
Juni menatap lekat berkas yang ada di tangan, kemudian ia larut dalam membaca berkas tersebut. Kasus itu memang cukup menyita perhatian, sebenarnya jika Defan mengambil kasus itu justru popularitas Defan akan semakin meningkat.
Sebab kasus ini adalah berurusan dengan seorang artis yang terkenal yakni kasus penipuan yang menjerat seorang sosialita dengan kalangan artis.
"Pak, bagus sekali ini kasusnya. Kenapa nggak Bapak ambil aja, justru bapak akan sering tampil di TV," sosor Juni setelah membaca secara menyeluruh kasus itu.
Sebenarnya Defan memang awalnya merasa tertarik tapi dia masih bimbang untuk mengambil kasus itu atau tidak. "Menurut saya juga awalnya begitu, kayaknya menarik juga ini kasus karena tentang penipuan yang menjerat sosialita dan artis," jawab Defan, seraya menoleh wajah Juni.
"Yaudah, ambil aja, Pak supaya bapak sering tampil di TV loh. Soalnya ini kan terkait dengan artis terkenal," jelas Juni.
Defan pun semakin yakin, lalu ia memerintahkan Juni untuk menghubungi kliennya untuk memberi kabar kalau ia akan menyetujui memenangkan kasus yang menimpa kliennya.
Kali ini,!klien Defan adalah seorang sosialita dan tersangka yang akan terjerat kasusnya adalah seorang artis tersebut. Hal ini bermula pada sosok seorang sosialita yang diiming-imingi investasi akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar dengan hasil produksi album yang akan dikeluarkan oleh artis tersebut.
Memang tak sedikit para artis yang sengaja memberikan peluang usaha bisnis pada teman-temannya dengan daya tarik bahwa mereka akan diberikan keuntungan hingga 3 kali lipat. Oleh karena itu, klien Defan yang bernama Tamara pun akhirnya menyetujui untuk berinvestasi dalam produksi almbunya.
Anehnya, album itu tak kunjung di produksi, hingga berakhir dengan klien Defan lah mengajukan gugatan pada artis tersebut. Ia merasa dirugikan dengan uang sebesar 500 juta untuk pembuatan album.
Juni pun menghubungi Tamara, ia memberi kabar pada sosialita itu bahwa kasusnya sudah diterima oleh pengacara Defan Sinaga.
"Selamat pagi bu, saya dari S.N.G Lawfirm mau mengabarkan bahwa kasus Ibu telah diterima dan akan segera ditindaklanjuti oleh firma hukum kami," terang Juni, melalui sambungan telepon.
__ADS_1
"Iya, saya sudah menunggu lama loh, karena hingga beberapa minggu ini tidak ada kabar dari firma hukum itu, saya sangat senang kalau akhirnya pak Defan mau menerima penanganan kasus saya," ucap Tamara melalui sambungan telepon tersebut.
"Ya, Bu maaf menunggu lama, Pak Defan baru melihat berkasnya dan mulai mempelajari kasus itu. Sebentar lagi Ibu juga akan dipanggil untuk menemui Pak Defan sekaligus membawa bukti-bukti yang Ibu miliki," tambah Juni.
"Terima kasih, Bu kalau begitu nanti tolong kabari saya, bukti-bukti apa saja yang perlu disiapkan," balas Tamara, lalu sambungan telepon itu pun terputus setelah Juni menjawab dan mengiyakannya.
Defan memerintahkan pada Juni agar nantinya mengabari lagi pada Tamara untuk menyiapkan seluruh barang bukti hingga berkas perkara dilengkapi, agar ia bisa memenangkan kasus tersebut. Sebenarnya kasus itu menurutnya sangat gampang selama bukti sangat mendukung, apalagi ini berkaitan dengan seorang artis yang tidak ingin namanya tercemar dengan rumor kasus penipuan.
****
Sahat dan Rosma kembali ke rumah, mereka membawa beberapa beberapa barang belanjaan yang bisa dibawa sendiri, beberapa jajanan anak-anak yang nantinya akan dipajang di dalam rumah. Kemudian untuk bahan sembako, mereka tinggal menunggu di rumah saja karena semuanya akan diantarkan langsung oleh pihak grosiran.
Di rumah, Sahat tampak sibuk mulai merapikan ruang tamu yang akan dijadikan sebagai tempat warung untuk usaha baru mereka. Ruangan itu memang sangat cocok digunakan sebagai tempat jualan karena mereka memiliki jendela yang sangat lebar dan jendelanya itu gampang diangkat ke atas.
Beruntung rumah masih sepi, keempat anak lelaki Sahat tengah bersekolah, sedangkan anak bungsunya dititipkan ke tetangga. Rosma pun langsung menjemput anaknya setelah sampai di rumah.
Karena ia tak ingin membuat anak kecil yang berusia 5 tahun itu kerepotan untuk dibonceng maka akhirnya Rosma memutuskan untuk menitipkan pada tetangga. Kerena akan sulit membawa anak bungsunya bila barang bawaan mereka yang diangkut dalam kendaraan sangat banyak.
"Bentar aku ambil sipudan kita dulu," ucap Rosma, sementara Sahat masih sibuk untuk mengeluarkan semua barang-barang yang ada di ruang tamu.
Rosma langsung menyambangi rumah tetangganya, sebagai tanda terima kasih Rosma memberikan kue yang tadinya dibeli di pasar karena tetangganya itu sangat baik hati, apapun yang mereka lakukan tetangganya selalu membantu.
__ADS_1
"Ini ada sedikit oleh-oleh tadi habis dari pajak kami, makasih lah, Eda udah jaga siapudan kami," tutur Rosma, saat sudah meraih tangan anaknya dari genggaman tangan tetangganya.
"Iya nggak papa, Eda," kata perempuan itu seraya meraih bungkusan plastik yang sudah diberikan oleh Rosma.
Rosma pun berlalu pergi bersama anak siapudannya untuk pulang ke rumah, kemudian ia membiarkan anak itu bermain seorang diri di dalam rumah. Sementara dirinya dan suaminya tengah sibuk membereskan barang-barang yang ada di ruang tamu, beberapa barang sudah berhasil dipindahkan hanya tinggal merapikan tempat-tempat tersebut. Masih tersisa lemari yang sengaja dibiarkan berada di sana, karena akan digunakan sebagai rak untuk penyimpanan bahan-bahan jualan.
Tam berselang lama, beberapa mobil pick up sudah memasuki halaman mereka, membawa seluruh hasil belanjaan Sahat dan Rosma. Sepasang suami istri itu langsung berlari ke halaman rumah untuk menjemput hasil belanjaan mereka.
Beberapa karung goni beras sudah diturunkan dan serta bahan-bahan baku lainnya seperti gula, minyak, mie instant dan yang lainnya.
Kemudian, Sahat meminta agar para kenek itu mengangkut semua barang dan memasukkan ke dalam rumah agar nantinya dengan gampang menatanya kembali lalu ke berbagai tempat.
Setelah semua dimasukkan ke dalam rumah, para kenek dan supir itu berpamit pergi.
"Banyak juga belanjaan kita, Pak ternyata bisa penuh lah rumah ini," seloroh Rosma seraya mengedarkan pandangan dan rumah itu sudah terasa sempit karena banyak barang yang sudah menghimpit ruangan.
"Iya, habis berapa tadi uang belanjaan kita itu?" sambar Sahat penasaran.
"Habis udah 40 juta, tinggal sisa 10 juta lagi untuk nambah-nambah apa-apa saja yang kurang," imbuh Rosma seraya mengangkat tangan dengan uang yang tersisa di dalam amplop coklat.
Keduanya mulai membenahi barang-barang dan menyusunnya di dalam rak, sementara beras-beras dimasukkan ke dalam peti yang tadinya sudah dipinta oleh Rosma kepada pemilik grosir.
__ADS_1
Untung pemilik grosir beras itu sangat baik, mau memberikan peti itu karena Rosma sudah berbelanja sangat banyak untuk keperluan usaha warung sembako baru mereka.