
Lima menit kemudian, Dira Tampubolon keluar dari kamar mandi. Rambutnya sudah kering dan tersisir rapih, lalu dicepolnya kebelakang. Sontak, hal itu membuat leher jenjangnya terekspose.
Cantik. Satu kata yang bisa mendeskripsikan wajah Dira malam ini. Ia berjalan gontai mengarah ke ranjang, dimana Defan berada sedang asik larut dalam tontonan beritanya pada siaran tv.
Dira yang masih tercium wangi semerbak, ditambah rambutnya yang dicepol kebelakang, membuatnya tampak sederhana namun sangat cantik.
Defan melirik kearah Dira yang sedang berjalan mendekatinya, seraya mengendus-endus wewangian yang enak dari tubuh istrinya.
"Hmmmm," lirih Defan dalam gumamannya saat menatap lekat istri kecilnya yang cantik.
Menurutnya Dira sedikit menarik, sedikit menggoda imannya. Apalagi, mereka sudah berada didalam kamar berdua saat petang hari.
Cantik dan menarik.
Lagi-lagi Defan memuji istrinya. Meski hanya terucap dihatinya saja. Ditambah wewangian yang menyeruak ke hidungnya, semakin membuat Defan tergoda.
Apa dia sengaja menggodaku?
Terus saja Defan berbicara seorang diri dalam batinnya. Sementara tatapannya terus tertuju pada istri cantiknya yang baru saja duduk diatas ranjang, berada disampingnya.
Dira merebahkan dirinya dengan rasa kikuknya saat ini. Ia tahu kalau sedang disorot oleh mata elang suaminya seakan-akan ingin menerkamnya.
Tapi Dira dengan cueknya memunggungi tubuh Defan. Sorotan pria itu terhenti, Defan menyadari kalau Dira tahu sedang dipelototi olehnya.
"Malam-malam kok rambutnya diikat?" cibir Defan memulai percakapan mereka.
Dira menoleh kebelakang, menatap lekat suaminya bahkan mendapat balasan oleh pria itu. Mereka saling menatap. Lalu, Dira memberanikan diri untuk menjawabnya.
"Gerah."
Wajah Dira kembali melongos, membelakangi Defan yang tak mau memalingkan tatapannya. Dira pura-pura sibuk, ia mengambil ponselnya diatas nakas.
Meluncur ke akun media sosial miliknya. Sudah banyak notifikasi didalamnya. 99+ notifikasi masuk, ia membukanya, banyak yang memberikan like serta komentarnya.
**Kaya novel ini dong harus banyk yang kasih like dan komentarnya!! Yok semangat kasih likenya. Biar author bisa lebih semangat lagi untuk up eps terbaru sampai 3BAB🥲 Sampe jempolku keriting neehhh!! yok bantu votenya juga hehehe *
Dira menjadi senyum-senyum sendiri. Beberapa pria memujinya didalam kolom komentar foto postingannya tadi.
Axxx
Ih Dira nggak ngajak-ngajak liburannya!
^^^Bxxxx^^^
^^^Jangan lupa oleh-olehnya dong!!^^^
__ADS_1
Cxxxx
Cantik ya backgroundnya, kaya orangnya yang cantik!
^^^Carol^^^
^^^Jangan posting liburan terus! Bikin ngiri kita-kita yang harus tetap sekolah ihhhh^^^
Jenny
Semangat jalan-jalannya! Banyak PR yang menanti!! xixixi
^^^Sintha^^^
^^^Gitu dong, jalan-jalannya sendirian. Jangan berduaan ya!🤣^^^
Dira sampai cekikikan seorang diri, membaca komentar-komentar sahabat serta teman-temannya yang lain. Berbeda dengan Defan, tetap tenang dengan acara beritanya.
Perut Defan terusik, dia merasa sangat lapar. Diambilnya telepon kamar hotel, kemudian menghubungi bagian restoran.
"Kau mau apa Dir?" tanyanya tanpa ragu-ragu seraya melemparkan buku menu hotel, ia tak ingin makanan terbuang sia-sia seperti dua hari yang lalu.
Saat melemparkan buku menu, ternyata buku tebal itu mengenai punggung Dira.
"Udah buruan!! Mau makan apa?" ucapnya seraya menaikkan satu alis miliknya, menunggu jawaban yang pasti dari gadis kecil itu.
Dira mulai membuka buku menu, bolak-balik lembaran demi lembaran ia kibaskan. Pilihannya tertuju pada satu menu, menu yang paling disukai lleh sejuta umat.
"Nasgor ayam," jawabnya dengan malas.
"Ada tambahan minum nggak?" imbuh Defan.
Dira membalikkan lagi buku menunya, tetapi minuman itu tak menarik karena hanya ada jus serta soft drink yang bisa dipesan. Ia sangat tidak berselera malam-malam minum apapun selain air mineral.
"Nggak usah bang, minum disini masih banyak," jawabnya cepat memutuskan pilihannya.
Panggilan telepon itu dia tekan, langsung dijawab oleh pihak hotel restoran.
"Selamat malam, ada yang bisa dibantu?"
"Malam! Saya ingin pesanan makanan, nasi goreng ayam 2 porsi," jelas Defan.
"Ada lagi pak?"
"Itu saja mbak!"
__ADS_1
"Baik, mohon ditunggu ya pak! Pesanan tiba maksimal dalam tiga puluh menit," tutupnya mengakhiri pembicaraan mereka.
Dira kebingungan, mengapa Defan memilih pesanan yang sama dengan dirinya. Tetapi ia cukup malas untuk berkelit. Memperdebatkan hal kecil yang nantinya malah membuat suasana memanas.
Defan kembali merebahkan dirinya diatas ranjang. Ia mematikan siaran tv yang ada dihadapannya.
Hening!
Dira dan Defan larut dalam pikirannya masing-masing. Tak ada yang memulai pembicaraan. Keduanya memilih diam.
Suasana semakin canggung, namun sangat sepi. Dira sudah meletakkan ponselnya dari tadi, menyipitkan kedua matanya yang bulat. Posisinya pun masih sama, memunggungi Defan karena tak mau sesuatu hal yang tak diinginkan terjadi.
Sedangkan Defan masih sibuk membaca file berbentuk PDF yang ada di ponselnya. Sudah lama rasanya ia tak menyentuh file pekerjaannya karena sibuk liburan menemani gadis kecil yang berada disampingnya saat ini.
Bahkan, ia sempat lupa kalau ada pekerjaan yang menanti pasca honeymoonnya berakhir.
Defan Sinaga, pria mapan yang kaya raya, yang sudah sukses diusia dininya. Digilai oleh para wanita seumurannya bahkan wanita-wanita yang jauh dibawah umurnya.
Pria dingin dan arogan sudah berusia 27 tahun ini, sudah ahli menjadi seorang pengacara bahkan tergolong menjadi salah satu pengacara populer.
Kasus yang ditanganinya beragam, tetapi ia tak mau mengambil resiko untuk kasus kriminal khususnya menyangkut pembunuhan yang kejam.
Sesekali ia bahkan mendapat tawaran untuk mendampingi kliennya mengurus perceraian rumah tangga. Bila ada kesempatan dan tidak bentrok dengan jadwal sidangnya, kasus itu akan dia ambil.
Defan pria tinggi 180 centimeter, berparas tampan dan gagah, sebagai penerus SNG Lawfirm, nantinya akan menggantikan bapaknya, Desman Sinaga yang sudah menjadi CEO di perusahaan milik keluarganya sendiri.
Semua itu sudah diketahui oleh Dira semenjak ia memasuki masa pubernya. Hidup Dira yang kini bergantung pada pria itu, sudah tak perlu lagi dikhawatirkan.
Dira akan hidup tenang disisa hidupnya, bisa bermewah-mewahan menikmati kekayaan suaminya, karena sudah menjadi tanggungan pria itu.
Saat ini, Defan yang sedang larut membaca kasus sidang yang akan dihadirinya pasca honeymoon mereka selesai nanti. Satu kasus yang menarik perhatiannya, membela korban yang merupakan seorang anak kecil berusia 5 tahun. Mendapatkan pelecehan seksual dari pamannya sendiri.
Kliennya adalah keluarga anak kecil itu, bahkan Defan tak mematok pembayarannya, khusus bagi keluarga korban. Ia secara sukarela membela korban, karena tak tega atas perbuatan keji paman sang korban.
Dengan teliti dan cermat, Defan mempelajari kasusnya. Bahkan dalam tiga bulan terakhir ia terus mempelajari untuk menguasai kasus tersebut. Mencari barang bukti, saksi, hingga pengakuan korban.
Rasanya sangat sulit memenangkan persidangan lantaran korban tersebut masih anak kecil. Korban yang teringat masa kelam itu menyisakan trauma mendalam, sehingga ia tak mau membuka mulutnya membicarakan kejadian hari itu.
Pilu, itulah yang dirasakan oleh Defan, melihat seorang gadis kecil melawan rasa takut dan traumanya. Oleh karena itu, dia berusaha semampunya untuk memenangkan kasus tersebut.
Dimasa senggangnya, ia sempatkan untuk membaca hasil laporan dan penelitian hasil pencarian di TKP. Termasuk seperti saat ini, dia sedang bersantai diatas ranjangnya, waktunya tetap diluangkan untuk bekerja.
Tok... Tok.. Tok
Suara ketukan pintu dari luar mengghentikan aktivitas membacanya. Diliriknya istri kecilnya, sedang terbaring pulas dalam mimpinya. Ia tak mau mengganggu Dira yang terlelap, apalagi seharian sudah membuat gadis kecil itu merintih kesakitan akibat ulahnya sendiri meski secara tidak sengaja terjadi.
__ADS_1