
"Ih, abang terlalu kaku! Kan aku baru belajar, harusnya dituruti ajalah!" timpal Dira, mengernyitkan alis.
Defan kembali menambahkan isi sampanye ke dalam gelas sang istri. Sehingga Dira bergegas meminum dalam satu tegukan.
"Oh, gini rasanya jadi orang dewasa! Enak dan bahagia!" Dira terkekeh seorang diri, rasa pusing mulai kuat terasa mendera di kepala.
"Yang! Astaga!" desah Defan, saat melihat sang istri mulai hilang kesadaran.
Seorang pelayan tiba, membawakan makan yang tertata di troli rak makanan khas milik hotel. Makanan mewah khas italia, menu pertama dihidangkan, dua set gnnochi yang terbuat dari tepung berbentuk pangsit, di dalamnya terisi daging dengan bumbu khas ala italia.
Kemudian, pelayan juga memberikan pizza margherita dibalut keju dan saus khas yang istimewa. Dua air mineral tak lupa dihidangkan, untuk menghilangkan dahaga pasangan itu setelah menyantap menu yang disajikan.
"Silahkan dinikmati, Tuan, Nyonya. Makanan penutup nanti akan kami sajikan kembali," tandas Pelayan, kemudian berlalu pergi.
"Yang, ayo, makan!" titah Defan, menyodorkan makanan agar mulai disentuh oleh Dira.
Dira menyadarkan dirinya, sesekali menggoyangkan kepala agar rasa pusing menghilang. Namun, pusing itu semakin terasa kuat. Buru-buru Dira meneguk air mineral agar efek alkohol memudar.
Namun, usahanya sia-sia. Akhirnya, Dira mengekori suaminya, menyantap pizza margherita, mengambil satu potongan dan melahapnya dengan mulut yang menganga lebar. Keanggunannya seketika sirna di depan mata suaminya.
"Ayang, pelan-pelan makannya!" papar Defan, sedikit berbisik karena ia malu selalu protes terhadap apapun yang dilakukan oleh gadis kecil itu.
Maklum saja, Dira dulunya terbiasa hidup susah. Tak pernah ia berpikir bahwa hidupnya akan berubah derastis. Bisa menikmati makanan mewah di dalam restoran bak sebuah mimpi baginya.
Bahkan, Dira tak pernah belajar tata krama saat berada di meja makan restoran yang mewah ala. Oleh karena itu, ia belum terbiasa dengan table manner ala konglomerat.
"Iya, bang!" Dira mencoba lebih anggun, mengunyah perlahan pizza yang sudah masuk memenuhi mulut.
Setelah mendapatkan teguran untuk kedua kali, Dira akhirnya memiliki kesadaran. Ia melihat cara makan Defan, mengikutinya tanpa diminta, menghabiskan makanan pembuka dari satu potong pizza.
Makanan kedua, Dira menyantap gnnochi. Ia melebarkan serbet di atas pengakuan agar makanan yang terjatuh tidak mengotori dress yang dikenakan.
__ADS_1
Saat merasakan makanan kedua, sangat tak cocok terasa di lidah Dira. Rasa bumbu gnnochi khas italia itu terasa aneh di lidah. Ia hanya mencicipi beberapa sendok, kemudian menyudahi makannya.
"Kok nggak dihabiskan?" tanya Defan, bernada lembut.
"Nggak suka, bang!" Dira meneguk air mineral, lalu menyesap sampanye yang membuatnya semakin ketagihan.
"Yang, jangan banyak-banyak minumnya, nanti teler!" celetuk Defan, menatap lekat sang istri, Dira hanya mengangguk saja sebagai jawaban.
Defan menghabiskan makanan keduanya. Ia sangat menyukai makanan khas itali. Seorang pelayan memastikan kalau Dira dan Defan sudah selesai menyantap menu pembuka dan menu utama yang di sajikan.
Tak berselang lama, seorang pelayan kembali datang mendorong troli makanan. Ia memindahkan makanan penutup, satu potong cake tiramisu serta ice cream gelato yang sangat menggiurkan bagi Dira.
Dira yang melihat dessert telah dihidangkan, langsung menyambar dua menu tersebut. Ia sangat menyukai makanan manis, sama seperti dirinya yang terlihat manis di mata sang suami.
*****
Desman baru saja tiba di rumah. Setelah merebahkan diri di ranjang, masih mengenakan jas yang dipakai sejak pagi tadi. Ia mengambil ponsel di dalam saku, menghubungi istrinya sesuai janji.
"Halo, pak?" sapa Melva, menatap langit-langit kamar. Anggi menoleh, menatap lekat sang mama yang mulai berbincang dengan sang bapak.
"Ada perlu apa tadi mama nelepon?" sambung Desman, memijit keningnya lantaran merasa lelah.
"Mau nanya kabar bapak saja! Hari minggu mama pulang, pak! Jemput di bandara, ya! Sudah nggak betah mama tinggal di sini!" keluh Melva, ia dan putri bungsunya saling menatap.
Anggi tiba-tiba merenggut ponsel genggam sang mama. "Pak, Anggi rindu!" ujar Anggi sedikit berteriak.
"Nggi, kayak mana kuliahmu? Udah banyak kawanmu di sana? Bisanya kau bergaul? Jangan sampai kau dibully karena berasal dari kampung!" cecar Desman, menasihati sang putri bungsu.
"Tenanglah bapak, banyak juga kawanku dari medan. Bisa kuimbangi orang itu semua!" sahut Anggi, dengan nada angkuh.
"Patenlah, selesaikan kuliahmu di sana! Jangan ikuti pergaulan bebas, mamamu bentar lagi pulang. Ingat, belajar yang benar biar bisa kau seperti bapak!" terang Desman, melontarkan wejangan agar Anggi tak berbuat semaunya.
__ADS_1
"Iya, pak! Comel kalipun!" Anggi memberikan ponsel itu pada sang mama, telinganya terasa gatal setelah mendapat nasihat dari sang bapak.
"Halo, pak!" tukas Melva, menunggu jawaban sang suami yang sejak tadi dinantikan.
"Iya, ma! Hari minggu bapak jemput. Rindu, ya?" goda Desman, tersenyum-senyum sendiri.
"Rindulah, pak! Jangan gatal bapak di sana! Nanti malah main api pulak!" desah Melva, mencebikkan bibir, meracau yang aneh-aneh.
"Halah ... udah tua begini, mana ada lagi gairah bapak!" kilah Desman, terkekeh geli mendengar ucapan sang istri.
"Ya, mana mama tahulah! Nggak ada yang pantau bapak di sana! Awas bapak kalau berani berselingkuh!" cerocos Melva, walau hanya sekedar bercanda.
"Haha! Ada-ada saja mama! Yasudahlah, sehat-sehat di sana, bapak mau istirahat dulu," pungkas Desman, mematikan sambungan telepon lantaran merasa sudah selesai berbicara.
***
"Apanya mama ini, malah marah-marahi bapak, kalau mau selingkuh dia, pasti sudah dari dulu!" protes Anggi, tak suka mendengar ocehan sang mama walau hanya sekedar bercanda.
"Cuma bercanda mama, udah biasa itu bapakmu!" tampik Melva, menatap lekat siapudannya sembari mengelus rambut yang terurai di ranjang.
Melva kemudian mempertanyakan kehidupan Anggi selama di kampus. Ia tak mau mengkhawatirkan anaknya ketika pulang nanti.
"Jadi betul kau bisa mengikuti perkuliahan? Benar-benar ada yang mau berteman samamu kan?" cetus Melva, sembari mengelus pucuk kepala Anggi.
"Iya, loh mam! Bisa, kayak gitu doang masa nggak bisa. Kehidupan kampus sama sekolahku yang dulu tidak jauh berbeda lah!" singgung Anggi, menyengir kuda.
"Syukurlah kalau begitu jadi mama nggak perlu khawatir!" imbuh Melva, merasa lega setelah mendapatkan pengakuan Anggi.
"Sulit nggak kuliah di sana?" cecarnya lagi.
"Nggak tahulah, mak! Masih ospek, belum ada pembelajaran! Minggu ini selesai ospek, kalau mau mamak nunggu sampai aku mengikuti kelas perkuliahan, nanti aku ceritakan," ungkap Anggi, memicingkan mata.
__ADS_1
Sontak, Melva langsung menggeleng, sudah cukup baginya dua minggu berada di daerah orang. Tinggal berdua tanpa mengenal orang lain. Kegiatan yang dilakukan pun itu-itu saja, membuat jengah dan suntuk.