
Defan baru saja pulang ke rumah, ia melihat istrinya tengah menunggu kedatangannya. Sore itu, Defan membawa beberapa bungkusan sesuai dengan pesanan sang istri untuk makan malam mereka.
Setelah masuk dan memberikan bungkusan, Defan merengkuh pinggang sang istri, mencium bibir serta keningnya.
"Bang tadi si Jenny mampir ke sini," ucap Dira, setelah tangan Defan terlerai begitu saja.
"Dalam rangka apa?"
"Cuma main aja kok, ,memang aku yang suruh karena aku kelamaan nunggu Abang 2 jam lagi baru pulang." Dira membawa bungkusan makanan ke dapur.
"Oh, kenapa nggak ngabarin?" Defan menatap istrinya dengan datar.
"Keasikan ngobrol tadi jadi lupa ngasih tahu," sahut Dira yang sudah sibuk memanaskan makanan itu.
"Oh." Defan lalu ia berjalan gontai, masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju, sebelumnya ia mandi sore dulu agar tubuhnya tampak semakin segar bugar.
Sementara, Dira tengah sibuk menata makanan di meja makan, padahal masih sangat sore tapi dia sudah merasakan kelaparan.
Tak lupa, Dira juga menghubungi Jenny saat suaminya sedang sibuk di kamar mandi. Menanyakan sahabatnya itu apakah sudah tiba di rumah. Sebab, dirinya khawatir jika terjadi sesuatu saat di perjalanan.
****
Carol menghempaskan tubuhnya, menatap langit-langit kamar, lalu tersenyum-senyum sendiri. Entah mengapa ia seperti sudah terserang rasa dimabuk asmara.
Carol memikirkan bagaimana kedepannya menjaga hubungan itu dan mempertahankannya. Baik Carol maupun Jefri, sama-sama tidak memiliki pengalaman sama sekali tentang berpacaran.
Carol membuka ponsel, lalu mengabari teman-temannya, mengirimkan pesan tentang kejadian hari ini, yang tidak pernah disangka-sangka oleh dirinya sendiri. Selama ini, ia sudah konsisten menolak ungkapan cinta Jefri, bahkan kerap menghindarinya.
Namun, yang terjadi saat ini. Carol sudah menerima ungkapan cinta itu tanpa persiapan apapun. Oleh karena itu, ia tak ingin teman-temannya curiga padanya, apalagi menyembunyikan status hubungan dengan Jefri.
Carol
Woi ... aku udah jadian sama si Jefri.
Carol mengirimkan pesan itu tapi selama 30 menit tidak ada jawaban dari ketiga temannya mungkin karena mereka masih sibuk dengan kegiatan masing-masing.
****
Shinta menjerit dalam hati saat ia mengetahui Dika yang memang sengaja meninggalkan dompet di mobil. Sepertinya Diki ingin memberi pelajaran untuknya.
Saat di dalam mobil, Shinta mengedarkan pandangan, melihat dompet itu ternyata berada di dashboard mobil yang sengaja ditindih dengan sebuah buku agar tidak kelihatan olehnya.
"Sepertinya dia bukan jodohku, baru pertama kali berkencan saja sudah membuatku bokek. Kalau begini terus bisa mati berdiri aku," ungkap Shinta dalam batin.
__ADS_1
Shinta memang wanita yang menyukai pria tampan tetapi harus memiliki kelebihan yakni memiliki kekayaan dan mapan agar ia bisa mengalahkan Dira yang memiliki suami dengan paket lengkap.
Saat ini, Shinta sudah berada di rumah. Ia menghempaskan tubuh di atas ranjang seraya memikirkan keputusan apakah ia akan melanjutkan hubungan pendekatan dengan Diki atau menghempaskan lelaki itu.
Untung saja, Diki tak menolak saat Shinta meminta untuk diantarkan pulang ke rumah. Jika Diki menolak dan membiarkannya pulang sendiri, semakin kuat rasa ilfeel yang menyelimuti dada Shinta.
***
Drrt ... drt ...
Ponsel Diki bergetar saat ia masih di jalan pulang.
"Halo, Bos!" sapa Diki saat melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Tolong antarkan segera mobil itu ke bengkel, soalnya mau diambil oleh pemiliknya," ucap Pemilik bengkel mobil.
Sehari-hari, Dika adalah karyawan di bengkel mobil, pekerjaan paruh waktunya untuk mendapatkan upah agar bisa membiayai kuliah.
Kesempatan itu pun dimanfaatkan oleh Diki, saat ada mobil yang tengah diperbaiki, mobil-mobil mewah yang berderet di bengkel bisa saja dipinjam oleh Diki, sebelum sang empunya mengambilnya.
Oleh karena itu, Diki hanya tinggal memilih mobil mana yang akan dia pakai untuk ke kampus, bahkan setiap hari ia terlihat berganti-ganti mobil mewah, membuat dirinya dicap sebagai seorang anak kaya raya.
"Oke, Bos! jawab Diki dengan cepat, ia pun menaikkan laju kecepatan mobil tersebut.
"Hahaha .... emangnya enak, aku tipu!" batin Diki, sebenarnya sejak awal berjumpa dengan Shinta, ia hanya iseng dan tidak ada niatan untuk mendekati perempuan itu.
Sedikit cerita tentang Diki, dia adalah seorang pria miskin, ayahnya hanya sebagai buruh pekerja pabrik, sedangkan ibunya hanyalah ibu rumah tangga yang mengandalkan gaji suaminya.
Oleh karena itu, Diki harus banting tulang untuk membiayai kuliah lantaran kedua orang tuanya tak akan sanggup membayar kuliah tersebut. Beruntung Diki adalah pria yang pintar, ia juga mendapatkan beasiswa selama kuliah.
Namun, untuk sekedar jajan dan kepentingan biaya-biaya lain, Diki harus memenuhi sendiri kebutuhan itu.
*****
"Aku pulang dulu, Bu!" pamit Angga setelah merapihkan dirinya dari hubungan yang mendesaknya melakukan hal-hal terlarang antara mahasiswa dan dosen.
"Kau tinggal sama siapa?" cetus Maudy.
"Sendiri!" jawab Angga spontan.
Namun, ia menutup mulutnya karena kecoplosan mengatakan hal itu. Sebab, Angga mulai berprasangka buruk pada pikiran perempuan yang agresif itu.
Angga mengira, Maudy akan sering datang ke rumahnya nanti.
__ADS_1
"Apa? Sendiri? Kebetulan sekali, berarti saya boleh mampir dong sekali-kali," sahut Maudy.
"Jangan, Bu nggak enak kalau dilihat tetangga," kilah Angga.
"Emang kau tinggal di mana? Kok nggak enak sama tetangga?" sambung Maudy.
"Ya, pokoknya di rumah-rumah padat yang ada dipelosok kota Medan," tukas Angga.
"Oh!" Maudy pun tak lagi penasaran dengan tempat tinggal Angga setelah mendengar jawaban dari laki-laki itu mengenai situasi rumahnya.
Angga kemudian pergi dari apartemen pacarnya, ia berjalan terburu-buru keluar dari apartemen itu sembari menutupi wajah, khawatir ada teman-teman kampusnya yang berpapasan dengan dirinya di tempat itu.
****
Jenny
Serius kau Rol? Jadian sama si Enjep?
Shinta
Bukannya kemarin kau bilang nggak mau pacaran dulu?
Carol
Iya, tadi aku ditembaknya!
Jenny
Mati dong kau kalau ditembak haha
Shinta
Kenapa kau terima dia?
Grup chat watsapp Dira sudah ramai. Namun, ia tak lekas muncul dalam grup itu. Justru, Dira masih sibuk makan malam bersama suaminya karena Defan baru selesai mandi.
Suara bunyi notifikasi yang ramai bersamaan dengan Defan yang muncul secara mendadak. Oleh karena itu, dia tak sempat membaca pesan-pesan apa yang diributkan oleh ketiga sahabatnya.
"Yang, besok abang ada sidang. Besok kau berangkat jam berapa?" ujar Defan, menatap lekat manik sang istri.
"Aku besok berangkat seperti hari ini, Bang! Sekitar jam 10 masuk!" balas Dira, sembari menyendoki nasi untuk suaminya.
"Oh, jangan lupa kau besok bangunin, Abang! Supaya nggak telat ke Pengadilan!" pesan Defan.
__ADS_1