
"Di pasar malam ngapain sih? Buat belanja kayak pajak, ya?" ucap Defan polos, sembari menggaruk-garuk tengkuk yang tidak gatal.
"Iya, Pasar itu sebutan untuk pajak juga kan? Terus kita mau belanja gitu?" lanjut Jefri, memicingkan mata.
"Bu–bukan, Bang!" jawab Jenny terbata-bata. Ia malah terkekeh sendiri karena melihat kepolosan kedua pria itu.
"Yaudah, ayolah kita ke sana!" tambah Jefri, seraya memikirkan konsep pasar malam itu seperti apa.
"Pasar malam itu konsepnya seperti Dufan kalau versi elitnya. Banyak permainan-permainan yang bisa menguji adrenalin dan bisa dinikmati tapi kalau pasar malam skalanya lebih kepada rakyat jelata. Karena harganya yang murah dan fasilitas ala kadarnya yang tidak mewah tapi dijamin aman kok!" sosor Jenny, panjang lebar.
"Oh!" ucap Jefri dan Defan dengan kompak, keduanya pun membuka mulut dengan lebar, lalu mereka menutup dengan kedua tangan, karena tempat yang dikatakan sangat membuat mereka penasaran.
"Baiklah, aku penasaran jadinya. Bagaimana sih tempat pasar malam itu, aku juga ingin mencobanya!" kata Defan.
****
Desman baru saja menyampaikan pada istrinya mengenai acara di kantor untuk merayakan kemenangan sidang defan secara besar-besaran. Oleh karena itu, ia pun merasa kenyang dan tidak berselera untuk makan malam.
Namun, Melva malah marah lantaran ia sudah susah payah memasak tapi masakannya tidak disentuh oleh sang suami.
"Makanlah sedikit, Pak!" titah Melva.
Ia juga ingin segera menceritakan tentang kejadian penipuan yang menimpa keluarga Dira.
"Yaudah, Mamah sendokinlah nasinya, sedikit aja!" pinta Desman, akhirnya menyerah karena istrinya tetap bersikukuh bahwa dirinya harus makan masakannya.
"Oh ... iya, Pak ngomong-ngomong, tadi aku baru menghubungi besan kita. Aku mendapatkan kabar buruk, itokku habis kena tipu oleh rekan kerjanya sendiri," ungkap Melva seraya menatap lekat manik sang suami.
"Penipuan gimana?" tanya Desman, spontan terkejut mendengar kabar itu.
"Jadi mereka diiming-imingi investasi gitu, terus dengan keuntungan bisa 3 kali lipat, eh ternyata uangnya malah dibawa kabur!" papar Melva.
__ADS_1
"Astaga, terus bagaimana nasib penipu itu, apa sudah dilaporkan kepada polisi?" cecar Desman, memicingkan mata.
Melva hanya menggeleng, lalu ia menjawab pertanyaan Desman. "Belum, Pak makanya itu, aku kasih tahu Bapak siapa tahu bisa membantu keluarga besan kita."
"Oalah, si Defan aja suruh mengurus itu, pasti cepat terselesaikan. Harus dicari dulu pelakunya, kalau untuk uangnya yang sudah di tangan pelaku, kemungkinan tidak akan bisa kembali lagi, pasti itu sudah dihabiskan oleh pelaku!" sesal Desman, karena mengetahui dari kasus yang sering ia tangani.
"Terus untuk apa mencari penipu itu kalau uangnya memang tidak ada?" balas Melva sembari memikirkan apa yang menjadi pembahasan mereka.
"Kan yang terpenting si pelakunya tertangkap dan dihukum sesuai dengan apa yang dilakukannya, menipu rekan kerjanya! Minimal dipenjara lah kalau tidak bisa mengembalikan uang itu!" tutur Desman.
" Oh gitu, jadi percuma lah dia dihukum juga, toh uang mereka juga nggak kembali!" sambung Melva.
"Ya, seperti itulah, biasanya kalau pun masih ada uang yang tersisa pasti akan dijadikan barang bukti oleh pihak kepolisian dan itu pun disita dan menjadi hak milik negara!" imbuh Desman.
"Tidak ada solusi lain selain melaporkan pelaku ke polisi?" tanya Melva, mengerutkan keningnya.
Melva semakin beranggapan jika memang hasil penangkapan penipu itu tidak membuahkan hasil dan mengembalikan uang yang sudah menghilang, lebih baik mencari pelaku secara diam-diam. Dan benar saja, pendapatnya malah sama seperti yang dikatakan oleh suaminya.
"Oh begitu!" Melva hanya menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, lalu kembali lanjutkan makan malam mereka.
"Memangnya berapa jumlah uang yang ditipu?" lontar Desman.
"Katanya sih 100 juta, itupun sisa tabungan mereka," akunya.
"Ya, lumayan besar juga dari satu orang 100 juta, kalau dia bisa mendapatkan investasi dari 10 orang, kira-kira sudah 1 miliar!" seloroh Desman.
****
Malam ini, Anggi merasa bosan berada di apartemen setelah beberapa hari yang lalu ia disibukkan dengan jadwal kuliah yang padat. Kemudian, mengerjakan tugas-tugas pemberian dari dosen.
Namun, Anggi tetap menjalankan rutinitas sebagai seorang mahasiswi, di dalam apartemen, ia hanya menyantap semangkuk mie instan yang diseduh di dapur.
__ADS_1
Entah mengapa, malam itu, Anggi sangat malas untuk keluar rumah lantaran di luar tengah dilanda hujan deras. Oleh karena itu, ia memilih untuk menyantap mie instan dengan telor ceplok masakan andalannya.
"Hujan-hujan begini, memang paling mantap menyeruput mie dengan kuah yang hangat," batin Anggi.
Dengan mie instan itu, ia bisa mengisi kekosongan perut, suara keroncongan dari dalam perutnya memang sempat menyita perhatian. Oleh karena itu, tidak membutuhkan waktu yang lama, Anggi bergegas memasak mie instan dengan cepat.
Semenjak menjadi seorang mahasiswi dan hidup sendiri, Anggi semakin mandiri. Semua hal dilakukan sendiri mulai dari pekerjaan rumah hingga masak-memasak. Namun, terkadang jika tak ingin kerepotan, Anggi memilih untuk membeli makanan sehari-hari di warung nasi pinggiran dekat apartemen.
Meskipun dia memiliki tabungan yang banyak dari pemberian kedua orang tuanya, tetapi Anggi termasuk perempuan yang pintar mengelola keuangan. Ia lebih suka berhemat dibandingkan menghambur-hamburkan uang hanya untuk menyantap makanan mewah.
Tak hanya itu, Anggi hanya menggunakan uang untuk kepentingan kuliah dan kehidupan sehari-hari. Untuk kepentingan kuliah, justru Anggi menomor satukannya, sebab biaya untuk kebutuhan kuliah sangat besar. Oleh karena itu, dirinya memanfaatkan uang pemberian orang tuanya untuk membiayai keperluan biaya kuliah.
Setelah menyantap makan malam, Anggi masih terduduk di tepian ranjang, lalu mengambil ponselnya di atas nakas. Anggi berniat menghubungi kedua orang tuanya, sebab sudah beberapa minggu, ia tak berhubungan dengan kedua orang tuanya lantaran sibuk mengemban pendidikan yang sangat menyita waktu.
***
Drt ... drt ...
"Halo, Boru apa kabar?" sapa Melva, melalui sambungan telepon.
Seusai menyantap makan malam, Melva bersama suaminya duduk di ruang keluarga. Melva merasa aneh lantaran boru siapudannya baru kali ini menghubungi dirinya secara langsung. Biasanya, Melva dulu yang menghubungi anaknya tersebut.
"Halo, Mah, sehat aku di sini. Apa kabar Mama dan Bapak?" tanya Anggi seraya menyandarkan tubuhnya pada dipan ranjang.
"Sehat-sehat kami di sini, Nak! Kayak mana kuliahmu?" jawab Melva.
"Sibuk terus, banyak tugas makanya aku nggak sempat menghubungi Mama, Maaf, ya!" tutur Melva.
"Ah ... udah biasa, kan biasanya Mama yang duluan menghubungimu. Baru kali ini, kau yang menghubungi Mama!" sanggah Melva.
"Hehehe ... maklumlah aku lagi kesepian!" beber Anggi, seraya terkekeh.
__ADS_1
"Kesepian kenapa? Nggak ada rupanya kawanmu di sana?" cecar Melva, karena merasa khawatir anaknya akan selalu menyendiri.