah, mau ke mana lagi? Nggak kau lihat setelanku macam mau ke kampus bukan mau hangout," cibir Dira, berdecak.


"Kau naik apa? Diantar sama abang itu?" balas Angga, sembari seolah mencari sosok pria yang kerap bersama Dira.


"Enggak, aku sendiri mau naik ojek online."


"Oh ... bareng aja lah sama aku, orang kita searah dan satu tempat kok. Ngapain kau naik ojek online segala," ajak Angga, yang ia ketahui sudah pasti Dira akan menolaknya.


"Enggak ah, udah kau berangkat sendiri aja! Aku udah pesan ojek online, udah ditunggu aku di halaman lobi," sahut Dira.


"Dih, orang ngajak baik-baik malah ditolak. Lagian biar nggak keluar duit loh!" kilah Angga, masih berharap wanita itu menerima ajakannya.


"Udah nggak usah khawatir kau kalau soal duit. Gampang itu, lagian aku mau mampir ke ATM dan banyak urusanku! Nggak bisa bareng samamu. Bye," pamit Dira saat pintu lift terbuka di lantai lobi.


Dan memang benar ada seorang ojek online yang mengenakan seragam berwarna hijau sedang menunggu pemesannya tiba. Dira segera naik di motor ojek online tersebut setelah menyapa supir ojeknya.


"Tujuannya ke USU kan, Kak?" tanya sopir ojek online basa-basi. Sekedar hanya ingin menyapa.


"Iyalah, Bang kan udah jelas itu tujuannya ke sana di aplikasi tapi nanti tolong mampir dulu di ATM terdekat, ya," pinta Dira.


"Oke Kak kita langsung jalan aja, ya." Supir melajukan motornya dengan kecepatan sedang, tak berselang lama mereka tiba di ATM yang dipinta oleh customernya.


"Bentar, ya, Bang!" ucap Dira, bergegas turun dari motor.


Ia masuk ke dalam ATM, melakukan transaksi transfer antar bank untuk rekening mamaknya. Dengan cepat, Dira mentransferkan uang sebesar 10 juta untuk bekal keluarganya selama satu bulan penuh.


Ia menelepon sang mamak untuk mengabari kalau uang telah di transfer olehnya.


*****


Ting ...


Suara notifikasi ponsel Defan menyita perhatiannya. Saat notifikasi pertama dari Dira, ia hanya menatap di pop layar ponsel tanpa membalas pesan itu.


Namun, notifikasi kedua membuat kedua bola matanya terbelalak lebar.


Bank BCU

__ADS_1


Transfer ke rek. 0088**** an Rosma Manalu sebesar Rp10.000.000 tanggal 30/7.


__ADS_2