Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
satu ronde lagi


__ADS_3

Setelah malam penyatuan, Dira tiba-tiba merasakan mual yang begitu hebat. Tak hanya itu, kepalanya bahkan merasakan pusing tak terhingga. Masih dengan posisi rebahan di atas ranjang, Dira mencoba mengeluarkan isi perut tetapi tak ada yang keluar.


"Sayang, kau nggak apa-apa?" tanya Defan seraya menggosok-gosok punggung sang istri.


"Nggak tahu juga aku bang, kok rasanya mual kali. Padahal satu hari ini udah enak aja tubuh ini. Apa masuk angin, ya? Karena enak-enak malam ini?" Dira menyengir kuda.


"Ah, masa sih, cuma bentar doang udah masuk angin," kilah Defan.


Dira berlari ke kamar mandi tanpa berbalut busana, sekaligus ia ingin membersihkan sisa penyatuan mereka.


"Huek ... huek ..." teriak Dira saat mencoba memuntahkan isi perut.


Sayangnya, tidak ada yang keluar, akhirnya ia berlanjut untuk membersihkan diri. Defan langsung mengejar kepergian sang istri. Ia merasa tak tega setelah menyetubuhi perempuan itu dengan keadaan yang tidak sehat.


"Sayang, sini abang bantu!" Defan membasuh area kepunyaan Dira.


Dengan cekatan, ia buru-buru membersihkan agar Dira bisa segera beristirahat. Setelah membersihkan milik istrinya, ia juga langsung membersihkan dirinya. Lalu, menggendong Dira begitu mesra.


"Abang, kepala aku pusing," keluh Dira sembari memegangi keningnya.


"Iya, sayang, nanti abang bantu pijitin. Mau dipakaikan baju?" tawar Defan dengan khawatir.


Dira hanya mengangguk, menyetujui tawaran sang suami. Setelah merengkuh tubuh Dira, membawanya ke atas ranjang, merebahkan dengan lembut, lalu Defan mengambil baju yang sudah berserakan di atas lantai.


Ia memakai bajunya lebih dulu, kemudian berlanjut memakaikan baju Dira. Tak berselang lama, Defan juga menggosok-gosok punggung Dira menggunakan minyak kayu putih.


Seketika tubuh wanita itu menghangat, sendawa ia keluarkan saat mendapatkan pijitan dari sang suami. "Bang, kepalanya pusing," rengek Dira, dengan manja.


"Iya, sayang." Defan beralih memijit dahi Dira. Perlahan-lahan, lalu menciumi leher jenjang itu dari sisi samping sembari memijit.


"Abang, bisa gitu, ya! Lagi mijit aja, sempat-sempatnya cium-cium leher aku," desah Dira merasa kegelian dengan tingkah sang suami.


"Hehe, cuma cium aja kok, nggak lebih." Defan terus memijit dahi Dira sampai ia merasa lebih enak dan rasa pusing sedikit menghilang.


"Gimana, sayang? Udah enakan belum?" kata Defan, menghentikan pijitan karena tangannya merasa lelah.


"Hu'um, udah enak kok, bang!" Dira menarik selimut, lalu merebahkan diri di ranjang setelah merubah posisi duduk saat dipijit oleh Defan.

__ADS_1


Defan memeluk gadis kecil itu, menghangatkan dengan dekapan. "Maafin, abang, ya!" ucapnya penuh penyesalan.


"Maaf kenapa, bang?" Dira mendongak ke atas, menatap pria yang tengah mendekapnya.


"Iya, gara-gara abang minta itu, kau jadi masuk angin," tutur Defan.


"Kayaknya bukan karena itulah, bang. Mungkin aja karena seharian aku capek juga," jawab Dira santai.


"Masa sih? Perasaan kita cuma jalan-jalan aja sehari ini!" Defan tampak memikirkan kegiatan mereka.


"Hehe, udah abang nggak usah khawatir! Aku nggak kenapa-napa kok! Ayo, tidur!" ajak Dira, mulai memejamkan mata.


"Beneran nggak apa-apa? Satu ronde lagi dong," bisik Defan dengan wajah memelas.


"Hah?" Dira kembali mendongakkan kepala agar bisa saling menatap.


"Abang, masih pengen nih!" desah Defan, mengerlingkan mata, menggoda sang istri.


"Udah tengah malam loh bang, baru juga 10 menit yang lalu gituan!" Dira menggeleng-gelengkan kepala, tak mampu memenuhi keinginan pria itu.


"Pleasee, sayang! Biar bayi kita cepat datang, tumbuh dan berkembang." Defan tersenyum lebar.


Defan awalnya masih ragu menyentuh istrinya untuk kedua kali. Namun, rasa dingin yang menyerang membuat tubuh semakin kaku. Ia pun hanya memeluk tubuh Dira, mendekap penuh kelembutan.


Lalu, meraih leher Dira, menutup leher jenjang dengan kedua tangannya. Tak lama, Defan mulai melumatt bibir tipis sang istri dengan lembut, menjelajahi rongga mulutnya, bertukar saliva bahkan dengan lidah saling melilit.


Setelah tak tahan dengan gairah yang terus meningkat, keduanya melakukan penyatuan untuk kedua kalinya. Defan yang mendominasi dengan posisi diatas membuat Dira semakin ketagihan.


Suaminya sangat lihai untuk memuaskan hawa nafsunya di ranjang. Kebanyakan, para wanita berpura-pura menikmati hubungan intim yang dilakukan bersama pasangannya, lain hal dengan Dira.


Ia benar-benar terpuaskan untuk kedua kalinya, mencapai puncak kenikmatan sehingga menjadi candu yang luar biasa akibat sentuhan-sentuhan yang dilayangkan oleh suaminya.


"Ayang, biar abang yang bersihin lagi." Defan kembali menggendong istrinya sangat hati-hati agar tak terjatuh.


Dira hanya mengangguk patuh, tubuhnya terasa begitu lelah. Setelah langsung membersihkan sisa yang menempel disekitar area kepemilikan mereka, keduanya langsung tidur dengan tubuh yang melemas.


"Selamat tidur, sayang!" Defan mengecup kening Dira dengan sangat mesra.

__ADS_1


Tak mau kalah, Dira juga membalas kecupan itu langsung pada bibir Defan. Defan hanya tersenyum-senyum kecil, istrinya sangat perhatian.


*******


Pagi hari saat berada di Danau Toba dengan hawa yang sangat dingin. Jenny, Carol, dan Shinta tengah menikmati pemandangan Danau Toba dari balkon. Mereka belum melihat tanda-tanda kedatangan Defan dan Dira.


Pagi itu, tepatnya pukul 7 pagi, ketiga sahabat Dira langsung sarapan. Kebetulan sekali, sarapan langsung diantarkan oleh pelayan ke vila mereka. Sesuai dengan request Defan saat mereka chek in kemarin.


Sarapan sederhana, nasi goreng serta roti menemani mereka pagi itu seraya bergosip ria.


"Eh, ke mana si Dira? Tumben pagi-pagi belum keliatan?" celetuk Shinta saat masih menyantap nasi goreng dari piring.


"Palingan abis begadang," imbuh Jenny antusias.


"Begadang ngapain? Kita semua juga begadang semalam," tambah Carol, yang polos.


"Ya, begadangnya lanjut lagilah pas di kamar," kekeh Jenny tertawa kecil.


"Apa sih maksudmu?" sambar Shinta yang tak mengerti apa yang tengah dibicarakan oleh Jenny.


"Pagi-pagi masih belum sadar, ya, kelen." Jenny mengerling sembari tertawa.


"Apa sih?" gerutu Carol kenatap ke arah Shinta.


"Itu loh." Jenny mempertemukan jari telunjuk kanan dan telunjuk kirinya, sebagai kode apa yang telah dilakukan oleh pasutri tersebut.


"To the point napa sih, Jen!" cecar Shinta yang masih kebingungan, entah sangat polos atau memang belum sadar.


"Anu-anu itu loh! Mereka kan lagi liburan, masa nggak anu-anu," timpal Jenny geram.


"Oooo!" seru kedua wanita itu dengan kompak, lalu tiba-tiba mereka semua tertawa terbahak-bahak.


"Ehem." Dira muncul menghampiri tiga wanita yang sedang asik membicarakan keberadaannya.


"Apa yang kelen ketawain?" ucap Dira, menatap penuh selidik.


"Adalah." Jenny langsung menyengir kuda.

__ADS_1


"Sini sarapan dulu, Dir!" titah Carol, menarik satu kursi di meja makan.


Saat sarapan, sebelumnya mereka semua langsung berpindah tempat. Dari balkon ke meja makan, semuanya asik mengisi perut, persiapan tenaga untuk liburan dihari terakhir.


__ADS_2