Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
pak Jay


__ADS_3

Dira dan Defan kembali ke mobil setelah menikmati santapan di restoran. Ternyata hari sudah sangat sore sebelum kembali ke hotel.


Padahal, Defan ingin sekali mengajak Dira untuk menyaksikan sunset di Pantai Kuta, momen yang terlewat kemarin karena mereka terlanjur kuyub.


"Pak kira-kira sampai di Kuta jam berapa?" tanya Defan setelah duduk santai di jok kursinya.


"Ehmm sepertinya jam tujuh malam pak," sahut supir Jay Travel.


"Kalau mau lihat sunset disekitar sini, dimana pak?" Defan menatap tajam supir tersebut, menunggu jawaban pastinya.


"Bisa ke Danau Tamblingan pak," tutur supir.


"Kita kesana sekarang pak," ujar Defan mendapatkan tatapan tajam dari perempuan kecil yang ada disebelahnya.


"Abang nggak capek emang?" timpal Dira, karena ia merasa sudah lelah daritadi karena euphoria memetik stroberi di kebun.


"Capek sih," sahutnya datar.


"Terus? Ngapain lihat sunset lagi? Perjalanan kita masih jauh loh," imbuh Dira kebingungan.


"Loh kemarin bukannya kau ingin lihat sunset?" ujar Defan menoleh kearah Dira, menatapnya dengan tajam.


"Iya sih, tapi itukan kemarin. Kalau sekarang udah nggak pengen." Dira menjawab tanpa basa-basi sehingga mendapat tatapan tajam suaminya.


"Yaudah kita balik aja pak!" sergah Defan mengarahkan sang supir. Dia menjadi malas untuk melihat sunset ketika mendapat jawaban dari Dira yang merasa lelah.


"Tunggu pak, lanjut aja ketempat tadi," tampik Dira melihat wajah suaminya yang menjadi masam seketika.


"Hmm jadi yang benar yang mana pak, bu?" Supir malah jadi kebingungan, mengerem mendadak memberhentikan laju mobil tersebut dipinggiran jalan.


"Pulang!"


"Lanjut!"


Keduanya berteriak dengan kompak, meski jawabannya tak selaras.


"Waduh, pak, bu, yang benar yang mana?" tanya supir kebingungan, berbalik badan menatap Dira dan Defan.


"Abang gimana sih? Katanya mau lihat sunset? Kok malah pulang," celetuk Dira tak mau mengalah.


"Loh, tadi kau bilang udah nggak mau lihat sunset," hardiknya seraya memelototkan kedua bola matanya.


"Iya tapikan sudah kepalang jalan kita, masa mau mundur lagi," erang Dira melihat suaminya mendadak plin-plan.


"Udah malas aku mau lihat sunset!" kelit Defan dengan wajah dinginnya.

__ADS_1


"Yeee! Gitu aja ngambek, bisa ngambek juga abang." Dira mengerling, kemudian mencubit paha suaminya dengan lembut.


"Apaan sih." Defan menyingkirkan tangan Dira diatas pahanya dengan keras.


"Aww sakit!" pekik Dira, lemparan tangan Defan begitu kencang sehingga menyakiti tangannya.


"Kau nggak apa-apa kan?" tanya Defan panik, menarik tangan Dira, memastikannya tidak memar.


"Abang khawatir yaa? Cieee!" ledek Dira menyengir kuda. Tak disangka, pria arogannya itu bisa memberi perhatian juga padanya.


"Enggak ah!" Defan melempar tangan itu dengan lembut agar tak terpukul lagi.


"Jadi kemana ini pak, bu? Kok jadi malah ngobrol berdua," berang supir menunggu kepastian.


"Lihat sunset saja pak." Defan mengalah demi istrinya yang sudah berdrama sejak tadi.


"Gitu dong," seloroh Dira mengerling. Menggoda suami dinginnya itu.


"Ck!" decak Defan sebal karena terus-terusan digoda oleh Dira.


Hanya dua puluh menit perjalanan, mereka tiba di Danau Tamblingan. Meskipun harus melewati hutan-hutan tetapi tidak terasa menakutkan, karena warga sekitar masih tampak ramai.


Pengunjung lain juga sudah memenuhi danau tersebut, menunggu sampai matahari terbenam.


"Ihh dingin juga ya hawa disini," desis Dira sambil menggetarkan tubuhnya yang kedinginan.


Sepanjang jalan Dira senyum-senyum sendiri mendapat perhatian dari pria itu. Meskipun terlihat dingin dari luar, tapi suaminya itu sangat perhatian.


Seperti saat ini, ia rela hanya menggunakan kaos demi memberikan hodienya pada Dira.


"Abang nggak kedinginan?" tegur Dira yang melihat sesekali suaminya berdesir menolak hawa dingin sekitar.


"Lumayan," celetuknya singkat.


"Nih pakai aja hodienya. Daripada kedinginan gitu." Dira baru saja mau melepaskan hodie yang telah dia pakai, tapi tangan Defan menahannya.


"Kenapa?" tanya Dira menatap lekat suaminya.


"Pakai aja!" titah Defan tak mau melihat istrinya kedinginan.


Mereka tiba didepan danau tamblingan. Memandang keindahan danau dari tepiannya.


Hufffttt


Dira membuang nafas kasarnya, terasa cuaca yang dingin. Bahkan, mulutnya sampai mengeluarkan asap-asap meski tidak terlalu pekat. Matahari mulai tenggelam, hari semakin gelap. Keindangan langit-langit yang mulai memerah disaksikan oleh Defan dan Dira yang duduk berdampingan.

__ADS_1


Nuansa sekitar yang tampak religius dengan alam yang menyatu membuat suasana sangat mendukung untuk menyaksikan sunset itu. Dira dan Defan sangat menikmatinya, begitupula pengunjung lainnya.


"Bang kapan-kapan kesini lagi ya," pinta Dira menatap lekat suaminya.


"Hmmmm." Defan hanya bergumam tanpa menoleh untuk menjawab permintaan gadis kecil itu. Namun, jauh dilubuk hatinya ia berniat akan menepati permintaan itu suatu hari nanti, tentunya ketika Defan dan Dira benar-benar jatuh cinta, menikmati bahtera rumah tangga mereka.


Matahari tenggelam, hanya terlihat pantulan bulan yang baru muncul ditengah danau. Pemandangan menjadi sangat cantik ketika sinar rembulan berada dipandangan mereka.


"Ayo bang, sudah malam. Kita lebih baik pulang, aku sangat capek." Dira beranjak dari duduknya, begitupula Defan ia mengekori Dira berjalan gontai menuju perparkiran.


Suasana di danau pun semakin sepi, karena para pengunjung mulai berpulangan. Defan dan Dira telah masuk kedalam mobil mereka.


"Apa ada rencana lagi pak?" tanya sang sopir memecahkan keheningan didalam mobil tersebut.


"Pulang saja pak." Defan lelah sehingga ingin sekali merebahkan dirinya diatas ranjang.


Hari terakhir mereka menikmati pulau dewata. Esok mereka akan kembali lagi ke kota kelahiran mereka masing-masing.


"Besok kita pulang jam berapa bang?" ucap Dira seraya menatap ponsel didepannya.


"Besok penerbangan jam 12 siang. Otomatis kita harus ke bandara dua jam sebelumnya," ungkap Defan yang bersandar ke jok mobilnya, memejamkan kedua matanya yang terasa berat.


"Oh pagi-pagi harus sudah siap ya. Bapak yang antar kami ke bandarakan?" Dira kali ini melontarkan pertanyaan itu pada supir mereka.


"Tentu saja! Saya harus menyelesaikan pekerjaan saya bu," jawabnya lugas.


"Yah... Nanti kita nggak ketemu lagi dong pak. Kalau bapak main ke Medan, jangan lupa mampir ke rumah kami ya," ucap Dira yang sangat ramah pada supir mereka.


Dia sangat bersyukur selama di Bali, perjalanannya sangat menyenangkan.


"Iya bu! Pasti saya akan mampir ke rumah bu Dira dan pak Defan. Bagaimana perjalanan selama di Bali? Apakah menyenangkan?" tutur Supir tersebut.


"Senang kali pak! Baru kali ini saya liburan di Bali. Semua tempatnya sangat bagus," celetuk Dira dengan semangat menggebu-gebu.


"Itu semua berkat bapak! Terimakasih banyak!" Dira tersenyum pada supir yang melihat wajahnya melalui broadway mirror mobil itu.


"Sama-sama bu! Kalau kesini lagi liburannya, jangan lupa pakai travel kami ya!" pesan supir dengan lengkungan lebar dimulutnya.


"Pasti pak!" sambar Defan datar dengan mata terpejam, menimbrung obrolan Dira dengan supir yang sedaritadi didengarkannya dengan fokus.


"Kalau pak Defan gimana, apakah suka dengan pelayanan travel kami?" tanyanya dengan lembut.


"Suka pak! Oh iya, nama bapak siapa? Sejak awal bertemu, bapak tidak memperkenalkan diri," singgung Defan, seketika supir itu teringat memang ia tak pernah memperkenalkan namanya.


"Astaga! Saya sampai lupa pak! Saya Jay, pemilik travel ini. Daripada menganggur di rumah, lebih baik saya yang langsung membawa bapak dan ibu berkeliling. Lagipula itu sudah menjadi pesan kedua orangtua pak Defan. Mereka juga langganan travel saya," kata pria yang akhirnya terungkap namanya sebelum perpisahan mereka.

__ADS_1


"Loh benar juga kata abang kemarin, nama bapaknya pak Jay hahahahah," kekeh Dira tak menyangka suaminya bisa menebak dengan benar.


"Hmmmm," gumam Defan masih dengan menutup matanya dengan erat selama perjaanan.


__ADS_2