
"Selamat, Dir! Kira-kira kapan jadwal sidangmu?" tanya Jenny, setelah melihat Dira keluar dari ruangan Dospem.
Jenny sudah lebih dulu menyelesaikan proses skripsinya, ia juga sudah mendapatkan jadwal sidang yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.
"Minggu depan aku sidang, Jen kau tanggal berapa?" sela Dira.
"Aku juga sama minggu depan, tanggal 7 tepatnya," Jenny.
"Wah, sama dong kita, apa waktunya juga bersamaan, ya?" kekeh Dira.
"Kayaknya samalah, kita satu ruangan dengan waktu yang sama, memang cocok kalilah itu!" sahut Jenny.
"Ayo kita pergi, oh ... aku baru ingat kalau janjian sama Bang Defan mau ke rumah sakit," ujar Dira, menatap lekat sahabatnya.
"Siapa yang sakit, Dir?" Jenny memicingkan mata, hingga langkah kakinya terhenti.
"Oh, enggak ada kok, aku sama Bang Defan mau melakukan proses bayi tabung. Kan kau tahu sendiri lah sudah 5 tahun lebih pernikahanku, justru aku tak kunjung hamil. Apalagi sekarang aku sudah lulus kuliah. Jadi aku sudah setuju dan sepakat sama Bang Defan kalau kita mau melalui proses bayi tabung untuk mendapatkan keturunan," ungkap Dira, seraya terkekeh kecil.
Tak disangka, buliran bening luruh begitu saja dari pelupuk matanya. Ia terlaly sabar menunggu kehadiran bayi hingga 5 tahun lamanya.
"Hah, serius mau bayi tabung? Kenapa nggak nunggu waktu sampai dikasih saja?" tambah Jenny.
"Terlalu lama, Jen karena tidak jelas juga kapan waktunya akan tiba. Kalau kita melakukan bayi tabung, otomatis kan nanti sudah jelas apakah aku bisa segera hamil atau tidak. Lagi pula mertuaku sudah sangat sabar menunggu hingga selesai masa kuliahku," beber Dira, seraya tersenyum penuh getir.
"Sudahlah, kalau itu keputusanmu. Kita hanya bisa mendukung sebagai sahabatmu. Oh, kalau gitu kau langsung samperin bang defan, aku mau bertemu Carol dan Shinta," sahut Jenny.
"Iya, mereka masih ada kelas, ya?" Dira pun berpamit pergi setelah Jenny mengangguk.
Dira dan Jenny memang lulus lebih dulu, karena mereka menempuh pendidikan di jurusan dokter selama 3,5 tahun saja.
Berbeda dengan Shinta dan Carol, tetap harus menempuh hingga 4 tahun lamanya alias dengan total 8 semester.
"Hati-hati!" teriak Jenny, setelag keduanya berpisah di lorong kampus, Jenny dan Dira saling melambaikan tangan.
Sementara Jenny, tetap menunggu di kampus. Dia ingin masih mengobrol dan malas pulang cepet-cepat ke rumah.
Tak menunggu waktu lama, Jenny pun berkumpul dengan Carol dan Shinta. Saat itu juga, Carol membawa Jefri bersamanya. Ternyata hubungan Carol dan Jefri semakin serius.
Sedangkan Shinta dan Jenny masih bertahan dengan status jomblonya. Belum ada satupun laki-laki yang terpikat pada kedua wanita itu.
"Selamat, Jen kau bakal sidang secepatnya!" tutur Shinta, memberikan pelukan hangat pada Jenny.
"Iya, aku nggak nyangka kali bisa lulus dari Jurusan Kedokteran ini, tahu sendiri kan prosesnya sangat panjang dan membuatku Pusing tujuh keliling," ucap Jenny seraya tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Tapi kan kau beruntung, benar-benar bisa lulus dari Jurusan Kedokteran, tinggal kau melanjutkan ke pendidikan profesi dokter deh agar bisa merealisasikan sebagai seorang tenaga kesehatan," tambah Carol.
"Udah nggak sabar kali aku, mau terjun langsung ke lapangan menjadi seorang dokter muda," kekeh Jenny.
Jefri juga memberikan ucapan selamat pada Jenny. Pria itu selalu lengket dan menempeli pacarnya akhir-akhir ini. Memang waktu dulu, Jefri sengaja tak menghubungi Carol agar membuat hubungan mereka semakin merekat.
Dengan kejadian itupun, mereka malah lebih peduli dan memperkuat komunikasi satu sama lain. Saling mengabari hingga akhirnya hubungan itu sudah mendapat restu dari masing-masing keluarga. Jefri dan Carol sudah melalui proses pertunangan untuk mengikat hubungan itu dan sebentar lagi Carol pun akan dipinang oleh Jefri.
"Kau juga, Rol sama Bang Jefri, selamat buat proses pernikahan kalian yang akan digelar sebentar lagi!" ujar Shinta, dengan antusias.
"Nggak nyangka loh, aku mau nikah sama Bang Jefri, padahal hubungan kami sempat merenggang karena sama-sama gengsi mau komunikasi," sanggah Carol.
"Akhirnya kalian selalu bersama, sebentar lagi akan menikah pula," goda Jenny.
Semuanya pun tertawa terbahak-bahak. Tak disangka, mereka memiliki kisah yang sangat mengesankan.
Lain hal dengan Shinta, kini ia sudah menyerah mencari pria kaya raya, selanjutnya Shinta tengah fokus untuk mengemban pendidikan, hingga ingin melanjutkan pendidikan menjadi seorang Hakim sesuai impiannya sejak awal karena ia sudah mulai menyukai profesi hakim tersebut.
****
Dira berlari di lorong Rumah Sakit, sementara Defan sudah duduk di ruang tunggu. Beberapa bulan yang lalu, mereka memang sudah mengambil sel telur masing-masing agar bisa segera dilakukan pembuahan, tinggal memasukkannya saja ke dalam rahim Dira. Oleh karena itu, inilah saatnya proses bayi tabung akan dilakukan.
Dira berlari dengan kencang, ia tiba-tiba memeluk suaminya yang sejak tadi menatap dari kejauhan dengan senyum yang lebar. Berdasarkan kesepakatan keduanya, mereka akan melakukan proses bayi tabung untuk melancarkan kehamilan Dira.
****
Momen wisuda Dira ternyata bertepatan dengan kabar baik dari hasil proses bayi tabungnya. Selama seminggu terakhir, Dira sudah mengalami mual dan pusing, bahkan saat pagi juga ia merasakan morning sicknes sehingga membuat tubuhnya tidak nyaman.
Setelah melakukan pengecekan kehamilan melalui tespek, ia terharu karena mendapatkan garis dua. Bahkan, Defan sendiri tak menyangka mereka dianugerahi buah hati pada saat momen yang tepat dihari kelulusan sang istri.
Selama 9 bulan mengandung, Dira sangat dijaga oleh suami, keluarga hingga mertuanya. Mereka sangat hati-hati bahkan menyiapkan beberapa pembantu di Kondominium mereka, Dira tidak diperbolehkan melakukan apapun terkecuali aktivitas olahraga untuk memperlancar proses persalinannya.
Tepat di mana usia kehamilan Dira memasuki 38 minggu, tiba-tiba ia mengalami kontraksi. Pinggang dan perutnya berdenyut dengan kencang seperti terasa tertarik-tarik. Ia pun merintih kesakitan dan minta segera diantarkan ke rumah sakit terdekat. Padahal, saat itu Defan masih sibuk bekerja.
Untung saja, mertuanya sengaja menginap karena ia tahu bahwa Dira sudah memasuki fase menjelang detik-detik proses persalinan.
Tanpa pikir panjang, Melva dan Desman mengajak Dira ke rumah sakit.
"Ahh ... sakit, Inang!" rintih Dira, seraya memegang perut dan belakang pinggangnya.
"Def, cepat kau nyusul ke rumah sakit, istrimu mau melahirkan!" tirag Melva, melalui sambungan telepon.
Melva sendiri merasa deg-degan dengan proses kelahiran cucu mereka pertama kalinya. Bahkan, Melva langsung mengabari seluruh keluarga besar Tampubolon dan keluarga Sinaga agar mereka juga datang menjenguk ke rumah sakit.
__ADS_1
Setelah mendapat kabar dari sang mama, Defan langsung bergegas menuju rumah sakit, tak butuh waktu lama sekitar 10 menit, ia sudah tiba di rumah sakit dan masuk ke dalam ruang operasi untuk melihat persalinan normal yang akan dilalui oleh Dira.
Seama proses itu, Defan selalu mendampingi Dira, tak sekalipun ia meninggalkan istrinya yang mengerang kesakitan. Untuk menguatkan Dira, Defan terus menggenggam erat tangan istrinya.
Beberapa tim dokter kandungan langsung melakukan penanganan dan untuk membantu Dira dalam melancarkan persalinan normalnya.
Dira sudah mengambil posisi untuk bersiap mengeluarkan bayi dari dalam rahimnya.
"Terus, Bu! Ayo, keluarkan perlahan," titah dokter kandungan.
Berselang beberapa menit, suara tangis bayi semakin pecah, anak pertama keluar, disusul dengan bayi kedua hingga bayi ketiga. Bahkan tangis itu saling bersahut-sahutan. Ternyata Dira melahirkan tiga bayi kembar sekaligus, diantaranya dua laki-laki dan satu perempuan. Defan merasa haru karena proses bayi tabung yang mereka rencanakan tidak sia-sia, dialah sebagai proklamator untuk meminta 3 bayi sekaligus saat proses bayi tabung dilangsungkan.
Rasa sabar Dira dan Defan lebih dari 5 tahun terakhir tak sia-sia karena mereka langsung mendapatkan tiga buah hati sekaligus. Setelah proses persalinan selesai, Dira dipindahkan ke ruang rawat inap VIP.
Semua keluarga telah berkumpul, bahkan semua keluarga besar menyambut kehadiran tiga bayi mungil yang lahir kedua hari ini.
Keluarga Dira dan Defan pun tengah sibuk menggendong cucu mereka yang sangat lucu dan menggemaskan. Dira juga langsung mengabarkan pada ketiga sahabatnya agar bergegas datang ke rumah sakit untuk melihat ponakan baru mereka.
Dira tak menyangka, ia dianugerahi keluarga yang sangat memberikannya kebahagiaan. Tak hanya itu, Dira juga bisa melihat kejayaan keluarganya sendiri yang terbebas dari kemiskinan karena usaha Rosma dan Sahat ternyata berkembang pesat, mereka bahkan berhasil membeli tanah di samping rumah hingga membangun gedung toko sembako tersendiri.
Rosma dan Sahat juga berhasil memberikan pendidikan pada adik kedua Dira— Parulian hingga ke jenjang perkulian. Parulian pun tengah memproses pendidikan untuk menjadi seorang pengacara seperti iparnya.
Di dalam ruang rawat, Dira tersenyum dengan sumringah dengan haru. Ia juga meminta untuk diberikan kesempatan menggendong ketiga anak kembarnya. Defan pun ikut memeluk Dira, seraya menatap tiga buah hati kecil mereka. Rasa haru tak terbendung lagi hingga ia menitikkan air mata.
"Terima kasih, Bang sudah menghadirkan mereka semua untukku!" bisik Dira, saat berada di dalam dekapan suaminya yang tengah duduk di tepian ranjang brangkar.
Brak ...
Suara dorongan daun pintu terdengar begitu kencang, ketiga sahabat Dira dan seorang perempuan perantauan yang sangat mereka kenal sudah datang yakni Anggi. Anggi langsung berpulang ke Medan setelah mendengar kabar kalau iparnya akan melahirkan anak yang telah ditunggu hingga 5 tahun lebih lamanya.
"Selamat, Dira dan Bang Defan!" teriak keempat perempuan itu dengan semangat menggebu dari ambang batas pintu.
Keempat wanita itu, Jenny, Carol, Shinta dan Anggi langsung menghampiri Defan dan Dira, memberikan buket bunga yang besar dan memberikan ucapan selamat.
Kemudian, Anggi juga memberikan cake untuk perayaan kelahiran tiga bayi mungil tersebut. Anggi memeluk abang dan iparnya karena telah lama tak berjumpa. Tak lupa, ia juga bergantian menggendong ketiga ponakan yang sangat mungil tersebut.
"Nggi, mana halletmu?" tegur Melva.
"Lagi ngajar, Ma! Orangnya terlalu serius dan kaku kaya bang defan," kekeh Anggi.
Semua orang di sana ikut tertawa terbahak-bahak. Anggi dan Jaki sudah menjalin hubungan sejak setahun terakhir, keduanya bahkan berencana akan menikah setelah Anggi lulus dari proses pendidikan terakhirnya untuk menjadi seorang pengacara.
...TAMAT...
__ADS_1