Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
dosen gila


__ADS_3

Akhirnya Rosma merapikan semua barang-barang yang ada, ia menyapu dan membersihkan rumah. Tidak hanya ruang tamu, ruang keluarga bahkan dapur tetapi semua kamar pun berantakan bahkan spreinya hingga terlepas dari ranjang.


"Inilah nggak enaknya kalau punya anak laki-laki semua, nggak ada satupun yang bisa disuruh membersihkan rumah. Saat ditinggalkan malah jadi kayak kapal pecah!" gumam Rosma, merasa berang pada anak-anaknya yang memberantakkan rumah.


****


Selama beberapa hari terakhir, Anggi sangat hectic dengan tugas kuliah. Bahkan ia tak sempat untuk melakukan apapun, jangankan untuk bersenang-senang sendiri, untuk berkumpul dengan teman-temannya saja tidak bisa.


Pagi ini, seperti biasa Anggi pergi buru-buru ke kampus meskipun ia masuk jam 9 pagi. Semenjak tinggal di ibu kota, Anggi tak bisa berleha-leha sebelum berangkat, ia harus menempuh kemacetan ibu kota dan berperang melawan kendaraan yang melintas dengan kendaraan andalannya yaitu ojek online.


Sementara, yang mengajar pagi ini adalah dosen killer, Jaki Ananda yang selalu menyorot Anggi dengan tajam dan memberikannya setumpuk tugas.


Saat Anggi berlari menyusuri lorong kampus, tiba-tiba ia menabrak tubuh seorang laki-laki yang gagah dari belakang.


bugh!!


Tubuh Anggi bersinggungan dengan bahu Jaki Ananda.


"Maaf-maaf!" kata Anggi seraya berkali-kali menunduk tanpa melihat wajah orang itu.


Ini adalah kejadian kedua kali yang dilakukan oleh Anggi karena telah menabrak sang dosen.


"Maaf, aku tidak sengaja!" lirih Anggi.


Jaki Ananda malah terdiam terpaku berdiri menatap Anggi yang tiba-tiba berada di depannya. Jaki tak menyangka kalau perempuan itu akannbertemu dengannya pagi-pagi seperti ini, sebelum kelasbdimulai.


Anggi tadi berlari-lari karena ia tak ingin terlambat memasuki kelas karena saat itu sudah kurang dari 5 menit. Ia tahu kalau dosen killer —Jaki sangat tidak menyukai mahasiswa yang terlambat datang. Bahkan ia tak mentolerir siapapun jika kedapatan terlambat, tak segan-segan Jaki akan memerintahkan untuk keluar dari dalam ruangan.


"Maafkan saya!" ucap Anggi sekali lagi dengan patuh menunduk.


Mendengar suara yang tidak asing di telinganya, Jaki pun menoleh menatap perempuan itu.

__ADS_1


"Maaf?" lirih Jaki.


Sama halnya dengan Anggi, saat menundukkan kepala dan menangkap suara ucapan Jaki, sontak Anggi menengadahkan kepala menatap pria yang menyorot maniknya dengan tajam bak tatapan elang.


Anggi hanya menatap pria itu dengan tatapan nanar. Ternyata, tebakannya benar kalau pria yang ditabrak adalah seorang dosen killer yang tak disukainya.


"Sial! Mimpi apa aku semalam, pagi-pagi gini nabrak dosen killer!" seloroh Anggi dengan lirih.


Anggi hanya terdiam kaku menatap dingin pria yang tengah menatapnya dengan sangat tajam.


"Kok diam, bukannya minta maaf lagi?" tutur Jaki, dengan nada sedikit ketus, ingin mengerjai mahasiswinya.


"I–iya, Pak ... saya minta maaf, nggak sengaja menabrak Bapak karena buru-buru!" balas Anggi dengan terbata-bata.


Anggi juga menunduk berkali-kali sebagai permohonan permintaan maafnya.


"Baiklah, agar saya memaafkan kamu, nanti siang kamu harus mau makan siang dengan di ruangan saya!" ucap Jaki secara frontal dan tiba-tiba, membuat Anggi terkejut bukan kepalang


"Masa kamu nggak ngerti apa yang saya ucap! Kalau mau dimaafkan, kamu harus mau makan siang dengan saya!" tegas Jaki, penuh penekanan agar Anggi tak bertanya lagi.


"Kenapa harus makan siang?" tanya Anggi spontan, karena ia tak menyangka bisa mendapatkan respon seperti ini dari sang dosen.


Anggi memang kerap melihat Jaki seolah-olah mendekatinya, meski dirinya selalu menghindar.


"Ya, terserah sih kalau mau dimaafin atau enggak. Kalau mau dimaafkan maka kamu harus ke ruangan saya saat jam makan siang atau kamu mau diberikan setumpuk tugas!Kalau begitu, saya pamit dulu!" Jaki melangkahkan kakinya, berlalu dari tempat itu.


Jaki sengaja memperlambat jalannya agar Anggi benar-benar tersadar kalau yang mengajar di kelas adalah dirinya.


"Astaga, mikir apa aku, nanti saja lah dipikirkan!" Anggi pun langsung berlari kencang melintasi dosennya.


Pria itu hanya tersenyum tipis dan menggeleng-gelengkan kepala saat melihat mahasiswinya berlari-lari tanpa henti, bahkan tak menolehnya sedikitpun.

__ADS_1


"Dasar Anggi ... Anggi ... kau lucu sekali!" batin Jaki Ananda, memang ia sudah kepincut pada perempuan yang polos dan gila belajar itu.


Apalagi, Anggi memiliki kepintaran yang luar biasa, selalu mendapatkan nilai yang bagus dan tidak pernah telat mengumpulkan tugas.


Pokoknya bagaimanapun caranya aku harus bisa mendekatinya!


Jaki bergumam seorang diri saat larut dalam pikirannya.


Di sisi lain, Anggi langsung duduk dengan nafas yang terenggal-enggal. Ia berusaha mengeluarkan nafas dan menariknya dengan pelan agar nafasnya berpacu dengan normal.


"Selamat pagi!" ucap Jaki Ananda, seluruh mahasiswa yang sudah duduk dengan rapi di kursi masing-masing menyahut sapaan yang diberikan sang dosen.


"Pagi, Pak!" jawab mahasiswa dengan kompak.


"Hari ini saya mau mengadakan ujian dadakan, siapapun yang gak belajar jangan harap bisa mendapatkan nilai bagus. Dan kalau nilainya jelek, pekan depan akan dapat tugas tambahan dari saya!" papar Jaki.


Semua orang-orang berteriak merutukki tingkah dosennya yang memang sangat gila. Dosen killer itu sangat senang memberikan kejutan dadakan pada seluruh mahasiswa, baik tugas, kuis, ujian ataupun yang lainnya.


Entah mengapa, Jaki sangat suka menguji kemampuan mahasiswa yang sudah berhasil lolos masuk di Universitas nomor 1 di negeri ini.


"Kenapa mau protes? Yang mau protes keluar saja, langsung saya kasih nilai nol!" Jaki tak mau mengambil pusing jika ada mahasiswa yang berontak terhadap apa yang diajarkannya.


Seluruh mahasiswa pun tampak bungkam saat ditantang seperti itu. Tak ada satupun yang berani menyanggah perkataan sang dosen, semuanya diam tertunduk dan menunggu aba-aba dari sang dosen untuk menyampaikan soal ujian yang akan dilaksanakan hari ini.


"Dosen gila!" batin Anggi seraya memaki tingkah gila Jaki Ananda.


Jaki tidak hanya killer tapi ia memang bersikap dingin, ketus dan sangat suka menjahili para mahasiswa. Namun berbeda saat ia berada di dekat Anggi, entah mengapa hatinya seakan melemah dan luluh pada perempuan itu.


Tak hanya itu, Jaki juga selalu mengalah pada Anggi, contohnya seperti pagi ini, ia sengaja memperlambat jalannya agar Anggi segera masuk ke dalam ruangan.


Sayangnya Anggi tidak menyadari semua yang sudah dilakukan oleh Jaki padanya. Namun, baru hari ini Anggi menyadari sesuatu yang berbeda pada Jaki terutama saat laki-laki itu mengharuskannya untuk makan siang bersama.

__ADS_1


"Masa aku harus makan siang sama dosen gila macam dia sih!" racau Anggi, berkali-kali melirik Jaki yang sibuk mengawasi seluruh mahasiswa.


__ADS_2