
Juni baru saja tiba di ruangan. Memberikan bungkusan iga bakar pada bosnya. Sementara ia, memegang bungkusan nasi rames.
"Makan di situ, pak?" tanya Juni, saat Defan tetap duduk di kursi kebesarannya.
"Iya, kalau kau mau makan di sofa itu, makan saja di situ. Saya makan di sini," tandas Defan.
"Nggak takut tumpah ke meja, pak? Banyak berkas loh." Juni memperingati bosnya, padahal ia ingin makan siang berdua di tempat yang sama.
"Oh iya, lupa kali aku. Sangkin malasnya aku mau pindah." Defan beranjak dari kursi, lalu duduk di sebelah Juni, yang sudah duduk lebih dulu membuka bungkusan plastik.
Keduanya makan bersama siang itu. Saat masing-masing melahap makanan mereka, tiba-tiba suara ketukan pintu mengalihkan pandangan keduanya.
Tok ... Tok ...
Juni yang tengah menyantap makanan sangat malas berjalan untuk membukakan pintu. Namun, saat kedua orang itu masih fokus pada makanan, tamu yang tak diundang itu langsung menarik handel pintu sendiri.
Ceklek
Suara tarikan daun pintu terdengar oleh Defan dan Juni, mereka langsung menoleh ke arah daun pintu, ada sosok Dania yang tersenyum lebar di sana.
"Hehe, lagi makan kelen, ya?"
"Udah tahu malah nanya," batin Juni dengan sinis.
"Ada apa, Dan?" cecar Defan meski masih mengunyah makanan.
"Hmmm ... aku juga mau ikut makan sama kelen dua." Dania mengangkat kantong plastik miliknya, ia sengaja langsung ke ruangan Defan, bukan ke ruangan sendiri.
"Yaudah, sini masuk!" titah Defan, kembali memfokuskan diri untuk menyantap makan siang.
Juni seolah tak peduli apapun yang dilakukan wanita itu. Asisten Defan cuek saja saat Dania mulai berisik membuka kantong plastik.
"Maaf, ya, ganggu kelen dua," canda Dania sembari terkekeh.
"Udah tahu ganggu, malah datang! Cih," decak Juni sangat lirih agar tak terdengar oleh Dania maupun Defan.
"Ada apa rupanya kau jauh-jauh datang ke sini, Dan?" singgung pria yang masih mengunyah makanannya.
"Pengen aja makan siang di sini, soalnya di kantin kantor pun sepi. Malas kali aku makan sendirian di sana," jawab Dania, mulai menyantap makan siangnya.
"Oh, kupikir memang ada perlumu makanya ke sini." Defan hanya mengangguk, melanjutkan makan siang itu.
__ADS_1
*****
Ahhh ...
Dira mendesah lantaran perutnya begitu kekenyangan serasa mau meletus. Ia masih duduk di ruang keluarga, menunggu isi perut tercerna dengan baik.
"Tapi memang mantap kalilah ayam geprek tadi itu, kutandai itu, biar jadi langgananku," ujar Dira menyeringai.
Ia melihat jam di dinding, lantaran tak ada kegiatan apapun, ia terpaksa menonton tv. Mengutak-atik channel tetapi tak ada yang menarik perhatian.
Setelah tiga puluh menit berlalu, Dira pun memilih melanjutkan aktivitas dengan tidur siang di kamar utama. Sedikit isi perutnya sudah mulai menurun, rasa begah itupun menghilang.
*******
"Def, ada kasus yang menarik?" tanya Dania membuka topik pembicaraan siang itu.
Juni yang sudah selesai makan langsung berpindah ke meja kerja. Ia membiarkan Dania mengoceh sendiri bersama bosnya. Rasanya, sangat malas untuk bersenda-gurau bersama wanita itu.
Juni pun melanjutkan pekerjaan. Sesekali, ia menguping pembicaraan Defan dan Dania.
"Belum ada, Dan. Kenapa rupanya?" balas Defan.
"Udah beres kan, Dan? Kalau nggak ada lagi perlumu, lanjut kerja aja," usir Defan tanpa rasa bersalah.
Defan pun berjalan gontai ke arah kursi kebesarannya. Ia memang tengah sibuk mengurus pekerjaan, tidak ada waktu untuk mengobrol atau melakukan hal-hal yang tak penting.
"Hm?" Dania berdehem saat bingung hendak menjawab pengusiran sahabatnya.
"Kok malam hm ... hm ... kalau udah nggak ada lagi perlumu, kerja lagi sana." Defan membaca berkas yang ada di meja kerja.
"Oh ... hehe, belum waktunya kerja, Def! Masih jam istirahat ini loh. Kau loyal kali sama perusahaan ini," ledek Dania.
"Iyalah, kan ini perusahaan—"
Belum juga Defan melanjutkan perkataan, mulutnya terkaku diam saat melihat ke arah Juni. Juni belum mengtahui kalau Defan adalah pewaris S.N.G Lawfirm.
Oleh karena itu, Defan kembali membungkam mulutnya saat hendak mengaku kalau perusahaan itu miliknya.
"Apa kau bilang, Def? Kok berhenti bicaramu?" desak Dania, dengan tatapan penuh selidik.
"Nggak jadi, udah sana kerja lagi. Kau ganggu kali di sini, bising di ruanganku." Defan mengalihkan pandangannya kembali ke arah berkas yang digenggam.
__ADS_1
"Iya, iyalah! Aku pamit dulu ya!" Dania berlalu begitu saja tanpa menyapa Juni.
Beberapa jam berlalu, Defan dan Juni selesai bekerja tepat waktu. Defan mengingatkan agar Juni mengumpulkan semua barang bukti untuk diserahkan ke pihak pengadilan pada Senin pekan depan.
"Jun, jangan lupa kau satukan semua bukti dari korban, ya! Saat di Pengadilan, nanti saya yang serahkan ke hakim."
"Baik, pak!"
Juni dan Defan keluar dari kantor bersamaan. Namun, Defan ingin cepat-cepat pulang ke rumah karena masih sore, tidak ada alasan bagi Defan untuk mengantarkan asistennya itu.
Dengan cueknya, Defan berhenti di lantai Basement. Saat berhenti di lobi, Juni sudah berpamitan pada sang bos.
"Saya duluan, pak!" Juni menunduk, menghormati pria itu saat berpamitan.
"Iya."
Setiba di perparkiran, Defan buru-buru menginjak pedal gas mobil. Ia lirik jam yang melingkar di tangan, masih pukul 5 sore. Defan semakin penasaran, apa yang dilakukan istrinya sehari ini.
Bahkan, sampai sore ini, tidak ada kabar dari Dira. Saat di perjalanan pulang, Defan membelikan cemilan gorengan serta lupis untuk Dira.
Cemilan murah tapi pasti membahagiakan istrinya. Dengan santai Defan berjalan menyusuri lantai basement perparkiran di kondominium setelah memarkirkan mobil dengan rapih. Memasuki lift sembari menenteng dua kantong plastik sore itu.
Saat berhenti di lantai satu, Defan bertemu dengan Angga. Tetangga satu-satunya Defan.
"Bang," sapa Angga tersenyum tipis ke arah Defan.
"Iya." Defan pun membalas dengan senyuman tipis.
Setelah berada di lantai dua, Defan hanya berpamitan pada pria itu. "Saya duluan, dek."
"Iya, Bang." Angga cuek saja, ia belum mengetahui kalau pria yang di sapa adalah suami teman sekelasnya.
Namun, rasa penasaran Angga pun muncul. Beberapa kali berjumpa dengan pria itu, membuat Angga akhirnya penasaran.
"Abang itu turun di lantai dua, si Dira pun sering turun di lantai dua. Apa hubungan mereka ya?" Angga tampak berpikir tetapi bunyi pintu lift terbuka membuyarkan lamunan.
"Ah, masa iya sih, kalau si Dira itu kawan abang tadi?" Angga menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
Selama hampir dua tahun, status Dira bahkan tak pernah terungkap oleh Angga. Ia hanya tahu kalau Dira sering berkunjung ke lantai 2 kondominium.
Saat sekolah dulu, mereka bahkan tak pernah berpapasan saat memakai seragam. Tak hanya itu, saat sahabat Dira bermain ke rumah, kebetulan memang tak pernah berjumpa dengan Angga.
__ADS_1