Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
satu jurusan


__ADS_3

"Halo, boru, sehatnya kau?" timpal Sahat, fokus mendengar percakapan malam itu.


"Sehat, pak! Bapak apa kabar?" balas Dira, dirinya yang mulai pegal berdiri, dengan terpaksa mengendurkan pelukan suaminya, lalu duduk di tepian ranjang.


Namun, Defan tak habis akal untuk bermanja-manja dengan sang istri. Kali ini, dia malah tidur-tiduran di atas pangkuan Dira. Kepalanya bersandar di paha gadis kecil itu.


Dira hanya diam, menatap sekaligus mendengarkan obrolan dari sang bapak.


"Sehat kami semua, boru! Kau kesinilah, rindu kali mamak sama bapak!" tandas Sahat.


"Iya, iya, pak! Besok kami ke sana! Sore pulang dari kampus mampir ke rumah! Udah istirahat lah, bapak!" lanjut Dira.


"Iya, boru! Yaudahlah, ya, jaga kesehatan." Sahat mematikan sambungan telepon lantaran obrolan mereka telah selesai.


...***...


Di dalam kamar, Defan ternyata ketiduran di atas pangkuan sang istri. Saat Dira menghempaskan ponsel itu ke atas ranjang, ia melihat wajah Defan yang sedang tertidur pulas.


Tak ingin mengganggu waktu tidur suaminya, wanita itu bertahan duduk menyanggah kepala Defan. Terkadang, ia mengusap wajah Defan, mengelus pucuk kepala, hingga punggung sang suami untuk menenangkan tidurnya.


Selama setengah jam, Dira bertahan menjadi bantal untuk Defan. Namun, kakinya merasa keram yang luar biasa, badannya pun mulai kedinginan lantaran belum memakai baju.


Pelan-pelan, Dira meletakkan kepala suaminya ke atas ranjang agar tak membangunkan pria itu.


Baru saja beranjak dari kasur, Defan tiba-tiba terbangun, mencari jejak Dira yang baru melangkahkan satu kaki.


"Yang, mau ke mana?" ujar Defan, mengedarkan pandangan.


Dia tidak sadar sudah tidur lebih dari setengah jam. Bahkan, istrinya belum mengenakan pakaian apapun, masih seperti kondisi saat baru keluar dari kamar mandi.


"Mau pakai baju dulu, bang!" jawab Dira, melanjutkan jalannya mengambil pakaian ke lemari.


"Abang, lapar!" keluh pria itu, matanya masih memerah karena kantuk yang belum menghilang.


"Pesan online aja, ya, bang? Malas mau keluar rumah lagi," sahut Dira.


"Ehm, iya, deh! Apa sih yang enggak buat sayangku!" Defan menyengir seraya mencari ponsel miliknya.

__ADS_1


Dira dengan santai mengenakan piyama yang sama dikenakan oleh Defan. Sementara Defan, asik berselucur pada aplikasi pemesanan makanan online.


"Mau makan apa, Yang?" tanya Defan, masih bolak-balik scroll layar ponsel.


"Terserah abang ajalah! Apa aja aku makan kok!" tutur Dira, lalu menghempaskan tubuh ke atas ranjang sembari memeluk pria yang tengah duduk di samping sibuk menatap layar ponsel.


"Abang bosan makan nasi!" ungkapnya seraya mengelus pucuk kepala Dira.


"Terus mau makan apa, bang?" tanya Dira, menatap lekat suaminya.


"Hmm ... pizza mau nggak?" Defan bertanya dulu sebelum memesan, ia tidak mau nanti makanan jadi terbengkalai karena tidak tersentuh oleh sang istri.


"Mau aja sih! Yaudah pesan aja, bang!" terang Dira, sontak lalu mengecup bibir prianya secepat kilat.


"Yaudah deh, abang pesankan!" Defan memesan sesuai keinginannya.


Pizza, pasta dan chicken wings ia pesan untuk memenuhi makan malam ini. Keduanya melanjutkan pembaringan di atas ranjang, saling memeluk dan mencumbu tanpa adanya harapan penyatuan.


"Apa tadi kata amang sama inang, yang?" lontar Defan, membuka topik pembicaraan sembari menunggu datang pesanan makan malam.


"Loh, katanya besok mau ke rumah orangtuaku?" sela Defan, sedikit mendorong tubuhnya agar bisa melihat wajah sang istri yang bersandar di dada.


"Kan bisa abis dari rumah orangtuaku, baru ke rumah mertua abang sayang!" ucap Dira, lalu menggulum senyum lebar di wajah.


"Oh, iya juga! Yaudah besok kita ke rumah amang dulu baru ke rumah bapak, ya!" Defan menyambar benda kenyal tipis dan sedikit melumattnya lebih dalam.


Ting Tong ...


Suara bel rumah menyita perhatian kedua pasutri itu. "Biar abang aja!" Defan seraya melepaskan lumattan, lalu segera beranjak, mengambil pesanan yang tadi dipesan melalui aplikasi online.


Tak berselang lama, Dira juga ikut beranjak, mengekori suaminya. Menunggu sejenak hingga depan pintu kamar. Lalu, beranjak pergi ke dapur setelah melihat suaminya memboyong karton pembungkus pizza dan beberapa plastik.


Keduanya makan dengan lahap di meja makan. Usai menyantap makanan, mereka beristirahat di ruang keluarga, kemudian berlanjut tidur tanpa mesra-mesraan karena khawatir akan mengundang hal lain, yang membangkitkan gairah suaminya.


...***...


Malam berganti pagi, Dira sudah mulai repot memakai atribut yang akan dikenakan untuk ospek dihari kedua. Tampilannya biasa saja, hanya menggunakan kalung aneh, kaos kaki warna-warni, serta bando yang terbuat dari plastik, dengan rambut kuncir kuda.

__ADS_1


Untuk wajah, dia tetap tak memoles walau hanya make-up tipis. Sebab, seniornya akan meminta make-up tersebut dihapus bila ketahuan memakai riasan wajah.


"Yang, dari kemarin memang polos gitu mukamu?" protes Defan, menatap wajah istrinya dengan lekat, menelisik penampilan Dira yang memang biasa saja.


"Hu'um ... bang! Memang aturan dari sana, anak kedokteran tidak boleh pakai riasan!" ungkap Dira, merapihkan penampilannya.


Dira dan Defan hanya sarapan dengan roti berselai stroberi. Tidak ada sarapan yang istimewa, keduanya sibuk pagi itu mempersiapkan keberangkatan.


"Yang, tolong ambil dasi aku di kamar! Lupa tadi dipasang," titah Defan, masih menyantap rotinya, sedangkan Dira sudah selesai menghabiskan dua helai roti yang dioleskan selai stroberi.


"Iya, bang!" Dira bergegas melaksanakan perintah sang suami.


Walau pria itu asik menyantap sarapan, Dira memasangkan dasi pada leher suaminya. Dengan lihainya Dira memakaikan dasi dalam waktu satu menit.


"Udah pintar, ya, sekarang!" puji Defan seraya mengacak-acak rambut Dira dengan mulut yang terus mengunyah.


"Abang! Ihh ... udah rapih loh kencirannya, jadi berantakan lagi!" Dira sengaja menguncir kuda rambutnya sesuai perintah senior kemarin, sebelum kegiatan ospek dihari pertama dibubarkan.


"Tinggal ikat lagi, gampang, kan!" seloroh Defan, menyepelekan.


Keduanya bersiap-siap berangkat, Dira dan Defan berjalan gontai memasuki lift. Saat pintu terbuka, ternyata ada Angga di dalam lift, penampilannya pun sama dengan Dira.


"Dira? Kau sama—" Angga menutup mulutnya, terkejut melihat kedatangan Dira bersama seorang pria yang ia ketahui menetap tinggal di kondomiun itu.


Dira dan Defan masuk dengan cueknya. Namun, Defan terkejut saat menatap Angga berpenampilan serupa dengan sang istri, seragam putih dan celana bahan hitam, sedangkan Dira yang memakai seragam putih dan rok span hitam.


"Kau kuliah di mana?" cecar Defan, mengajak bicara Angga teman satu SMA Dira.


"Di USU, bang!" ungkap Angga.


"Jurusan apa?"


Dira hanya diam mendengarkan obrolan kedua pria itu. Meski Angga tak menanyakan status Dira bersama suaminya. Tetapi Angga sudah mencurigakan ada hal yang menganjal antara Dira dan pria yang pergi bersamanya pagi ini.


"Kedokteran, bang!"


Defan terdiam, saat mendengarkan jawaban Angga. Sementara, Dira hanya mengatupkan mulutnya, bahkan menutup dengan kedua tangannya. Ia tak tahu kalau Angga satu jurusan dengannya, sebab di hari pertama ospek, Angga tak terlihat dikumpulan para maba.

__ADS_1


__ADS_2