
^^^Dira^^^
^^^Prangko apanya? Ngajak ribut doang dia! ^^^
Jenny
Cari perhatian itu dia hehe
Shinta
Mungkin dia butuh belaian dan kasih sayang
Carol
Pedekatenya pelan-pelan aja Dir
^^^Dira ^^^
^^^Ah kelen bisanya manas-manasin aja sih. Udah bubar!!!^^^
Defan daritadi bengong menunggu Dira selesai berkutat dengan ponselnya. Ia jadi semakin kesal tak dapat perhatian.
"Dir!" Defan kembali memanggil Dira. Kali ini, Dira meresponnya.
"Ya?" jawab Dira santai, menatap lekat wajah suaminya.
"Ayo makan." Defan beranjak dari sofa yang didudukinya, Dira mengekorinya dari belakang.
Di meja makan, hanya ada dua orang yaitu Rosma dan Melva. Sementara adik-adik Dira sedang sibuk bermain di luar rumah.
"Kenapa kalian kesini?" tanya Melva mengakhiri obrolan dengan besannya.
"Mau makan, udah jam 7 malam loh mah," celetuk Defan, menatap serius kemudian tersenyum tipis.
"Oh udah jam tujuh ya? Nggak terasa rupanya. Asik ngobrol kami tadi. Panggillah bapakmu sama mertuamu sana," titah Melva bergegas berdiri merapihkan meja makannya.
Semua makanan disajikan ke atas meja oleh pembantu mereka. Banyak sekali makan malamnya ada arsik ikan mas, saksang, sayur tumisan, ikan goreng, rendang daging dan ayam goreng.
"Dir coba kau panggil adik-adikmu di luar sana," titah Rosma.
Setelah semua berkumpul diatas meja makan, ada dua orang yang terlewat. Melva menyelidik setiap wajah yang telah duduk rapih, ia sampai lupa dengan dua borunya yang belum ikut berkumpul malam itu.
"Def, panggil dulu adik-adikmu," ucap Melva datar.
__ADS_1
Defan beranjak dari kursinya, berjalan gontai menuju kamar adiknya. Ia menarik handle pintu membukanya dengan lebar.
"Ngapain kelen dua disitu? Ayo makan, udah mau jam setengah 8 malam," ketus Defan yang melihat kedua adiknya sibuk dengan ponselnya masing-masing.
Kedua kakak beradik itu beranjak dengan malas, mengekori abangnya dari belakang.
Semuanya sudah berkumpul di meja makan, tak ada satupun yang ketinggalan. Sebelum memulai makan malamnya, Desman memimpin doa makannya.
Suasana menjadi hening, tak ada suara obrolan ataupun tawa selama makan malam berlangsung. Hanya ada suara denting piring dan sendok yang beradu.
Beberapa yang lainnya makan menggunakan tangan terutama para orangtua. Sedangkan anak-anaknya makan menggunakan sendok.
Selama lima belas menit, makanan di atas meja sudah tandas. Semua mengisi perutnya hingga kenyang. Hanya tersisa beberapa makanan.
Terakhir, penutupan makan malam itu berlanjut dengan hidangan pencuci mulut. Ada berbagai buah hingga puding yang disajikan oleh pembantu keluarga Defan.
Suara di ruangan meja makan kembali berisik. Diisi dengan obrolan singkat dan riuhan gelak tawa adik-adik Dira.
Sedangkan Defan hanya sebagai pendengar yang baik, sesekali menguping pembicaraan orangtuanya, sesekali juga ia melirik ke arah Dira, menatap wajah cantik itu sekejap.
Sama halnya dengan Dira, ia juga terkadang menangkap curi-curi pandang yang dilakukan suaminya. Tapi ia menganggapnya santai saja, kembali mendengarkan obrolan para tetua di rumah itu.
"Jadi kaya mana Dir sekolahmu?" cetus Desman membuka topik pembicaraan setelah merampungkan makan malamnya.
"Kaya biasa aja Amang, besok Dira udah mulai sekolah lagi," sahut Dira seraya menampilkan senyum simpulnya.
"Kira-kira satu setengah tahun lagi Inang, Akhir semester ini menunggu kenaikan kelas. Dira masuk ke tingkat akhir," sambung Dira.
Rosma dan Sahat hanya mendengarkan, dengan waktu yang sangat lama apakah Defan mampu bertahan?
"Kalau kau Def, bisa rupanya kau tahan itu sampai satu setengah tahun?" sambar Sahat penasaran pada menantunya.
"Itu apanya Mang?" jawab Defan kebingungan, tak tahu arah pertanyaan maksud mertuanya.
"Ya itulah, ah kau ini kayak nggak tahu laki-laki aja," desis Sahat memicingkan matanya. Membuat Defan semakin malu-malu setelah menangkap arti pertanyaan mertuanya.
"Oh itu! Ya, kalau Defan sih kuat saja, selama tidak ada godaan," kekeh Defan mengerling pada Dira.
Seketika Dira mencubit paha pria itu dengan kencang. Dira tak menyukai godaan suaminya tadi.
"Awww!" erang Defan mendapat sorotan tajam dari seluruh keluarga.
"Kakiku tadi ke senggol meja," kilahnya mengklarifikasi agar orang-orang di sana tidak salah paham.
__ADS_1
"Kalau nggak kuat, suruh Dira pakai KB saja! Daripada tertahan begitu. Yang penting kan nggak jadi anak," usul Rosma, membuat seluruh orang jadi tertawa.
Hahahahhaha
Gelak tawa memenuhi ruangan, saling bertatap-tatapan satu sama lain. Termasuk dengan Defan, ia menyorot wajah Dira sangat tajam.
"Emang Diranya mau?" goda Defan tekekeh pelan.
"Ya kalian bicarakanlah baik-baik. Namanya suami istri, selama itu untuk kepentingan keharmonisan rumah tangga, kenapa enggak?" seloroh Melva.
"Iyah, persoalan itu harus dibicarakan baik-baik. Kedua pasangan harus siap menerima. Kalau ada yang belum siap, ya jangan di paksa," timpal Rosma dengan bijak.
"Ya, kalau Defan sih siap aja. Nggak tahu tuh kalau Dira siap apa nggak," goda Defan sekaligus melemparkan kerlingan genit pada istri kecilnya.
Dira yang dari tadi hanya terdiam mendengarkan pembicaraan para orangtua serta suaminya, kupingnya bahkan terasa sangat panas.
Lagi-lagi Dira mencubit paha Defan di bawah meja. "Aaawww!" erang Defan kali ini cubitannya tak tertahankan.
"Kalau untuk anak-anak silahkan masuk kamar atau main di ruang keluarga. Biarkan kami disini sama Defan dan Dira," jelas Desman memberikan arahan pada anak-anak lain yang asik menguping pembicaraan sejak tadi.
Kelima adik Dira beranjak, pergi menuju ruang tv. Sedangkan kedua adik Defan juga beranjak tetapi pergi ke kamar mereka.
Pembahasan masalah ranjang pun kian berlanjut hingga memanas.
"Jadi itulah, harus dibicarakan matang-matang dulu. Kalau Dira sudah lulus sekolah, mau tidak mau, dia harus cepat memberikan keturunan untuk keluarga kami," singgung Desman semakin serius.
Hah? Keturunan? Tolong dong! Ini baru satu minggu pernikahan berlangsung, kenapa ngomongin keturunan? Sekolahku aja belum beres.
Dira bergumam seorang diri, memikirkan percakapan yang terus berlanjut malam itu.
"Iya, bapak juga setuju Dir. Bapak pengen kali menimang cucu," sambar Sahat tak mau mengalah.
"Itulah pentingnya garis keturunan, supaya ada yang menemani kami disini. Kalau kalian kan pasti sibuk dengan kerjaan masing-masing," kekeh Melva.
"Ah Mamak, Bapak, sama Amang bisa saja. Dira juga belum lulus sekolah, mungkin juga dia ingin kuliah. Masih lama lagi kalau harus ngomongin soal cucu," hardik Defan karena melihat wajah Dira semakin masam.
"Nggak apa-apa kalau sudah dipersiapkan dari sekarang. Kalau gawangnya juga belum jebol, belum belajar cara bikin cucu kami ya percuma. Prosesnya akan lama lagi," sahut Desman dengan kata-kata frontal tanpa filter.
Perkataan itu membuat Dira semakin ketar-ketir. Akan berlanjut ke arah mana lagi pembicaraan ini?
"Jadi gawangnya sudah jebol Def?" canda Sahat menimpali.
Defan mengalihkan pembicaraannya. "Dira masih kecil loh Pak, Mang. Dia juga masih sibuk sekolah," tutur Defan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Makanya cepat kalian ke dokter. Pakaikan KB saja. Pakai KB Suntik ataupun minum Pil KB nggak masalah." Rosma kali ini menyerukan suaranya, ia pun sama dengan orang tua yang lainnya, ingin segera menimang cucu.
"Besok mau kau pasang KB Dir?" tambah Rosma membuat Dira bergidik ngeri mendengar omongan mamaknya.