Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
belanja


__ADS_3

"Ih kau ini ngapain sih nempel-nempel! Nggak lihat apa orang udah ribet bawa makanan," keluh Defan menyingkirkan tangan adiknya yang terus saja merasa ketakutan.


"Bang! Jangan jauh-jauh ya!" pinta Anggi memelas. Ia tak mau terpisah dari abangnya padahal masih dipintu masuk, filmnya belum tayang. Suasanya pun masih terang dan ramai.


Defan jadi merasa tak enak hati pada istrinya. Padahal mereka ingin jalan berdua tetapi malah diganggu oleh adik busungnya.


"Dir ayo sini! Jangan jauh-jauh jalannya," ucap Defan mengajak istrinya untuk berjalan disampingnya.


Dira pun berlari mendekati dua kakak beradik itu. Ia langsung berjalan beriringan disamping suaminya. "Sini bang, aku bantu bawain," tutur Dira menarik satu kantong plastik yang erat dipegang oleh suaminya.


"Nggak usah. Udah jalan aja," tutur Defan menghindari tangan Dira yang sempat memegang kantong plastik itu.


Dira hanya mengangguk patuh. Kemudian Dira menyodorkan tiga tiket film yang telah diprintnya sebelum mereka masuk ke dalam bioskop.


Mereka duduk paling diatas. Padahal Defan sengaja memesankan tempat itu karena vibesnya cocok sekali untuk pasangan muda-mudi. Tetapi kemesraan tak mungkin hadir diantara mereka karena ada satu orang pengganggu yang hadir.


Defan duduk ditengah diantara Dira dan Anggi. Anggi sengaja meminta agar abangnya itu duduk ditengah, jadi kalau ia takut bisa bersembunyi didekapan abangnya.


Setelah 10 menit berlalu, film pun mulai ditayangkan. Dira menatap serius layar bioskop, film yang seru untuk ditonton karena sangat menguji nyalinya.


Sementara Defan masih tetap gagah dikursinya. Defan sendiri baru kali ini menonton film horor. Sebenarnya ia juga merasa seperti Anggi, ketakutan kalau menonton film-film yang mengejutkan.


Namun, karena Dira mengajaknya jadi mau tidak mau ia mengikuti permintaan Dira. Sekaligus mencoba untuk pertama kalinya tontonan horor yang sangat disukai istrinya itu.


Tiga puluh menit pertama film ditayangkan, suasananya masih aman. Belum ada teriakan dari para penonton karena belum terlihat suasana tegang di layar bioskop.


Namun, ketika suasana mulai menegang, Anggi adaah orang yang lebih dulu berteriak. Defan bahkan sampai memejamkan matanya karena ketakutan. Ia lebih memilih untuk memejamkan mata daripada harus berteriak.


"Aaaaaa!" teriak Anggi sembari memeluk abangnya begitu erat saat momen histeris ketika hantu dalam film itu menampakkan wujudnya. Defan jadi merasa risih, ia benar-benar mengasuh adik bungsunya.


Kemudian, Defan menoleh ke arah Dira. Dira hanya ikut berteriak tanpa memejamkan matanya. Ia menikmati keseruan tayangan film yang ada di layar lebar.


"Aaaa! Bang aku takut!" pekik Anggi terus-menerus. Tubuh Defan hanya milik adiknya itu. Bahkan Anggi sampai histeris dan menangis karena terus ketakutan.

__ADS_1


Dira hanya melihat dari jauh, bahkan ia terbahak ketika melihat Anggi menangis. Sedangkan Defan bersifat netral saat di dalam sana. Film itu tidak begitu menyeramkan baginya. Hanya saja suara kejutan demi kejutan membuatnya sedikit sport jantung.


Hingga 1,5 jam mereka di dalam sana. Akhirnya film horor itu berakhir. Lampu kembali menyala dengan terangnya. Wajah Dira hanya menyengir ketika ruangan telah bersinar terang.


Defan sedikit berkeringat karena ia capek mengamankan jantungnya. Sedangkan Anggi tampak kuyub, bajunya basah karena keringat, pipihnya basah karena air tangisan, mukanya sangat lusuh.


"Aaahh! Nggak mau aku lagi nonton-nonton film horor kayak gitu!" pekik Anggi menyesal mengikuti jejak abangnya yang mulai beranjak dari kurainya.


"Itulah kau kan. Nyesal kau sekarang. Tadi kusuruh diam di rumah kau yang minta ikut sampai nangis-nangis. Sekarang pas nonton pun kau nangis juga!" ledek Defan merasa puas.


"Nggak mau lagi aku ikut abang sama edak kalau jalan-jalan! Jera aku! Ayo kita pulang," desak Anggi karena merasa jengah, dia pun enggan untuk melanjutkan jalan-jalan lagi.


Bajunya yang basah membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Sementara Dira merasa puas ketika melihat Anggi tampak sangat awut-awutan. Entah mengapa Dira merasa jengkel pada ipar bungsunya itu. Apalagi sudah mengganggu waktu mereka berdua.


"Kita mau makan dulu," sahut Defan sesuai rencana.


"Ah ngapain sih makan disini segala! Udah makan di rumah ajalah!" rengek Anggi.


Anggi pun mengikuti arahan iparnya. Ia mengekori Dira, berjalan beriringan ke toilet perempuan.


Disana, mereka berdua sama-sama membasuh wajahnya. Dira masuk ke dalam toilet untuk membuang air kecil. Sementara Anggi mengeringkan wajahnya dengan sapu tangan yang diberikan oleh Dira.


Setelah selesai, keduanya keluar dari kamar mandi. Mengikuti jejak Defan yang berjalan ke arah luar pintu lebih dulu. Sesuai rencana, karena Anggi merasa baikan setelah membasuh wajahnya, mereka lanjut untuk makan malam.


"Makan apa enaknya?" tanya Defan menghentikan langkah kakinya.


"Steik!"


"Hokben!"


Anggi dan Dira memberikan saranannya dengan kompak. Namun, karena jawaban mereka berbeda sehingga Defan jadi bingung menentukan kemana langkah mereka selanjutnya. Ia bahkan terdiam seraya menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


"Jadi kemana nih?" Jawabannya beda-beda. Abang jadi bingung," papar Defan.

__ADS_1


"Yaudah hokben aja," ucap Dira mengalah.


Anggi mengangguk seraya menujukkan cengiran kudanya. Ia kembali menang untuk pendapatnya yang satu ini. Keinginan itupun dipenuhi oleh Defan.


Mereka mengarah ke outlet makanan bertitle khas Jepang. Memesan makanan sesuai keinginan masing-masing. Defan memesan paket yakiniku, Dira teriyaki, sedangkan Anggi memilih untuk menyantap unagi.


*hening


Ketiganya menghabiskan makanan didepan mereka tanpa adanya obrolan. Makanan itu sangat mengenyangkan. Tapi, Dira tak ingin menyudahi perjalanannya. Setelah selesai makan, Dira meminta agar mereka berlanjut melihat-lihat isi mall.


"Bang keliling dulu ya? Jangan langsung pulang. Pengen beli boba juga," ungkap Dira polos. Sontak saja, Anggi protes dengan permintaan iparnya.


"Aku capek! Pengen pulang!" keluh Anggi merengek.


Lagi-lagi kekesalan Dira memuncak. Anggi itu sangat merusak suasana hatinya. Dari tadi Dira sudah mengalah menuruti segala keinginannya. Kini ia hanya ingin jalan-jalan membuang penatnya tapi Anggi malah menolak kemauannya.


"Ayolah Edak! Sekali-kali kita jalan bertiga kesini. Lagian di rumah juga suntuk. Mending muter-muterin mall. Ada yang mau Edak beli nggak? Aku traktir deh," usul Dira meluluhkam hati Anggi. Untung saja ATM dari suaminya itu ia bawa. Jadi bisa digunakan untuk membelanjai keinginan Anggi.


"Beneran nih ditraktir?" Anggi semakin senang mendengar tawaran dari iparnya itu.


Dira mengangguk seraya mengulas senyum disudut bibirnya. Defan hanya menatap datar istrinya. Ia tahu istri dan adiknya itu akan menghabiskan uang dalam ATM yang sudah ia berikan.


"Jadi gimana?" sambar Defan menimbrung.


"Belanja!" Dira dan Anggi berteriak kompak. Membuat Defan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tampaknya Anggi semakin menerima kehadiran Dira.


Dira bahkan terus saja mengalah dan memberikan usulan tak biasa bagi Anggi. Hal itulah yang membuat Anggi mulai mengakrabkan diri pada iparnya.


Mereka akhirnya meninggalkan outlet hokben. Berjalan menyusuri butik-butik yang ada di dalam mall.


Beruntungnya, mereka berdua sebaya sehingga bisa saling bertukar pendapat saat berbelanja.


"Dak, nyari kaos sama jeans yuk," ajak Anggi kegirangan.

__ADS_1


__ADS_2