
Defan menghala nafas kasar, ia menatap istrinya dengan lekat, lalu berkata. "Siapa saja teman satu kelompokmu?"
Dira menjawab dengan lugas. "Cuma dua orang, si Angga tetangga kita sama si Jenny sahabatku. Boleh, kan?" tanyanya lagi memastikan.
Defan pun mengangguk, ia akan menyetujui kerja kelompok yang diselenggarakan di rumah Angga. Namun, dengan syarat kalau Dira tak boleh berduaan hanya dengan Angga di dalam rumah, harus selalu bersama Jenny juga.
"Apapun kejadiannya, kau tidak boleh berada di rumah itu berduaan kecuali ada si Jenny. Pokoknya pekerjaan tugas kelompok harus diselesaikan bersama-sama, jangan terlalu berlama-lama di dalam rumah temanmu itu," ucap Defan, memberikan nasihat.
"Oke, Bang," jawab Dira, dengan mengulum senyum yang lebar.
****
Pagi ini, cuaca mendung bahkan rintik hujan sudah membasahi tanah. Rasanya sangat malas, Dira untuk beranjak sehingga dia masih bersantai-santai di atas ranjang, memandang wajah tampan suaminya yang tertidur pulas.
Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi tapi Dira masih sangat malas beranjak dari kasurnya. Menurutnya, masih panjang waktu untuk berangkat ke kampus apalagi jadwal kuliahnya dijadwalkan jam 10.00 pagi. Namun, seharusnya Dira menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya.
Sementara, Defan pun masih tertidur, Dira tak berniat membangunkannya. Dengan lembut, Dira mengusap wajah suaminya sehingga tanpa sadar Defan membulatkan kedua bola matanya.
Lalu, ia menatap wajah istrinya dengan mata yang terasa berat dan sayup. Ia pun tersenyum saat Dira sibuk memandangi wajahnya.
"Pagi!" sapa Defan, saat ini ia hanya menatap istrinya dengan senyum tipis.
Defan melirik jam di dinding masih jam 06.00 pagi. Namun, ia merasa aneh, mengapa istrinya tampak belum sibuk pagi ini. Ia mempertanyakan mengapa Dira belum bersiap-siap.
"Loh kok belum siap-siap?" tanya Defan saat mengusap rambut istrinya.
"Maaf, aku lupa bilang sama, Abang Kalau jadwal kuliahku masuk agak siang, jam pagi tidak ada mata kuliah. Jadi aku bisa berangkat lebih siang. Abang, nggak kerja? Cepat mandi sana," ujar Dira memberi perintah.
__ADS_1
"Hah ... kenapa nggak bilang tadi malam? Abang, padahal nanya loh, Yang! Ada berapa mata kuliah tapi tidak ada jawaban darimu! Malah meminta izin tentang tugas kelompok," sesal Defan, memicingkan mata.
"Hehehe ... maaf aku lupa," tutur Dira, dengan rasa sesal mendalam.
"Jadi nanti mau berangkat sama siapa?" tanya Defan Seraya mulai mendudukkan tubuhnya di atas ranjang dengan kaki bersila.
"Paling aku naik ojek online aja lah, Bang. Dekat ini ke kampus," tandas dira.
*****
Di kediaman Sahat—Bapak Dira, tampak terjadi kericuhan. Pasalnya, Rosma tengah mengamuk pada suaminya lantaran uang sisa tabungan dihabiskan oleh sang suami.
Bahkan, uang sisa arisan yang tidak jadi digunakan untuk liburan keluarga besar pun sudah raib entah ke mana?
"Bapak gimana sih! Udah tahu uang kita menipis, tidak ada lagi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga malah uang yang tersisa dihambur-hamburkan untuk hal yang tidak jelas," racau Rosma.
Ya, Sahat terbujuk oleh rayuan temannya untuk ikut berinvestasi dengan dengan iming-iming penghasilan bisa mendapatkan hingga 3 kali lipat dari uang yang diinvestasikannya. Namun, yang terjadi justru ia malah tertipu, uang itu raib dibawa oleh temannya sendiri.
Tak hanya Sahat yang menjadi korban, bahkan rekan kerjanya di pabrik pun terkena hal yang sama. Saat ini, temannya sudah menghilang entah pergi ke mana. Bahkan sudah tidak masuk kerja seminggu lamanya.
Sahat bersama rekan kerjanya, masih mencari keberadaan penipu tersebut. Beruntung, tidak hanya dia sendiri yang tertipu tetapi banyak rekan kerjanya juga yang mendapatkan nasib yang sama dengan dirinya.
Uang yang diinvestasikan saat ini tak sedikit. Dari Sahat saja, ia tertipu mencapai 100 juta, padahal uang itu adalah sisa tabungan serta sisa sinamot dari hasil pernikahan anaknya.
Uang 50 juta yang tersisa dari sinamot Dira, sedangkan 50 juta lagi adalah uang dari sisa arisan yang belum terpakai karena Defan sudah menalangi biaya liburan keluarga.
Suasana di rumah Dira, sangat menegang. Sahat merasa frustasi, ia berkali-kali menyugar rambutnya dengan rasa sesal yang memupuk di dalam dada.
__ADS_1
Sementara, kelima anak lelakinya bersiap-siap hendak berangkat ke sekolah. Namun, karena suasana yang semakin kacau, tak ada satupun yang berani berpamitan pada kedua orang tuanya yang tengah ribut hebat.
Apalagi, sang mamak terlihat sangat kesal bahkan mengamuk tak henti-henti. "Maaf, Mak! Bapak, benar-benar tertipu oleh teman sendiri. Aku terlalu tergiur dengan hasil investasi yang diiming-imingkannya tapi ternyata uang itu malah raib," keluh Sahat, dengan wajah yang sendu.
"Lagian mana mungkin investasi uang bisa menghasilkan keuntungan mencapai 3 kali lipat. Bapak, mikirlah! Mana ada orang yang bisa dapat uang dengan cuma-cuma seperti itu," sergah Rosma, menatap penuh kekesalan.
"Alhasil, Bapak jadi ditipu kan! Sekarang kita sudah nggak punya apa-apa lagi! Gaji bapak nggak ada, tabungan ludes, mau makan pakai apa hari ini?" timpal Rosma, dengan raut wajah yang penuh amarah.
"Ya, mau bagaimana lagi! Bapak sudah tidak pernah bermain judi, Bapak sudah meninggalkan semua apapun yang kau minta. Jadi bapak ingin mencari uang lebih untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Satu-satunya dengan cara investasi yang diiming-imingkan teman bapak! Berharap hasilnya bahkan bisa menambahkan pundi-pundi milik kita yang tersisa," ungkap Sahat panjang lebar sembari menundukkan kepala tak berani menatap istrinya.
"Ah ... jadi bagaimana ini? Sisa uang tabungan kita sudah tandas semua. Tidak mungkin kita minta sama boru kita! Malulah menghadapi hela itu," tampik Rosma.
"Bapak akan usaha mencari dia, udah mamak tenang aja! Nggak usah khawatir, uang itu pasti kembali," imbuh Sahat, penuh harap.
"Tenang-tenang, matamu!" gumam Rosma, saat merutuki kebodohan suaminya.
"Udahlah, Bapak berangkat aja. Bekerja sana, nggak usah pikirkan lagi uang yang udah hilang itu karena nggak akan kembali lagi. Nggak usah Bapak harap-harapin lagi, aku sudah kesal," hardik Rosma, menatap sinis.
"Ya, udah kalau begitu, Bapak berangkat dulu. Heh ... kalian yang sembunyi di sana, keluar lah! Emang kalian nggak mau berangkat ke sekolah." Sahat menatap ke arah tempat persenyumbunyian anak-anaknya.
Kelima anak lelaki Rosma dan Sahat, bergegas keluar dari persembunyiannya. Berjalan gontai menuju ruang tamu tempat di mana Mamak dan Bapaknya bersiteru beradu mulut mempeributkan investasi bodong yang menghabiskan sisa tabungan.
"Mak, minta duit jajan!" ujar Parulian, saat meraih uluran tangan sang mamak.
"Uang jajan lagi kau bilang, udah nggak ada duitku!" gerutu Rosma, menatap suaminya dengan marah.
"Nah ... ini ambil!" Sahat mengulurkan satu lembaran biru untuk keempat anaknya yang akan berangkat bersekolah, hanya anak terakhirnya yang belum bersekolah, ia hanya menimbrung pada empat abang-abangnya.
__ADS_1