
Dira membuka pintu mobil, dengan cepat ia mengangkat gaun yang ada dikursi belakang Defan dan Dania.
Tampak Defan tidak membantunya, sedangkan Dania hanya memandangi dengan senyum kemenangan karena calon suami Dira membiarkannya mengangkat seorang diri tanpa membantu.
Dira tertatih mengangkat gaun yang cukup berat baginya. Tapi ia juga gengsi jika harus meminta bantuan Defan yang sedang asik berdua dengan sahabatnya.
Setelah berhasil mengangkat gaun tersebut, Dira menutup pintu dengan kencang. Tanpa pamit pada Defan, Dira langsung masuk ke dalam rumahnya. Begitu pula dengan Defan, ia juga tak memanggil Dira untuk berpamitan pergi.
Keduanya saling cuek, mungkin karena kondisi keberadaan Dania saat ini. Seolah-olah mereka malas untuk basa-basi.
Dira sebenarnya memang kesal melihat Defan yang berduaan dengan Dania, sedangkan Defan justru merasa sungkan pada Dira karena telah melihatnya datang bersama sahabatnya.
"Yuk Def jalan," perintah Dania pada Defan yang sedang melihat tubuh Dira semakin menjauh dan berhasil masuk ke rumahnya tanpa melihat Defan.
Defan menginjakkan gas mobilnya, mobil bergerak dengan pelan. Sesuai permintaan Dania, mereka meluncur ke tempat karaoke yang diminta oleh Dania.
Salah satu karoke yang paling besar dan populer di Kota Medan. Tempat itu sebenarnya cukup sering didatangi berdua oleh Defan dan Dania.
Dania yang meminta agar mereka sering kesana untuk membuang pikiran suntuknya. Terutama dikala ia sedang mumet dengan pekerjaannya. Satu-satunya cara untuk membuat pikirannya kembali fresh dengan cara bernyanyi dan berteriak.
Defan memarkirkan mobilnya. Mereka berdua keluar dari mobil sedan audi milik Defan. Tanpa sepatah katapun obrolannya tidak ada yang menyinggung soal sikap Dira tadi.
Kalau Dania lebih memilih tidak membicarakan calon istri Defan. Itu akan membuat moodnya semakin berantakan. Sedangkan Defan memang sengaja tak mau mengingat kejadian tadi.
Mereka berdua asik berkaroke tanpa beban. Berbagai macam lagu pun dinyanyikan. Kebanyakan lagu-lagu batak pilihan yang sedang trend sekarang.
Selama dua jam karoke berlangsung, keduanya di dalam room karoke hanya bernyanyi. Tidak ada obrolan sama sekali.
Setelah selesai dua jam bernyanyi, mood Dania bukannya membaik malah memburuk. Ia tahu kalau pikiran Defan tidak ada bersamanya. Pasti Defan teringat akan sikap dingin Dira tadi.
"Def! Antar aku pulang," pinta Dania dengan ketus. Bukan suntuknya yang berhasil ia buang, melainkan suntuknya malah makin meningkat melihat tingkah Defan.
Tanpa menjawab apapun Defan langsung bergegas menjalankan mobilnya. Tak ada yang keluar dari mulutnya, ia masih saja memikirkan Dira.
Defan tahu kalau Dira tak menyukai Dania. Perempuan yang sering bersamanya. Maka dari itu sikap Dira tadi terlalu dingin. Tidak ada pamitan ataupun ucapan terimakasih pada Defan meski sudah mengantarkan barangnya.
__ADS_1
Defan mengantarkan Dania tepat didepan rumahnya. Dengan cueknya Dania keluar tanpa mengucapkan apapun. Ia kesal melihat Defan yang tampak murung akibat kejadian tadi.
"Aku pulang ya Dania!" ucap Defan basa-basi sebelum Dania masuk ke rumahnya.
Dania mengangguk tanpa berkata. Kemudian masuk ke dalam rumahnya. Akhirnya Defan bergegas pulang. Disepanjang perjalanan ia masih kepikiran pada Dira dan merasa tidak enak hati.
"Apa Dira sebenci itu pada Dania? Bagaimana kalau kami sudah menikah nanti. Haruskah aku memutus hubungan dengan Dania?" batin Defan.
Sampai di rumah, Defan sudah disambut oleh Melva yang penasaran pada hasil pemotretan hari ini.
"Gimana nak tadi pemotretannya? Bagus hasilnya kan?" tanya Melva setelah mengetahui kedatangan putranya. Belum juga Defan duduk, sudah disuguhi pertanyaan oleh sang mama.
"Bagus kali ma. Nanti mama lihat aja. Aku mau ke kamar dulu! Capek!" ucapnya.
**SEMINGGU KEMUDIAN**
Acara yang dinanti-nantikan oleh keluarga besar Tampubolon akhirnya terwujud. Hari ini, hari dimana pesta pernikahan akan dilangsungkan.
Dekor mewah telah terpasang di gedung pernikahan. Dihiasi dengan berbagai foto prewedding mesra milik Dira dan Defan. Gedung itu akan digunakan setelah selesai acara pemberkatan di gereja.
Sebelum mengadakan pernikahan, dua hari sebelumnya Dira sudah menyampaikan izin untuk tidak masuk sekolah selama seminggu. Pesta pernikahan dikalangan orang batak itu akan diadakan selama satu harian.
Jadi Dira terpaksa mengajukan izin sekolah selama seminggu. Selama hari ini ia akan mengadakan pernikahan, sisanya akan dilanjutkan dengan honeymoon yang sudah disiapkan oleh keluarga Defan.
Dira sendiri belum mengetahui kemana tujuan honeymoonnya bersama Defan.
Sejak jam tiga pagi Dira sudah mulai ditata oleh perias. Riasan wajahnya cantik dan tidak menor dan rambutnya disanggul khas untuk acara pernikahan adat batak.
Untuk acara pemberkatan di gereja, Dira menggunakan kebayanya. Yang sudah dijahit. Kebaya sederhana tapi sangat tampil elegan saat digunakan oleh Dira.
Kebaya itu dipadukan dengan rok songket membuat kebaya pengantinnya semakin mewah. Sedangkan Defan memakai setelan jas yang sangat cocok dengan kebaya yang dipakai oleh Dira. Warna senada membuat keduanya semakin serasi.
Acara pemberkatan dilakukan sangat pagi pada jam delapan. Semua keluarga sudah berkumpul di dalam gereja. Mengikuti tata acara pemberkatan yang sudah disiapkan oleh pihak gereja. Dira dan Defan mengucapkan janji suci mereka dihadapan pendetanya serta memasangkan cincin pernikahan di jari manis.
Selesai pemberkatan, Dira kemudian dirias kembali oleh MUA. Makeupnya perlu di touch-up. Masih menggunakan kebaya saat pemberkatan, perias memakaikan perlengkapan aksesoris ulos serta sortali yang diikatkan pada kepala di dahinya.
__ADS_1
Acara pernikahan semakin hikmat karena adanya momen dimana para pengantin saling meminta restu dan maaf pada kedua orangtua mereka. Suara isak tangis terdengar dari keluarga Dira cukup kencang untuk bersiap menerima perpisahan karena Dira telah dipinang oleh suaminya.
Sedangkan di keluarga Defan tampak bahagia menerima menantu barunya. Sesi acara itu berlangsung cukup lama.
Kemudian acara dilanjutkan dengan acara pernikahan adat batak. Defan dan Dira diminta untuk duduk dikursi yang sudah disiapkan, Mereka menerima ulos dari kedua orangtuanya serta sarung yang diberikan oleh orangtua Dira pada Defan sebagai sarung hela. Acara mangulosi juga dilanjutkan oleh keluarga besar.
Seluruh keluarga besar dari keluarga Tampunbolon dan Sinaga berkumpul. Saudara-saudara mereka telah dikabarkan tiga hari sebelum pernikahan.
Semua menyambut pernikahan Defan dan Dira karena itulah yang paling ditunggu-tunggu. Mempertahankan turunan dikeluarga mereka dengan menikahkan anak-anaknya yang saling marpariban.
Dira sangat sedih dengan pernikahannya hari ini, dia sudah resmi menjadi seorang istri sekaligus harus berpisah dengan keluarganya karena harus mengikuti sang suami.
Setelah sesi adat berakhir, Dira dan Defan berlanjut mengganti bajunya. Kali ini resepsi formal diadakan dengan konsep nasional. Mereka menerima tamu dari teman-teman keluarganya masing-masing.
Kali ini Dira yang tampil menawan dan sangat cantik membuat Defan gugup hingga canggung. Kecantikan Dira berhasil membius Defan. Seketika Defan jatuh cinta pada pariban yang sudah resmi ia nikahi.
"Gila!! Cantik kali pun!!!" batin Defan.
Defan terus terpukau dengan kecantikan Dira. Didepan wajahnya kini Dira bukanlah anak gadis yang berusia tujuh belas tahun. Dira tampak dewasa dan menawan. Ia mampu meluluhkan hati dingin milik Defan.
Meski sangat jatuh hati pada kecantikan Dira, Defan tak bisa berkutik. Ia hanya bisa memandang kecantikan Dira tanpa bisa menyentuhnya.
Selama satu harian mengadakan acara pernikahan di gedung, Dira terlihat sangat lelah. Tubuhnya mulai lemas hingga pusing. Selesai acara pernikahan resepsi, acara ternyata belum berakhir.
Acara itu akan kembali dilanjutkan dengan prosesi dialap jual di rumah Defan. Keluarga sudah menunggu kehadiran pengantin baru. Acara ini untuk membawa pengantin wanita ke tempat mempelai pria.
"Bang, aku capek kali ini. Rasanya pusing kaya mau pingsan. Apa boleh istirahat dulu?" tanya Dira yang merasa canggung berada di rumah suaminya.
"Belum bisa. Disini juga masih berlanjut acaranya," jawab Defan.
Baru acara sambutan disampaikan oleh pihak keluarga pengantin pria. Pusing kepala yang dirasakan oleh Dira tidak tertahankan. Padahal baru saja Dira duduk beralaskan tikar, tiba-tiba tubuhnya ambruk karena kelelahan.
Bruukkk!
Suara tubuh Dira terjatuh disamping Defan. Semua mata tertuju pada Dira. Di dalam rumah hanya ada keluarga dari pengantin pria. Sedangkan keluarga Dira sudah kembali ke rumahnya. Prosesi ini memang harus diikuti oleh Dira sebagai rangkaian acara pernikahannya.
__ADS_1