Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
paling terdepan


__ADS_3

Keluarga korban tampak histeris setelah mendengarkan pengakuan oleh saksi dari pihak terdakwa. Mereka merasa sakit hati dan dendam pada kelakuan Fransisko yang tidak manusiawi. Entah mengapa Fransisko bisa melakukan itu pada seorang anak kecil bahkan satu gender dengannya.


"Sudahlah, Yang Mulia, lebih baik dia dihukum kebiri saja agar tidak ada lagi korban yang lain!" ucap Defan, dengan tegas.


"Tenang-tenang!" Hakim Ketua mengetuk palu sebanyak 3 kali untuk menenangkan keributan yang ada di dalam ruang persidangan.


Selama beberapa jam persidangan terus mengalami kericuhan karena adanya perbedaan pendapat di antara pihak terdakwa dengan pihak korban maupun jaksa penuntut umum. Namun akhirnya membuahkan hasil yang tidak terduga


Kemenangan telak berhasil diraih oleh Defan, ia berhasil membuat S.N.G Lawfirm semakin terkenal dan populer di kalangan Firma hukum lainnya.


Berdasarkan keputusan para hakim, menetapkan bahwa terdakwa akan dijatuhi hukuman kurungan selama 20 tahun lamanya. Tak hanya itu, terdakwa juga akan dikebiri serta diwajibkan memberikan denda sebesar 500 juta.


Fransisko tampak frustasi setelah mendengarkan keputusan dari Hakim Ketua. Bahkan diprediksi sisa harta kekayaannya akan disita oleh negara hanya untuk membayarkan denda yang dicantumkan.


Fransisko memang nekat melakukan hal senonoh pada anak-anak kecil untuk memuaskan hawa nafsunya. Ia memiliki fetish yang aneh tentang hubungan intimnya. Oleh karena itu, ia juga sering gelap mata ketika melihat ada anak-anak kecil yang lucu dan sangat tampan, dirinya seketika tergiur.


Keputusan Hakim Ketua sudah tak bisa diganggu gugat, bahkan pihak terdakwa pun tidak bisa mengajukan banding lantaran keputusan itu sudah telak. Pihak pengadilan juga akan menolak jika terdakwa bersikukuh mengajukan banding.


"Selamat," kata Desman, setelah menghampiri anaknya, selama beberapa jam terakhir, ia menyaksikan persidangan yang sengit itu.


Sebab, kasus yang ditangani Defan adalah limpahan dari kasus yang harusnya ia tangani.


"Kau memang bisa diandalkan!" ucap Desman, mengangkat kedua jempol pada putra semata wayangnya.


"Iya dong, kan anak bapak gitu loh!" jawab Defan dengan bangga, ia mengangkat kepalanya seolah-olah menjadi orang yang angkuh.


Persidangan berakhir, semua hakim keluar dari ruangan, diekori dengan jaksa penuntut umum serta terakhir terdakwa dibawa kembali oleh sipir untuk dijebloskan lagi ke dalam penjara.


Sebelum pergi, Fransisko tampak meluapkan kemarahannya pada Defan. Ia juga merutuki sikap Defan yang membuatnya berakhir di penjara hingga berpuluh-puluh tahun lamanya.


Diperkirakan, ia juga akan menua di dalam kurungan penjara. "Awas kau! Akan kubalas," kecam Francisko dengan tatapan sengit.

__ADS_1


Defan hanya tersenyum sinis saat mendengar ucapan terdakwa. Namun, ia juga memberikan tatapan dengan penuh tantangan.


"Coba saja kalau berani!" bisik Defan, setelah pria itu melintasi dirinya.


****


Dira dan Jenny baru saja keluar dari kelas. Mereka sudah menyelesaikan jadwal kuliah tepat waktu. Usai keluar dari kelas, Dira pun menghubungi suaminya, ingin meminta izin pada sang suami bahwa hari ini harus keluar bersama teman-temannya.


Hari sudah menunjukkan waktu yang cukup sore, seharusnya Defan juga sudah menyelesaikan persidangan. Oleh karena itu, Dira menghubungi suaminya tanpa pikir panjang, kalau telepon darinya akan mengganggu jadwal sidang.


"Halo, Bang!" sapa Dira seraya menatap Jenny dengan datar, keduanya berjalan beriringan.


Mereka berjalan gontai beriringan menuju parkiran sesuai dengan janji untuk pergi bersama Jefri. Karena hari ini, Jefri yang akan langsung mengantarkan mereka menggunakan mobilnya.


"Halo, Sayang ada apa?" Jawab Defan, tanpa Dira menunggu lama, telepon itu sudah dijawab oleh suaminya.


"Bang, aku mau minta izin, mau jalan sama teman-teman. Soalnya hari ini, ada perayaan kalau si Carol sudah jadian sama seniornya," ungkap Dira to the point.


"Merayakan apa?" balas Dira.


"Abang, baru memenangkan sidang, bahkan menang telak. Semua tuntutan Abang dipenuhi oleh hakim," sahut Defan, antusias menceritakan kemenangannya, berharap mendapatkan pujian dari sang istri.


"Hebat sekali, Abang! Terus apa nih perayaannya?" cecar Dira.


"Paling, Abang nyusul kalian saja di sana. Tapi sekarang ada perayaan dulu di kantor, mungkin Abang akan datang terlambat!" ujar Defan, sembari bersiap-siap mendatangi aula, sesuai perintah bapaknya sebelum meninggalkan ruangan persidangan.


"Oke, kabarin saja kalau abang jadi ke sini tapi boleh kan aku kesana?" tanyanya lagi memastikan.


"Bolehlah, kan abang akan menyusul!" tutur Defan seraya berjalan memasuki ruangan aula tempat berkumpul.


"Terus kalau, abang juga ada perayaan, lalu siapa jadi yang traktir kami? Soalnya pacar si Carol juga mau traktir tuh!" ungkap Dira.

__ADS_1


"Ya, nggak masalah kalau dia mau traktir. Mungkin bisa saja ada trip kedua untuk perayaan itu!" jawab Defan santai.


"Oke, suamiku. Aku pamit pergi dulu, ya! Bareng pacar Carol serta sahabat-sahabatku," ucap Dira, meminta izin pada suaminya.


"Ya, Sayang, hati-hati!" balas Defan, lalu mematikan sambungan telepon karena di dalam kantor tengah dipenuhi orang-orang yang sedang akan merayakan kemenangannya.


***


Sebelum hari persidangan, Desman sudah optimis bahwa anaknya akan berhasil memenangkan kasus yang dilimpahkan beberapa pekan lalu. Oleh sebab itu, Desman dengan penuh keyakinan, meminta sekretarisnya—Dania untuk memesankan beberapa cake dan tumpeng untuk perayaan kemenangan tersebut.


Tak hanya itu, dia juga memanggil seluruh karyawan di kantor untuk menyambut kedatangan Defan setelah pulang dari kantor pengadilan.


"Semuanya kumpul!" titah Desman, seluruh karyawan di kumpulkan di dalam aula kantor yang besar dan luas, tempat khusus untuk pertemuan besar.


Semua karyawan pun berteriak menyoraki Defan, lalu bertepuk tangan dengan bangga. Riuh di dalam ruangan sangat memeriahkan kedatangan Defan.


Prok ... Prok ...


Semua orang bertepuk tangan, menyambut kemenangan telak yang diraih oleh pengacara terkenal di kantor itu.


Dengan keramain yang membludak, membuat Defan tersipu malu saat ia memasuki ruangan aula.


Defan segera menghampiri sang bapak yang sudah berdiri di depan podium. Setelah melihat kedatangan anaknya, Desman memberikan tempat pada Defan untuk memberi sepatah-dua kata.


"Terima kasih semuanya. Saya tidak menyangka bakal bisa memenangkan kasus ini," ucap Defan sedikit merendah.


"Kemenangan kasus ini juga berkat dari keras kalian, yang sudah membantu saya hingga mencapai posisi ini. Kedepannya, saya berharap bisa terus memenangkan kasus yang lain, yang berada dalam penanganan saya."


"Saya juga berharap, pengacara lain pun bisa mengikuti jejak saya sehingga bisa mengembangkan perusahaan ini lebih baik lagi. S.N.G Lawfirm harus paling terdepan menghadapi persoalan kasus-kasus yang ditangani. Kita juga harus mengungkap kebenaran, apapun yang terjadi!" tegas Defan, disambut dengan riuh sorakan serta tepuk tangan yang meriah.


Setelah memberikan sambutan, Dania dan Juni membawakan cake dan tumpeng di depan podium. Keduanya tersenyum manis pada Defan, lalu meletakkan barang bawaannya di sebuah meja yang sudah dipersiapkan.

__ADS_1


__ADS_2