
Dia yang pertama membuatku cinta
Dia juga yang pertama membuatku kecewa
Kamu yang pertama menyembuhkan luka
Tak ingin lagi ku mengulang keliru akan cinta
Jadi kisah yang sempurna
Tenggelam, jiwaku dalam angan
Tak kulihat lagi cahaya cinta
Dan kamu hadir coba bawa bahagia
Ketika ku masih mati rasa
Kar'na
Dia yang pertama membuatku cinta
Dia juga yang pertama membuatku kecewa
Kamu yang pertama menyembuhkan luka
Tak ingin lagi ku mengulang keliru akan cinta
Jadi kisah yang sempurna, wo-oh
Tuhan, yakinkan cinta ini, wo-oh-oh
Hati yang terkunci, terbuka kembali
Mahalini—Kisah Sempurna ....
"Nggak mungkin lagu untuk bang defan itu kan, Dir!" sindir Shinta, terkekeh melihat duet maut serta mendengar suara datar Jenny dan Dira.
"Ah ... karena enak aja lagunya itu!" sahut Dira, memberikan mic pada Shinta karena giliran dia yang akan bernyanyi.
Shinta memencet tombol remot dengan cepat. Lagu "Cinta Beda Agama" menjadi targetnya untuk bernyanyi.
Sekarang dan selamanya
Beta yakin cuma ale
Yang terbaik
Paling terbaik
Cinta su di tengah jalan
Seng mungkin beta akhiri
Hubungan ini
Tuan jantong hati (Shinta sengaja mengganti kata nona menjadi tuan)
Biar orang tau katong berbeda sayang
Tapi beta tetap cinta
Walau beda agama
__ADS_1
"Huuuuu! Belum move on!" teriak Jenny, menaik-turunkan alisnya.
Shinta tak peduli dengan gurauan temannya, ia tetap menyanyikan lagu yang mengisi hatinya.
Terserah dong semua
Mo bilang apa di balakang
Beta seng paduli
Beta tetap cinta
Tuan par beta se anugerah
Dari Yang Kuasa
Percaya beda keyakinan
Tapi se takdir for beta
Doa par tuan tulus suci
Mau sehidup semati
Katong pung cinta
Satukan perbedaan
Sekarang dan selamanya
Beta yakin cuma ale
Yang terbaik
Paling terbaik
"Ciee, belum move on kau sama si Panja, kan?" seloroh Carol, membuat lengkungan tipis di sudut bibir.
"Udahlah! Aku sekarang ada gebetan baru kok! Anak seangkatan kita," ujar Shinta, ketiganya pun makin penasaran dengan sosok lelaki itu.
"Siapa lagi itu, Shin? Cowok kaya raya seperti yang kau mau?" ledek Jenny, mengerlingkan mata.
"Nggak tahu sih kaya apa engga. Baru kenalan aja," sahut Shinta datar, kembali lagi duduk di sofa.
Carol mengambil alih lagi micnya, ia mulai menyanyi. Tak ada rasa lelah baginya jika sudah berada di ruang karaoke. Tak berselang lama, seorang pelayan membawakan minuman pesanan Dira.
Dua jam berlalu, waktu karaoke itupun telah habis. Keempat wanita itu keluar dari ruangan. Saat Dira mencari ponselnya, ia baru ingat kalau ponsel itu tertinggal di atas meja.
"We, bentar! Ponselku ketinggalan di meja." Dira berlari masuk ke dalam ruangan, untung saja pelayan yang membersihkan ruangan tahu maksud kedatangan Dira.
Sebelumnya, pelayan itu sudah menyimpankan ponsel tersebut. "Kak, cari ini?" ujar seorang Pelayan, menunjukkan ponsel Dira.
"Iya, bang! Makasih, ya!" jawab Dira, sembari mengambil ponsel itu dari genggaman seorang pelayan.
Dira yang tak tega melihat pelayan jujur seperti itu, ia memberikan tips sebuah lembaran merah untuk sang pelayan.
"Ini untuk abang, terima kasih loh!" lanjut Dira lagi, kemudian berlalu pergi.
"Makasih kak!" Pelayan itu berteriak, lalu melambaikan tangan pada Dira.
****
"Ketemu?" tanya Carol, duduk di ruang tunggu bersama dua teman lainnya.
__ADS_1
"Ketemu kok!" Dira berjalan mendekati ketiga temannya, sembari mengecek notifikasi pada layar ponsel.
Dira pun terkejut saat melihat ada tiga panggilan tidak terjawab dari suaminya. Dari sejak dua jam yang lalu, saat mereka sudah masuk ke dalam ruangan karaoke.
"Mampus aku, ada telepon dari suamiku ternyata!" lirih Dira, berjalan beriringan bersama tiga temannya.
"Telepon baliklah!" sahut Jenny.
"Hu'uh, nanti khawatir abang itu," tambah Shinta.
Ketiganya berjalan menyusuri mall, sekaligus Dira menelepon kembali suaminya. Tidak ada pesan yang tertinggal dalam ponsel itu, Dira jadi penasaran apa alasan suaminya menghubungi.
****
Defan tetap sibuk dengan pekerjaan. Sesekali ia menatap ponsel, ingin mengetahui kabar dari sang istri, sebab tak kunjung menjawab panggilan dari teleponnya.
Saat ponsel itu ditatap intens olehnya, tiba-tiba ponsel bergetar.
Drrt ... drtt ...
Dengan sigap, Defan meraih ponsel itu. Menjawab panggilan yang tak lain adalah dari orang yang dinantikan sejak tadi
"Halo, Yang. Sudah di mana? Kok nggak ada kabar?" ucap Defan, dengan pertanyaan beruntun.
"Maaf, bang, aku sudah di mall. Tadi keasikan main sama teman-teman. Nggak dengar suara panggilan telepon abang," kilah Dira, seraya berjalan mendekati satu butik bersama sahabatnya.
"Abang khawatir, dari tadi nggak ngabarin kalau sudah sampai di mall. Ingat pulangnya jangan malam-malam. Pokoknya sebelum abang pulang, kau sudah di rumah!" tandas Defan, mengingatkan istrinya.
"Iya, suamiku! Emang abang pulang jam berapa? Kok bawel kali sih!" sungut Dira, terlalu merasa dikekang oleh suami sendiri.
"Biasa, abang pulang jam 5 sore kok!" jawab Defan, seraya menyandarkan kepala di kursi kebesarannya.
Sementara Juni, hanya menatap bosnya yang sedang asik bertelepon. Bahkan, ia juga menguping pembicaraan Defan bersama sang istri meskipun pura-pura sambil sibuk bekerja.
"Oh ... yaudah abang susul aku aja sih ke sini nanti!" tawar Dira, agar bisa menongkrong dengan ketiga temannya lebih lama lagi.
"Ehmm ... yaudah nanti kabari saja. Kalau jadi abang ke sana! Udah, ya! Abang mau kerja lagi. Love you!" jelas Defan, menunggu jawaban terakhir dari istrinya.
"Love you too," balas Dira, lalu mematikan sambungan telepon itu.
"Kenapa, Jun?" tanya Defan, saat mendapati Juni tengah menatapnya dengan tatapan yang aneh.
"Nggak apa-apa, pak! Bapak so sweet juga!" oceh Juni.
"Hah? Apa maksudmu?" cecar Defan, mengerutkan keningnya.
Juni hanya terpaku menatap bos keren yang ada di depan matanya. Ia pun tersadar saat bosnya itu tidak mengerti apa maksud ucapannya tadi.
"Hehe ... enggak, pak! Lanjut kerja lagi," balas Juni, mengalihkan pandangannya menatap berkas yang ada di meja kerja.
*****
"Kau suruh suamimu ke sini?" tanya Carol, berjalan menyusuri butik yang didatangi karena ingin melihat-lihat baju di dalamnya.
"Iya, abis bawel kali. Masa aku disuruh pulang sebelum jam lima!" gerutu Dira, tapi pakaian yang terpajang, merubah moodnya seketika. Membuatnya semakin senang untuk dicoba.
"Yah, nggak serulah! Bang Defan itu udah kayak bodyguard aja! Ke mana-mana harus buntuti istrinya," ejek Shinta, mengernyitkan alisnya.
"Ho'oh, suka kali ganggu quality time istrinya," sahut Jenny.
"Namanya juga seorang suami, dia hanya khawatir kok." Dira mengambil beberapa baju yang dipajang untuk dicoba ke kamar ganti.
"Terlalu over protektif!" cibir Carol, meski hanya bercanda.
__ADS_1
"Eits ... nggak gitu, ya!" Dira menutup bibir Carol dengan telunjuk.